Baca Novel Online

Perahu Kertas

Luhde menelan ludah. Tak pernah membayangkan kata-kata itu akan terlontar dari mulut Keenan. Belum usai kagetnya, ia dikejutkan lagi dengan Keenan yang tahu-tahu merebahkan kepala di pangkuannya.

“Damai sekali rasanya kalau sudah begini …” gumam Keenan. Matanya memejam.

Tubuh Luhde menegang. Namun, dibiarkannya Keenan yang tampak begitu rileks beralaskan simpuhan kakinya. Pelan-pelan, Luhde berusaha membiasakan dirinya dengan kondisi itu, pemandangan itu.

“De, kok saya nggak bisa melukis hari ini, ya?” Tiba-tiba Keenan bersuara. “Hati saya hampa, kepala saya kosong. Nggak ada yang mengalir keluar seperti biasanya.”

“Wajar kalau Keenan jenuh. Sudah berbulan-bulan hampir tidak pernah berhenti berkarya,” ucap Luhde.

“Mungkin saya jenuh, ya?” sahut Keenan, “tapi … gimana kalau ternyata bukan sekadar jenuh? Mungkin nggak saya—” Dan Keenan rasanya tidak bisa meneruskan ucapannya.

“Kadang-kadang langit bisa kelihatan seperti lembar hitam yang kosong. Padahal sebenarnya tidak. Bintang kamu tetap ada di sana. Bumi hanya sedang berputar,” Luhde melanjutkan dengan lembut.

Keenan mengembuskan napas panjang, berharap bahwa memang benar demikian. Digenggamnya tangan Luhde, lalu diletakkan di atas dadanya. “Nggak tahu apa jadinya kalau nggak ada kamu,” bisiknya.

Mereka berdua kembali ke dalam keheningan. Namun, sepotong bisikan itu terasa bergaung memenuhi seluruh pelosok ruang batin Luhde. Belum pernah ia mendengar Keenan mengutarakan perasaannya segamblang itu, sejelas itu. Belum pernah Luhde merasa sebahagia ini. Perlahan, satu tangannya bergerak, menelusuri rambut Keenan. Membelainya dengan penuh perasaan. Luhde berharap, dalam setiap gerakan jemarinya, Keenan dapat merasakan apa yang ia rasakan.

 

30.

AGEN NON-AQUARIUS

Jakarta, September 2002 …

Begitu kakinya melangkah ke lobi kantor, Kugy langsung mendapat pesan untuk menemui Remi di ruangannya. Kugy melirik jam. Akibat persiapan presentasi Tammies Bar, sudah empat hari terakhir ia masuk kantor di atas pukul sebelas siang. Setiap malam ia harus bekerja sampai larut, dan Kugy benar-benar tidak sanggup membuka mata sebelum pukul delapan pagi. Kugy tidak heran kalau hari ini ia bakal dapat teguran.

“Siang, Kugy. Silakan masuk,” Remi menyambutnya dengan ceria. Di dalam ruangan itu ternyata juga sudah ada Gina, account director.

“Sori, ya. Saya agak telat. Kemarin, sesudah presentasi, badan saya rasanya capek banget. Jadi, di rumah saya sengaja tidur terus, takut sakit,” jelas Kugy polos.

“Oh, ya. Kamu memang harus jaga kesehatan, Gy. Bener-bener jangan sampai sakit. Soalnya …,” Gina tersenyum simpul, ia melirik Remi.

“Tammies Bar gol. Klien kita suka banget sama konsep kamu. Mereka mau launch kampanye besar-besaran,” Remi melanjutkan.

“Mereka juga kepingin jalan dengan kita untuk semua produk barunya. Tapi …” Gina berdehem, “mereka kepingin ide yang secemerlang Tammies Bar, konsep yang out of the box, fresh, jadi ….”

Remi langsung menyambar, “Kita mau kamu yang jadi project leader untuk produk-produk mereka.”

Kugy ternganga. “Saya? Tapi … kok … kenapa saya?”

“Karena, saya pikir kamu punya syarat itu semua. Ide kamu fresh, out of the box, dan justru karena kamu anak baru, kamu belum banyak distorsi ini-itu. Kamu punya karakter yang pas untuk spirit klien ini. Dan jarang-jarang juga kita punya klien yang memilih untuk nggak ‘main aman’. Jadi, saya pikir, sinergi mereka dan kamu bakal cocok banget,” papar Remi lugas.

“Tapi … saya belum pengalaman … presentasi aja baru ikutan sekali ….”

“Kan kamu punya tim, darling? Ya, mereka pasti bantu kamulah,” ujar Gina sambil tertawa ringan.

Kugy berusaha mencerna ucapan yang barusan ia dengar. Dia—punya tim? Dari tukang fotokopi, tiba-tiba sekarang dia punya tim sendiri? Dalam hatinya, ia sudah ingin melorot ke lantai, terpingkal-pingkal. Walaupun ia tahu Remi dan Gina tidak main-main, semua ini terlalu lucu baginya. Namun, ia berusaha setengah mati menunjukkan muka serius.

“Oke,” Kugy menghela napas, bingung mau berkomentar apa, “jadi—”

“Jadi, kalau kita meeting lagi, kamu punya kerjaan lain selain ngelamun dan nahan ngantuk,” cetus Remi dibarengi senyum kecil.

“Congrats, yaaa!” Gina menambahkan.

Tak lama, Kugy keluar dari ruangan itu. Kembali ke pojok kecilnya. Cekakak-cekikik sendirian sepuasnya di sana.

Sudah setengah jam Kugy menunggu taksinya yang tak kunjung datang. Inilah risiko jika pulang pada waktu standar orang-orang bubaran kantor, yakni kompetisi kendaraan umum yang sangat ketat. Namun, Kugy terlalu lelah untuk mencoba alternatif lain selain taksi. Ia hanya ingin duduk tenang di jok belakang, bahkan kalau mungkin tertidur, dan tahu-tahu sudah sampai di rumah.

“Katanya mau pulang cepat.”

Kugy menoleh ke samping. Remi tengah berdiri di sisinya. Berpakaian lebih rapi dari biasa.

“Taksi saya belum datang-datang,” jawab Kugy, “mau ada acara lagi, ya? Rabu gaul?” Kugy terkekeh.

“Tadinya memang mau ada appointment. Tapi dibatalkan. Kamu mau pulang, ya? Saya antar sekalian, yuk? Taksinya di-cancel aja.” Dan sebelum Kugy sempat membuka mulut, Remi sudah keburu berbicara pada Anita, resepsionis kantor, untuk membatalkan pesanan taksi Kugy. Dan sebelum Kugy merancang basa-basi untuk merespons ajakan tersebut, Remi sudah keburu berkata, “Tunggu di sini, ya. Saya ambil mobil.” Sebentar kemudian, dia sudah menghilang. Kembali lagi bersama mobilnya di pelataran lobi, pintu depan yang sudah dibukakan, tinggal menunggu Kugy melangkah masuk.

Kugy memasuki mobil Remi dengan sedikit canggung. Walaupun Remi senantiasa bersikap rileks kepada para bawahannya, Kugy tetap sungkan jika harus diantar pulang oleh bosnya sendiri. Namun, Remi tampak datar dan biasa-biasa saja. Kugylah yang akhirnya memutuskan untuk meredam kecanggungannya sendiri.

Mobil itu bersih sekali. Wangi jok kulit meruap bercampur pengharum mobil. Alunan musik berkumandang sayup. Dan, mendadak telinga Kugy siaga. “Dead Or Alive?” tanyanya langsung. Mulutnya pun langsung ikut bernyanyi, “You spin me right round … baby, right round, like a record, baby, right round, round round ….”

“Kok—kamu tahu grup ini? Suka New Wave juga?” tanya Remi, takjub. “Memang dulu kamu udah lahir waktu zamannya lagu ini?”

“Ya udahlah,” Kugy tergelak. “Tapi orang-orang bilang saya memang kelainan. Ini tuh musik yang saya dengar dari kecil, dan selera musik saya, nggak tahu kenapa, dari dulu nggak berubah-rubah sampai sekarang. Saya kayak stuck di musik ’80. Nggak bisa dengar yang lain,” Kugy menjelaskan.

“Iya. Itu unik,” Remi pun manggut-manggut setuju, “tapi saya nggak terlalu kaget. Karel sudah bilang kalau kamu memang unik.”

“Dalam kasus saya, kata ‘unik’ itu seringnya merupakan ungkapan halus dari kata ‘aneh’.”

“Bagi saya, hidup terlalu singkat untuk dilewatkan dengan biasa-biasa saja. Saya orang yang sangat apresiatif terhadap segala sesuatu yang unik, aneh, dan nggak biasa,” Remi berkata tenang, “mungkin karena itu juga saya mau terima kamu kerja di AdVocaDo. Intuisi saya bisa membaui ‘keanehan’. Dan ternyata betul, saya nggak salah pilih.”

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.