Baca Novel Online

Perahu Kertas

Jauh di dalam hatinya, Pak Wayan sangat memahami kepedihan Keenan. Luka yang sama pernah dialaminya. Puluhan tahun yang lalu. Susah payah, ia berusaha bangkit, tertatih-tatih, mencari sesuatu yang baru untuk menggantikan bintang hatinya, inspirasinya. Kini ia sudah kembali berdiri tegak. Namun, ia sadar, bintang yang sama tak akan pernah kembali untuk yang kedua kali.

 

Jakarta, November 2002 …

Sejak pagi tadi, Adri merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Ia bangun pagi dengan rasa lelah yang luar biasa. Dan lelah itu tak kunjung pergi meskipun ia sudah sarapan dan senam ringan, seperti yang biasa ia lakukan setiap hari untuk menyegarkan badannya. Meskipun begitu, Adri tetap memilih pergi ke kantor. Ia tidak ingin Lena curiga dan mempertanyakan soal kesehatannya jika ia memilih beristirahat di rumah.

“Pak Adri, ada telepon dari Pak Ong dari Malaysia.” Suara sekretarisnya terdengar dari interkom telepon.

Adri mengangkat telepon dan mulai berbicara dengan relasinya. Setelah dua menit berbicara, tangan kanannya yang memegang gagang telepon tahu-tahu gemetar. Dan dalam hitungan detik, gemetar itu berubah menjadi bergetar. Dalam kekagetannya, Adri segera memencet tombol speaker karena tangannya tak bisa lagi memegang telepon.

“Maaf, Pak Ong, sepertinya saya harus menelepon Anda kembali … saya ….” Dan tiba-tiba sesuatu seperti menyapu seluruh tubuhnya, mengisap kekuatannya. Dalam sekejap, Adri melorot jatuh ke lantai. Tubuhnya terbujur kaku. Tak bergerak lagi.

 

32.

NINJA ASMARA

Ubud, Desember 2002 …

Kali ini Keenan berusaha. Benar-benar berusaha. Memutuskan bahwa ia tidak akan menyerah kalah pada kebuntuannya. Buku tulis itu disimpannya di kamar dan tak pernah ia bawa lagi ke mana-mana. Keenan mencamkan pada dirinya sendiri bahwa jiwa seorang seniman adalah jiwa yang bebas, bukan jiwa yang terpenjara atau tergantung. Ia ingin terbebas dari buku itu. Sudah saatnya.

Keenan pun melukis, dan melukis.

Ada Luhde yang duduk setia di sampingnya. “Kuas-kuasnya saya bersihkan, ya,” kata gadis itu sambil mengambili kuas-kuas Keenan yang sudah mengeras. Satu pekerjaan yang sudah biasa ia lakukan sejak kecil dengan telaten karena sering membantu saudara-saudaranya yang pelukis.

“Makasih, De,” sahut Keenan. Dan sejenak ia berhenti, mengamati Luhde yang dengan tekun mencuci kuas-kuasnya. “Kamu seperti malaikat ….” Kalimat itu terlontar begitu saja tanpa bisa ia tahan. Ekspresi murni yang bergerak dari hati.

Luhde mendongak. “Saya senang melihat Keenan melukis lagi,” ucapnya tulus.

Keenan tersenyum, “Saya melukis untuk kamu.”

Cepat, Luhde menunduk. Pipinya bersemu merah. “Ya, tapi Keenan juga melukis untuk diri Keenan sendiri,” katanya setengah berbisik. Namun, bibirnya tak kuasa membentuk senyuman.

Keenan meletakkan kuas yang sedang ia pegang. Sesuatu mendorongnya untuk bergerak mendekati Luhde. Duduk di hadapan gadis itu. Dengan pelan dan khidmat, Keenan berkata, “Titiang tresne teken Luhde31.”

Tangan Luhde yang tadinya sibuk bergerak langsung berhenti. Jantungnya seperti berhenti berdegup. Dua tahun ia menanti. Dua tahun ia berharap. Dua tahun ia mendekat, mencurahkan apa pun yang ia mampu dan ia sanggup berikan. Baru kali itulah ia mendengar Keenan mengungkapkan perasaannya. Langsung dan sederhana.

Luhde mengangkat mukanya perlahan-lahan. Menatap mata Keenan dengan perasaan campur aduk. Antara bahagia, haru, dan tersipu.

Keenan menahan napas melihat keindahan yang terbentang di hadapannya. Dan sesuatu menggerakkannya untuk terus mendekat. Mengecup lembut bibir Luhde.

 

Jakarta, Desember 2002 …

AdVocaDo kini punya topik hangat yang selalu diulas siapa pun, di mana pun, dan kapan pun: Kugy. Tidak hanya populer karena dianggap prodigy atas ide-idenya yang gila, Kugy juga punya julukan baru, yakni “Si Ninja Asmara”. Julukan itu khusus diperolehnya karena tidak ada satu pun yang menyangka sarjana kemarin sore berjam tangan Kura-kura Ninja telah berhasil mematahkan hati banyak perempuan yang selama ini mengincar Remi.

Kedekatan Remi dan Kugy selama dua bulan terakhir sudah terlalu kentara untuk diabaikan. Hampir setiap hari Remi terlihat mengantar Kugy pulang. Setidaknya dua atau tiga kali dalam seminggu, mereka pergi bersama untuk makan malam. Kugy, duduk di jok depan mobil Remi, menjadi sebuah pemandangan yang disaksikan hampir setiap hari oleh satu kantor.

Sementara itu, Si Ninja Asmara sendiri tak ambil pusing, bahkan tak menyadari bahwa dirinya tengah jadi sorotan. Bagi Kugy, tugasnya yang bertumpuk terlampau menyita waktu dan tak sempat lagi ia memikirkan lejitan kariernya yang mengagetkan semua orang. Dan baginya, Remi adalah teman jalan yang begitu menyenangkan hingga membuatnya tak lagi peduli akan kompetisi di luar sana. Kugy tidak merasa ada dalam sebuah kompetisi apa-apa. Dirinya tidak merasa punya target atau agenda untuk dekat dengan Remi. Semuanya mengalir begitu saja. Dan urat cueknya terlalu kuat untuk memusingkan apa kata orang.

Malam itu, teman-teman kantornya berencana untuk clubbing ramai-ramai. Meski tadinya enggan, Kugy didaulat untuk ikut. Akhirnya bergabunglah ia dengan segerombolan orang dalam gelap remang diiringi dentuman musik yang menekan jantung. Banyak wajah yang tak asing. Kebanyakan ia temui waktu acara gathering bulan lalu. Ada sekelompok perempuan yang juga ia kenali. Arisan Toilet, Kugy menjuluki dalam hati.

Kugy bisa bertahan agak lama kali ini karena ia sudah datang dengan persiapan makan malam sebelumnya. Namun, lewat dua jam, ia mulai gelisah. Perut kenyang tidak berarti menjadi betah. Sementara hampir semua orang sudah pindah medan kesadaran, Kugy, yang cuma numpang berdiri sejak tadi, menjadi pihak terasing karena “nggak nyambung”. Pelan-pelan ia beringsut, dengan rencana kabur secara bertahap.

Tahu-tahu, badannya berbenturan dengan bahu seseorang. “Sori, sori …,” Kugy refleks meminta maaf. Baru saja ia mencoba melangkah ke arah lain, sudah ada sosok baru yang menghalangi jalannya. Kugy mencoba mundur, dan ternyata berbenturan lagi dengan badan seseorang. Akhirnya Kugy tersadar, ia sedang dikepung.

“Kamu yang namanya Kugy?” Salah satu dari mereka bertanya.

Kugy mengamati muka itu, dan mengenalinya sebagai anggota Arisan Toilet. “Iya, saya Kugy …,” katanya sambil mengangguk. Curiga.

“Yang lagi magang di AdVocaDo, kan?” Ada yang bertanya lagi.

Kugy mengangguk.

“Remi ke mana? Kok nggak bareng?” Seseorang yang lain lagi bertanya.

“Ng—nggak, nggak tahu,” jawab Kugy. Ia mulai tidak nyaman dengan interogasi ini. Kugy benar-benar tidak tahu apa maksud mereka.

“Udah lama pacaran sama Remi?” Nada itu ketus dan menusuk.

“Nggak pacaran kok …,” Kugy menggelengkan kepala. Bingung.

“Kalo iya juga nggak pa-pa, jangan jadi minder gitu, dong. Selamat, yaa!” Ucapan itu dibarengi dengan senyum. Senyum yang tidak menyenangkan.

“Iya, kok bisa, sih? Susuknya keluaran dari dukun mana, Jeng?” Yang bertanya pun tergelak sendiri.

“Eh, jangan salah. Jimat dese tuh jam tangannya, lho! Makanya lu semua pada beli. Cari di Pasar Baru, gih. Lu cari jam Spiderman, lu Superman, lu cari jam Barbie … pokoknya jam plastik yang norak!”

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.