Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Menurut majalah Vogue, that is so 2002, you know!” Dan mereka tertawa.

Kugy mulai merasa terintimidasi dengan percakapan setengah bercanda setengah cari gara-gara tersebut. Yang jelas, baginya semua itu mulai tidak lucu. Ia kepingin kabur secepatnya. Namun, langkahnya dibendung dari kanan-kiri, dan Kugy tak bisa bergerak.

Tahu-tahu, ada lengan yang menyeruak lingkaran itu, menggamit dan menarik tangan Kugy keluar.

Remi berdiri dengan senyuman karismatiknya, menatap mereka semua dengan sopan, “Sori, pinjam Kugynya, ya.” Lalu, seolah sudah ratusan kali melakukannya, Remi memeluk pinggang Kugy dengan luwes, merapatkan tubuh Kugy ke arah tubuhnya. “Pulang, yuk,” katanya ringan. Dan jemarinya membelai rambut depan Kugy.

Tak hanya mereka yang terlongo, Kugy pun kaget bukan main. Namun, ia menjaga agar kekagetannya tidak terbaca. Kugy lalu tersenyum manis pada Remi, menggenggam balik tangan Remi yang melingkar di pinggangnya, “Yuk,” katanya dengan anggukan kecil, pandangannya pun beralih ke Arisan Toilet, “duluan, ya …,” ia berkata dengan nada seramah mungkin seraya berlalu dari sana.

Sesampainya di luar, keduanya tertawa terpingkal-pingkal.

“Lihat nggak muka cewek yang tadi berdiri di sebelahku? Asli kayak cecak buntutnya copot!” seru Kugy sambil memegangi perutnya yang terkocok, “What a show! Benar-benar brilian!”

Remi melihat jam tangannya, “Baru jam satu, nih. Makan bubur dulu, yuk.”

“Boleh,” kata Kugy riang. Dan mereka berjalan menuju parkiran. Barulah Kugy menyadari sesuatu, dari dalam club tadi sampai mobil, tangan Remi tak lepas-lepas dari pinggangnya.

Bubur yang tadi menggunung di mangkok sudah lenyap, yang tersisa hanyalah lapisan tipis, yang itu pun masih disendoki Kugy dengan semangat.

“Kalau saya jadi tukang bubur, saya bakal jadikan kamu brand ambassador. Kamu dapat omzet sepuluh persen dan makan gratis sesering dan sebanyak apa pun yang kamu mau. Dan saya cuma minta kamu makan persis kayak gitu di depan pengunjung. Mereka pasti ngiler luar biasa, dan kepingin nambah biarpun udah kenyang,” ujar Remi yang sedari tadi memperhatikan Kugy.

“Dasar orang iklan,” celetuk Kugy. Gantian mengamati Remi yang masih menghabiskan buburnya. “Sejak kapan sih kamu tertarik ke dunia advertising?” tanyanya penasaran.

“Dari lulus kuliah. Saya mulai magang seperti kamu, jadi junior art director. Terus saya pernah nggak sengaja jadi project leader satu produk, dapat klien yang gede banget, dan mereka suka banget sama ide saya. Iklan yang saya buat juga sukses. Saya malah dapat award tahun itu, dan sesudahnya hampir setiap tahun dapat penghargaan terus. Saya lalu keluar dari tempat kerja saya yang lama, coba-coba bikin sendiri. Untungnya klien-klien saya yang lama terus mendukung, makanya AdVocaDo bisa seperti sekarang.”

Kugy manggut-manggut. Ia ingat sederet plakat penghargaan Remi terpajang di dinding kantor. Mereka semua bilang, dulu Remi dianggap prodigy dunia periklanan.

“Tapi, ini memang pekerjaan yang selalu kamu inginkan? Atau ada passion lainkah?” tanya Kugy lagi.

Remi menggeleng. “Ini dunia saya. Dari kecil saya tuh udah jago bikin dagangan orang laku, Gy. Orangtua saya, saudara-saudara saya, tiap mereka bikin apa saja, mereka suka iseng tanya sama saya, terus saya kasih ide-ide untuk bisnis mereka, eh … semuanya sukses. Waktu sekolah dan kuliah juga sama, saya sering bantu event sekolah atau kampus, semuanya berhasil. Dan saya puas banget mengerjakannya.”

“Wow,” Kugy berdecak kagum, “kamu orang yang sangat, sangat beruntung. Kamu mencintai pekerjaan kamu, dan kamu juga sukses di bidang yang kamu cintai. Pasti banyak banget yang ngiri sama kamu.”

“Mungkin,” Remi mengangkat bahu, “yang jelas saya cuma ngiri sama satu.”

“Siapa?”

“Pelukis.”

Kugy seperti tersentil mendengarnya. “Pelukis? Kok—bisa?”

“Lukisan adalah hiburan saya yang paling menyenangkan,” Remi menjelaskan, matanya berbinar, “para pelukis itu bisa melahirkan dunia baru lewat jiwa mereka … berkata-kata dengan gambar … warna … komposisi …,” ia menghela napas panjang, “kalau saya dilahirkan kembali, saya kepingin jadi pelukis.”

Kugy terdiam. Semua yang diceritakan Remi mengingatkannya pada seseorang.

“Kalau kamu? Kalau dilahirkan lagi, mau jadi apa?”

Kugy menjawab mantap, “Ikan paus.”

 

Ubud, Desember 2002 …

Luhde terbangun lebih pagi dari biasanya. Entah kenapa. Tiba-tiba saja ia terlonjak dari tempat tidur. Perasaannya tak enak.

Pelan-pelan, ia bangkit dari tempat tidur. Berjalan ke luar. Belum ada siapa-siapa yang terlihat. Namun, kupingnya mendengar sesuatu. Dari arah bale.

Saat ia mendekat, barulah jelas suara apa itu. Dan terkejutlah Luhde ketika melihat apa yang terjadi. Keenan tengah berdiri … menyobek lukisannya sendiri. Lukisan yang baru dibuatnya beberapa hari lalu.

“Keenan!” seru Luhde sambil tergopoh berlari naik ke bale. “Kenapa kamu?”

Keenan tertegun melihat Luhde yang muncul tanpa diduganya. Tangannya masih menggenggam kanvas yang sudah tercabik menjadi dua.

“Ke—kenapa lukisannya disobek?” Luhde bertanya, cemas dan takut.

“Lukisan ini nggak bagus,” jawab Keenan datar.

“Tapi … itu lukisan Keenan yang pertama lagi setelah sekian lama … dan menurutku, lukisan itu bagus … apanya yang salah?” ratap Luhde kebingungan.

“De, saya nggak bisa melukis seperti dulu lagi,” kata Keenan lirih.

“Kata siapa? Keenan nggak boleh ngomong begitu! Kamu harus kasih kesempatan pada diri kamu sendiri! Kenapa lukisannya harus dirusak?” desak Luhde bercampur tangis. Direbutnya cabikan kanvas itu dari tangan Keenan. “Kenapa dirusak?” tangisnya lagi.

“Karena … lukisan itu …,” Keenan tergagap, tak bisa menjelaskan. Bagaimana bisa ia mengungkapkannya tanpa menghancurkan hati Luhde? Bahwa lukisan itu tak memiliki nyawa dan kekuatan yang sama? Bahwa lukisan itu tak sanggup menggerakkan dan mewakili hatinya sebagaimana lukisan-lukisannya yang dulu?

Dan Luhde pun tak bisa lagi berkata-kata. Ia sungguh tak mengerti, dan sebagian dirinya tidak terima. Pertama kalinya Keenan melukis … untuknya. Dan lukisan itu berakhir dengan tercabik menjadi dua.

“Masih pagi sekali, De. Anginnya dingin. Kamu masuk ke kamar lagi saja.” Cuma itu yang bisa Keenan bilang. Ia pun membalikkan punggungnya, menatap pekarangan yang sepi, yang jauh lebih mudah dihadapi ketimbang wajah Luhde yang pilu.

“Saya ingin di sini,” bisik Luhde. Hati-hati, didekatinya sosok laki-laki yang amat dicintainya itu. Memeluknya perlahan dari belakang. Membenamkan air matanya di sana.

 

Jakarta, Desember 2002 …

Lena termenung di pinggir tempat tidur rumah sakit. Adri baru melewati masa kritis selama dua hari, dan hari ini ia sudah mulai siuman. Sesekali terjaga dan membuka mata, meski tubuh itu tetap kaku seperti papan. Stroke yang kali ini menyerangnya jauh lebih kuat dibandingkan serangan yang pertama. Dokter bahkan meragukan kondisinya akan kembali seratus persen seperti semula. Dibutuhkan keajaiban, mereka bilang. Berbulan-bulan fisioterapi pun paling hanya akan mengembalikan tujuh puluh sampai delapan puluh persen kondisi suaminya. Bahkan, kenyataan bahwa Adri masih hidup pun sudah harus dikategorikan sebagai keajaiban. Mudah-mudahan keajaiban ini berlanjut, kata mereka lagi.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.