Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Lagaknya saja pemalu. Padahal dia banyak tahu,” sambung Pak Wayan lagi sambil terkekeh.

Muka Luhde langsung memerah. “Mari, Beli. Saya antar,” ucap Luhde sambil cepat-cepat berjalan. Meski ia berkata dengan volume pelan, tapi terdengar jelas suara itu begitu bening seperti embun.

“Panggilnya ‘Keenan’ saja,” sahut Keenan.

Dengan sungkan, Luhde mengangguk.

“Istirahat dulu, Nan. Nanti malam kita bicara-bicara lagi. Santai saja. Kamu tidak perlu ke mana-mana lagi,” ujar Pak Wayan sambil menepuk bahu Keenan.

Keenan menatap wajah-wajah itu sekali lagi. Memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi. Sudah terlalu lelah ia bermimpi.

Bandung, November 2000 …

Eko memandangi Noni yang sedang membereskan isi lemari pakaiannya. Belakangan ini kegiatan mereka sudah banyak bergeser. Ia dan Noni lebih banyak menghabiskan waktu berdua. Masih ada beberapa kelompok teman yang sering jalan bareng dengan mereka, tapi rasanya tidak pernah lagi sama.

“Mau sampai kapan sih kalian diem-dieman begini?” Tiba-tiba Eko berceletuk.

Noni terpaku sejenak. Tapi dengan cepat, ia kembali meneruskan kegiatannya melipat baju. “Maksud kamu—aku dan Kugy?”

“Iya,” jawab Eko setengah melengos. “Memangnya enak kayak begini? Padahal kalian satu kos. Aku kan jadi serba salah mau menempatkan diri. Kamu pacarku, Kugy sahabatku, tapi kalian nggak saling ngomong.”

Noni mengangkat bahu. “Habis mau gimana? Apa kamu nggak lihat kayak apa dia sekarang? Negurnya aja males.” Dagu Noni menunjuk ke arah jendela.

Eko menengok sedikit ke luar, dilihatnya Kugy baru saja pulang. Mukanya yang lucu kini mengeras sehingga kelihatan judes. Matanya cekung seperti orang kelelahan. Ia lebih mirip rumah angker. Pendiam, muram, seakan-akan beban dunia ada di pundaknya.

“Males nggak lu kalo dia tampangnya kayak gitu tiap hari,” celetuk Noni lagi. “Udah deh, Ko. Aku sih merasa percuma. Udah pasti kita nggak akan bisa balik lagi kayak dulu. Kugy tuh udah berubah banget.”

“Kenapa ya dia?”

“Sejak ngajar di Alit, terus putus sama Ojos, dia jadi berubah banget. Aku juga nggak ngerti. Dan dia kayaknya nggak mau terbuka sama aku. Ya, udah.”

Eko menatap Noni lurus-lurus. “Kamu nggak kehilangan, apa? Kenapa sih kamu nggak coba ngedeketin dia, kek, ngajak ngobrol pelan-pelan, kek ….”

Noni balik menatap Eko. Tajam. “Harusnya, dia yang coba ngedeketin aku, ngajak aku ngobrol pelan-pelan, minta maaf karena nggak datang ke acaraku. Bukan sebaliknya!”

Eko terdiam. Dibiarkannya Noni kembali sibuk dengan mulutnya yang memberengut.

“Non …,” ucapnya pelan setelah sekian lama hening, “kamu tahu nggak, kijang yang larinya cepat kayak kilat, bisa beku kayak patung kalau ketemu singa ….”

“Kamu nggak nyambung!”

“Maksudku, saking ketakutannya kijang itu sama singa, dia malah kehilangan kemampuannya untuk lari. Dia malah nggak bisa gerak sama sekali.”

“Terus … hubungannya apa dengan aku?”

“Pernah nggak kamu kepikir, saking merasa bersalahnya Kugy sama kamu, dia jadi kayak kijang itu. Dia malah nggak bisa ngapa-ngapain. Dia jadi kaku, diam, dan menutup diri, bukan karena dia yang kepingin. Tapi itu refleks yang nggak bisa dia lawan, saking merasa salah sama kamu. Dia jadi takut ngedeketin kamu.”

Noni gantian terdiam lama. Lalu, sambil melipat bajunya yang terakhir, ia pun bergumam, “Please deh, Ko. Nggak usah sok nganalisis kayak psikolog. Dari dulu kamu memang selalu ngebelain dia. Di mata kamu, Kugy memang nggak pernah salah.” Dan usai berkata demikian, Noni bergegas pergi meninggalkan kamarnya. Meninggalkan Eko yang terbengong-bengong sendiri. Bertanya-tanya, apa gerangan yang ia lakukan hingga Noni jadi korslet begitu.

 

Ubud, November 2000 …

Di bawah naungan bale26, Keenan diam mematung. Ini adalah minggu ketiga ia tinggal di Lodtunduh. Keenan mulai merasa tak ada bedanya dengan gerombolan ayam kampung yang dipelihara Pak Wayan di halaman belakang. Disembelih tidak, dijual telurnya tidak, hanya dibiarkan saja berkeliaran bebas sampai tua. Barangkali Pak Wayan cuma membutuhkan kehadiran mereka, suara mereka, gerak-gerik mereka untuk menghidupkan suasana. Terkadang, Keenan merasa gerombolan ayam itu bahkan lebih berguna dari dirinya. Sekalipun setiap hari ia berusaha membantu pekerjaan rumah apa pun sebisanya, tetap ia tidak merasa berguna. Keenan mulai merasa lelah dan frustrasi dengan semua ini. Kebaikan dan ketulusan Pak Wayan beserta seluruh keluarganya justru membuat ia semakin tidak enak hati. Selama tiga minggu, ia hanya menumpang tidur dan makan. Dan bukan untuk itu ia seharusnya di sini. Seharusnya ia … berkarya.

Di hadapannya sudah ada kanvas polos, di sampingnya berserakan semua peralatan melukis. Tiap pagi ia menyiapkan perangkat yang sama di tempat yang sama. Namun, belum ada secercah pun dorongan di hatinya.

Tiba-tiba, dari belakang punggungnya, terdengar sesuatu bergesek dengan lantai kayu. Keenan otomatis menoleh ke belakang. Kaget melihat Luhde sudah duduk bersimpuh di tangga bale. Luhde pun sama kagetnya. Tampangnya langsung pucat seperti maling tertangkap basah.

“Hai, Tuan Putri. Kok bisa parkir di situ? Kapan munculnya?” Keenan menyapa sambil tertawa.

“Sudah—dari tadi,” jawab Luhde terbata. “Saya mau lihat Keenan melukis.”

Keenan tergelak lagi. “Kamu nggak sayang waktu, apa? Karena dari tadi berarti kamu cuma melihat saya melamun, bukan melukis.”

Luhde tersenyum. “Pelukis yang baik bisa mengungkapkan semuanya, termasuk kekosongan sekalipun,” dengan suaranya yang lembut dan lirih Luhde berkata.

Sejenak, Keenan tertegun. “Kamu tuh … pendiam, tapi sekalinya ngomong kok pintar banget, sih.”

Luhde pun beringsut, duduk di sebelah Keenan. “Kalau pelukis-pelukis di sini biasanya punya satu sumber inspirasi. Sepanjang hayatnya melukis, mereka akan melukis berdasarkan sumber yang sama. Tapi justru dengan begitu, mereka bisa mencapai tingkat penjiwaan paling tinggi. Mungkin hal seperti itu yang perlu Keenan cari.”

Kembali Keenan terpana mendengar kata-kata Luhde. Sama sekali tidak menyangka ucapan sedemikian bijak dan bernas akan meluncur dari mulut gadis tujuh belas tahun di hadapannya.

“Seperti Poman, inspirasinya adalah sesajen, akhirnya semua lukisannya adalah gambar sesajen. Kalau Poyan, inspirasinya adalah upacara adat. Beli Banyu, sekalipun lukisannya abstrak, tapi sumber inspirasinya sebenarnya adalah corak kain Bali. Perhatikan saja semua lukisannya. Iya, kan?” dengan asyik, Luhde berceloteh, “Kalau Keenan sudah dapat ‘jodoh’nya, pasti tangannya langsung lancar. Dan lukisannya dari ke hari akan semakin bagus.”

Keenan melongo. Jodoh?

“Setiap pelukis pasti memiliki ‘jodoh’nya masing-masing. Kalau mereka mau bertekun sekaligus berserah, pasti mereka akan menemukannya. Jadi, Keenan jangan cepat putus asa. Kadang-kadang kanvas kosong juga bersuara. Tanpa kekosongan, siapa pun tidak akan bisa memulai sesuatu,” lanjut Luhde lagi.

Kali ini Keenan tidak tahan lagi. Sesuatu menyesak di dadanya. Sudah lama ia ingin bicara dengan seseorang tentang kesulitan dan tekanan yang ia alami. Dan mendadak, hari ini Luhde muncul seperti malaikat penolong yang mengetuk pintu pertahanannya. “Luhde … saya benar-benar nggak tahu harus mulai dari mana … saya … bahkan nggak yakin saya bisa melukis lagi …,” susah payah Keenan berkata.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.