Baca Novel Online

Perahu Kertas

Dari jauh, Kugy membalikkan badan. “KO! Siapa nama sepupu lu?”

“Keenan!”

“KEENAN?”

Bersamaan dengan itu muncul serombongan orang yang menghalangi pandangan keduanya. Kugy berharap ia tak salah mendengar. “Keenan … Keenan …,” ulangnya sendirian sambil terus berjalan.

Tak jauh dari sana, seseorang merasa namanya dipanggil. Keenan merasa sumbernya adalah perempuan yang sedang bergerak ke arahnya. Keenan mengamati dengan saksama. Ia yakin belum pernah berkenalan dengan cewek satu itu seumur hidupnya. Tepatnya, ia belum pernah menemukan orang dengan penampilan seaneh itu.

Ragu, Keenan mendekati, menjajarkan langkahnya dengan kaki kecil yang melangkah besar-besar dan terburu-buru.

“Permisi ….”

Kugy berhenti, tertegun menatap orang yang tahu-tahu muncul di sampingnya dan kini mengadang persis di hadapan. Keenan mengamati sekali lagi. Perempuan mungil setinggi dagunya, kelihatan seperti anak SMP, gaya berbusana tidak ada juntrungnya, rambut seperti orang baru kesetrum, kedua mata membelalak seperti mengancam. Mendadak Keenan menyesal telah memanggil.

“Ada apa, ya?” tanya Kugy dengan suara dibesar-besarkan. Berusaha sangar.

Setengah mati Keenan menahan senyum gelinya yang spontan ingin membersit. Ternyata ia berhadapan dengan anak kucing yang berusaha jadi singa.

“Nggak pa-pa. Saya salah mengenali orang. Saya pikir tadinya kamu … emm … maaf, ya.” Keenan mulai bingung menjelaskan, dan akhirnya hanya tersenyum lebar lalu ambil langkah seribu. Namun, dalam hati ia tahu, ia tidak akan pernah melupakan wajah itu.

Kugy pun hanya mengangguk kecil, lalu berjalan lagi ke arah bilik informasi yang menjadi tujuannya. Napasnya baru lepas setelah ia yakin orang itu sudah hilang jauh di balik punggungnya. Sejujurnya, ia tidak keberatan salah dikenali.

Laki-laki tadi adalah makhluk tertampan yang pernah ia temui sejak tokoh Therrius dalam komik Candy-Candy. Namun, harus selalu waspada dengan semua makhluk sok akrab, tegas Kugy dalam hati. Lebih baik konsentrasi mencari sepupu Eko nan malang, ia pun memotivasi diri. Berusaha melupakan apa yang baru ia lihat.

 

3.

MOTHER ALIEN

Noni dan Eko, yang mulai putus asa menunggu di tempat sama, akhirnya berjalan ke teras depan stasiun. Suasana mulai lengang, tinggal segelintir orang yang tersisa.

“Aku coba telepon ke rumah tanteku, deh. Siapa tahu memang dia pakai kereta yang lain. Pinjam HP ya, Non. Pulsa cekak, nih.”

Sambil memberengut, Noni menyerahkan ponselnya. Namun, tangannya tergantung di udara, karena tiba-tiba terdengar suara yang sangat ia kenal bergaung lewat speaker seantero stasiun.

“Panggilan untuk Keenan penumpang KA Parahyangan dari Jakarta, sekali lagi, saudara Keenan, sepupu dari Eko Kurniawan, ditunggu oleh saudara Eko yang ciri-cirinya sebagai berikut: rambut cepak berjambul Tintin, tinggi 175 cm, kulit cokelat sedang, mata besar bulu mata lentik, pakai kaus Limpbizkit, ditemani oleh dua cewek cakep ….”

Noni dan Eko melongo. Keduanya menoleh ke belakang, melihat Kugy di bilik informasi sedang menguasai mikrofon. Tak lama seorang petugas datang tergopoh-gopoh untuk mengendalikan situasi. Seorang anak kurang ajar rupanya telah menjajah daerah kekuasaannya saat ia pergi sebentar ke kamar mandi barusan.

Tak hanya Noni dan Eko yang ikut menoleh, seorang pemuda yang berdiri tak jauh dari mereka pun ikut melongok. Dan kini orang itu yakin bahwa perempuan aneh yang kini tengah diusir petugas itu memang orang sama yang memanggil namanya tadi.

Sambil tertawa riang, Kugy menghampiri Noni dan Eko. “Ha-ha … salah sendiri posnya ditinggal ….”

Dari arah lain, tampak satu sosok mendekati mereka bertiga.

Baru saja Keenan mau mengucap “permisi” untuk yang kedua kalinya, matanya tertumbuk pada wajah yang kali ini rasanya ia sungguhan kenal.

“Eko?” panggilnya setengah meragu.

“Keenan?” Eko membalas sama ragunya.

Keduanya tercenung memandangi satu sama lain. Dalam koridor memori masing-masing, ingatan mereka berkejaran menuju ke sembilan tahun lalu. Dalam ingatan Keenan, Eko adalah anak berbadan besar cenderung tambun, periang, bermata cantik seperti anak perempuan dengan bulu mata lebat dan lentik. Dalam ingatan Eko, Keenan adalah anak bule berambut kecokelatan, kurus dengan tungkai-tungkai panjang, bersorot mata teduh dan selalu tersenyum ramah, tapi jarang bicara. Dan sekarang Keenan menjulang tinggi dan tegap, rambutnya yang diikat tak lagi cokelat melainkan hitam pekat, tampak terjurai sedikit melewati pundak. Hanya sorot matanyalah yang tak berubah, yang sejak kecil membuat Keenan tampak lebih dewasa dari umurnya. Keenan pun tak akan mengenali sepupunya jika saja tidak menemukan kedua mata bundar yang dinaungi bulu-bulu lentik yang sejak dulu menjadi ciri khas Eko, yang membuatnya dulu dipanggil “Si Cowok Cantik”. Sekarang sepupunya sudah tidak bulat lagi seperti bola, malah lebih mirip pelatih fitness.

Jarak sembilan tahun itu seketika melumer ketika keduanya berdekapan sambil tertawa bersama, menyadari bahwa sejak tadi mereka ternyata berdiri bersisian.

“Bener juga kata Tante Lena, lu udah makin kayak senIman sekarang!” seru Eko sambil menepuk bahu Keenan. “Kenalin, Nan. Ini cewek gua, Noni. Dan ini sahabatnya Noni ….”

Hanya Kugy yang tampak menyimpan kepanikan saat berkenalan dengan Keenan. Wajahnya bersemburat merah saat ia mengulurkan tangan, “Hai. Kugy ….”

Keenan tersenyum lebar menyambut tangan mungil dengan muka yang kini merunduk malu itu. Betulan seperti anak kucing. “Hai. Akhirnya kenalan juga.”

“Memangnya kalian udah ketemu?” komentar Eko melihat pemandangan ganjil itu. Kugy yang tahu-tahu melempem seperti kerupuk disiram air, sementara ekspresi Keenan seperti orang yang menangkap basah sesuatu.

“Belum!” Keduanya menjawab kompak. Mereka berdua berpandangan lalu tertawa.

“Sudah!” ralat keduanya lagi, juga bersamaan. Dan mereka tertawa lagi.

“Gimana, sih?” Eko dan Noni mulai merasa ada konspirasi di balik ini semua.

“Mungkin kita sudah ketemu di kehidupan lampau ….” timpal Kugy cepat.

“Yup . Dan dulu dia galak sekali.” Keenan ikut menambahkan, mantap.

Eko melengos melihat keduanya, malas mempermasalahkan apakah dua orang itu serius atau bercanda. “Dari dulu dia udah hancur gini belum dandanannya?” celetuknya sambil menunjuk Kugy.

“Oh, selalu!” Keenan nyengir.

Kugy ikut mengekeh, bangga. Percaya dirinya sudah kembali. Seketika ada keakraban yang juga mencairkan jarak dan waktu di antara mereka berempat, seolah mereka telah berkenalan jauh lebih lama dan bukannya barusan.

Tak lama kemudian, hujan kembali mengguyur Kota Bandung. Sebuah Fiat warna kuning terang tampak berusaha keras keluar dari parkiran stasiun. Noni di belakang kemudi, sementara ketiga temannya mendorong di belakang. Tubuh mungil Kugy diapit oleh kedua lelaki besar di kiri-kanan, tapi jelas suara lantangnya yang berfungsi sebagai mandor. Ia berteriak-teriak sekuat tenaga untuk membakar semangat, sampai akhirnya Fiat itu berhasil kembali melaju dengan tenaga mesin. Bukan manusia.

Dering telepon meraung-meraung di koridor kos-kosan itu sejak tadi, bersahutan dengan derap kaki yang berlari dan teriakan berulang-ulang: “Nggak usah diangkaaat! Itu buat sayaaa!”

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.