Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Oh. Kirain biar kita tiap hari ketemu,” celetuk Keenan jahil.

Kugy tergelak. “Ya, itu boleh juga jadi bonus. Aku nggak keberatan ketemu kamu tiap hari.”

“Saya juga nggak.”

Keduanya terdiam sejenak. Kugy tahu-tahu meletakkan ransel yang tadinya sudah siap disandangkan di bahu. “Kamu ke mana aja sih, Nan?”

“Ada,” sahut Keenan setengah menggumam.

“Kok nggak bilang-bilang kamu pindah tempat kos?”

“Ceritanya panjang, Gy.”

“Kamu bisa mulai cerita sekarang,” tegas Kugy sambil duduk bersila.

“Saya udah nggak kuliah lagi dari awal semester. Saya mengundurkan diri,” Keenan bertutur sekenanya.

“Ya, aku tahu. Dari Wanda …” Kugy menyahut lirih. “Keluarga kamu gimana? Mereka setuju?”

“Saya belum ketemu mereka lagi. Ayah saya sangat tidak setuju pastinya.”

Lama Kugy termenung. Segaris senyum lalu membersit di wajahnya. “Kamu berani banget, Nan. Aku salut. Akhirnya, demi melukis kamu mengambil keputusan sebesar itu,” ucapnya tulus.

“Saya nggak melukis lagi.”

Kugy nyaris mencelat dari lantai. “Ke—kenapa?” tanyanya terbata.

“Saya salah selama ini, saya pikir melukis adalah jalan hidup saya, tapi ternyata bukan,” jelas Keenan dengan datar.

“Tapi … bukannya kamu mau pameran? Aku sempat ketemu Wanda, dan dia cerita kalau kamu lagi konsentrasi melukis, terus kamu bakal keliling-keliling, pindah ke Jakarta …”

Keenan tersenyum samar. “Dia cuma bercanda. Pameran, galeri, keliling-keliling … semuanya cuma bercanda.”

“Aku nggak ngerti …,” Kugy menggelengkan kepala, “maksud kamu … rencana pameran itu nggak pernah ada?”

“Om Hans sejak awal sebetulnya nggak setuju lukisan saya masuk ke Warsita, karena menurutnya karya saya belum matang. Tapi karena Wanda yang minta, lukisan saya bisa lolos.”

“Iya … tapi kan … lukisan kamu pada akhirnya laku. Empat-empatnya dibeli orang! Itu kan berarti bukti kalau lukisan kamu memang diminati!”

“Oleh satu orang tepatnya,” Keenan berkata getir, “Wanda. Dia yang ternyata membeli semua lukisan saya, dan disembunyikan di rumahnya. Saya nggak sengaja tahu. Dia yang kelepasan gara-gara mabok waktu ulang tahun Noni.”

Kugy menatapnya tak percaya, “Jadi … selama ini …”

“Selama ini semuanya nggak lebih dari cerita cewek kaya yang jatuh hati sama seorang pemimpi. Tapi ini bukan salah siapa-siapa kok, Gy,” Keenan tersenyum samar, “saya nggak menyalahkan Wanda, apalagi Om Hans. Saya yang terlalu bego.”

“Bukan berarti kamu harus mengorbankan impian kamu gitu aja dong, Nan. Masa cuma gara-gara seorang Wanda kamu jadi berhenti melukis …,” protes Kugy tak tertahankan.

“Ini bukan masalah Wanda,” potong Keenan keras, “kamu bisa bayangin? Saya sudah mengundurkan diri dari sekolah, saya sudah keluar dari rumah. Dengan naif dan yakinnya saya merasa bisa membuktikan sama keluarga saya, sama orang-orang, kalau saya mampu mandiri dari melukis—”

“Ya kalo gitu buktikan, dong!” Kugy balas memotong, “Kenapa malah berhenti?” Kugy menatap Keenan tak mengerti, “Nan, kamu adalah pelukis paling hebat yang aku tahu. Terserah Om Hans mau ngomong apa, Wanda punya motivasi apa, kolektor-kolektor itu punya penilaian apa … buatku, kamu melukis dengan seluruh jiwa kamu, dan itu yang penting!”

“Gy … kalau saya memang pelukis yang sehebat yang kamu kira, udah dari dulu-dulu Om Hans langsung meloloskan lukisan saya. Nggak usah pakai dibujuk-bujuk sama Wanda segala. Dan kalau memang saya pelukis yang sebagus yang kamu kira, waktu pameran katalog barunya Warsita sudah pasti ada yang membeli lukisan saya. Nggak perlu Wanda yang sampai pura-pura beli.”

“Jadi, cuma gara-gara penilaian satu galeri, dan sekelompok orang yang entah siapa, kamu mengorbankan semua mimpi kamu. Gitu?” Nada bicara Kugy kian meruncing.

“Wake up, Gy,” Keenan melengos, “Warsita bukan sekadar galeri. Dan orang-orang itu adalah kolektor lukisan yang berpengalaman. Kamu atau Eko bisa aja bilang lukisan saya bagus karena kalian teman-teman saya. Tapi orang-orang itu lebih tahu.”

Kugy menggeleng lagi. “No. YOU wake up! Nggak peduli galeri bilang apa, nggak peduli orang-orang itu punya pengalaman apa, harusnya kamu yakin sama diri kamu sendiri.”

“Bener banget,” balas Keenan tegas. “Saya harus bangun dan lihat kenyataan. Dan ini realitasnya. Lukisan saya cuma jadi sarana seorang Wanda yang cuma mau pe-de-ka-te. Dan ketololan sayalah yang memungkinkan dia melakukan itu semua.”

“Kamu bilang ini bukan masalah Wanda, tapi dari tadi kamu bolak-balik selalu kembali mengungkit dia dan galerinya. Justru aku yang nggak melihat bahwa ini soal Wanda atau Warsita. Ini adalah soal kamu dan keyakinan kamu!” ujar Kugy setengah mengeluh. “Nan … selama ini kamu yang menginspirasi aku untuk tetap yakin pada impian-impianku. Gara-gara kamu aku semangat bikin dongeng lagi. Aku nggak rela kamu menyerah gitu aja—”

“Saya nggak pernah minta jadi panutan siapa-siapa! Nggak usah menambah beban saya dengan omongan seperti itu!” Keenan menukas. Setengah membentak.

Seketika Kugy bungkam. Dengan sedikit gemetar, tangannya membereskan sisa barangnya yang tercecer, lalu ia menyandangkan tasnya di bahu. Bersiap pergi dari sana. “Ternyata selama ini aku ketinggian menilai kamu …,” desisnya tanpa lagi menatap Keenan. Tak lama, langkah-langkahnya yang besar membawa Kugy dengan cepat menghilang di balik rimbunan bambu. Ia berjalan buru-buru tanpa menoleh.

Di tempatnya, Keenan duduk diam dan hanya sanggup menatapi. Banyak kata yang ia sesali tapi telanjur terucap. Namun, untuk menahan Kugy, ia bahkan tak punya percaya diri yang cukup untuk itu. Angin dingin yang berembus menyentuh kulitnya seolah menembusi pori, memasuki nadi, dan meninggalkan perasaan kehilangan yang menjalar ke seluruh tubuh. Mendadak, Keenan menggigil. Tak hanya kehilangan, ia pun merasa ditinggalkan.

 

22.

PULANG KE UBUD

Sendirian di kamarnya, Kugy mulai menulis seperti orang kesetanan. Malam itu ia berniat menumpahkan semuanya dalam lembaran-lembaran kertas kosong. Dalam sekejap, bidang petak putih itu terisi penuh oleh tulisan tangannya. Sambil menulis, tak jarang air matanya ikut terselinap, meninggalkan jejak-jejak tinta yang memecah di atas kertas. Kugy tak tahu itu air mata sedih atau marah, dan ia tak lagi peduli.

Baru pada lembar ketiga, kecepatan menulisnya mulai melambat. Perasaan yang tadi campur aduk mulai menunjukkan wajah aslinya. Seharusnya ia bersukacita saat tahu hubungan Keenan dan Wanda usai. Seharusnya ia lega ketika tahu Keenan tidak jadi pindah ke Jakarta dan meninggalkan dirinya gara-gara harus mempromosikan lukisan. Tapi ternyata tidak. Kugy pun tersadar, inilah patah hati yang sesungguhnya. Hatinya pernah hancur ketika tahu Keenan harus bersama orang lain, tapi hatinya baru benar-benar patah ketika tahu bahwa Keenan bukanlah sosok yang selama ini ia cinta.

Pada lembar ketiganya, Kugy mulai menangis sedih. Tidak banyak lagi yang ia tulis. Hanya beberapa baris penyesalan. Kugy menyadari, selama ini ia telah menciptakan sendiri ilusi tentang Keenan dan mencintai ilusi itu. Kenyataannya, Keenan rapuh dan lemah.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.