Baca Novel Online

Perahu Kertas

Kali ini Keenan mengangguk. Namun, ia tak menduga, betapa dalam makna yang tersembunyi dari percakapan sore itu.

 

Jakarta, malam tahun baru 2002 …

Saat semua orang rumahnya sudah tertidur. Kugy memilih tetap terjaga di teras depan. Bertemankan obat nyamuk bakar dan Santai, anjing basset cokelatnya, yang sedari tadi tertidur santai di kakinya.

Dua kali tahun baru ia lewatkan tanpa resolusi apa-apa. Berbeda dengan kebiasaannya yang gemar melakukan ritual menulis target dan khayalan di atas kertas lalu menyembunyikannya di satu tempat untuk dibaca lagi pada malam tahun baru berikutnya. Persis seperti Santai yang gemar menyembunyikan tulang di satu tempat, untuk satu hari kembali ia gali dan nikmati.

Namun, di hadapannya terletak secarik kertas dan pulpen. Hanya saja bukan untuk resolusi. Setelah sekian lama merenung, Kugy pun menyambar pulpen dan mulai menulis:

Neptunus, kali ini saya benar-benar berharap surat ini betulan sampai ke laut. Kenapa begitu? Karena saya kepingin jujur: saya kangen sekali. Saya kehilangan sekali. Dan, saya merasa, malam ini dia dekat sekali dengan laut. Titip salam, ya. Awas kalo nggak disampein. Saya mogok jadi agen.

Kugy melipat kertas itu menjadi perahu. Baru siang nanti ia bisa menghanyutkannya di kali dekat rumah. Khusus untuk malam ini, ia harus memikirkan cara lain. Kugy lalu mendekapkan surat itu di dadanya. Memejamkan mata. Mengkhayalkan bentangan laut luas dan suara ombak. Ia pernah bilang pada Keenan, suara ombak adalah lagu alam yang paling merdu. Dan Kugy kini merasa mendengar ombak bersahutan.

Di mana pun kamu … semoga pesan ini sampai, meski tanpa perahu … aku sangat kehilangan kamu.

 

Sanur, malam tahun baru 2002 …

Di tepi pantai, Keenan melamun menatap ombak laut. Menyadari bahwa akan selalu ada saat di mana ia merasa harus berhenti, memikirkan sosok satu itu.

Kamu pasti senang sekali kalau bisa di sini … dekat dengan laut … kamu pernah bilang, suara ombak adalah lagu alam yang paling merdu. Napas Keenan menghela panjang. Sedang apa kamu sekarang, Kecil?

“Keenan!” Suara seorang pria memanggilnya. Diikuti dengan suara perempuan yang juga memanggil namanya. Keenan kembali diingatkan, ia sedang berada di tengah-tengah pesta tahun baru di rumah milik teman baik Pak Wayan. Halaman belakang yang langsung menghadap pantai memungkinkannya untuk sejenak menikmati keluasan ini tanpa perlu diusik kerumunan orang.

“Nan, ayo, ke dalam sebentar. Kamu dicari Pak Wayan,” ajak pria itu.

Sementara Luhde langsung beringsut ke sisi Keenan dan merangkul lengannya. Ia begitu bersinar dan ceria malam ini. Untuk pertama kalinya, Luhde menghadiri sebuah pesta. Namun, yang paling membahagiakannya adalah semata-mata ia bisa melewatkan pengalaman pertama ini dengan Keenan.

“Maaf, ya. Saya sempat keluar sebentar dan ninggalin kamu. Nggak pa-pa, kan?” kata Keenan seraya mengelus pelan punggung tangan Luhde.

“Tidak apa-apa, dari tadi saya ditemani ngobrol,” Luhde melirik pria di sebelahnya.

Keenan tertawa kecil, “Terima kasih udah mau dititipin Luhde, Mas. Semoga nggak kapok.”

“No problem. Seru kok ngobrol sama Luhde. Pintar, dan banyak kejutan,” sahut pria itu sambil melempar senyum.

Hampir otomatis, Luhde langsung menunduk tersipu, seperti refleks putri malu yang langsung menguncup jika tersenggol. Namun, dalam hatinya, ia senang bukan main. Luhde tahu, pria itu bukan orang sembarangan. Dialah pembeli lukisan Keenan yang pertama, dan kini pria itu dan Keenan tak ubahnya dua orang sahabat. Setiap kali datang ke Bali, pria itu selalu mampir ke galeri, menyempatkan waktu untuk berjalan-jalan dan ngobrol bersama Keenan dan keluarganya. Dan malam ini, pria itu bahkan memilih bertahun baru bersama mereka di Bali.

Mereka bertiga lalu kembali ke rumah. Sambil berjalan, Keenan menyempatkan diri untuk menoleh ke arah laut untuk terakhir kalinya. Dari kejauhan, sisa tiupan terompet kertas masih terdengar. Kembali mengingatkannya bahwa tahun baru telah dimulai. Lembaran baru telah dibuka.

 

27.

JANJI ADALAH JANJI

Kepalanya pun berputar. Menghadap ke depan. Meninggalkan pantai di belakangnya.

Jakarta, Januari 2002 …

Kugy telah lulus seminar dengan nilai A. Dan ia merayakannya dengan pulang ke Jakarta setelah berbulan-bulan tidak pernah pulang. Pada Minggu siang itu, seluruh anggota keluarganya komplet berkumpul di ruang teve. Keriuhan dan lemparan celetukan menjadi ciri khas setiap kali “The K Family” berkumpul.

“Jadi, semester depan kamu tinggal skripsi, Gy?” tanya kakak perempuannya, Karin.

“Yup!”

“Keviiin … kok lu lelet, siiih? D3 tapi udah mau empat tahun dan masih belum menunjukkan gejala kelulusan. Kalah sama Kugy yang S1,” timpal Karin lagi sambil menjitak kepala Kevin, adik laki-lakinya.

“Heh! Yang penting hasil akhir!” balas Kevin. “Lu lihat dong, gue kan gaul, penuh prestasi, Kugy kan nerd. Ya terang aja dia cepet kuliahnya. Nggak ada kegiatan lain.”

“Koleksi T-shirt panitia aja lu bilang prestasi! Kev … Kev …” celetuk Kugy.

“Kevin – Si Panitia Sejuta Event,” Karin menambahkan sambil terkekeh. “Nah, lu bikin kausnya, gih. Nanti acara apa pun lu cukup pakai satu kaus itu aja.”

“Iya, Kev. Kamu tuh kok jadi panitia terus toh? Bentar-bentar minta izin nggak kuliah, bilangnya karena jadi panitia gerak jalanlah … lomba caturlah … pameran motor … kejuaraan bulutangkis … fashion show … kok, nggak ada habisnya,” komentar ayahnya sambil lalu.

“Terus, kastanya segitu terus, Pa. Panitiaaa … terus!” Kugy terpingkal-pingkal.

“Lu tuh yang aneh! Nggak asyik jadi manusia! Baru kuliah tiga tahun udah mau skripsi! Apaan, tuh?” protes Kevin. “Itu namanya nggak menikmati hidup ….”

“Memangnya sesudah lulus nanti, kamu mau ngapain, Gy?” tanya Karel, abangnya yang paling besar.

“Kerja, dong!”

“Kerja apa?” Ibunya bertanya.

“Jadi panitia,” cetus adik bungsunya, Keshia, sambil cekikikan.

“Gy … Gy …” Kevin gantian geleng-geleng, “emangnya enak cepet kerja? Kerja tuh capek, tauk. Enakan juga kuliah. Tuh, entar hasilnya kayak Karin, badannya tinggal tulang sama dosa doang.”

“Lu yang obesitas!” Karin mendelik ke arah Kevin.

“Gue bukannya gemuk, kakakku sayang. Tapi kurang tinggi,” Kevin membela diri.

“Kamu berminat kerja di bidang apa, Gy?” tanya Karel lagi.

“Hmm … yang pasti harus ada nulis-nulisnya, tapi kalau bisa bukan wartawan, karena aku nggak terlalu bakat di jurnalistik.”

“Lu bukannya mau jadi … apa dulu, tuh? Tukang …,” Kevin berusaha mengingat-ingat, “tukang ….”

“Tukang ban,” cetus Keshia lagi.

“Tukang dongeng!” Kevin menepukkan tangan. “Itu dia!”

“Juru dongeng,” ralat Kugy sebal. “Entar aja, kalo udah tua, udah pensiun. Kalo dikerjain sekarang, mana ada duitnya.”

Karel mengangkat alis. “Tumben Kugy mikirin duit,” ujarnya.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.