Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Orangnya pasti pintar dan jiwanya halus,” komentar Luhde lagi.

Keenan tidak menjawab.

“Sahabat kamu itu perempuan, ya?”

“Iya.”

“Kalian pasti sangat dekat, ya?”

“Dulu sih iya.”

“Kapan-kapan, boleh nggak saya dikenalkan sama dia?”

Kali ini Keenan mendongak, mengadu matanya langsung dengan Luhde. “Untuk soal yang satu itu, saya nggak bisa janji,” sahutnya ketus.

“Kenapa?”

“Karena saya nggak yakin akan ketemu dia lagi.”

Masih banyak pertanyaan yang terpendam dalam benak Luhde, pertanyaan yang sudah ia tumpuk dan simpan sejak lama. Namun, nada pahit yang terlontar dari kalimat terakhir Keenan tadi membuat ia urung mengungkapkannya. Mungkin memang tak perlu ia mengetahui. Hanya memahami. Karena tanpa perlu berkata-kata, Keenan telah bercerita banyak dari lukisannya, dari kesehariannya, dari diamnya. Lebih dari yang Keenan sadari.

 

Jakarta, Februari 2001 …

Sekeluarnya dari ruang itu, Lena membaca lagi lembaran hasil laboratorium yang baru saja dianalisis dokter beberapa menit yang lalu, yang membuat suaminya diolehi-olehi sederet resep obat dan beraneka petuah ini-itu.

“Kok, bisa begini, sih? Padahal kamu selalu dibawakan makan dari rumah. Kegiatan kamu juga nggak banyak berubah. Aku nggak ngerti, deh,” Lena geleng-geleng kepala sendiri. “Memangnya ada sesuatu yang aku nggak tahu?”

Adri menyalakan mesin mobil. “Maksud kamu?”

“Tadi dokter bilang, bisa jadi karena faktor stres. Mungkin nggak kamu stres tentang sesuatu, dan kamu belum cerita ke aku?” tanya Lena lagi.

“Ah, stres apa? Sekarang semua penyakit dibilangnya gara-gara stres,” komentar suaminya sambil melengos. “Nggak ada apa-apa, kok.”

Sepanjang perjalanan, dalam kompartemen pikirannya, Ardi menyadari sesuatu. Ia bisa memilih tidak terbuka pada dokter, bahkan istrinya, tapi ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Satu hal tidak pernah lepas dari pikirannya, menggerogotinya dari dalam secara pelan-pelan. Keenan.

 

Ubud, Maret 2001 …

Luhde sedang menyeduhkan kopi kayu manis bagi seluruh keluarga. Kegiatan rutinnya setiap hari, setiap sore. Dan ia nyaris menumpahkan termos berisi air panas yang sedang ia pegang, karena tiba-tiba Keenan muncul dari belakang, memegang kedua bahunya.

“Hei, minggu depan kamu ulang tahun, ya?” tembak Keenan langsung.

Luhde membalik badan. Wajahnya sekonyong-konyong cerah. “Keenan kok tahu? Diberi tahu siapa?”

“Banyu.” Keenan pun tersenyum, “Mau delapan belas tahun, ya? Udah bukan anak kecil lagi, nih,” godanya. “Kamu mau kado apa? Lipstik? Parfum?”

Luhde tersipu. “Nggak. Saya nggak mau yang seperti itu,” ujarnya sambil menangkupkan kedua tangannya di pipi.

“Lho, kenapa? Kan biasanya perempuan seusia kamu mulai kepingin dandan. Atau mau dibeliin baju? Nanti kita cari ke Kuta, yuk.”

Luhde tambah kuat menggelengkan kepala. “Nggak … nggak mau!” Tangannya sekarang sudah menutup muka.

“Oke, oke. Jadi, maunya apa? Buku?”

Luhde terdiam sejenak. Berpikir. Pelan-pelan, ia menurunkan kedua tangannya dari pipi. “Saya sudah tahu,” katanya pelan. Dan Luhde pun mengutas senyum. Satu senyum yang mengubah wajah lucunya menjadi cantik dan … dewasa.

“Saya ingin, satu karya Keenan yang dibuat dengan sepenuh hati,” ucap Luhde. Jernih dan jelas.

Keenan terenyak. Pertama, oleh kecantikan Luhde yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Dan kedua, oleh kalimat yang meski ia pahami betul maksudnya, rasanya tak sanggup ia penuhi. Keenan menelan ludah. “Semua lukisan saya dibuat dengan sepenuh hati. Kalau kamu menginginkan salah satu di antaranya, kamu boleh pilih yang mana aja. Atau kalau kamu mau dibuatkan khusus, saya juga bersedia melukis untuk kamu.”

Luhde menggeleng lembut. “Semua lukisan itu dibuat dengan cinta Keenan pada seni. Tapi ada satu yang berbeda. Begitu saya melihatnya, saya sampai menitikkan air mata. Yang satu itu … indah sekali. Dan dia menjadi indah karena Keenan membuatnya dengan cinta yang lebih dalam dari sekadar cinta Keenan pada seni.”

Kali ini Keenan kehilangan kemampuan untuk merespons.

Dalam sekejap, Luhde berubah menjadi gadis remaja yang pemalu. “Saya cuma ingin menyimpannya. Tidak ada maksud lain. Kalau memang tidak mungkin, juga tidak apa-apa. Maaf ya kalau saya sering lancang sama Keenan,” tuturnya dengan nada sesal. Cepat, Luhde mengangkat baki berisi cangkir-cangkir kopi itu dan berlalu dari sana.

Keenan tertegun di tempat. Satu dilema besar menyerang hatinya. Dilema yang sebelumnya tak pernah ada.

 

26.

LEMBARAN BARU

Ubud, Maret 2001 …

Malam menjelang petang, saat semua orang sudah terlelap, seseorang masih berada di luar kamarnya. Menatap langit malam yang jernih, yang memunculkan serakan bintang tak terhingga banyaknya.

Keenan duduk sendirian dengan posisi menengadah. Ia ingin mengenang malam-malam seperti ini, saat ia berbaring di atap kamarnya di Bandung, menikmati jernih dan luasnya angkasa, memikirkan orang yang sama.

Di tangannya tergenggam sebuah pahatan kayu sebesar genggaman tangan. Sesuatu yang ia buat setahun lebih yang lalu. Sesuatu yang tak pernah ia sempat berikan. Sesuatu yang ia bersihkan hampir setiap hari, tapi cuma bisa dinikmati sendiri. Pahatan itu berbentuk hati yang dipenuhi relief abstrak menyerupai gelombang air di seluruh permukaannya. Begitu rapi dan detail. Ketika membuatnya, leher Keenan sampai sakit selama satu minggu. Ia tersenyum sendirian mengingatnya.

Diamati dan dirabanya lagi relief itu. Di antara motif gelombang air tadi, tersembunyilah dua inisial yang kalau diamati dengan saksama baru terbaca: K & K.

Mendadak, terdengar bunyi angin yang bertiup bagai seruling. Menggoyangkan kentungan-kentungan bambu yang tergantung di tepi atap, yang seketika melantunkan bebunyian merdu. Keenan bergidik kedinginan saat angin itu mengembusi kulitnya. Namun, ia masih belum ingin beranjak.

Ia teringat bebunyian itu. Lebih dari setahun yang lalu, bercampur dengan satu lagu yang dulu ia putar hampir tiap malam saat memahat sendirian di sini. Lagu yang selalu mengingatkannya pada orang yang sama. Pelan, hanya untuk didengar dirinya sendiri, Keenan mulai bersenandung:

“And my bitter pill to swallow is the silence that I keep/ That poisons me, I can’t swim free/ The river is too deep/ I am no worse in love with your ghost/ In love with your ghost …”

Nada terakhirnya menggantung di udara. Menyisakan suara bambu dan suara-suara dalam kepalanya. Keenan teringat kata-kata Luhde. Kenangan hanyalah hantu di sudut pikir. Dan selama ini, ia telah memelihara sebuah cinta pada kenangan, pada wujud yang tak lebih dari bayangan, sekalipun Kugy adalah bayangan terindah yang pernah hidup dalam hatinya.

Keenan memejamkan mata. Meresapi perih yang merasuki seluruh sel tubuh. Namun, ia pun tahu, sudah saatnya ia melepaskan bayangan itu. Keenan mengecup pelan pahatannya. “Kecil … mungkin ini memang bukan untuk kamu,” bisiknya. Baru sekali itu Keenan merasakan perihnya perpisahan yang dilakukan sendirian.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.