Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Mama yakin saya dijemput Eko?” tanya Keenan.

“Ya iyalah. Mama sudah telepon langsung ke Eko. Memangnya kenapa?”

“Saya nggak ingat mukanya, dia juga pasti sama. Kami terakhir ketemu kan waktu SD!”

Jeroan langsung menyambar senang, “Nah! Itu dia, Ma! Kalau aku ikut, aku nanti bisa kasih tahu Mas Eko yang mana.”

Ibu mereka tersenyum melihat usaha keduanya. Eko adalah sepupu Keenan yang sejak SMA bersekolah di Bandung dan kini mereka akan berkuliah di kampus yang sama. Semasa keduanya masih SD, sebelum Keenan berangkat ke Amsterdam, Keenan dan Eko bersahabat karib. Baru sekarang lagi mereka akan bertemu setelah terpisah sekian lama.

“Alasan kamu memang masuk akal, Nan. Tapi Eko sudah Mama pesankan untuk bawa tulisan nama kamu. Jadi, biarpun kalian tidak hafal muka, kalian pasti akan bertemu,” jawab ibunya sambil mengerling ke arah Jeroen.

Terdengar suara pintu kamar membuka, dan melangkahlah keluar ayahnya yang masih berkemeja dan dasi lengkap. Ia pun telah minta izin dari kantornya demi melepas Keenan ke Bandung.

“Semua barang kamu sudah siap, Nan?” tanyanya sambil meraih kunci mobil dari meja.

“Sudah, Pa.” Keenan berdiri di samping satu travel bag.

“Itu saja?”

“Sisanya dipaket ke Bandung,” timpal ibunya. Dan ujung matanya menunjuk ke sudut yang penuh sesak oleh tumpukan dus berisi alat lukis.

Ayahnya menghela napas. Riak pada air mukanya tidak bisa disembunyikan, dan Keenan melihatnya dengan jelas.

Ada suasana mendung yang seketika menggantung di ruangan itu. Satu demi satu pun melanjutkan kegiatannya masing-masing tanpa suara.

 

Bandung, Agustus 1999 …

Tidak ada yang lebih dahsyat daripada gabungan gerimis hujan di luar dan selimut hangat di dalam kamar. Demikian prinsip Kugy. Meringkuk di tempat tidur sepanjang sore sambil bermimpi indah adalah misinya sore itu. Sayangnya, ia lupa mengunci pintu.

Cahaya dari luar seketika menerangi kamarnya yang temaram. Langkah tergesa dan suara bernada tinggi mengacaukan suasana hening yang membungkus Kugy seperti kepompong.

“Gy!, Bangun! Pergi, yuk!”

Selimut yang tampak menggunduk itu tak bergerak.

“Gy, Eko udah di depan. Si Fuad nggak bisa dimatiin, ntar mogok, Yuk cepetaaan!”

Kugy menyahut dengan gumaman tak jelas.

Noni terpaksa mengambil tindakan lebih ekstrem. Dengan gesit ia menyingkap selimut dan memercik-mercikkan air dari gelas di sebelah tempat tidur.

Kugy menghindar, gelagapan. “Penyerangaaan! Invasi ruang privaaat!”

“Nggak usah berlagak, deh. Ayo, bangun.”

Kugy terduduk dengan paksa, mata terpejam sebelah dan rambut semrawut. “Non, berhubung kamar kita bakal sebelahan setidaknya dalam empat tahun ke depan, gua jelaskan satu aturan yang sangat penting, oke. Tidur siang adalah momen sakral buat gua. Bonus hujan, lagi! Harusnya lu masuk ke sini pun jalannya pake lutut dan sungkem dulu ke kaki tempat tidur ….”

“Kita jemput sepupunya Eko ke stasiun, yuk. Jam lima keretanya nyampe. Lu mau pakai baju yang mana? Biar gua siapin,” Noni seperti tak mendengar khotbah penting Kugy.

Kedua mata Kugy terbuka. “Bentar … bentar. Kenapa kok gua harus ikut? Itu kan sepupu si Eko, lu yang pacarnya si Eko, kenapa gua harus dilibatkan segala?” Kugy berseru putus asa.

“Soalnya … Si Fuad ngadat lagi. Kalo mogok harus ada yang dorong. Untuk dorong kita butuh tenaga.”

Kugy menganga tak percaya, “Jadi … gua dibangunin dari tidur suci gua untuk jadi cadangan tenaga ngedorong si Fuad?”

“Ya iyalah. Buat apa lagi?”

“Nggak sopan, bener-bener nggak sopan! Gua cuma dianggap kuli dorong mobil …,” sambil menggerutu Kugy bangun.

“Mau pakai baju yang mana?”

“Yang ini!” Kugy menunjuk pakaian yang menempel ditubuhnya. Celana batik selutut yang sudah mengusam, dan kaus kegedean bertuliskan “Lake Toba” yang sudah tipis dan lentur seperti lap dapur.

“Yah, jangan gitu-gitu amat, dong, Gy. Lu ngambek, ya?”

“Oh, nggak. Gua cuma berdandan sesuai kasta gua aja. Kuli dorong mobil. Ayo, cabut!” sahut Kugy seraya menyambar jaket jins di gantungan.

Noni memandang temannya dengan khawatir. Rambut sebahu Kugy sebagian naik ke atas seperti disasak setengah jadi. Bajunya mendekati compang-camping. Jaket jins kegombrongan milik Karel yang digondol Kugy detik-detik terakhir sebelum dia berangkat ke Bandung itu pun tentu tidak membantu. Belum lagi, jam tangan plastik Kura-kura Ninja yang nyaris tak pernah lepas dari pergelangan tangannya Lalu sandal khusus kamar mandi dari bahan plastik berwarna pink elektrik seolah menyempurnakan “keajaiban” penampilan Kugy sore itu.

Namun, Kugy berjalan mantap keluar menantang dunia, disambut Eko yang kontan meringkuk-ringkuk tertawa melihat pemandangan nyentrik itu.

“Gy! Lu kayak gembel baru gila! Keren!” teriak Eko sembari merogoh-rogoh ransel mencari kamera. “Siap … satu, dua, tiga, pose!”

Dengan cepat Kugy langsung membengkungkan kedua lengannya seperti atlet binaraga.

“Sip. Gua cetak 5R, nanti gua pajang di mading kampus.” Eko tersenyum puas.

“10R lah, Ko. Standar majalah, dong.”

“Orang gila lu layanin, ya makin senanglah dia. Lihat tuh, mukanya hepi gitu ….” Noni menunjuk Kugy yang sedang mematut-matut diri di spion mobil Eko, mulai menyadari betapa aneh dandanannya, dan mulai tertawa-tawa bahagia tanda menikmati.

Melihat itu, Eko juga mulai khawatir. “Lu tahu betapa gua menghargai setiap liter bensin, kan, Gy? Dan gua nggak bisa matiin mesin mobil karena takut mogok. Tapi gua akan merelakan lima menit buat lu untuk ganti baju. Kalau lu mau,” kata Eko penuh penekanan. Dia sebetulnya sudah bisa menduga pilihan Kugy.

“Daripada bensin lima menit lu habiskan buat tunggu gua ganti baju, mendingan lu konversi jadi duit terus beliin gua minum. Jadi kuli gampang haus! Yuk!”

Jawaban tegas Kugy menuntaskan kontroversi sore itu, dan meluncurlah Fiat 124S kuning itu memecah air di atas jalanan Kota Bandung yang basah.

Lautan penumpang kereta api telah melewati tiga sekawan itu sejak sepuluh menit yang lalu, tapi mereka belum juga menemukan objek jemputannya. Noni dan Kugy sudah mulai resah.

“Lu yakin dia pakai kereta jam lima? Kok nggak muncul-muncul?” tanya Kugy pada Eko yang celingak-celinguk tiada henti.

“Gua yakin dia pakai kereta yang ini. Masalahnya, gua nggak tahu mukanya.”

“HAH?” teriak Kugy dan Noni hampir berbarengan.

“Kok kamu nggak bawa tulisan atau apa, kek?” cecar Noni.

Eko nyengir masam. “He-he, ketinggalan, Non.”

“Ampun, deh! Kalau bilang dari tadi kan aku bisa cari kertas sama pulpen!” omel Noni.

“Tenang … muka sepupuku tuh unik, kok … pokoknya gimana, ya … hmm ….”

“Kapan kalian terakhir ketemu?” tanya Kugy.

“Waktu SD,” Eko menjawab setengah menggumam.

Kugy dan Noni langsung berpandang-pandangan. Noni memutuskan untuk lanjut mengomel, sementara Kugy bergegas ke arah muka stasiun.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.