Baca Novel Online

Perahu Kertas

Keenan pun terpaksa membiarkan ibunya menghabiskan seperempat jam pertama pertemuan mereka untuk menangis.

“Tapi … kamu … sehat-sehat kan, Nan?” Lena kemudian bertanya patah-patah.

“Sehat, Mam. Biarpun jadi kurus gini, saya nggak pernah sakit, kok,” jawab Keenan, berusaha santai.

“Kamu bisa pulang kapan pun kamu mau. Percaya sama Mama. Papa kamu pasti melunak. Di luarnya saja dia keras, tapi sebenarnya dia kehilangan sekali sama kamu ….”

Keenan tersenyum tipis. “Saya ingin ketemu Mama hari ini bukan karena saya kepingin pulang ke rumah. Tapi … saya justru ingin pamit.”

Lena langsung tersentak. “Pamit? Ke mana?”

Keenan tak segera menjawab. Ia mengeluarkan amplop berisi surat dari Pak Wayan dan menyerahkannya pada ibunya. “Tolong baca ini, Ma.”

Lena pun mulai membaca. Napas panjangnya menghela ketika ia sampai pada akhir surat. Ia seketika tahu arti pertemuan ini. Perpisahan yang kedua kali akan segera terjadi. Namun, kali ini, ada semacam kelegaan karena ia tahu anaknya akan terjaga dengan baik.

“Saya akan tinggal dengan Pak Wayan,” ujar Keenan mantap, “lusa saya berangkat.”

Lena menatap anak sulungnya dari matanya yang tersaput air. Menyadari betapa bocah kecilnya telah tumbuh besar menjadi seorang laki-laki dewasa yang memiliki jalan hidup sendiri. Sejenak lagi Keenan terbang dengan sayapnya, menuju tempat dan kehidupan yang ia pilih. Tidak dirinya, atau siapa pun, yang mampu membendung kepakan sayap-sayap itu.

Suara Lena bergetar saat ia mengucap, “Baik-baik di sana, ya? Jangan bikin susah Pak Wayan.”

Keenan menelan ludah. Sangat kentara ibunya berusaha kelihatan tegar demi dirinya. Mata Keenan mulai panas. Pandangannya mulai mengabur. Keenan terpaksa mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum bisa lanjut berkata-kata. “Saya ada satu permintaan lagi, Ma ….”

“Apa itu?”

“Tolong jangan bilang siapa-siapa saya ada di Ubud. Bahkan Jeroen nggak perlu tahu. Cukup Mama yang tahu.”

Lena merasa dadanya sesak.

“Saya benar-benar ingin memulai halaman baru. Dari nol lagi. Ini jalan hidup saya, Ma. Dan saya nggak mungkin kembali ke penjara yang sama.”

Lama Lena tercenung, sampai akhirnya kepalanya mengangguk. Berat.

Perlahan, Keenan bangkit berdiri. Mengecup kening ibunya, dan mendekapnya erat. Setiap bulir detik bergulir penuh arti. Hanya hening dan air mata yang jatuh sesekali dari mata keduanya.

 

23.

MENANGKAP BINTANG

Ubud, November 2000 …

Dua puluh jam Keenan terduduk dalam bus yang mengantarkannya dari Bandung hingga terminal Ubung. Selama dua puluh jam, matanya tetap membeliak terjaga. Sesuatu dalam perjalanan ini membuatnya gelisah sekaligus bersemangat. Keenan menyadari, ini adalah salah satu keputusan terbesar yang pernah dibuatnya selama hidup. Dalam hati ia pun merasa, sesuatu yang besar akan menantinya di Ubud.

Dari jendela bus, tampak Pak Wayan dan keponakannya, Agung, menunggu di terminal. Keenan langsung mengenali dua sosok yang sama-sama tinggi besar itu hilir mudik memakai setelan lengkap: sarung, kemeja, dan udeng. Seperti habis baru selesai upacara.

“Poyan! Agung!” Keenan melambaikan tangan begitu menginjakkan kaki ke tanah.

Serta-merta terbit tawa cerah di wajah Pak Wayan, sementara Agung dengan gesit langsung berlari menghampiri Keenan dan membantu membawakan tasnya.

“Agung, rupanya ada yang harus cepat-cepat kita kasih makan sebelum dia dilirik sama anjing-anjing seluruh Bali karena disangka tulang berjalan,” Pak Wayan terkekeh.

Keenan ikut terkekeh, “Setuju, Poyan. Saya nggak nolak dikasih makan, apalagi kalau dalam waktu dekat.”

Pak Wayan tergelak seraya merangkul Keenan erat-erat, “Saya senang sekali kamu pulang ke sini. Keluarga di Ubud sudah menunggu.”

Hati Keenan berdesir mendengarnya. Haru. Ia pun tersadar betapa ia merindukan konsep itu: pulang, dan … keluarga.

Mobil itu tiba di sebuah gerbang kayu tinggi yang diapit pohon-pohon rindang dan semak-semak tanaman rambat yang tumbuh besar dan rapat. Di balik gerbang kayu itu langsung terlihat puncak pura yang mencuat hingga tampak dari jalan. Di lahan hektaran itulah tinggal keluarga besar Pak Wayan dalam beberapa rumah terpisah. Terdapat pula sekurang-kurangnya tiga studio kerja besar yang menampung segala macam aktivitas dan barang-barang seni yang digarap oleh keluarga seniman itu.

Napas Keenan sontak tertahan melihat gerbang kayu itu lagi. Rumahnya yang baru. Ia tak bisa membendung senyum yang menyungging otomatis di mulutnya.

Pak Wayan tidak melebih-lebihkan ketika mengatakan bahwa seluruh keluarganya telah menunggu. Lagi-lagi, Keenan harus terenyak haru ketika melihat keluarga Pak Wayan berkumpul di teras saat mobil mereka tiba di halaman depan kompleks itu.

“Beli25! Apa kabar?” Banyu, salah satu keponakan Pak Wayan yang akrab dengan Keenan, langsung menyongsong dan merangkul Keenan dengan hangat. Disusul Pak Putu, ayah Banyu, lalu yang lainnya. Wajah-wajah yang tak asing.

“Kamar kamu yang dulu sudah dibersihkan. Sekarang ditambah lemari pakaian, karena katanya Keenan sudah mau tinggal terus di sini, ya?” ujar Ibu Ayu berseri, adik ipar Pak Wayan sekaligus ibu kandung dari Agung.

“Iya, Bu. Rencananya begitu,” jawab Keenan dengan tawa lebar. “Ini, saya bawakan oleh-oleh sedikit dari Bandung, Bu. Buat semua yang di sini,” Keenan pun menyerahkan sekantong besar aneka makanan yang ia sempatkan beli di toko oleh-oleh sebelum menaiki bus kemarin.

“Mata kamu kelihatan capek sekali, Nan,” celetuk Pak Nyoman, adik Pak Wayan yang juga sama-sama pelukis.

“Di jalan saya nggak bisa tidur, Pak. Saya belum tidur dari kemarin. Tapi rasanya masih oke, kok,” sahut Keenan.

“Wah! Kamu harus cepat istirahat kalau gitu,” sambar Ibu Ayu, “Tidur dulu saja. Nanti malam baru dibangunkan untuk makan sama-sama, ya?”

“Boleh, Bu. Terima kasih banyak,” Keenan menjawab dengan anggukan semangat. Ia sama sekali tidak keberatan dengan ide itu. Begitu kakinya kembali ke rumah ini, seluruh sistemnya seolah melepas beban dan ketegangan yang menumpanginya sejak berangkat, hingga lelah tubuhnya pun akhirnya terasa.

“Luhde!” panggil Ibu Ayu. “Tolong kamu antar Keenan dulu, jangan lupa nanti siapkan minum.”

Alis Keenan sedikit berkerut. Nama itu asing. Dan sesosok asing yang sedari tadi berdiri malu di pojok, tertutup orang-orang, menyeruak keluar. Menatap Keenan sambil setengah menunduk.

“Keenan, kenalkan, ini Luhde Laksmi. Keponakan saya dari keluarga di Kintamani,” jelas Pak Wayan. “Luhde juga akan tinggal di sini. Dia dititipkan oleh bapaknya, Pak Made Suwitna, yang datang berkunjung waktu tahun baru. Waktu kamu liburan terakhir kali kemari. Ingat?”

Keenan mengangguk. Ia ingat Pak Made, sepupu Pak Wayan yang juga koreografer tari Bali yang sangat terkenal. Sejenak ia mengamati Luhde. Sekilas, Luhde seperti remaja perempuan pada umumnya. Tubuhnya mungil, dan sikap malu-malunya membuat ia tampak makin ringkih. Yang mencuat adalah rambut panjangnya yang dibiarkan terurai melewati bahu hingga menyerupai selendang hitam yang menggantung hingga pinggul. Namun, meski tampak ringkih dan pemalu, kedua mata besar itu berbinar penuh rasa ingin tahu. Keenan tertegun. Ada sesuatu yang tak asing dari sosok yang baru pertama kali ia temui itu. Entah apa.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.