Baca Novel Online

Perahu Kertas

Interiornya tidak kalah memukau. Dari mulai pencahayaan hingga furnitur, Kugy segera tahu bahwa selera pemiliknya di atas rata-rata. Dan dari terlihatnya barang-barang seni di mana-mana, dengan mudah Kugy menyimpulkan bahwa pemilik kantor ini seorang pencinta seni yang bukan sembarangan.

Sambil menunggu bersama Karel di sofa depan, mata Kugy tak henti-hentinya jelalatan ke sana kemari, mengagumi calon kantor barunya.

Tak lama, seseorang berjalan keluar menghampiri mereka. “Karel! Hai!”

Karel langsung bangkit berdiri, dan keduanya berangkulan akrab. Kugy spontan ikut berdiri. Kaku. Ia menyadari sesuatu. Jarang sekali ia terkesiap melihat seseorang. Namun, kehadiran orang itu memang seketika mengubah atmosfer ruangan. Dalam benaknya, Kugy membayangkan sosok Remigius Aditya yang jauh lebih tua. Tapi ternyata pemilik biro iklan AdVocaDo ini masih sangat muda, berpenampilan gaul dengan kemeja lengan pendek, jins hitam, dengan wajah tampan dan segar seperti baru keluar dari spa.

“Remi, kenalin, ini adik gua, Kugy,” Karel menyorongkan Kugy ke muka.

“Remigius,” ia berkata ramah sambil menjabat tangan Kugy, “panggil aja Remi.”

Karel menggeleng cepat, “No … no, panggil ‘Pak’ Remi.”

Remi tertawa renyah. “No, Karel. Remi. Please.”

Kugy ikut tersenyum. “Kugy,” ia memperkenalkan diri.

“Makasih banget ya buat kesempatannya,” kata Karel lagi. “Mudah-mudahan dia nggak malu-maluin.”

“The K family? Gua percayalah,” Remi tergelak, “resume kamu juga sangat bagus, kok,” tambahnya pada Kugy, “dan kamu masuk pada saat yang tepat.”

“Oh, ya?” Kugy terlongo.

“Kita lagi banyak banget proyek baru, media campaign, pokoknya kenyang, deh. Sudah bisa dipastikan kamu langsung sibuk,” ujar Remi santai, “yuk, kamu bisa mulai sekarang. Saya kenalin dulu sama tim yang lain, ya.”

Kugy bisa merasakan telapak tangannya berkeringat pertanda gugup. Masih terbayang jelas suasana kampus, tempat kosnya, Sakola Alit. Rasanya semua itu baru kemarin ia alami. Dan sekarang ia sudah memulai sesuatu yang sama sekali baru. Mendadak, Kugy ingin terbang kembali ke Bandung saat itu juga.

 

29.

BUMI PUN BERPUTAR

Jakarta, September 2002 …

Kugy tak percaya bisa lolos dari sebulan pertamanya di AdVocaDo. Ia resmi menyandang titel pegawai termuda karena dialah satu-satunya yang bekerja dengan status magang sambil menunggu ijazah. Kugy ditempatkan di satu tim yang dikepalai seorang creative director yang juga membawahkan beberapa tim lain di AdVocaDo. Tim yang ia tumpangi terdiri dari seorang art director bernama Siska, dan seorang copy writer senior bernama Iman.

Lantai bawah menjadi lantai area untuk bagian account, sementara departemen kreatif menghuni lantai dua. Suasana lantai bawah lebih tertib dengan orang-orang yang berbaju lebih rapi, sementara lantai dua ingar-bingar, urakan, dan lebih berantakan. Kugy adalah bagian dari lantai dua, menempati satu pojok berpartisi, dengan sebuah meja dan satu set komputer.

Remi benar. Ia memang langsung sibuk luar biasa. Sebentar-sebentar ada yang nongol di balik partisinya; “Gy, tolong di-scan ya,” sambil menyerahkan setumpuk gambar; “Gy, tolong fotokopi ini semua, ya,” sambil menyerahkan setumpuk dokumen; “Gy, gambar yang udah ditandain, tolong diguntingin, ya. kita mau buat dummy storyboard,” sambil menyerahkan setumpuk majalah dan gunting kecil. Kugy merasa, satu-satunya pekerjaan yang belum diperintahkan padanya adalah membuat kopi atau teh, dan itu pun hanya karena sudah ada office boy dan office girl. Kadang-kadang, Kugy merasa lebih tepat disebut senior office girl ketimbang seorang junior copy writer.

Jam kerjanya pun tak tentu. Sementara para office boy dan office girl sudah bisa pulang dari pukul enam sore, Kugy kadang harus menetap sampai pukul sebelas malam, apalagi kalau sudah menjelang presentasi pada klien, padahal saat presentasinya nanti ia tidak pernah diikutsertakan.

Begitu sampai di rumah, Kugy pun harus menghadapi berondongan pertanyaan dari keluarganya yang begitu bersemangat dengan karier barunya. Sebentar-sebentar ada saja yang mengusiknya untuk bertanya; “Gy, gimana kerjaan lu? Betah, nggak?”; “Gy, udah bikin iklan apa aja, nih?”; “Denger-denger bos lu ganteng, ya?”. Kugy selalu menjawab apa adanya, bahwa selama bekerja di AdVocaDo ia semakin ahli menggunting, memotong, dan cekatan memfotokopi. Dan semua itu kelak berguna jika ia memutuskan untuk bikin kios fotokopi sendiri. Kadang, semua pertanyaan itu ia jawab dengan dengkuran, menggeletak di sofa ruang tamu dan tertidur sampai pagi.

Jumat. Hari yang paling ditunggu oleh Kugy karena berarti selepas hari ini ia akan punya dua hari untuk bermalas-malasan. Setidaknya, di akhir pekan besok, ia terbebas tugas karena belum ada lagi pitching yang mendesak. Pikirannya sudah melayang ke akhir hari, ke tempat tidur, bermain dengan Santai, dan melalap tumpukan komik Jepangnya yang sudah begitu banyak tertunda.

Namun, siang ini ia harus terjebak dalam rapat internal, membahas sebuah produk permen cokelat yang berencana akan kampanye besar-besaran. Sementara Kugy tahu keterlibatannya tak akan lebih dari menggunting dan men-scan. Sambil mengaduk-aduk secangkir kopinya, Kugy berusaha memasang tampang menyimak, padahal ia sudah mau mati bosan.

Iman berusaha keras meyakinkan Remi atas usulan konsepnya, “Tapi teks ini catchy banget, Bos. Memang banyak yang terpaksa dipersingkat, supaya ada ruang buat visual. Tapi pesannya kan tetap jelas.”

Remi berpikir, “Iya, sih. Tapi … kenapa, ya? Saya kok merasa belum … kena. Udah banyak iklan produk sejenis yang pakai angle sama.”

“Kalo konsep tim kita sih lebih condong ke narasi, supaya mengakomodasi maunya klien yang kepingin fitur produknya bisa maksimal keluar. Tammies Bar—cokelat Swiss, real caramel, crispy wafer, hazelnut crème, bla-bla-bla … kita push aja semua keterangan itu,” usul Fani, dari tim lain.

Remi menggeleng. “Basi, ah. Dan kayaknya nggak cocok buat profil segmen yang mereka tembak.”

“Iya, tapi, kan mau kliennya gitu. Dia pingin kualitas cokelatnya tersampaikan, karamelnyalah, wafernya, rasanya, gambar kemasannya. Kalo bukan narasi atau teks grafis, apa lagi?” desak Iman.

Gina, account director, berdehem, “Teman-teman, tanpa bermaksud bikin kalian tambah stres, tapi sebenarnya iya, saya cuma mau ngingetin kalo mereka memang sengaja pitching dengan produk yang susah. Tapi, begitu yang satu ini gol, semua produk mereka bakal lari ke kita. Tahun ini produsennya mau launching empat produk di Indonesia. Tammies Bar cuma kasus uji coba doang. Tapi sekaligus yang paling menentukan.”

“Jadi, kita maju pakai yang mana, nih? Tim saya, Iman, atau Fani?” tanya Tasya, tim terakhir yang juga presentasinya ditolak mentah-mentah oleh Remi.

Remi menghela napas. “Sorry, guys. Saya masih belum puas.”

Muka-muka protes langsung bermunculan. Kerja keras mereka beberapa hari bisa jadi percuma, bahkan harus mengulang lagi dari awal. Remi menebarkan pandangan, tatapan-tatapan gelisah yang menunggu keputusannya. Kecuali yang satu itu. Mata Remi tertumbuk pada Kugy yang tampak mengaduk-aduk kopi di ujung meja sana, dengan satu siku menopang dagunya yang sudah mau roboh, dan kelopak setengah menggantung pertanda ngantuk nyaris pingsan.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.