Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Sekarang aku udah realistis,” kata Kugy sambil tersenyum sekilas. Ada rasa getir di mulutnya saat kalimat itu terucap.

“Oke, aku akan bantu cariin, ya. Ada temanku yang lagi set-up perusahaan advertising sendiri, siapa tahu dia butuh copy writer. Nanti aku tanyakan. Mungkin kamu bisa magang dulu, sambil nunggu wisuda. Yang penting kamu selesaikan skripsi kamu dulu semester ini,” kata Karel.

“Mau! Mau! Nggak digaji dulu juga nggak apa-apa!” sahut Kugy bersemangat.

“Baru semenit yang lalu ngaku-ngaku realistis, sekarang udah ngomong nggak usah digaji. Dasar lu mental relawan, Gy! Mana bisa kaya?” komentar Kevin sambil tertawa-tawa.

“Lagak lu … kayak panitia ada uangnya aja! Kalo dari kepanitiaan lu yang seabrek itu ada duitnya, seratus ribu aja sekali, sekarang lu udah punya rumah sendiri kaliii …” Karin tertawa lebih keras lagi.

Namun, pikiran Kugy sudah terbang jauh, menuju kelulusannya, menuju hari pertamanya bekerja. Apa pun … di mana pun itu … yang penting ia bisa keluar dan membuka halaman baru.

 

Ubud, Maret 2002 …

Pak Wayan memandangi keponakan perempuannya yang tengah tekun menulis di bale. Tangan mungil itu tampak asyik mencorat-coret di atas notes tebal yang selalu dibawanya ke mana-mana. Meskipun sudah dibelikan satu set komputer, Luhde tetap lebih suka menuliskan cerita dengan tangan.

“De, sedang nulis cerita apa kamu?” tanya Pak Wayan lembut, seraya duduk depan Luhde.

“Cerita anak-anak, Poyan,” kata Luhde, dan tangannya terus menulis.

“Kamu masih serius ingin jadi penulis, ya?”

“Iya, Poyan. Saya mau menulis cerita anak-anak, nanti Keenan yang buatkan gambarnya.”

Pak Wayan tertegun. Dipandanginya lagi Luhde dengan matanya yang berbinar penuh semangat, keseriusan dalam nadanya, seolah-olah ia tengah mencurahkan seluruh hidup dan jiwanya ke dalam kertas.

“De … Poyan ka ngomong kejep.30”

Luhde langsung meletakkan pulpennya, menutup bukunya. Jika Pak Wayan sudah mulai bicara dalam bahasa Bali padanya, berarti pamannya itu sedang ingin membicarakan sesuatu yang serius. Kedua orang itu lantas duduk berhadapan.

“Poyan mengerti, kamu sudah mulai dewasa. Hatimu sudah ingin pergi ke satu tempat, berlabuh, dan menetap. Tapi, perjalanan hati itu bukannya tanpa risiko.”

Wajah Luhde seketika bersemburat merah. Refleks yang selalu terjadi ketika ia malu atau risi. “Maksud Poyan apa?”

“Dari semua orang di rumah ini, Poyan yang paling dekat dengan kalian berdua. Poyan bisa merasakan perubahan di antara kalian …”

Kening Luhde berkerut tanda protes, “Siapa—?”

“… kamu dan Keenan,” Pak Wayan dengan lugas berkata.

Luhde tak bersuara lagi. Hanya matanya saja yang mengerjap gugup.

“Hati-hati, De. Pelan-pelan. Jatuh sedikit-sedikit, jangan sekaligus. Belajar dari pengalaman pamanmu sendiri …” ujar Pak Wayan lembut. Namun, senyum samar di wajahnya itu terlihat getir.

Perlahan, Luhde mengangguk. Ia tahu kisah yang dimaksud pamannya.

“Tidak mudah menjadi bayang-bayang orang lain. Lebih baik, tunggu sampai hatinya sembuh dan memutuskan dalam keadaan jernih. Tanpa bayang-bayang siapa pun,” lanjut Pak Wayan lagi. Ditepuknya bahu Luhde pelan, lalu beranjak pergi dari sana.

Luhde mematung lama di tempatnya. Merenungi sekian banyak hal yang otomatis berseliweran di dalam kepalanya jika hal satu itu disentuh. Terakhir, matanya berlabuh pada buku tulisnya sendiri. Menyadari apa yang selama ini telah ia usahakan dan upayakan dengan sepenuh hati. Menyadari bayang-bayang apa yang dimaksud oleh pamannya. Matanya pun terasa panas.

 

Bandung, Mei 2002 …

Eko terlambat datang lagi. Padahal Noni sudah harus berangkat dari tempat kosnya sejak sepuluh menit yang lalu. Setengah tahun terakhir ini, Noni mengajar les privat Bahasa Inggris untuk anak-anak SMP. Seminggu sekali ia pergi ke rumah salah satu murid lesnya untuk mengajar. Dengan wajah memberengut dan tangan melipat di dada, Noni menunggu di teras depan. Beberapa tasnya yang berisi kertas-kertas dan buku-buku sudah terparkir di dekat kaki kursi.

Melihat pemandangan itu, Eko sudah langsung membaca nasib apa yang akan menimpanya.

“Non—”

Noni mengangkat semua barang bawaannya. Bergegas menuju Fuad dengan mulut terkunci rapat.

“Sini, aku bawain …”

“Nggak usah,” sambar Noni ketus. “Udah, langsung pergi aja. Aku udah telat banget, nih.”

“Sori banget, Non …”

“Kalo kamu memang nggak sanggup jemput, bilang dong! Aku bisa naik angkot kok, atau naik taksi, atau nebeng sama siapa kek. Tapi kalo gini kan jadwalku jadi berantakan. Kasihan murid-muridku jadi nungguin. Kamu ke mana, sih?”

“Tadi ada emergency, Non. Soriii … soriii …” Eko memohon-mohon ampun.

“Emergency apa?”

“Komputernya Kugy sempat crashed, sementara dia kan udah mau sidang dua minggu lagi. Jadi tadi dia panik banget, dan aku nolongin dia bawain komputernya ke tempat servis. Untung datanya bisa selamat. Gila. Nggak tahu apa jadinya deh kalo sampai harus ngetik ulang lagi.”

Noni ingat, sudah beberapa minggu belakangan ini, Eko bolak-balik ke tempat kos Kugy dengan alasan membantu anak itu skripsi. Bahkan pernah satu kali Eko terpaksa membatalkan janji kencannya dengan Noni karena membantu Kugy mengetik sampai malam.

Sepanjang jalan dari tempat kosnya menuju rumah murid lesnya, Noni diam membisu.

Fuad berhenti di tepi pagar rumah yang dituju. Eko mematikan mesin dan menatap Noni dengan putus asa, “Non … ngomong, dong. Kamu kan biasanya maki-maki, ngomel-ngomel, apa kek … jangan diam gitu, dong. Lebih baik kamu marah-marahin aku daripada aksi bisu gitu.”

Sambil menenteng tas-tasnya sendirian dengan susah payah, Noni keluar dari mobil.

“Non! Tunggu, dong! Aku bantuin! Kamu kenapa, sih?” Eko buru-buru keluar dari mobil menyusul Noni yang berjalan cepat seperti orang minggat.

“Lebih baik, kamu tungguin aja tuh Kugy selesai sidang, baru ketemu aku lagi. Percuma kalo sekarang-sekarang. Buang-buang waktu. Malah bikin hidupku tambah repot!” tukas Noni pedas seraya terus berjalan.

Bandung, Juni 2002 …

Sambil diiringi album Duran Duran dan berjoget-joget kecil, Kugy mengecek lagi kelengkapan dokumennya untuk presentasi besok, termasuk catatan-catatan yang sudah ia buat untuk menjawab aneka pertanyaan saat sidang. Memastikan segala sesuatunya siap, termasuk dirinya. Ia lalu mengembuskan napas panjang. Hatinya siap. Musik ini pun terasa makin sedap.

“Aman terkendali?” tanya Eko, juga sambil berjoget kecil.

“Delapan-enam, Komandan,” Kugy menjawab mantap sambil mengacungkan jempol. “Eh, kita bikin koreografi, yuk, Ko. Kayak joget prajurit gitu.”

“Siapa takut?” kata Eko sambil mengentak-entakkan kepala. “Lihat nih, Gy. Maksud gerakan kepala ini nih, gua ceritanya goyang-goyang kagum gitu. Gua nggak nyangka sobat gua jadi salah satu segelintir gerombolan laknat yang lulus di bawah empat tahun.”

Mendadak Kugy menghentikan joget prajuritnya. “Ko … makasih, ya,” ia berkata sungguh-sungguh. “Gua bener-bener berutang budi sama lu. Nggak tahu apa jadinya skripsi ini kalo nggak ada lu.”

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.