Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Udah gua bilang, jangan sok melankolis di depan gua. Yang ada gua pingin nyolok mata lu,” Eko terkekeh.

“Gua serius, gila,” kata Kugy lagi. “Kalo ada apa pun yang bisa gua bantu buat lu, please let me know, ya. I owe you one.”

Mendengar itu, Eko pun berhenti bergoyang. Diam, berpikir. “Sebetulnya … ada, sih. Gua pingin minta tolong sesuatu.”

“Anything.”

“Gua minta lu bicara sama Noni setelah lu sidang. Baikan lagi, gih,” Eko berubah serius, “Gua juga nggak jamin kalian langsung bisa akur. Tapi setidaknya lu nyoba satu kali untuk bicara sama dia. Oke?” katanya lembut. “Buat gua? Please?”

Dari semua kemungkinan permintaan Eko, Kugy paling enggan membayangkan yang satu itu. Tapi janji adalah janji. Ia pun mengangguk.

Pintu itu membuka, dan Noni langsung menyambutnya dengan ucapan datar, “Ya. Ada apa?”

“Kamu masih marah, Non?” tanya Eko hati-hati.

“Nggak penting,” jawab Noni pendek, “selama Kugy belum sidang, apa pun jadi nggak penting ….”

“Besok dia sidang,” sela Eko, “kamu bisa datang untuk kasih support. Dia pasti seneng banget kalo kamu ada.”

“Dia atau kamu yang seneng?”

“Non! Kalian tuh temenan udah berapa tahun, sih? Masa kalah sama masalah beginian doang? Masalahnya apa juga nggak jelas, tahu-tahu diem-dieman, terus dua-duanya sama-sama keras kepala. Heran,” Eko mulai dongkol.

“Buatku, masalahnya selalu jelas, yaitu: dia NGGAK JELAS! That’s it!” tegas Noni. “Dan yang bikin semua ini makin-makin menyebalkan adalah karena kamu selalu ada di pihak dia!”

“Noni … itu nggak benar sama sekali. Aku nggak berpihak, justru aku kepingin kalian—”

“Kamu tuh naif atau pura-pura polos, sih, Ko?” Noni berdecak tidak sabar, “Ngaku aja, kenapa sih?”

Eko mengerutkan alis. “Ngaku apa?”

“Kamu naksir dia dari SMP. Jauh sebelum kita pacaran. Iya, kan? Dan sebagian dari diri kamu yang tergila-gila sama Kugy tuh nggak berubah. Kamu selalu memuja dia. Dia nggak pernah salah buat kamu. Aku tahu kamu sayang banget sama aku, dan kamu pacarku, tapi sebagian hati kamu selalu ada buat Kugy. Iya, kan?” Noni setengah mati menahan tangis. Suaranya bergetar-getar. Apa yang selama ini ia tahan-tahan akhirnya keluar juga.

Eko menganga tak percaya. “Non! Dia sahabatku! Aku sayang banget sama manusia gila itu! Tapi bukan sayang yang seperti kamu sangka. Ampun, deh. Kamu kenapa, sih?”

“Tanya sama diri kamu sendiri! Kamu tuh KENAPA?” seru Noni putus asa.

Pintu itu membanting di depan muka Eko. Dan seberapa kali pun dia mengetuk dan memanggil-manggil, pintu itu tak membuka.

 

28.

ADVOCADO

Sidang yang dilakukan secara terbuka itu ditonton oleh teman-teman terdekat Kugy. Ada Ami, Ical, Eko, Bimo, dan beberapa teman lain. Hanya Eko yang menunggu sampai pengumuman sidang. Mereka berdua duduk di bangku taman dekat ruang sidang. Tidak banyak bicara. Dengan dua gelas jus buah di tangan masing-masing, pandangan yang sama-sama kosong, menunggu dengan tegang.

Mas Danar, petugas administrasi yang sudah akrab dengan Kugy, tahu-tahu melongokkan kepalanya dari dalam kantor. “Gy, pengumumannya udah keluar!” panggilnya.

“Dari muka Mas Danar kayaknya lu dapet A, Gy …” bisik Eko yang berjalan di belakang Kugy.

“Kok, gua malah ngelihat di mukanya tergambar huruf C … atau bahkan nggak lulus? Huuu … tegang, nih, Ko …” Kugy melangkah sambil meringis-ringis.

“Nih, saya tempel, ya. Silakan baca sendiri,” kata Mas Danar sambil merekatkan kertas hasil nilai pengumuman tiga sidang yang digelar tadi pagi.

Berhubung hanya ada tiga nama di sana, dengan cepat Kugy menemukan namanya. Ia dan Eko sama-sama tercengang.

“A—plus?” teriak Eko.

Kugy menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya sudah mau terjun bebas keluar. “Kooo … gua nggak percaya ….”

“Nilai lu paling tinggi, monyong! Kampret! Bangsat! Hebat banget sih luuu!” Eko berteriak kesenangan sambil menggoyang-goyang bahu Kugy.

Spontan, Kugy membalik badan. Memeluk Eko erat. “Thank you, ya, Ko. Kalo bukan karena lu, gua nggak akan mungkin bisa berhasil hari ini,” bisiknya terharu.

Eko sempat tersentak kaget dengan reaksi yang tiba-tiba itu. Namun, lambat laun badannya yang mengunci mulai mengendur, ia pun mendekap Kugy balik. “Sama-sama, Gy. Gua hepi banget buat lu …” tahu-tahu satu tangannya menjitak kepala Kugy pelan, “eh, awas lu ya, jangan pakai acara nangis segala. Udah cukup gua jadi kacung lu dua bulan, jangan sampai bikin gua malah terharu atas kesialan gua selama ini ….”

Perlahan, Kugy melepaskan pelukannya. “Sesudah ini, gua yang mengabdi jadi kacung lu,” katanya berseri.

Eko merogoh kantong, menyerahkan kunci mobil. “Lu bisa mulai dengan jadi sopir.”

“Delapan-enam, Komandan,” Kugy menyahut sigap. “Mari, saya antar. Saya kasih makan. Saya kasih minum. Tapi nanti tetap saja Komandan yang bayar.”

“Anak buah ngehe emang lu!” semprot Eko sambil tergelak.

Dari kejauhan, seseorang mengamati keduanya berjalan berangkulan. Noni.

Pagi tadi, ia merasa menyesal atas tuduhannya pada Eko. Dan, tiba-tiba, ia juga tergerak untuk menemui Kugy ke kampus demi memberikan dukungan. Dengan segala kegentaran dan keengganan yang padahal masih membebani hatinya, Noni berhasil melawan itu semua untuk akhirnya datang ke kampus dan mencari Kugy ke ruang sidang. Namun, apa yang dilihatnya barusan memupuskan keduanya.

Sebagian dirinya remuk ketika melihat satu hal yang paling ia takutkan ternyata menjadi kenyataan. Eko memang mencintai Kugy. Dan, dari apa yang ia lihat barusan, sepertinya cinta itu tidak hanya searah.

Noni berusaha keras untuk tetap kuat berjalan pergi dengan tegak. Dadanya naik turun, menahan tangis. Ia berharap seandainya saja bisa terbang dan cepat-cepat pergi dari tempat itu. Ia tidak kuat lagi.

Rasanya sudah lama sekali Kugy tidak ke tempat itu. Tempat yang dihuninya dua tahun bersama Noni. Rumah pertamanya di Bandung. Dan tak lama lagi ia akan meninggalkan kota ini. Kugy berdiam sebentar, memandangi sudut-sudut di tempat kos itu. Sudut-sudut yang membangkitkan rentetan kenangan di benaknya. Kugy lalu menggeleng kepala sendirian, seolah-olah ingin menepis sesuatu. Kembali melangkah menuju kamar itu. Sekilas membaca tulisan: NONI ADA.

Kugy mengetuk pintu. Tak lama, pintu membuka, dan tampaklah Noni yang terkejut bukan main. Sama sekali tidak menyangka kedatangan Kugy.

Kugy mengangkat kedua sudut bibirnya tinggi-tinggi, tersenyum selebar mungkin. “Helo, Non! Apa kabar?”

Noni tidak bereaksi sama sekali. Hanya menatap Kugy dengan tatapan tidak mau diganggu.

“Gua lulus sidang tadi pagi, Non. Dan Karel udah cariin gua kerja di Jakarta, gua mulai coba magang sambil nunggu wisuda. Jadi, gua mau pamitan, sekalian pingin ngobrol-ngobrol aja,” dengan nada secerah mungkin Kugy bercerita. “Hmm. Boleh masuk?” tanyanya hati-hati.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.