Baca Novel Online

Perahu Kertas

Terdengar suara pintu di kamar sebelah membuka. Tak lama, terdengar langkah Noni di koridor. Mendengar suara-suara itu, Kugy menelan ludahnya yang terasa pahit. Tak hanya ia kehilangan cintanya, ia pun telah kehilangan Noni dan Ojos gara-gara cinta itu. Orang-orang yang ia cinta.

Dilipatnya lembar-lembar kertas tadi, dibentuknya menjadi tiga perahu kertas.

Di seberang kampus, ada sebuah permukiman yang dilewati kali. Itulah aliran air terdekat yang bisa Kugy temukan.

Pagi itu, sebelum kuliah, Kugy menyempatkan diri mampir ke kali. Terdapat beberapa anak kecil yang sedang asyik menangkapi kecebong. Kugy beringsut maju, menjauhi mereka. Ia tak ingin misi pentingnya gagal secara prematur hanya karena anak-anak tadi tak jadi menangkapi kecebong, dan malah lebih tertarik pada barang yang ingin ia hanyutkan.

Setelah merasa berada di jarak aman, barulah Kugy berhenti dan mendekat ke tepi kali. Dari dalam ranselnya, ia mengeluarkan tiga perahu kertas. Tak ada saluran lain, tak ada teman bicara lain … hanya Neptunus, batinnya.

Satu demi satu, ia mengapungkan perahu-perahu kertasnya ke kali.

Sesuatu seperti lepas dari hatinya seiring dengan melajunya perahu-perahu tadi. Kugy merasa lebih lega bernapas. Sekian lama sudah ritual ini terkubur, dan dibutuhkan sekian banyak peristiwa untuk membangkitkannya kembali. Kugy lupa betapa melegakannya perasaan ini, saat cerita dan beban hatinya dihanyutkan air menuju lautan. Betapapun jauhnya perjalanan itu.

Bandung, November 2000 …

Hari pertama di bulan November. Keenan dikagetkan oleh kedatangan Bimo yang muncul di tempat kosnya pagi-pagi.

“Hai, Nan … apa kab—?” Bimo sampai menghentikan kalimatnya ketika sepenuhnya menyadari apa yang ia lihat, “gila, lu kurus banget, Nan.”

Keenan, yang berdiri di pintu, hanya tersenyum. Itu adalah komentar klasik yang selalu ia terima setiap kali bertemu dengan teman kampusnya.

“Hai, Bim. Masuk, yuk,” sapa Keenan seraya membuka pintu kamarnya lebih lebar, menyilakan Bimo masuk.

“Gua mau ngasih ini,” Bimo menyerahkan sepucuk amplop putih.

Keenan menerima surat itu dan seketika mengenali tulisan tangan yang tertera. Alamat pengirim di sampul belakang amplop itu mengonfirmasi dugaannya. Surat dari Pak Wayan di Ubud, dikirimkan ke alamat kosnya yang lama.

“Surat ini … kapan sampai?” tanya Keenan.

“Sebetulnya udah cukup lama, Nan. Mungkin hampir dua minggu. Tapi baru sampai ke tangan gua semingguan yang lalu. Dan baru sekarang gua baru sempat ke sini. Sori, ya,” jelas Bimo.

“Nggak apa-apa. Thanks, Bim. Harusnya gua aja yang ambil ke sana. Nggak perlu sampai lu ke sini ….”

Bimo tergelak. “Lha! Lu bisa tahu adanya surat ini dari mana? Telepati? HP lu kagak punya, kosan ini kagak punya telepon! Nan … nan … kayaknya lu udah kekurusan sampai otak lu agak ciut …”

“Oh, iya. Bener juga …” Keenan ikut mesem-mesem.

“Sarapan, yuk. Gua yang traktir. Kapan lu terakhir makan enak?”

Keenan berpikir, lalu menggelengkan kepala. “Kalau soal enak, kayaknya sih makanan gua enak-enak aja. Tapi kalau enak dan mahal … hmm … gua sampai udah nggak inget terakhir kapan. Otak udah ciut!”

Bimo terkekeh. “Siap! Mahal dan enak it is then!”

Acara sarapan bersama Bimo ternyata berlanjut hingga menjelang sore. Keenan kembali menjenguk kampus dan nongkrong seharian bersama teman-teman lamanya. Keenan tersadar betapa ia merindukan kebersamaan semacam itu. Sejak insiden di rumah Wanda, ia lama menyendiri dan mengurung diri bak seorang pertapa. Kedatangan Bimo benar-benar terasa bagai angin segar di tengah atmosfer jiwanya yang pengap.

Keenan membuka jendela kamar kosnya lebar-lebar. Tempat ini pun butuh angin segar setelah seharian tertutup dan terpapar panas matahari siang. Ia menimang-nimang amplop itu, bertanya-tanya adakah surat itu menjadi angin segar berikutnya. Keenan menggeleng sendirian, seolah menyesali pikirannya sendiri. Ia lelah berharap.

Tanpa pikir panjang lagi, Keenan membuka surat itu. Terdapat dua lembar kertas surat bertulis tangan dan selembar kertas tambahan. Seketika Keenan terenyak ketika menyadari apa kertas itu. Langsung ia membaca dengan tergesa-gesa. Setelah selesai, Keenan pun mematung. Lama.

Keenan memandangi kertas-kertas di pangkuannya. Pikirannya masih berusaha mencerna dan hatinya berusaha beradaptasi dengan berbagai lonjakan perasaan yang sontak muncul ketika membaca surat dari Pak Wayan. Untuk kedua kalinya, Keenan membaca surat tersebut. Kali ini dengan lebih lambat.

Pak Wayan menceritakan betapa kagetnya dia ketika dikirimi lukisan-lukisan Keenan yang seperti jatuh dari langit saking tak terduganya. Sekalipun di surat pengantarnya Keenan menuliskan sejelas-jelasnya bahwa itu semua adalah kenang-kenangan sekaligus tanda terima kasih untuk apa yang didapatnya selama di Bali, Pak Wayan merasa ada sesuatu yang luar biasa yang telah terjadi dalam hidup Keenan. Namun, Pak Wayan tidak berhasil menghubungi Keenan untuk bertanya langsung.

Salah satu lukisan Keenan yang paling disuka oleh Pak Wayan lantas diberi rangka kayu dan dipajang begitu saja di studionya. Beberapa minggu kemudian, lukisan itu mencuri perhatian seorang kolektor lukisan dan ia tertarik ingin membeli. Pak Wayan sudah mengatakan bahwa lukisan itu tidak dijual, tapi orang itu benar-benar gigih dan bersikeras ingin membeli. Pak Wayan bilang, orang itu seperti terkena cinta buta. Jatuh hati habis-habisan pada lukisan Keenan.

Pak Wayan lalu minta maaf jika dirinya lancang, tapi kata hatinya mengatakan untuk melepaskan lukisan Keenan pada orang tersebut. Dalam suratnya, Pak Wayan menulis: “… seperti cinta yang satu hari bertalian tanpa bisa dijelaskan, saya merasa lukisan itu menemukan jodohnya. Saya kenal baik dengan orang yang membeli lukisan kamu itu, makanya saya yakin lukisan itu berada di tangan yang tepat. Dia membelinya bukan semata-mata untuk investasi, tapi karena cinta.”

Keenan lanjut membaca: “Lukisan yang satu itu memang sangat bagus dan rohnya kuat. Sekalipun saya sendiri ingin sekali menyimpannya, saya juga tidak mau menghambat rezeki kamu. Semoga uang ini bisa bermanfaat banyak. Kapan kamu pulang ke rumahmu di Ubud? Saya dan keluarga besar di sini selalu mengharapkan kamu pulang. Tolong beri kabar secepatnya setelah kamu menerima surat ini.”

Kembali Keenan memandangi selembar kertas yang diselipkan di dalam dua lembar surat tadi. Selembar cek senilai tiga juta rupiah. Di sana dituliskan keterangan: Pembelian lukisan: “Jenderal Pilik dan Pasukan Alit.”

Sisa hari itu dihabiskan Keenan dalam perenungan. Sore berganti malam. Langit jingga berganti hitam. Dan ia masih merenung. Banyak yang berkecamuk di benaknya. Hal-hal yang tadinya tak terlintas dan tak digubris. Ada keraguan, trauma, dan gentar. Namun, kalimat satu itu terus mengiang-ngiang: Kapan kamu pulang ke rumahmu di Ubud?

Jakarta, November 2000 …

Perempuan itu tidak sanggup menahan aliran air matanya. Mereka berjanji bertemu pada jam tatkala ia hanya sendirian dan semua orang lain sedang berada di luar rumah. Hatinya seketika tersayat dan teriris melihat anaknya sendiri muncul sembunyi-sembunyi seperti narapidana kabur dan takut tertangkap.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.