Baca Novel Online

Perahu Kertas

Tiba-tiba Remi menahannya, “Gy, bentar. Titip ini, ya,” katanya sambil menyerahkan perahu kertas yang tadi ia lipat di restoran.

“Ini buat apa?” tanya Kugy heran.

“Buat kamu hanyutkan besok. Saya ingin kirim pesan buat Neptunus,” Remi menjawab halus, diikuti sorot mata yang menghangat.

Kugy tertegun melihat gradasi perubahan itu. “Mmm … pesan? Well, berarti kamu harus nulis sesuatu di kertas ini,” sahutnya cepat. Kugy menyadari dirinya mulai gugup.

“No problem, sini, saya tulis dulu,” ujar Remi santai. Ia menyalakan lampu, mengambil pulpen dari tasnya, membuka lipatan kertas, menulis sebentar di atas dashboard, melipat ulang perahu itu dan memberikannya kepada Kugy. “Dan karena kamu kurirnya, kamu boleh baca isi pesan saya, kok,” tambah Remi lagi. Dan sorot mata itu, entah kenapa, kian membuat Kugy gugup.

“Sebetulnya dilarang melakukan surat-menyurat sampai lamaran kerja positif dikabulkan, tapi … aku coba, ya. Cuma nggak janji lhooo …” Kugy tertawa, siap menutup pintu.

“It’s okay,” Remy mengangkat bahu, “namanya juga usaha. Bye, Gy. Sampai besok.”

“Bye!” Kugy melambaikan tangan. Memandangi mobil itu melaju hingga hilang di tikungan jalan. Tanpa menunggu lebih lama, dibukanya lipatan-lipatan perahu kertas itu, membaca tulisan Remi yang tertera di bagian belakang pamflet restoran, diperbantukan penerangan lampu jalan:

Makasih sudah mengirimkan agen Kugy ke kantor saya, dan membuat malam ini menjadi malam yang sangat menyenangkan. Saya nggak kepingin-kepingin amat kok jadi agen, saya lebih kepingin ditemani makan lagi sama agen kamu yang satu itu. Mudah-mudahan dia mau.

Kugy pun mematung bersama selembar kertas di tangannya. Di hatinya terasa ada kebingungan, kegugupan, dan juga … rasa senang. Kugy tak bisa menentukan mana yang lebih dominan. Ketiganya bercampur jadi satu. Entah namanya apa. Kugy merasa satu-satunya penawar yang jitu adalah … tidur.

 

31.

ARISAN TOILET

Jakarta, Oktober 2002 …

Untuk pertama kalinya Kugy ikut acara gathering biro-biro periklanan. Sebagai anak baru dan anak bawang, inilah malam pertamanya bergaul dan berinteraksi dengan sesama pekerja periklanan, melihat langsung tokoh-tokoh yang selama ini hanya ia kenal namanya saja, dan berkenalan dengan orang-orang dari berbagai kantor, dari mulai yang senior sampai sesama anak bawang.

Acara yang berlangsung di sebuah wine lounge itu dihadiri hampir seratus orang. Sedari tadi penganan yang disuguhkan adalah gelas-gelas berisi anggur merah dan putih, serta makanan-makanan ringan berukuran mungil yang diedarkan di atas baki.

Perut Kugy yang belum diisi nasi mulai menunjukkan reaksi pemberontakan.

“Iman … di sini nggak bisa pesan nasi, ya?” bisiknya pada Iman.

Iman kontan tertawa. “Ini wine lounge, Neng. Dan kalo udah jam segini kayaknya mereka udah nggak menyediakan makan besar. Kecuali kalo lu keluar dan cari nasi goreng di pinggir jalan.”

“Oke, deh. Thanks infonya,” jawab Kugy masam. Ia menebar pandangan. Semua orang kelihatannya tidak ada yang bermuka kelaparan seperti dirinya. Entah karena mereka lebih berpengalaman sehingga sudah mengantisipasi dengan makan malam duluan, atau pergaulan dan wine kadang-kadang bisa mengenyangkan perut. Yang jelas, tidak baginya.

Matanya lantas tertumbuk pada Remi. Manusia satu itu seperti madu yang dikerubungi para lebah. Yang melingkarinya semua perempuan. Tampak jelas mereka berusaha sekali mencuri perhatian Remi dengan mengobrol, atau melucu, atau apa pun, hanya sekadar supaya Remi mengalihkan sebentar tatapannya dan meladeni barang satu atau dua kalimat. Mereka yang baru bergabung berkesempatan untuk sejenak menyerobot, cium pipi kiri-kanan, sambil melingkarkan tangan mereka sejenak di pinggang Remi. Namun, sesudah satu “tiket sosial” itu berlalu, mereka kembali harus menunggu giliran. Kugy menontoni itu semua sampai akhir-nya tersenyum geli.

Entah apa yang mengarahkan tatapan Remi, tiba-tiba saja matanya menemukan Kugy yang tengah mengamatinya. Buru-buru, Kugy membuang muka. Jantungnya seperti menciut mendadak. Malu-maluin, pikirnya. Dan Kugy tambah gelisah ketika menyadari bahwa Remi keluar dari lingkaran lebahnya, berjalan menuju tempat ia berdiri.

“Kok sendirian, Gy? Nggak mingle?” tanya Remi yang sekarang sudah berdiri di sampingnya.

“Lagi cari makanan,” Kugy menjawab dengan cengiran lebar.

“Tuh …” Remi menunjuk baki berisi roti-roti mungil dan ,keripik yang disajikan sejumput-sejumput di mangkok kertas.

“Cari yang porsinya lebih niat,” sahut Kugy sambil menepuk perutnya, “anakonda-ku mulai aksi huru-hara, nih. Kayaknya nggak mungkin lagi disumpal makanan basa-basi. Aku pamit duluan, ya. Mau cari makan aja.”

“Saya temani, ya? Lima belas menit? Saya pamitan dulu sama orang-orang. Ketemu di pintu depan, ya.” Remi pun melesat pergi.

Kugy tergagap mau mengatakan sesuatu, tapi manusia itu sudah lenyap di kerumunan orang. Gila, ngomong “iya” aja belum. Ia berdecak takjub atas kegesitan Remi.

Sambil menunggu Remi, Kugy pergi ke toilet. Di depan cermin, sekumpulan perempuan sedang berjajar memperbaiki dandanan mereka. Semuanya tidak ada yang ia kenal. Namun, dengan cepat, Kugy bisa mengikuti pembicaraan massal yang sedang terjadi di sana.

“Sialan. Makin ganteng tuh orang!”

“Gua mau dikerem seminggu sama dia.”

“Gua sebulan. Hayo?”

“Lu tahu Sandy, AE-nya ViaAd? Dia sempat sukses lho nge-date sama Remi.”

Beberapa dari mereka langsung mangap. “Haa? Sandy?”

“Damn! Lucky girl!”

“Faktor bemper depan, tuh ….”

Mereka tergelak bersama. “Fisik lo!”

“Tapi, cuma sebatas kencan doang, nggak sampai pacaran.”

“Iyalah, segede-gedenya toket, mau dibawa sampai mana, sih? Akhirnya kan yang ngaruh tetap faktor kepala.”

“Bo, please, deh. Dinding sekarang pada punya kuping,” seseorang berceletuk dengan setengah berbisik, “Jadi, maksud lo, Sandy nggak punya otak? Oops!” Tawanya langsung berderai, diikuti semua temannya.

“Well, siapa pun yang cuma modal bodi doang, nggak bakalan lama. Ini kan zaman inner beauty.”

“Iye, maksudnya apa yang ada di ‘inner’-nya baju elo!”

Mereka tertawa lagi.

“Jadi, sekarang Remi lagi nggak deket sama siapa-siapa? Still eligible?”

“Kayaknya masih. Mata-mata gua di Alpukat sih belum ngelapor apa-apa.”

“Eh, nggak ada anak Alpukat, kan?” Tiba-tiba satu orang berceletuk.

Kugy langsung memalingkan kepalanya ke arah tembok. “Alpukat” adalah julukan gaul untuk AdVocaDo. Diam-diam, Kugy bersyukur dengan status anak barunya sehingga mukanya belum dikenal dalam lingkup pergaulan tersebut.

“Bo, nggak ngaruhlah kalo pun dia lagi ada pacar. Sebelum janur kuning berdiri, kompetisi masih terbuka!”

“Hari giniii … janur kuning udah nggak ngaruh! Sebelum BENDERA KUNING berdiri, kompetisi tetap terbuka! Haha!”

“Najis lo!”

Seusai mendapat gilirannya masuk ke kamar mandi, Kugy cepat-cepat menyelinap keluar. Hawa di dalam toilet itu pengap rasanya. Bukan karena temperatur, tapi karena persaingan ketat demi atensi seorang Remigius Aditya. Sungguh ia tidak sangka, manusia itu sebegitu populernya. Melihat bagaimana Remi begitu diminati, Kugy tidak bisa memutuskan haruskah ia merasa beruntung atau justru sial. Andaikan perempuan-perempuan itu tahu bahwa dalam lima menit dirinya akan keluar makan bersama Remi, Kugy ragu bisa keluar dari toilet tadi dalam keadaan utuh.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.