Baca Novel Online

Perahu Kertas

Noni mengangkat mukanya sedikit, menyadari bahwa ada Kugy sedang berdiri di koridor. Cepat, mata Noni berpaling ke arah lain.

“Hai, Non …,” Dengan suara pelan dan sedikit bergetar, Kugy menyapa.

Noni tak menjawab, melirik pun tidak. Ia berjalan keluar seolah Kugy tak punya wujud.

Sempat melintas di pikiran Kugy untuk mengejar Noni dan berbicara lebih panjang, tapi kakinya terasa kaku. Ia tak punya cukup nyali. Akhirnya Kugy masuk ke kamarnya. Ia sadar, sebuah perang dingin resmi dimulai. Dan entah kapan akan berakhir.

Pukul sepuluh malam. Lambungnya riuh rendah seolah tengah berlangsung pertandingan bola. Terakhir dia makan adalah tadi siang, dan tampaknya lambungnya tak akan mendapat olahan baru sampai besok siang lagi.

Keenan menepuk-nepuk pelan perutnya, berbisik sendirian, “Sabar, ya. Jangan masuk angin dulu, karena saya harus lihat langit.”

Terduduklah Keenan di dekat jemuran yang bisa ia datangi dengan cuma membuka jendela kamar. Di sana ia bisa memandang hamparan atap rumah lain beserta pendar-pendar lampu di rimba gang yang padat ini.

Keenan menengadah. Dari tempat ia duduk, langit tampak berhiaskan saling-silang tali jemuran, beberapa kolor dan jins tidak kering yang tampak masih diangin-anginkan. Tidak apa-apa, pikirnya. Memandang angkasa malam adalah pelipur sederhana yang membantunya sedikit merasa lebih baik.

Sesungguhnya, Keenan tak keberatan dengan rasa lapar ini. Baginya, itulah bagian dari konsekuensi yang harus ditanggungnya dengan mengirit setiap rupiah dari sisa uangnya yang tak seberapa lagi. Namun, tak ada yang bisa mengobati kekosongan jiwanya. Dan rasa kosong ini lebih menyakitkan dari apa pun.

Nasi bisa dibeli, tapi rasa percaya? Seluruh uang di dunia ini tidak cukup membelinya, pikir Keenan getir. Uang memang tidak akan pernah bisa jadi ukuran. Rasa percaya dan uang ada di dimensi yang sama sekali lain. Kini ia yakin itu.

Ludahnya terasa memahit. Baru kali ini ia merasa prihatin pada dirinya sendiri. Kalau bisa, ia ingin mengirim kembang tanda dukacita. Tak punya rasa percaya … tak ada kebanggaan … hampa. Dan kembali Keenan merenung: bagaimana hampa bisa menyakitkan? Hampa harusnya berarti tidak ada apa-apa. Tidak ada apa-apa harusnya berarti tidak ada masalah. Termasuk rasa sakit.

Sayup-sayup terdengar lagu dari kaset yang diputar di kamarnya:

“Fare thee well my bright star

It was a brief, brilliant miracle dive

that which I looked up to and I clung to for dear life

… your last dramatic scene against a night sky stage.”

Mendadak sesuatu menyusupi hampanya. Rasa sedih. Masa gemilang itu datang, sekejap, dan tak lebih dari sebuah drama besar. Dan Keenan merasa seperti aktor malang yang bermimpi melampaui skenarionya.

Tiba-tiba wajah neneknya di Amsterdam melintas. Keenan teringat hari terakhir mereka bersama, saat Oma memasakkannya sup kacang merah yang mereka nikmati dalam hening. Kesedihan yang mereka berdua simpan dan tak tuntas terungkapkan. Keenan mengkhayalkan bisa kembali ke sana malam ini, meninggalkan semuanya tanpa kecuali. Namun, kedua kakinya hanya sanggup mengantarkannya ke atap itu. Tak bisa lebih jauh lagi. Ingatan akan Oma dan langit malam berbaur. Semuanya lebur dan tampak kabur dari mata yang basah oleh air mata.

 

Bandung, Oktober 2000 …

Kugy tak bisa melupakan pagi ini. Untuk pertama kalinya ia pindah mengajar ke saung baru yang dibangun oleh orang-orang kampung. Keberadaan Sakola Alit serta konsistensi Ami dan kawan-kawan akhirnya menarik simpati penduduk sekitar. Berkat gotong-royong warga, satu saung baru didirikan. Mereka khawatir kegiatan belajar mengajar di Sakola Alit terganggu karena musim hujan sudah tiba, sementara mereka tahu bahwa ada kelas yang selama ini dijalankan di bawah pohon.

Meski semua anak senang dan bersemangat dengan tempat baru mereka, tak urung muka anak-anak pagi itu kusut karena hari ini mereka belajar perkalian dan pembagian. Kugy mengamati anak didiknya yang tampak mutung dan tak bergairah. Ia sendiri mulai ikut putus asa. Belum berhasil mendapatkan cara yang lebih kreatif untuk mengajar.

Tiba-tiba seorang muridnya, Dadi, berlari ke arah saung dengan tergesa. Wajahnya berseri-seri, tangannya menunjuk ke arah belakang. Tawanya merekah, memampangkan gigi serinya yang ompong. “Bu Ugiiii … ada Pak Guru Rangginang …,” serunya lantang.

Rangginang? Kugy bertanya dalam hati. Saat ia melongok ke arah yang ditunjuk Dadi, sadarlah ia siapa yang dimaksud anak itu. Dan sungguhan Kugy tak siap. “Keenan …,” desisnya.

Sejenak Kugy menunduk, memejamkan mata, berusaha mengumpulkan tenaga dan kekuatan. Dalam sekejap, tawa segar muncul di wajahnya, dan ia pun menyapa dengan ceria, “Halo, Pak Guru! Selamat datang di kelasku yang baru!”

Keenan tersenyum. Ada kehangatan yang seketika memenuhi rongga hatinya melihat tawa lebar Kugy yang khas. Keenan menamakannya “tawa pengampun”, karena layaknya matahari yang tak menyimpan memori ataupun dendam dan senantiasa memandikan Bumi dengan sinarnya, tawa itu pun membawa efek yang sama bagi dirinya. Kehangatan yang lahir tanpa pretensi. Tanpa perlu usaha. Pengampunan murni.

Setelah Keenan mendekat, barulah Kugy menyadari perubahan yang terjadi. Keenan tampak lebih kurus. Dan kedua matanya menunjukkan bahwa ia lelah. Kugy pun menyadari, perubahan yang sama juga terjadi pada dirinya sendiri.

“Apa kabar, Kecil?” sapa Keenan. “Kamu kok tambah kecil ….”

“Pemadam Kelaparan baru naikin harga soalnya, jadi asupan makanan ke badanku agak berkurang,” Kugy terkekeh. “Kamu juga kurusan. Kamu baik-baik?”

Keenan mengangkat bahu sambil nyengir. “Lumayan,” jawabnya singkat.

Kehadiran Keenan seketika membawa suasana berbeda. Semua anak merasa Keenan adalah penyelamat yang akan membebaskan mereka dari pelajaran yang memusingkan pagi itu. Pilik langsung menandak-nandak kegirangan sambil berteriak, “Gambar! Gambar! Gambar!”

Kugy menggelenggelengkan kepala, “Nggak, nggak! Kalian tetap harus belajar Matematika ….”

Ucapan Kugy disambut riuh protes.

Keenan mengambil sepotong kapur dan mulai menggambar. Dengan cepat, ia menggambar enam layang-layang. “Ayo, dihitung, layang-layangnya ada berapa?”

Anak-anak itu berhitung dari satu sampai enam.

“Sekarang … Pilik ceritanya harus bagi dua layang-layang ini dengan Dadi,” Keenan menarik garis, “Jadi, Pilik punya berapa, dan Dadi punya berapa?”

“Tiga!” Mereka menjawab serempak.

Di sudut saung Kugy tersenyum. Tampaknya hari itu ia harus membiarkan kelasnya diambil alih oleh Keenan.

Kelas Kugy bubar agak lebih siang dari biasanya. Persis seperti kunjungan Keenan sebelumnya, layaknya penggemar bertemu idola, dengan berbagai cara anak-anak itu menahan Keenan lebih lama agar lebih banyak menggambar.

Sebubarnya anak-anak, Kugy dan Keenan gotong royong membereskan saung.

“Kadang-kadang aku berharap kamu jadi pengajar tetap di sini,” kata Kugy.

“Supaya?”

“Ya, supaya anak-anak ada yang mengajarkan menggambar, dan sepertinya lewat gambar banyak sekali cara pengajaran kreatif yang bisa kamu lakukan, yang aku sendiri nggak sanggup ….”

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.