Baca Novel Online

Perahu Kertas

Namun, Noni bergeming di tempatnya. “Selamat buat kelulusan lu. Tapi gua lagi banyak kerjaan. Sori,” katanya dengan nada datar.

“Ada yang bisa gua bantu, nggak?” Kugy menawarkan diri.

Noni hanya menggeleng.

“Non … sebenarnya gua pingin bicara sesuatu sama lu. Gua pingin kita temenan lagi kayak dulu. Gua mau minta maaf atas semuanya. Selama ini gua bingung mulai dari mana …” terbata-bata Kugy berusaha menjelaskan.

“Gy, gua hargai maksud lu,” sela Noni, “tapi buat gua, semua itu udah jadi sejarah. Dan gua merasa lebih baik hubungan kita kayak gini aja. Jauh lebih mudah buat gua. Buat elu. Dan mungkin buat Eko.”

Sesuatu seperti menyodok hatinya tiba-tiba. Namun, Kugy tidak tahu pasti apa. “Kenapa gitu, Non?”

Rahang Noni mengencang. Ingin sekali rasanya ia muntahkan semua kekesalannya selama ini seperti berondongan peluru. Namun, ia pun tak tahu harus memulai dari mana. “Seumur hidup gua temenan sama lu, gua harus mengakui lu lebih cantik, lebih pintar, lu serba bisa, tapi gua nggak mau sirik sama lu, karena gua sayang banget sama lu, Gy. Tapi baru kali ini gua sakit hati sama lu, karena lu memanfaatkan semua kelebihan lu untuk kepentingan lu sendiri ….” Noni berkata dengan suara tertahan.

Kugy terlongo mendengar kalimat-kalimat itu. Berusaha mencerna, memahami, dan tetap belum ia temukan maksud Noni yang sebenarnya.

“Gua tahu Eko memang simpati sama kondisi lu. Dia sayang sama lu. Dulu kita semua juga gitu. Tapi jangan gara-gara cuma tinggal dia sendirian yang masih nganggap lu, terus lu merasa lebih. Kalo lu memang punya hati, lu bakal tahu menempatkan posisi lu di mana. Belagak temen, tapi makan temen. Atau jadi orang asing, tapi nggak makan temen. Gua sarankan lu pilih yang kedua. Karena gua nggak punya tempat buat lu lagi, selain posisi itu.”

“Non … lu salah sangka … total!” Kugy sampai menahan napas saking kagetnya. “Gua nggak ada niatan kayak gitu sama sekali … nggak pernah ada apa-apa di antara gua dan Eko selain temenan doang ….”

“Oke. Gua mau mengaku satu hal sama lu,” potong Noni tajam, “tadi siang gua datang ke kampus, mau kasih support untuk lu sidang. Nah, sekarang giliran gua mau tanya sama lu,” muka Noni semakin kencang, “pernah nggak Ojos menemani gua dengan setianya berminggu-minggu? Pernah nggak gua meluk-meluk Ojos di depan umum?”

Kugy terkesiap. Berusaha setengah mati memahami apa yang tengah terjadi, apa yang Noni lihat, apa yang Noni kira. “Astaga, Non … maksud lu kejadian tadi siang di kampus? Gua tuh … ya ampun, Non …,” Kugy nyaris kehilangan kata-kata, “gua sobatan sama Eko udah hampir sepuluh tahun, kita udah kayak kakak-adik. Mana bisa lu samain hubungan gua dan Eko dengan hubungan lu dan Ojos?”

“Kalo lu memperhitungkan perasaan gua, lu nggak perlu membela diri kayak gitu. Lu cuma perlu tahu diri. Jangan sok polos, Gy. Eko selalu punya hati buat lu. Sekarang tinggal gimana elunya aja. Masih nganggap gua ada atau nggak.”

Kugy menunduk lunglai, mengingat perjalanannya setahun ke belakang, dua tahun ke belakang, tiga tahun ke belakang … mendadak ia lelah luar biasa. “Itu adalah hal paling tolol yang pernah gua denger dari lu,” ucapnya pelan.

Hati Noni langsung tertusuk mendengarnya. Namun, ia berusaha tampak tegar. “Nah, sekarang lu ngerti, kan? Kenapa gua tadi bilang nggak ada yang perlu diubah dari hubungan kita? Lebih baik gini, deh,” cetusnya dingin.

Kugy pun mengangguk. “Iya, lebih baik gini.”

Pintu itu pun ditutup. Kugy pun membalikkan badan. Pulang.

Begitu sampai di tempat kosnya, Kugy tidak buang waktu. Malam itu juga, ia berkemas-kemas. Ia akan pulang ke Jakarta secepat mungkin. Tidak ada lagi yang menahannya di sini. Sama sekali.

Malam itu Kugy pun memutuskan, segala kenangan dan perkara yang hanya akan membebani hatinya, ia buang jauh-jauh. Noni resmi menjadi satu di antaranya.

 

Jakarta, Agustus 2002 …

Kugy mematut-matut diri di kaca. Kegiatan yang telah dilakukannya bolak-balik sejak setengah jam yang lalu. Barangkali inilah rekor terlama ia bercermin. Selama ini bahkan ia jarang menggunakan jasa cermin karena tidak terlalu peduli apa yang dilihatnya di sana. Namun, hari ini, ia merasa ada yang benar-benar tidak beres.

Ada yang salah dengan rok selutut yang dikenakannya, dengan sepatu hak lima senti yang menempel di kakinya, dengan clutch bag itu, dengan rambutnya yang mendadak bervolume karena di-roll sejak pagi tadi.

“Gua kok ancur banget, sih?” keluhnya pada Karin, yang merupakan penyalur semua barang yang kini ada di badannya itu.

“Yang ancur adalah mata lu dan wawasan busana lu selama ini, Kugy. Kalo orang mau ngantor, supaya tampak menarik, enak dilihat, dan profesional, ya begini dandanannya!”

Karel, yang baru selesai sarapan, melongok dari pintu. “Gy, berangkat, yuk—” Kalimatnya terhenti. Karel bengong menatap adik perempuannya.

“Kamu—nggak salah info, kan, Gy? Kamu bakal jadi co-py-wri-ter,” eja Karel penuh penekanan, “bukan fa-shion e-di-tor! Juga bukan re-sep-sio-nis! Dan bukan S-P-G!”

Karin mendelik sewot. “Karel, ini namanya STYLE, oke? Sesuatu yang bukan keahlian kamu. So … leave it to the expert, please?”

“Karin, aku udah sering ke kantor advertising tempat Kugy nanti kerja. Bosnya aja ngejins kalo ke kantor. Dan Kugy bakal ditempatkan di bagian kreatif. Dalam hal ini, I am the expert. So, please, jangan jadikan adik kita kelinci percobaan fashion-mu, oke?” balas Karel tegas.

“Fine, fine,” Karin melengos, “udah jelas, masalahnya di sini adalah kesenjangan selera.”

Giliran Kugy bersorak girang. “Hore! Jadi aku pakai bajuku aja, ya?” Ia pun berlari-lari masuk kamar untuk ganti baju.

Tak lama Kugy kembali dari kamarnya. “Kalo gini gimana?” ia berdiri di ruang makan, meminta pendapat semua.

Kugy, berdiri dengan rok panjang hitam yang dibelinya untuk sidang skripsi, kemeja putih peninggalan penataran P-4, jaket jins Karel yang nyaris menutup tubuhnya seperti sarung HP, dan tak lupa, jam tangan Kura-kura Ninja-nya yang mencuat hingga rasanya menggaplok mata.

Karel menelan ludah, kembali melirik Karin, meminta pertolongan.

Sebelum masuk, Kugy mengamati kantor itu sejenak. Tertera tulisan besar berwarna hijau daun di dinding batu: AdVocaDo. Segalanya masih serba baru. Berlokasi di derah perumahan Jakarta Selatan, gedung mungil dua lantai itu sangat artistik dan bergaya galeri. Desainnya serba minimalis, tapi ada aksen warna-warna berani seperti pintu dan kusen serba merah, patung-patung logam dengan lapis aluminium cemerlang. Kantor itu pun dilingkungi taman tropis bergaya Bali yang rimbun dan asri.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.