Baca Novel Online

Perahu Kertas

Luhde tak langsung merespons. Ia mendekati kanvas kosong di hadapan Keenan. “Ini … anggaplah ini langit …,” katanya seraya menyentuhkan jemarinya di kanvas, “sepertinya langit ini kosong. Tapi kita tahu, langit tidak pernah kosong. Ada banyak bintang. Bahkan tidak terhingga banyaknya. Keenan harus percaya itu. Langit ini cuma tertutup awan. Kalau Keenan bisa menyibak awan-awan itu, Keenan akan menemukan banyak sekali bintang. Dan dari sekian banyak bintang, akan ada satu yang berjodoh dengan kita.

“Saya akan berdoa supaya Keenan cepat menemukan bintangnya,” ucap Luhde sambil menundukkan kepala dan menangkupkan tangannya di depan dada. Tak lama, ia beringsut menuju tangga, meninggalkan Keenan sendirian lagi di bale.

Sampai senja, Keenan tak beranjak dari sana. Berbaring telentang menghadap langit, dan mencoba melihat jauh ke balik awan, mencari sesuatu di sana.

 

24.

PEMBELI PERTAMA

Bandung, Desember 2000 …

Pagi-pagi, sambil menyandang ransel besar yang gemuk terisi buku, Kugy berjalan cepat meninggalkan tempat kos yang sepi ditinggal para penghuninya untuk berlibur. Ia benar-benar tidak buang waktu. Tidak ada lagi liburan di agendanya. Ia kembali mengambil mata kuliah sebanyak-banyaknya di semester pendek. Kini fokusnya hanya satu: cepat lulus.

Hampir tidak ada lagi yang menahannya di Bandung, selain kampus dan Sakola Alit. Sebagian besar impiannya, masa-masa bahagia persahabatannya sudah tidak ada lagi. Hubungannya dengan Noni tidak mengalami perbaikan. Sahabat yang dikenalnya sejak kecil sekarang telah menjadi orang asing.

Kugy pun merasa sudah berada di puncak ketidaknyamanan tinggal di tempat kosnya, dengan jarak hanya satu kamar dengan Noni yang sudah tak pernah bicara dengannya. Tidak mungkin selamanya ia berlagak seolah-olah Noni tidak tampak. Ia terlalu lelah untuk itu. Diam-diam, Kugy mulai mencari tempat kos baru yang akan segera ia tempati begitu semester baru dimulai.

Kugy pun nyaris berhenti menulis. Tak peduli lagi dengan ambisinya menjadi penulis dongeng. Daya khayalnya tergantikan oleh rangkaian pikiran logis yang bekerja mekanis bagai robot untuk belajar, belajar, dan hanya belajar.

Satu-satunya kegiatan menulis yang tersisa hanyalah perahu-perahu kertas yang diapungkannya di kali. Kugy bahkan merasa surat-surat itulah yang membuat dirinya mampu bertahan waras dan kuat. Cerita hatinya pada Neptunus yang entah ada entah tidak. Tak jadi masalah. Setiap kali melihat perahu kertasnya bergerak terbawa arus kali, Kugy kembali bisa bernapas lega. Hatinya kembali lapang.

Ia bercerita soal keluh-kesahnya, keresahan batinnya, dan kerinduannya pada semua yang dulu begitu indah. Termasuk kerinduannya pada Keenan.

Satu perahu kertas terlipat di dalam kantongnya. Akan ia apungkan di kali nanti sebelum pergi ke kampus. Andai perahu itu dibuka, maka hanya akan terbaca satu paragraf pendek:

Neptunus, semua nelayan yang sedang mencari arah akan diberi petunjuk oleh bintang di langit. Semoga dia menemukan bintangnya dan kembali menemukan jalannya pulang.

 

Ubud, Desember 2000 …

Setiap pagi, di bale yang sama, kanvas demi kanvas mulai terisi. Jari dan kuas itu tak pernah berhenti menari-nari, menorehkan garis dan warna.

Awan-awan itu akhirnya berhasil tersibak, dan setiap harinya Keenan bertemu dengan langit bersih yang siap dilukisi. Satu benda yang sama selalu menemaninya. Sebuah buku tulis lecek penuh tulisan tangan. Dulu, tangan mungil Kugy yang menari-nari di tiap lembarnya. Kisah-kisah petualangan Jenderal Pilik dan Pasukan Alit.

Dari teras rumah utama, Luhde diam mengamati bale itu.

“Poyan …,” bisiknya pada Pak Wayan.

“Dia luar biasa berbakat, ya. Lukanya juga mulai sembuh. Dia mulai kembali seperti Keenan yang dulu,” komentar Pak Wayan, seolah mengetahui arah pikiran Luhde.

Luhde tersenyum menatap pamannya. Wajahnya berseri-seri. “Keenan sudah menemukan bintangnya.”

Akhir Desember tiba. Bali mulai dipenuhi oleh turis, termasuk Ubud. Hawa liburan pun ikut merasuk pada Keenan. Ia mulai merasa harus sejenak mengambil “cuti” singkat dari aktivitas kreatifnya yang sangat menggebu-gebu selama sebulan terakhir. Belakangan, ia lebih sering tertidur di bale ketimbang melukis. Namun, sore itu, tidur siangnya terganggu. Badannya tiba-tiba diguncang oleh Luhde.

“Keenan …, bangun! Di galeri ada tamu yang mau ketemu kamu. Ayo … bangun!”

Dengan berat, Keenan membuka matanya. Tanpa bisa mengurai apa gerangan yang terjadi, tangannya sudah ditarik oleh Luhde, dan tampak Banyu sudah siap dengan sepeda motor untuk mengantarkannya ke galeri.

“Saya nanti nyusul!” teriak Luhde berbarengan dengan suara deruan motor Banyu yang segera melesat menuju galeri dengan Keenan terbonceng di belakang.

Perjalanan dari rumah Pak Wayan ke galeri hanya tiga menit. Keenan bahkan belum sempat mengumpulkan nyawanya. Masih sambil agak terhuyung, dia memasuki galeri, menemui Pak Wayan. “Ada tamu siapa, Poyan?” tanyanya sembari menggosok-gosok mata.

“Nah, ini dia pelukisnya. Baru bangun tidur! Ha-ha-ha …,” Pak Wayan malah menertawainya keras-keras. Ada seorang laki-laki muda yang berdiri di sampingnya, ikut senyum-senyum. Necis meski hanya memakai kaus polos dan jins. Tubuhnya tegap dan terawat. Wajah itu bersih dan tampan. Dari pengamatan sekian detik, Keenan bisa menyimpulkan ia pasti datang dari kota besar di luar Bali, kemungkinan besar Jakarta.

“Keenan, ini penggemar fanatik lukisanmu, yang membeli lukisanmu pertama kali. Datang jauh-jauh dari Jakarta untuk menanyakan karyamu yang baru. Saya yang beri tahu kalau kamu sudah kembali tinggal di sini.”

Tergopoh-gopoh, Keenan langsung memperkenalkan diri.

“Lukisan kamu makin matang sekarang,” puji pria itu, “saya terkagum-kagum sejak tadi. Luar biasa.”

“Terima kasih,” sahut Keenan sambil tersenyum lebar, tak mampu menyembunyikan rasa senang dan bangga yang seketika menyeruak di hatinya. Untuk pertama kalinya ia melihat ada orang yang menyukai lukisannya dengan tulus. “Lukisan mana yang kira-kira Mas suka?” tanyanya sopan.

Pria itu menebar pandangannya, menyapu lukisan-lukisan Keenan yang terpajang mengitari tempat mereka berdiri. “Jujur, saya nggak bisa memilih. Kalau boleh saya tanya, sebenarnya semua lukisan ini rangkaian cerita, ya?”

Keenan mengangguk-anggukkan kepala bersemangat. “Betul sekali. Tokoh-tokohnya sama, cuma petualangannya saja yang beda-beda. Saya terinspirasi oleh seri petualangan anak-anak karya sahabat saya. Tema lukisan yang saya buat disesuaikan dengan ceritanya. Lebih mirip ilustrasi, jadinya. Hanya saja dalam bentuk lukisan.”

“Itu dia masalahnya,” pria itu tertawa ringan, “saya jadi nggak bisa milih. Kalau bisa, saya kepingin beli semuanya. Jadi saya punya koleksi lengkap.”

“Kalau beli banyak, nanti dapat diskon menarik, Mas,” canda Keenan sambil terkekeh, “tapi, kalau boleh tanya balik, sebetulnya apa sih yang membuat Mas tertarik dengan lukisan saya?”

Pria itu mengambil ancang-ancang bicara. Seolah mengantisipasi pertanyaan yang sudah lama ia siapkan jawabannya. “Pertama, tema lukisan kamu unik. Tidak umum, tulus, dan tanpa pretensi. Kedua, menurut saya, gaya melukis kamu itu fresh. Orisinal. Rapi, ilustratif, tapi tidak terasa seperti ilustrasi. Rasanya tetap seperti monumen tersendiri, dan bukan pelengkap sesuatu. Ketiga, dan ini yang paling penting, lukisan kamu punya roh yang kuat. Saya sudah hobi koleksi lukisan sejak lama. Dan bagi saya, lukisan yang bagus adalah lukisan yang bisa membuat orang merenung. Tapi lukisan kamu bukan cuma membuat orang merenung, malah bisa mengundang orang untuk masuk ke dunia kamu. Itu pengalaman apresasi yang luar biasa. Kamu perlu tahu, jarang sekali ada lukisan yang punya ketiga unsur tadi sekaligus.”

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.