Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Saya pingin tahu pendapat yang belum bicara. Kugy, menurut kamu gimana?”

Mendengar namanya disebut, seketika kantuknya melesat kabur. Kugy terduduk tegak. “Kenapa … pendapat? Tentang apa, ya?”

Yang lain langsung cekikikan melihat pemandangan komikal itu. Antara Kugy yang bagaikan murid tertangkap basah tidur di kelas, dengan Remi yang bagaikan guru killer siap menghukum.

“Iklan Tammies Bar. Apa pendapat kamu?” Remi mengulang. Suara itu menajam.

“Oh! Masih ngomongin yang tadi?” sahut Kugy polos.

Cekakak-cekikik di ruang itu makin menjadi. Benar-benar hiburan, pikir mereka semua.

“Menurut kamu … dari ketiga konsep tadi … mana … yang … paling mengena?” Remi sengaja melambatkan tempo bicaranya, seolah menjelaskan pada anak kecil.

Kugy diam sejenak, memeras otaknya agar memutar balik memori tentang rapat yang sudah berlangsung sejak sejam yang lalu itu, yang mudah-mudahan masih tersimpan di kepalanya. “Mmm … saya nggak suka tiga-tiganya,” akhirnya ia berkata.

Suara ketawa-ketiwi sontak lenyap. Muka-muka jahil tadi berubah serius dalam sekejap.

“Oke. Alasan kamu?” tanya Remi penasaran.

“Menurut saya, tiga-tiganya standar.”

Suasana yang sudah hening tadi sekarang beku. Tatapan tajam menghunjam Kugy dari kiri-kanan.

Kali ini kantuknya benar-benar sirna, dan Kugy mulai sadar apa yang barusan ia utarakan, plus konsekuensinya. Tapi sudah kepalang basah untuk mundur. Terpaksa ia melanjutkan, “Tiga konsep tadi memang padat info, tapi cerewet. Secara visual, tiga-tiganya memenuhi syarat tapi nggak nendang. Kalau saya jadi penonton, saya nggak kepingin beli, tuh. Biasa-biasa aja soalnya. Nggak bikin ngiler. Kita harus membuat Tammies Bar ini bikin orang penasaran dan kepingin coba.”

Iman tidak tahan lagi, “Teori sih gampang. Tapi realisasi konsepnya gimana?” cetusnya dengan nada tinggi.

Kugy terdiam. Sumpah, aku juga nggak tahu, balasnya dalam hati. Namun, semua orang di ruangan itu sudah menanti jawabannya seperti singa-singa kelaparan. Terlalu ganas dan buas untuk diberi jawaban “tidak tahu”. Dan akhirnya, Kugy memilih untuk menceletukkan apa pun yang lewat di pikirannya pertama kali.

“Gini … bayangkan: tiba-tiba muncul background hitam, sunyi, tanpa musik, tanpa suara, seperti teve kita mendadak mati, tapi tidak … muncullah selapis wafer, lalu mengalirlah hazelnut crème, lalu selapis wafer lagi, lalu melelehlah caramel, lalu mencairlah lapisan cokelat, menutupi semuanya, lalu berjatuhanlah butiran rice crispy, lalu cokelat itu membeku. Dengan efek bunyi yang dramatis. Seperti waktu Iceman mau membekukan satu Gotham City. Terakhir, cokelat itu terbungkus. Tammies Bar. Dan muncul satu kalimat: Kelezatan Tanpa Banyak Kata.”

Ruangan itu tetap sunyi. Namun, sunyi yang kali ini lain. Semuanya hanyut bersama visualisasi ide Kugy dalam pikiran mereka masing-masing.

“Tagline-nya oke,” Fani berkata lirih. Mukanya masih tidak rela, tapi ia sungguhan suka.

“Nggak standar,” Tasya mengakui. “Saya suka efek teve mendadak mati itu,” lanjutnya lagi, “dan efek Iceman tadi—whatever it is. But it’s memorable.”

“Jujur, gua kayaknya jadi pingin beli, tuh. Ngebayanginnya aja ngiler,” celetuk Siska. “Pe-er berat memang jadi di visual, tapi gua optimis bisa banget dikejar.”

Gina terkekeh, “Ekonomis pula. Nggak usah pakai jingle, overdub, dan sebagainya.”

Iman melirik ke arah Remi. Diikuti oleh semua mata. Tinggal dia yang belum bersuara.

Remi menepukkan tangannya ke meja, “Sip. Done, deal. Tammies Bar, Kelezatan Tanpa Banyak Kata, efek dan visual persis dengan apa yang dideskripsikan Kugy. Langsung jalan, ya? Khusus untuk pitching ini, saya mau Kugy jadi project leader. Siap-siap presentasi, ya, Gy. Good luck,” Remi pun berdiri, menatap Kugy hangat dan menepuk ringan bahunya, “… and good job.”

Kugy merasa darahnya mendadak hangat. Dan ketegangan yang tadi mengunci tubuhnya berangsur mencair. Mukanya berangsur berseri. Kugy sadar, barangkali inilah akhir kariernya menjadi petugas prakarya AdVocaDo, sekaligus hari pertamanya sungguhan “bekerja”.

Lena langsung melesat ke rumah sakit begitu ia mendapat kabar dari kantor suaminya. Setengah berlari, kakinya melangkah terburu-buru di koridor, mencari kamar tempat Adri diobservasi. Tak lama, Jeroen pun datang menyusul, masih dengan seragam sekolah.

Di kamar itu, suaminya terbaring dalam posisi setengah duduk. Wajahnya pucat. Namun, tampak jelas ia berusaha kelihatan baik-baik saja.

“Hai, Lena … Jeroen …” sambutnya dengan senyum yang dipaksakan muncul.

“Papa kenapa? Sakit apa?” tanya Jeroen panik.

“Nggak pa-pa … cuma stroke ringan. Nih … tangan yang kanan tahu-tahu aja nggak bisa gerak. Tapi sebentar juga normal lagi kok. Ini udah mulai bisa gerakin jari dikit-dikit,” jawab Adri, berusaha menenangkan anaknya.

“Stroke itu kenapa sih, Ma?” Jeroen gantian bertanya pada ibunya.

“Macam-macam, Sayang. Bisa karena terlalu capek, atau stres, atau ….” Lena bahkan tak sanggup menyelesaikan kalimatnya karena masih terengah dan shock, meski ia juga berusaha tampak tenang, kekhawatiran mendalam yang terpancar di mukanya tak bisa disembunyikan.

Adri bisa melihat itu. “Aku nggak pa-pa. Betul. Fisioterapi beberapa minggu aja pasti udah bisa normal lagi,” ucapnya lagi sambil mengelus lengan istrinya dengan sebelah tangan. “Semuanya akan normal lagi ….” Ia mengulang, lebih seperti untuk menenangkan dirinya sendiri.

Lena termenung. Baginya, ini lebih dari sekadar masalah fisioterapi. Ia lebih mengkhawatirkan apa yang tak terucap, apa yang tersembunyikan, dan apa yang masih akan terus membayangi keluarga mereka dari hari ke hari.

 

Ubud, September 2002 …

Sedari tadi tangannya sudah menggenggam kuas blok. Kanvas putih sudah siap di hadapannya. Namun, tak sesapu pun warna tergores di sana. Tangannya seperti lumpuh. Sejak ia kembali melukis lagi dua tahun lalu, baru kali ini Keenan merasa buntu. Perasaan itu sungguh asing. Bahkan menakutkan.

Keenan dapat merasakan energi kegelisahan yang bergerak menyusupi tubuhnya. Lambat laun, kian merasuk. Keenan mulai resah. Langit sore yang cerah pun tak ada makna baginya hari ini. Ada yang salah. Namun, rasanya tak bisa menunjuk apa-apa, siapa-siapa.

Tampak Banyu berjalan melewati bale. Keenan langsung memanggilnya, “Banyu! Luhde ke mana, ya?”

“Dia tadi pergi ke pura kota. Sebentar lagi pulang,” jawab Banyu sambil terus melenggang.

Barangkali karena belum ada Luhde, pikir Keenan. Biasanya jika dia ada di sini, semuanya baik-baik saja. Akhirnya ia memutuskan untuk berbaring, dan menunggu. Namun, badannya bolak-balik terus seperti kepanasan. Keresahan itu makin tidak tertahankan. Keenan hanya menunggu, dan menunggu ….

“Keenan … kamu cari saya, ya?” Suara Luhde muncul dari belakang.

Serta-merta Keenan bangkit, mukanya lega bukan main. “De, kamu kok lama banget sih perginya?” ujar Keenan seraya menarik tangan Luhde.

Luhde terkejut dengan sambutan ekstra hangat itu. “Keenan sudah menunggu dari tadi? Maaf, ya. Mmm … memangnya kita janjian?”

Keenan tertawa lepas. “Nggak, kita memang nggak janjian. Tapi hari ini rasanya aneh. Seperti ada yang kurang. Dan nggak tahu kenapa, saya merasa kehilangan kamu. Aneh rasanya kamu nggak ada menemani saya di sini.”

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.