Baca Novel Online

Perahu Kertas

Hari hampir pagi. Kokok ayam sudah terdengar dari berbagai jurusan. Semburat matahari mulai terlihat, perlahan menggeser jernih langit malam dan bintang-bintang.

Keenan tahu kamar itu tidak dikunci. Dan ia pun tidak berniat membangunkan si empunya kamar. Hati-hati, ia membuka pintu kayu itu. Melangkah sepelan mungkin.

Tampak Luhde tertidur pulas dengan wajah damai, tubuhnya terbungkus selimut sampai leher, dan rambutnya yang panjang tergerai bebas di atas bantal.

Dengan gerakan serba lambat karena tak ingin menimbulkan suara, Keenan meletakkan pahatan kayu tadi di sebelah Luhde, lalu berkata lirih, “Selamat ulang tahun ….”

 

Bandung, Mei 2001 …

Eko kembali janjian dengan Kugy di Pemadam Kelaparan. Makan siang bersama, seperti yang biasa mereka lakukan setidaknya dua kali seminggu belakangan ini. Sebuah ritme baru yang benar-benar menjadi oasis bagi Kugy setelah sekian lama. Ekolah satu-satunya sahabat terdekat baginya sekarang.

Siang itu, Kugy membahas rencana pengambilan SKS-nya dua semester ke depan. Apa yang ia rencanakan membuat Eko tercengang-cengang.

“BangkĂ© tokek! Jadi lu ngajuin seminar dari semester ini?” Mata Eko seperti mau lompat keluar dari wadahnya. “Terus … semester depan lu udah bisa skripsi?”

Kugy mengangguk sambil tersenyum-senyum kecil.

“Wah, Gy … waaah …” Eko geleng-geleng kepala, “Ini kurang ajar namanya. Nggak sopan! Dan ini nggak elu banget!”

Kugy memperlebar cengirannya. “Coba tolong diperjelas, maksudnya ‘nggak elu banget’ itu, apa?”

“Gua tahu, lu kalo udah terobsesi sama sesuatu memang kayak orang kesurupan jin Prambanan, suka rajin nggak kira-kira. Tapi … ini … bidang akademis formal, Gy! Mana pernah lu segila ini sama sekolah? Napsu banget sih pingin cepet beres! Ini nggak normal, tauuuk!” omel Eko panjang lebar.

Kugy terbahak. “Berarti, selama ini kita temenan sejak SMP masih belum cukup untuk lu memahami gua luar dalam. Gua napsu pingin cepet lulus bukan karena gua cinta kuliah. Justru gua pingin cepat-cepat keluar, makanya gua ngebut gila-gilaan.”

Eko mengeluarkan “ooh” panjang. Matanya mendelik penuh arti. “Jadi … ceritanya ada yang mau kabur dari sesuatu, nih?”

Kugy mengerutkan kening, “Kabur apaan, sih.” Namun, sesuatu tersentil di dalam hatinya oleh ucapan Eko barusan.

Air muka Eko berubah serius. “Gy, gua nggak pernah mau tanya macem-macem sama lu karena gua menghargai privacy lu. Gua tahu lu bukan tipe orang yang dikit-dikit curhat. Jadi, selama ini gua lebih banyak nunggu bola. Kalo lu mau cerita, ya syukur. Kalo nggak, gua juga nggak akan maksa. Tapi, please, gua cuma mau tanya satu hal: ada apa dengan lu sejak setahun yang lalu? Lu berubah drastis, menarik diri, dan kita nggak pernah tahu kenapa.”

Lama Kugy menatap Eko, tanpa bisa bersuara. Di tenggorokannya sudah membuncah aneka cerita yang siap muntah keluar. Namun, lagi-lagi, ia merasa lumpuh. Kugy pun menggeleng sambil tersenyum tipis, “Sori, ya, Ko. Gua masih belum bisa cerita.”

Eko menghela napas panjang. “Lu nggak kangen masa-masa geng midnight kita zaman dulu, apa?”

“Kangen,” jawab Kugy pelan, “tapi gua juga nggak keberatan dengan kondisi sekarang. Kadang-kadang, rasanya lebih enak malah. Lebih lega.”

“Terserah, deh,” sahut Eko seraya mengangkat bahu.

Keduanya terdiam.

“Gua kangen Keenan,” kata Eko tiba-tiba. “Dia ke mana, ya?”

Hati Kugy seperti kena setrum di gardu listrik begitu mendengar nama itu disebut. Sebisa mungkin, ia berusaha tampak tenang dan tak terpengaruh. “Lu kan sepupunya, nggak bisa tanya keluarganya yang di Jakarta?”

“Keluarganya aja nggak tahu dia di mana.”

“Oh,” gumam Kugy pendek. Meski air mukanya tak berubah, tapi timbul gelombang besar dalam hatinya.

“Itu anak kayak hilang diculik UFO. Nggak ada bekas! Gila, ya. Kok bisa gitu, sih? Gua nggak ngerti …” tahu-tahu Eko mendongak menatap Kugy, “lu berdua tuh emang orang aneh! Yang satu udah minggat, yang satu niat kabur! Kenapa sih lu pada?”

Kugy tak kuat menahan senyum melihat sewotnya Eko. “Marah-marah kayak gitu pertanda sayang, tauk.”

“Sayang-sayang … nyebelin lu, Gy,” sahut Eko sambil manyun. “Tapi gua masih berminat kok jadi temen lu lamaan dikit. Mungkin karena sayang, atau mungkin karena pada dasarnya gua hobi mengoleksi spesies langka dan jelek kayak lu.”

Kugy tertawa. “I love you, too.”

“Diem!”

 

Ubud, Oktober 2001 …

Tidak sampai setahun. Lukisan Keenan mulai ramai dibicarakan orang. Namanya mulai beredar di kalangan galeri dan kolektor. Namun, Keenan belum berminat untuk masuk ke pasaran galeri Jakarta, ia bertahan di galeri Pak Wayan di Ubud. Beberapa kolektor yang pernah membeli karyanya dengan rajin menanyakan lukisannya yang terbaru, dan peminat baru yang tertarik pada karyanya juga terus bertambah.

Namun, tidak ada yang segesit kolektor yang satu itu. Pembeli lukisannya yang pertama. Ia bahkan seolah-olah membaca siklus kreativitas Keenan. Jarang sekali ia keduluan oleh pembeli lain. Sepertinya ia terobsesi untuk mengumpulkan seri lengkap dari lukisan serial Keenan yang sekarang mulai digunjingkan di mana-mana.

Keenan sendiri merasa lucu ketika tahu lukisannya menjadi perebutan dan perbincangan. Di hadapannya terbuka buku tabungan yang baru dibukakan oleh Pak Wayan. Setelah mengalami masa-masa tersulitnya di Bandung, ia tak pernah bermimpi akan punya uang sebanyak itu. Dan tiba-tiba Keenan tergerak untuk bertanya, “Poyan … apa jadinya kalau saya tahu-tahu mentok? Jenuh? Atau … gimana kalau orang-orang itu yang bosan dengan lukisan saya?”

Pak Wayan terkekeh pelan mendengar pertanyaan itu. Ia menarik kursi lalu duduk di hadapan Keenan. “Kita memang tidak pernah bisa menduga selera kolektor. Kita juga tidak pernah bisa mengendalikan pendapat kurator. Mereka itu musiman seperti buah,” jawab Pak Wayan sambil tersenyum lebar, “tapi, kekhawatiran kamu ada benarnya. Sebenarnya diri kita sendirilah yang paling susah diduga.

“Akan ada satu saat kamu akan bertanya: pergi ke mana semua inspirasiku? Tiba-tiba kamu merasa ditinggal pergi. Hanya bisa diam, tidak lagi berkarya. Kering. Tapi tidak selalu itu berarti kamu harus mencari objek atau sumber inspirasi baru. Sama seperti jodoh, Nan. Kalau punya masalah, tidak berarti harus cari pacar baru, kan? Tapi rasa cinta kamu yang harus diperbarui. Cinta bisa tumbuh sendiri, tapi bukan jaminan bakal langgeng selamanya, apalagi kalau tidak dipelihara. Mengerti kamu?”

Karena tidak yakin, Keenan memilih untuk menggeleng.

Pak Wayan berpikir sejenak. “Begini. Sekarang kamu sedang menjalin cinta dengan Jenderal Pilik. Cerita-cerita itu menjadi sumber inspirasi kamu. Jodohmu. Supaya Jenderal Pilik bukan cuma hidup di buku tulis itu, melainkan di hati kamu, cinta itu harus dipelihara. Selama Jenderal Pilik belum benar-benar hidup dan mendarah daging bersama kamu, selama itu kamu harus selalu hati-hati. Mengerti?”

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.