Baca Novel Online

Perahu Kertas

Senyum Kugy melebar tanpa bisa ia tahan. “Remi, makasih ya untuk kesempatannya jadi project leader. Saya sadar banget, modal saya sebetulnya cuma beruntung—”

Remi langsung menggeleng. “Kalau kamu menang lotere, itu baru namanya cuma modal beruntung. Tapi kamu lain, kamu memang punya bakat alam. Kamu hanya tinggal jadi diri kamu sendiri, dan jadilah kamu di posisi kamu yang sekarang. Yang orang-orang seperti kamu butuhkan sebenar-nya cuma kesempatan.”

Kugy cuma bisa manggut-manggut pelan tanpa suara. Terlalu salah tingkah untuk berkata apa-apa. Kugy melempar pandangannya ke jendela sebagai distraksi, mengamati lalu lintas yang padat dan nyaris tidak bergerak pada jam bubaran kantor ini.

“Kamu buru-buru banget harus pulang?” Remi bertanya.

“Memangnya kenapa?”

“Macetnya parah, nih. Mendingan kita tunggu sampai agak lengang baru jalan lagi. Keberatan, nggak?”

“Nggak …,” Kugy menggeleng pelan.

Remi menunjuk sebuah kafe yang terletak di tepi jalan, hanya seratus meter dari posisi mobil mereka. “Kita mampir ke sana dulu aja, yuk? Kopinya lumayan enak.”

“Oke,” Kugy mengangkat bahu ringan. Namun, dalam hatinya ia tercengang-cengang sendiri. Hari yang aneh, pikirnya. Tak hanya ia tiba-tiba naik pangkat drastis, ia juga diantar pulang dan diajak nongkrong oleh bos nomor satunya. Tak sabar rasanya ingin menulis surat laporan untuk Neptunus.

Selepas dua cangkir cappuccino, dua porsi es krim, dan sepiring besar kentang goreng, mereka tak ubahnya dua teman sebaya yang berbincang asyik tanpa jarak dan hierarki. Kugy lupa perbedaan umur mereka yang terpaut delapan tahun, dan kasta pangkat mereka yang bagaikan bumi dan langit—yang satu anak magang lulus kemarin sore, yang satunya lagi pemilik perusahaan.

Kugy bercerita dari mulai masa kecilnya hingga terdampar di AdVocaDo karena kesenangannya berurusan dengan kata-kata. Seperti biasa, ia bercerita dengan gaya pendongengnya yang bersemangat dan berapi-api. Remi bereaksi dari mulai mendengarkan serius, melongo, tersenyum, sampai terpingkal-pingkal.

“Mulai menyesal kan merekrut aku jadi pegawai?” Kugy bertanya kocak sambil berkacak pinggang. Ia sudah benar-benar nyaman menjadi dirinya sendiri di hadapan Remi.

“Sebagai pegawai, saya tetap merasa kamu salah satu aset paling menjanjikan yang pernah saya temukan. Sebagai teman, iya, kayaknya saya mulai menyesal …,” Remi terkekeh geli, “tapi saya juga mau dong jadi agen rahasia Neptunus ….”

“Zodiak kamu apa?”

“Libra.”

Kugy menggeleng dengan tampang serius, “Susah. Salah satu syarat dasar jadi agen Neptunus adalah berzodiak Aquarius. Kalau Libra, jadi agen apa ya cocoknya?”

“Agen BULOG … kerjanya nimbang beras.”

“Boleh. Karena agen Neptunus juga butuh makan nasi, toh? Apalagi aku. Jadi kita asas saling membutuhkan aja.”

“Kayaknya nggak imbang, Gy. Saya kasih kamu nasi, kamu kasih saya apa? Air laut?”

“Seafood,” jawab Kugy mantap, “buat teman makan nasi. Gimana? Keren nggak, tuh?”

“Oke. Besok malam, ya? Kita dinner di restoran seafood. Ada yang enak banget di Radio Dalam. Kita jalan jam 6-an aja dari kantor.”

Kugy merasa kejadian di lobi tadi berulang. Jika diibaratkan permainan silat, tanpa ia sempat mengambil kuda-kuda, dengan sigap dan lihai Remi sudah memasukkan serangan berkali-kali. Dan Kugy kalah telak. Tak sempat bersiap dan tak sanggup melawan. Perlahan, kepalanya mengangguk. Menerima ajakan Remi.

Bandung, September 2002 …

“Permisi … Mbak Noni?”

Noni yang sedang menyapu kamarnya langsung menyandarkan sapunya ke dinding dan menghampiri pintu. Mahasiswa angkatan baru bernama Ellen yang sekarang menghuni kamar sebelahnya sedang berdiri sambil memegang sesuatu di tangannya.

“Iya, Ellen. Kenapa?”

“Mbak, tadi aku baru beres-beres lemari. Terus ada satu dus yang ketinggalan. Isinya cuma kertas-kertas sama barang-barang bekas gitu. Tadinya mau kubuang, tapi untungnya aku sempat periksa lagi. Aku menemukan ini, Mbak …” Ellen menyerahkan benda yang dipegangnya. Kotak persegi panjang berlapis kertas kado warna biru polos.

Noni menyambutnya dengan kening berkerut. Benda itu cukup tebal dan berat. Bentuknya mirip buku atau album foto.

“Yang dulu tinggal di kamar ini kan temannya Mbak Noni, ya? Mungkin itu punya dia, Mbak,” kata Ellen lagi.

“Saya belum pernah lihat barang ini sebelumnya, sih,” Noni mengangkat bahu, “tapi nggak pa-pa, saya simpan saja. Nanti kalau ketemu orangnya akan saya tanyakan. Makasih ya, Ellen.”

Sepeninggal tetangga barunya, Noni menimang-nimang benda itu di pangkuannya sambil merenung. Sudah pasti barang ini milik Kugy, pikirnya. Dan Noni merasa ketiban sial karena mau tak mau menjadi orang yang harus ketitipan barang Kugy yang ketinggalan.

Selintas tebersit keinginan untuk membuka bungkusan itu, tapi Noni ragu. Akhirnya ia membuka laci meja belajarnya, menyimpan benda itu di sana. Nggak usah dipikirin. Noni pun kembali menyambar sapu yang tersandar di dinding.

 

Jakarta, September 2002 …

Kugy menghitungi cangkang udang di kedua piring mereka. “Kamu kalah dua,” katanya pada Remi.

“Tapi di klasemen kerang rebus, kamu kalah tiga,” balas Remi yang sedari tadi menghitungi cangkang kerang.

“Kalo itu bukan salahku, tapi ketimpangan porsi dari restoran ini. Kalo di piringku ada ekstra sepuluh kerang, pasti semuanya juga kumakan, tauk,” protes Kugy.

“Itu namanya nasib!” Remi nyengir. “Jadi, makan saya udah cukup banyak buat jadi agen Neptunus, nggak?”

“Sebentar, sebentar,” Kugy berpikir. “Dalam primbon peraturan agen, andaikan agen non-Aquarius ingin bergabung, maka syarat-syaratnya adalah: pertama, harus jago makan seafood ….”

“Yang itu udah lolos, dong,” sela Remi.

Kugy memandangi lagi piring-piring kosong hasil perjuangan mereka sejam terakhir. “Oke, boleh, deh. Syarat pertama lolos. Kedua, harus bisa bikin perahu kertas ….”

“Sini, saya buktikan,” kata Remi seraya menyambar selembar pamflet menu yang tergeletak sebagai alas makan di atas meja. Dengan cekatan, ia melipat-lipat kertas itu, dan tak lama kemudian jadilah sebuah perahu.

“Wah! Hebat!” Kugy bertepuk tangan. “Syarat kedua lolos!”

Remi menggosokkan kedua telapak tangannya dengan mata berbinar, “Saya mulai optimis, nih. Apa syarat berikutnya?”

Kugy berpikir lagi, dan berpikir. Terakhir, ia tersenyum lebar-lebar. “Belum disusun sampai syarat ketiga … hehe, menyusul, ya.”

“HRD-nya payah!” omel Remi bercanda, “Padahal udah semangat, nih!”

“Secepatnya saya bawa perihal persyaratan ini ke forum departemen HRD Kerajaan Bawah Laut. Nanti dikabari lagi, ya, Mas. Sabar … sabar,” ujar Kugy sok serius.

Mendadak, ruangan itu jadi temaram. Beberapa lampu dimatikan. Keduanya pun tersadar, restoran itu sudah mau tutup. Para pelayan sudah berdiri memandangi mereka dengan senyum dipaksakan. Sopan, sekaligus ingin mengusir. Sambil menahan tawa geli, keduanya beranjak dari sana.

Kugy tiba di rumahnya pukul sebelas lebih.

“Salam untuk Karel, ya,” kata Remi sebelum Kugy keluar dari mobil.

“Nanti aku sampaikan,” Kugy mengangguk, “makasih ya makan malamnya.” Pintu pun membuka, dan setengah kaki Kugy sudah melangkah keluar.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.