Baca Novel Online

Perahu Kertas

Kugy baru saja melahap tandas sepiring nasi goreng, dan ia sudah ngiler melihat roti bakar yang dipesan Remi. “Aku mau pesan juga, ah ..,.” katanya seraya celingak-celinguk mencari pelayan.

“Dahsyat, ya, makan kamu. Tapi saya bingung, larinya ke mana semua, ya? Badan mungil tapi kok muat sih makanan sebanyak gitu?” Remi tak habis pikir.

“Ususku di mana-mana. Kalo tanganku dibelek, ketemunya juga usus,” seloroh Kugy. Tak lama, ia memesan setampuk roti bakar dan segelas cokelat panas.

“Cewek-cewek pasti ngiri sama kamu,” komentar Remi lagi.

Spontan, tawa Kugy menyembur. “Malam ini aku bisa bilang kalo ucapan kamu ada benarnya, tapi bukan karena faktor makanku. Tapi …,” Kugy mencoba menelan tawanya, “justru karena teman makanku.”

Remi mengerutkan keningnya. “Maksud kamu?”

“Aku baru sadar aku sedang makan dengan the most wanted eligible bachelor yang dipuja-puja dan diperebutkan hampir semua cewek di acara tadi,” Kugy terkikik geli, “sampai ada forum arisan yang bahas kamu di toilet tadi.”

Remi tersenyum sambil melengos. “Apa, sih. Nggak penting,” katanya seraya mengibaskan tangan.

“Memang,” sahut Kugy, “tapi lucu aja. Karena kayaknya cuma aku satu-satunya yang nggak nyadar betapa …,” nada itu meragu, antara melanjutkan atau tidak, “… betapa berharganya kesempatan ini,” Kugy menahan napas, “setidaknya dari kacamata mereka,” cepat-cepat ia menambahkan.

Remi menatap Kugy. Tatapan yang sama ketika Remi memberikan perahu kertas di mobilnya beberapa minggu yang lalu. Dan kembali Kugy merasakan kegugupan sama menyerangnya.

“Saya lebih senang kalau kamu nggak nyadar. Kamu bisa jadi diri sendiri, saya juga. Dan menurut saya itulah yang paling menyenangkan dari pertemuan kita selama ini,” kata Remi lembut.

Kugy menelan ludah. “Setuju, menjadi diri sendiri itu memang yang paling enak,” ia menyahut sekenanya.

Sambil menyeruput teh panas, Remi pun berkata ringan, “Mereka yang justru nggak tahu betapa berharganya kesempatan ini buat saya.”

Bertepatan dengan itu, roti bakarnya datang. Kugy langsung menyantap dengan lahap. Antara masih lapar dan upaya mengompensasi salah tingkah. Dalam hatinya, ia mulai merasa ada yang tidak beres dengan ini semua. Dengan Remi. Dengan dirinya.

Ubud, November 2002 …

Di bale tempat ia menghabiskan ratusan harinya, Keenan duduk bersandar pada tiang kayu. Sama seperti hari-hari sebelumnya. Namun, segalanya tak lagi sama. Bali tak lagi sama.

Bom yang meledak di Kuta sebulan yang lalu tak hanya meledakkan satu tempat saja. Seolah ada kabut asap yang terus tersisa, bertengger, dan menyelimuti seisi Bali. Menyihir pulau bahagia ini menjadi pulau kecemasan. Semua orang bicara tentang masa depan Bali. Masa suram yang akan menjelang.

Meski seluruh keluarganya selamat karena tak ada yang tinggal di Kuta, duka yang sama tetap terasa di rumah besar Pak Wayan. Tak ada yang luput dari sihir itu. Termasuk Keenan. Bedanya, Keenan telah merasakan kesuraman dalam batinnya bahkan sebelum bom meledak di Kuta dan mengubah segalanya.

Untuk kesekian kali, Keenan membolak-balik buku tulis itu dengan resah. Semua halaman sudah habis ia baca, bahkan berkali-kali dan tak terhitung lagi. Semua cerita sudah habis ia wujudkan ke dalam lukisan. Yang tersisa dari buku itu hanyalah selembar terakhir yang kosong. Dan itu jugalah yang sudah ia hadapi beberapa bulan terakhir ini. Kanvas kosong.

Hampir semua orang berkomentar senada, “Objek lukisan kamu selama ini sudah senyawa dengan kamu. Kenapa kamu harus bingung mau melukis apa?” Dan dirinya hanya bisa diam. Bagaimana bisa ia menjelaskan bahwa semua yang ia lukis adalah karya Kugy di sebuah buku tulis kumal, dan ketika semua kisah dalam buku itu habis … habislah inspirasinya.

Bukannya Keenan tidak mencoba berimajinasi di luar buku Kugy. Sudah ratusan kali ia coba, tapi tetap saja tidak bisa. Bukan dirinya yang ikut dalam petualangan itu, bukan dirinya yang menulis semua cerita itu. Dan semua pujian yang orang sampaikan untuk lukisannya kini justru terasa menyudutkan, membawanya pada satu kesimpulan, bahwa ia tidak ada apa-apanya tanpa buku itu. Satu kenyataan yang begitu mengerikan.

Tepat dua tahun sejak kedatangannya ke Lodtunduh. Tepat dua tahun ia memulai segalanya di bale ini. Hatinya gentar membayangkan bahwa segalanya pun bisa berakhir di sini.

“Ada apa dengan kamu, Gus? Kenapa kondisimu menurun sekali. Kamu kembali seperti waktu pertama kali datang kemari,” ucap Pak Wayan sehati-hati mungkin. Keenan tampak seperti boneka kaca yang pecah jika sedikit saja tersentil.

Semilir angin mengembus, melewati mereka berdua, menggoyang kentungan bambu. Bebunyian yang kini bahkan terasa perih menusuk hatinya. Keenan rasanya tak sanggup berkata-kata. Hanya menunduk dan memandangi lantai kayu di bawah kakinya.

“Kamu bisa cerita apa saja pada Poyan,” kata Pak Wayan lagi, “tapi kalau kamu belum merasa siap, tidak apa-apa. Saya tidak akan memaksa.”

“Sebenarnya—” susah payah Keenan berusaha menguraikan kebekuan yang mengadangnya selama ini, “sebenarnya saya ingin bicara, Poyan. Tapi tidak tahu mulai dari mana … saya …,” matanya mengerjap-ngerjap bingung.

“Ketidaktahuan adalah awal yang baik. Segala sesuatu diawali dengan tidak tahu, ikuti saja …,” Pak Wayan menepuk lembut bahu Keenan.

“Semuanya hilang, Poyan. Semuanya! Begitu saja! Saya nggak bisa melukis. Saya nggak tahu harus melukis apa lagi ….”

“Kamu tidak sendirian, Nan. Semua orang sedang berkabung di pulau ini.”

Keenan menggeleng keras, “Bukan cuma karena itu, Poyan!” sergahnya. “Sudah lama saya nggak bisa melukis. Saya benar-benar buntu. Seperti ada yang mati di dalam sini,” Keenan menunjuk dadanya sendiri, “dan kalau saya nggak menghasilkan apa-apa, saya merasa nggak berguna tinggal di sini.” Setengah meratap, ia berkata.

“Gus, semua orang di sini sudah menganggap kamu keluarga. Melukis atau tidak, kehadiranmu berarti buat kami. Ngerti? Jangan bebankan hal seperti itu pada dirimu sendiri. Tidak satu kali pun saya pernah mensyaratkan sesuatu supaya kamu bisa tinggal di sini. Ini rumahmu. Dan ingat, semua pelukis pun pernah mengalami apa yang kamu hadapi sekarang. Saya juga pernah. Bahkan bertahun-tahun, Gus. Tapi bukan berarti kita harus menyerah. Melukis adalah jalan yang saya pilih, jodoh saya. Dan bukannya itu juga jalan yang kamu pilih?”

Kepala Keenan semakin dalam merunduk. Hatinya tambah remuk mendengar itu semua.

“Gus, bersabar. Jangan bebani dirimu seperti ini. Rumahmu di sini. Kamu tidak usah lari lagi,” tegas Pak Wayan.

Keenan mendongak, nanar menatap pria yang sudah dianggapnya ayah sendiri, memohon pertolongan. “Buku itu habis, Poyan,” bisiknya.

Pak Wayan terkesiap. Setergantungkah itu dia? Setelah diam beberapa saat, Pak Wayan pun berkata pelan, “Mau tidak mau, buku itu harus ada yang meneruskan, Gus. Atau, kamulah yang berusaha mencari ‘bintang’ baru. Mengerti maksudku? Tidak mudah, saya tahu. Sekarang ini, terimalah saja kalau kamu belum bisa melukis lagi. Jalan itu akan terbuka dengan sendirinya.”

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.