Baca Novel Online

Perahu Kertas

Keenan menelan ludah. Tidak tahu harus bagaimana menanggapi itu semua.

“Dengan sangat terpaksa, saya harus mengambil dua lukisan saja hari ini. Tapi pastinya saya akan mengoleksi lebih banyak lukisan kamu,” sambung pria itu lagi, sambil berjalan ke arah lukisan yang ia pilih, “berapa harganya?”

Keenan menelan ludah lagi. Matanya melirik ke arah Pak Wayan, meratap minta tolong.

Selembar cek bertuliskan 10 juta tergeletak di atas meja.

“Tidak terlalu susah kan menentukan harga karya sendiri? Butuh pembiasaan, tapi makin lama nanti kamu makin pintar, kok,” Pak Wayan tertawa kecil.

Keenan geleng-geleng kepala, “Saya masih nggak percaya, Poyan. Ini pertama kalinya saya lihat langsung ada orang yang beli lukisan saya.” Tiba-tiba Keenan mengambil tangan Pak Wayan, menggenggamnya sambil menundukkan kepala, “Poyan … terima kasih sekali buat semuanya. Saya nggak tahu harus bilang apa, atau melakukan apa. Kalau Poyan nggak keberatan, saya ingin membagi setengah dari penjualan ini dengan galeri.”

Dengan cepat, Pak Wayan menggeleng. “Nggak, nggak ada itu. Kamu pelukis baru, dan kamu sudah seperti anak saya sendiri. Kamu butuh uang itu untuk bekalmu. Jangan pikirkan dulu soal keuntungan galeri. Saya bisa cari rezeki dari karya saya sendiri. Kalau memang saya benar-benar butuh bantuanmu, saya akan bilang. Tapi tidak sekarang. Oke?” ujarnya tegas.

Keenan merasa tak punya pilihan selain mengangguk.

“Luhde, sini kamu. Kok malah ngintip dari situ,” Pak Wayan memanggil keponakannya yang sedari tadi hanya berdiri mengamati dari balik partisi.

Tampak Luhde keluar pelan-pelan sambil tersenyum malu. Berjalan menghampiri mereka.

“Kenapa ngintip? Naksir sama tamu tadi, ya?” goda Keenan.

“Ng … nggak!” bantah Luhde, panik.

“Eh, benar itu si Keenan. Nanti kalau kamu cari jodoh, cari yang seperti itu. Ganteng, sukses, masih muda … cinta seni lagi!” celetuk Pak Wayan sambil terbahak. “Jangan mau sama yang kayak kita-kita ini. Kantongnya sakit asma, napasnya satu-satu!”

Wajah Luhde kian merah jambu. Dalam hatinya, ia sama sekali tidak sepakat dengan pamannya.

Ubud, malam tahun baru 2001 …

Akibat desakan semua orang, Keenan akhirnya setuju membeli ponsel. Sambil duduk di tepi pantai Jimbaran, ia menimang-nimang benda kecil yang masih terasa asing di tangannya.

Tidak banyak data nomor telepon yang tersimpan di ponselnya. Hanya keluarga di Bali dan beberapa nama yang ia pindahkan dari buku alamatnya yang lama.

Keenan melirik jam di layar ponselnya. Lima menit sebelum pergantian tahun. Suara di belakangnya makin ingar-bingar, berlomba dengan suara ombak yang terdengar dari depan. Jempolnya bergerak, mencari satu nama itu. Dan begitu nama itu muncul di layar, ia tertegun sendiri. Batinnya menyapa spontan: Apa kabar kamu, Kecil?

Mendadak Keenan gelisah. Ia tidak yakin apakah nomor itu masih berlaku. Namun, entah mengapa, ada desakan kuat untuk … ia memencet tombol hijau bergambar simbol telepon … connecting. Keenan mengamati lekat satu kata itu berkedip dan berpendar di layarnya. Bisakah ia berbicara? Sanggupkah ia …? Tidak. Keenan memejamkan mata, jempolnya memencet tombol merah. Disconnecting.

 

Jakarta, malam tahun baru 2001 …

Sebagian besar keluarganya tengah berkumpul di depan teve. Sebagian yang beracara sedang asyik bermalam tahun baru di berbagai tempat. Kugy termasuk yang berkumpul di depan teve. Selain karena tidak ada undangan apa-apa untuknya, ia memang malas keluar. Rasanya tidak ada yang lebih menyenangkan selain selonjoran kaki di sofa, makan cemilan, sambil mengomentari apa pun yang muncul di layar kaca lalu tertawa-tawa sendiri.

Tiba-tiba Kugy terduduk tegak. “HP aku bunyi, ya?”

“Bukan. Itu suara dari teve,” komentar Kevin pendek.

“HP aku di mana, sih?” Kugy mulai membongkari bantal-bantal sofa. “Kev, ayo berdiri bentar,” Kugy mendorong tubuh kakaknya, “kayaknya didudukin sama kamu.”

“Nggak mungkin! Pantatku sensitif. Pasti kerasa kalo ada yang ganjal,” cetus Kevin asal.

Tapi Kugy tidak menyerah. Ia terus mendorong tubuh Kevin dan mencari-cari di sela-sela sofa.

“Aduh, Gy! Apaan sih, nih! Nyodok-nyodok nggak jelas! Ganggu, tauk!” omel Kevin.

“Nih, bener, kan? Huuuh! So much for sensitivity! Diet aja dulu biar pantatnya kecilan!” Kugy langsung mengecek ponselnya yang ditemukan persis di bawah Kevin.

Kening Kugy berkerut. Nomor yang tak ia kenal. Namun, matanya tak lepas mengamati deretan angka itu. Rasanya ada sesuatu di sana. Kugy pun mengirim pesan: Ini siapa?

Satu jam berlalu. Pesan itu tidak dibalas.

Lena membuka pintu kamarnya, mendapatkan suaminya masih terduduk di depan teve yang menyala.

“Adri, kamu belum mau tidur? Sudah jam dua pagi, lho,” katanya sambil menguap.

Pria itu mendongak sejenak, mendapatkan istrinya sudah berkimono dengan muka mengantuk. “Sebentar lagi. Kamu duluan saja tidur. Acara tevenya bagus. Nanti saya nyusul kalau sudah selesai, oke?” jawabnya lugas.

Lena mengintip layar teve sekilas. Tidak yakin dengan arti “bagus” yang dimaksud oleh suaminya. Tapi ia memilih untuk tidak mempermasalahkan dan kembali ke kamar.

Sepeninggal istrinya, Adri kembali menatap teve dengan pandangan kosong, seperti yang ia lakukan sedari berjam-jam yang lalu. Di dalam kepalanya ada program yang berjalan sendiri. Kenangan, pertanyaan, lamunan tentang satu orang. Keenan.

Keenan … di mana kamu sekarang, Nak? Bertahun baru di mana? Apakah kamu kesepian? Kelaparan? Kedinginan? Dan ia hanya bisa menyapa dan menanyakan itu semua dalam hati. Dalam kesunyian. Dalam ketiadaan.

Setengah mati, Adri berusaha menahan. Hingga pada satu titik rasanya tidak lagi tertahankan. Dan sebutir air mata pun bergulir di pipinya.

 

25.

HADIAH DARI HATI

Bandung, Januari 2001 …

Belum genap seminggu kepindahannya ke tempat kos baru. Kugy masih menyesuaikan diri dengan lingkungan dan suasana yang berbeda. Jarak tempat kosnya kini lebih dekat ke kampus, sehingga Kugy makin leluasa untuk bolak-balik. Pas dengan programnya yang ingin secepat-cepatnya lulus.

Belum semua barang-barangnya tertata dengan rapi. Setiap sore, Kugy mencicil beres-beres sendirian. Dan, entah mengapa, ia mulai menikmati kesendirian ini. Sepi ini.

“Spada! Yuhuu! Kulonuwun!” Terdengar teriakan manusia yang mengganggu gendang telinga.

Kugy segera meletakkan buku-bukunya dan bergegas menuju pintu. Eko?

Benar saja. Begitu pintu dibuka, tampaklah Eko dengan cengiran lebarnya yang khas. “Hai, Mother Alien!”

“EKO?” Kugy tercengang seperti betulan melihat alien. “Kok—tahu gua di sini?”

“Tanya sama anak-anaklah,” jawab Eko ringan, “gua tadi tiba-tiba inget lu. Jadi kepingin nengok. Kangen gua.”

Kugy menghela napas, dibarengi senyum cerah yang langsung mengembang. “Gua juga kangen sama elu,” sahutnya sungguh-sungguh.

“Sini lu, gila!” Dengan gerakan cepat Eko merangkulkan tangannya ke leher Kugy dan mengacak-acak rambutnya. Mereka berdua tertawa-tawa. “Ada yang perlu gua bantu, nggak, Gy? Lu pasti masih beres-beres, kan?”

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.