Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Bantuin beresin buku sambil bayarin gua makan nanti malam, yuk.”

Eko langsung memonyongkan mulut. “Monyet,” dumelnya, “yang begini nih yang bikin orang nyesel.”

Kugy terbahak keras. “Selamat datang di jebakan Batman!”

Tak lama kemudian, keduanya sudah berjongkok sambil membereskan sisa barang Kugy yang masih berserakan di lantai.

“Noni tahu lu ke sini, Ko?” Tiba-tiba Kugy bertanya.

“Nggak. Tapi nanti gua bilang ke dia,” jawab Eko, “kenapa?”

“Nggak pa-pa. Mmm ….” Kugy menghentikan kegiatannya sejenak, menimbang-nimbang apakah akan meneruskan kalimatnya atau tidak.

“Yes?” tanya Eko lagi.

“Selama ini gua ngira, lu ikut ngejauhin gua. Walaupun gua sebetulnya pingin banget bisa ngobrol dan dekat sama lu kayak dulu, tapi yah, gua ngerti posisi lu yang serba sulit, karena lu pacarnya Noni, dan mau nggak mau harus mempertimbangkan perasaan dia,” jelas Kugy lirih. “Tapi, jujur, gua kehilangan banget sama kalian berdua.”

“You know what, Gy?” Eko menatapnya lurus-lurus, “Gua seneng dan lega lu akhirnya pindah kos. Karena setidaknya gua punya jarak yang lumayan netral untuk bisa dekat sama lu lagi. Gua bisa temenan sama lu, ngunjungin lu sekali-sekali, tanpa gua harus keseret-seret konflik lu sama Noni. Gua juga kehilangan banget sama lu.

“Sekarang ini Noni masih berproses menyembuhkan sakit hatinya. Gua nggak tahu sampai berapa lama. Dan walaupun dia pacar gua, dan gua temenan sama lu dari kita ABG, gua nggak mau mencampuri urusan kalian berdua. Gua percaya kalian akan punya jalan sendiri untuk menyelesaikan masalah kalian. Yang penting buat gua sekarang, gua bisa tetap dekat dengan kalian berdua, sesuai dengan apa yang selama ini kita semua jalankan. Noni pacar gua, dan lu sahabat baik gua. Apa pun yang terjadi di antara kalian berdua, nggak akan mengubah arti lu dan Noni buat gua,” lanjut Eko tegas.

Kugy terdiam. Kehilangan kata-kata. “Makasih, Ko,” ucapnya setengah berbisik, “seumur hidup, gua nggak pernah bisa membayangkan jadi melankolis di depan lu, tapi … kedatangan lu hari ini, dan apa yang barusan lu bilang, adalah hal terindah dalam hidup gua sepanjang tahun ini.”

Eko tersenyum kecil. Namun, dalam hitungan detik, senyumannya sirna. “Sialan … tahun ini kan baru jalan sepuluh hari! Terang aja gua jadi yang paling indah, monyong! Udah gua bantuin lu beres-beres, disuruh traktir lu makan, lagi! Keparaaat!”

Tawa mereka berdua pecah seketika.

“Tahun ini baru jalan sepuluh hari, dan lu udah berhasil gua jebak dua kali! Ini pertanda buruk buat hidup lu, Ko ….” Kugy tergelak-gelak di lantai.

“Yup, dan mimpi buruk gua sudah akan dimulai sebentar lagi. Lapar, nih. Makan, yuk!” Eko bangkit berdiri.

“Lho, kamar gua kan belum beres?” protes Kugy.

“Lu aja sama keluarga melankolis lu yang beresin,” Eko terkekeh. “Eh, ada recehan buat angkot, nggak?”

“Lu nggak bawa Fuad?”

“Ada. Tapi begitu nyampe di depan kos lu, dia langsung mogok gitu. Jadi, paling gua titip Fuad dulu di depan, nanti pas mau pulang, gua minta tolong lu buat dorongin dikit. Ya?”

Kugy memandang Eko geram. “Kok, gua mulai merasa gua yang sial?”

 

Ubud, Februari 2001 …

Sebuah halaman baru resmi terbuka untuknya. Keenan menjalani hidup dengan ritme baru. Sepanjang hari kegiatannya tak pernah lepas dari berkesenian dan berupacara, layaknya anggota keluarga yang lain. Jika tak sibuk melukis, ia tak pernah luput membantu keluarga Pak Wayan, dari mulai upacara ngagah hingga ngaben.

Kini, dengan fasih Keenan memakai udeng dan sarung Bali ke mana-mana. Ia lebih banyak berteman dengan pemuda-pemuda asli, sesekali ikut nonton sabung ayam, membaur bersama mereka tanpa merasa risi dan canggung.

Namun, dari semua orang, Pak Wayanlah yang paling bahagia dengan kehadiran anggota keluarga baru ini. Keenan sudah dianggap putranya sendiri, seorang anak yang selalu ia dambakan dan bisa ia banggakan. Keenan, yang tak hanya berbakat di seni lukis, ternyata bisa memahat dengan halus. Dengan cepat, ia mempelajari ukiran-ukiran dasar Bali seperti patra kuta mesir, taluh kakul, dan pungelan. Bahkan kemampuannya melebihi seniman-seniman muda setempat yang sering berlatih di studio keluarga Pak Wayan.

Ketika lukisan Keenan dipuji-puji orang, Pak Wayanlah yang merasa paling tersanjung. Tanpa ragu dan permisi dulu, ia selalu mengenalkan Keenan dengan berkata: “Niki putran titiange ane lanang27, I Wayan Keenan.” Alhasil, Keenan yang terbengong-bengong mendengar nama barunya itu.

Jika tak sedang pergi ke mana-mana, Keenan hanya menghabiskan waktunya di bale. Melukis, atau sekadar mengobrol dengan Luhde yang selalu setia menemaninya.

“Keenan harus mulai belajar bahasa Bali.” Dengan gayanya yang dewasa, Luhde mulai menasihati.

“Boleh. Ajarin, dong,” tantang Keenan.

“Coba ikuti saya, ya!” Luhde berdehem, “Cang bojok28 …”

“Cang bojok …”

“… care bojog.29”

Dengan patuh dan serius, Keenan mengikuti, “Cang bojok care bojog.”

“Pintar,” Luhde manggut-manggut sambil menahan senyum.

“Artinya apa?” tanya Keenan.

Tawa Luhde menyembur. “Artinya: saya jelek seperti monyet!” serunya, lalu terbahak-bahak sendiri.

Keenan gantian manggut-manggut. “Oooh … iya. Memang, sih.”

Tawa Luhde kontan berhenti.

“Udah deh, kamu tuh nggak pantes jahilin orang,” Keenan terkekeh. “Makanya, nulis aja. Kan katanya mau jadi penulis terkenal.”

Luhde tersenyum, “Iya. Nanti seperti Keenan dan temannya. Saya menulis cerita, lalu Keenan buatkan lukisan.”

Ucapan Luhde seperti membekukan udara. Keenan pun terpaku.

Luhde yang tidak menyadari perubahan itu, terus berceloteh, “Di keluarga saya, semua orang bisa bikin macam-macam. Beli Banyu pandai memahat, Beli Agung pandai melukis, semua kakak kandung saya penari hebat. Cuma saya yang tidak seperti mereka. Tapi, menurut Poyan, sesungguhnya kata-kata juga bisa dilukis, diukir, bahkan ditarikan. Jadi, saya tetap bisa melukis kata-kata seindah lukisan, mengukir kata-kata secantik ukiran, dan membuat kata-kata menari gemulai seperti tarian.”

“Saya setuju dengan Poyan. Kamu punya bakat itu, tanpa harus banyak usaha. Saya sendiri sering terpesona dengan kata-kata kamu,” puji Keenan tulus. “Dan … kamu sering mengingatkan saya pada seseorang.”

“Kenangan itu cuma hantu di sudut pikir. Selama kita cuma diam dan nggak berbuat apa-apa, selamanya dia tetap jadi hantu. Nggak akan pernah jadi kenyataan.”

Keenan tersentak dengan ucapan Luhde yang sama sekali tidak ia duga. Begitu juga dengan Luhde, yang sepertinya pun tidak berencana untuk melontarkan kalimat itu.

“Maaf, ya. Saya bukan bermaksud lancang,” ucap Luhde cepat, “tapi … kalau boleh tahu, siapa sih yang menulis buku itu?” tanyanya sehati-hati mungkin. “Soalnya, saya perhatikan, Keenan nggak bisa melukis kalau buku itu nggak ada di dekat-dekat Keenan.”

“Dia sahabat saya waktu kuliah,” jawab Keenan pendek.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.