Baca Novel Online

Perahu Kertas

Sontak, Keenan menahan napas, menarik jauh lehernya. “Wanda, tolong dengar baik-baik. Bukannya saya nggak mau, dan bukannya saya nggak ngerti kesempatan apa yang saya punya. But you’re drunk. This is not right.”

“Taik! You’re such a hypocrite!” teriak Wanda kesal. “Gue nggak mabok aja lo nggak pernah mau! Nggak usah pakai alasan sober atau nggak. You never wanted me. You never loved me. You never did! Padahal gue udah mati-matian mengusahakan segalanya buat elo! Gue udah mau kasih semuanya buat elo!”

Keenan terdiam. Walaupun ia tahu Wanda tidak sedang dalam keadaan sepenuhnya sadar, tak urung kata-kata itu kembali mengusik rasa bersalahnya. Lembut, ia berusaha menarik Wanda dan mendekapnya. Namun, Wanda sudah terlalu emosional. Ditepiskannya tangan Keenan dengan kasar.

“Gue nggak butuh dihibur! Gue nggak butuh dikasihani! Gue ogah terus ngemis-ngemis perhatian sama lo kayak orang nggak punya harga diri! Pergi, sana!” Wanda berteriak marah, tangannya mengacung tegas menunjuk ke arah pintu. “Pulang aja ke Bandung, balik ke kotak sabun busuk itu! Pergi!”

Keenan berusaha mencamkan pada dirinya sendiri bahwa Wanda sedang dipengaruhi alkohol, bahwa ia tidak sungguh-sungguh mengucapkan itu semua. Dengan nada sewajar mungkin, Keenan mencoba pamit dengan sopan, “Ya, udah. Kamu istirahat malam ini, ya. Saya akan mampir ke sini lagi besok ….”

“Apa bedanya besok sama malam ini? Memangnya kalau besok lo jadi mau sama gue?” sambar Wanda dengan nada yang semakin tinggi, “Forget it, Keenan! There will be no tomorrow for you!”

Dengan gerakan sempoyongan, Wanda lantas membungkuk, menyibak bed cover tempat tidurnya yang menjuntai menyentuh lantai, lalu menarik keluar gulungan-gulungan karton besar. “Ambil ini! Bawa pulang lagi!” Wanda mengempaskan benda-benda itu.

Kerongkongan Keenan seperti tercekat. Perasaannya langsung tak enak. Diambilnya satu gulungan itu, membuka sedikit lapisan karton pembungkusnya. Begitu Keenan tahu bahwa gulungan itu adalah kain kanvas, seketika lututnya terasa lemas. Jantungnya berdegup kencang. Keenan menyadari jumlah gulungan karton itu pun persis sama … empat. Jumlah lukisannya yang dipajang di Galeri Warsita dan dilaporkan telah laku terjual.

Dengan sedikit gemetar, Keenan menghampiri Wanda. “Tolong jelaskan sebisa kamu, kenapa lukisan saya bisa ada di sini?” tanyanya dengan suara tertahan.

“Karena … lukisan lo dibeli sama GUE! Puas?”

Keenan mematung. Berusaha mencerna kalimat Wanda. Berusaha memahami apa yang sesungguhnya terjadi. Pikirannya merangkaikan semua kejadian selama ini, menghubungkannya dengan intuisi yang selama ini tak pernah bisa ia jelaskan. Peristiwa demi peristiwa terhubung, dan ia seolah menyaksikan sebuah kebohongan menggelembung, merekah kian besar, dan kini berdiri lurus-lurus di hadapan. Keenan serta-merta memalingkan muka, tak kuat melihat Wanda.

Saat menyaksikan perubahan air muka Keenan, mulai timbul rasa panik di hati Wanda. “Nan …, aku nggak bermaksud jahat. Aku cuma ingin nolong kamu …,” katanya terbata.

Keenan merasa kebohongan ini terlalu gigantis untuk ia cerna. Kepalanya berputar. Hatinya teraduk-aduk. Galeri Warsita, cek itu, rasa percaya dirinya, keyakinannya untuk melukis … impiannya musnah satu demi satu dalam hitungan detik.

Seiring dengan kedoknya yang ikut meluruh, air mata pun mulai membasahi mata Wanda. Kemarahannya yang tadi meledak-ledak berganti dengan esktrem menjadi tangis tersengguk-sengguk. “Nan … I’m sorry … aku tahu itu salah. Please understand, aku sayang banget sama kamu … don’t leave … please ….” Wanda tahu-tahu melorot, bersimpuh di atas kedua lututnya, memeluk kaki Keenan.

Kembali Keenan hanya mematung. Matanya melirik Wanda yang menangis menjadi-jadi sambil merangkul erat pahanya. Terasa celana panjangnya melembap karena air mata. Namun, Keenan tak mampu bereaksi apa-apa, ingin bicara pun tidak. Kegalauan yang ia rasakan ternyata melampaui amarah, melampaui segala reaksi emosi yang ia kenal.

Lama Keenan membiarkan Wanda tersedu-sedan sambil meratapkan segala penyesalannya, hingga perlahan, Keenan melepaskan rangkulan tangan Wanda di kakinya, lalu menariknya lagi untuk kembali berdiri.

“Keenan … please, say something, anything … kamu boleh marah-marah kayak apa aja, aku rela, aku siap terima, tapi jangan pergi ….”

Keenan memungut gulungan-gulungan itu dengan hati remuk redam. “Uang kamu akan saya kembalikan. Utuh. Dan saya akan bawa pulang lagi semua lukisan ini,” katanya lirih.

Wanda menatapnya pilu. “Nan … jangan pergi …”

“Kamu bisa beli lukisan-lukisan ini, Wanda,” desis Keenan sambil membuka pintu, “tapi kamu nggak akan pernah bisa membeli saya.” Dipanggulnya keempat lukisan itu, berjalan pergi dan tak menoleh lagi.

 

Bandung, September 2000 …

Ada lima silinder karton yang sudah dibawanya ke kantor ekspedisi itu: empat lukisan yang ia bawa dari rumah Wanda, dan satu ikut ditambahkannya: lukisan “Jenderal Pilik dan Pasukan Alit”.

“Formulirnya sudah selesai?” Petugas itu bertanya sambil melirik formulir yang sedari tadi diberikannya pada Keenan tapi tak kunjung diisi.

“Sebentar, Pak …” jawab Keenan. Dilihatnya sekali lagi kelima silinder yang sudah tergulung dan terikat rapi itu. Dengan berat, akhirnya ia melengkapi formulir pengiriman paket tersebut.

Setelah formulir dikembalikan, petugas tadi mengecek sekali kelengkapan isian Keenan. “Ubud—Bali, ya? Tiga-empat hari sudah sampai,” gumamnya. “Ada yang bisa dibantu lagi?”

Keenan menggeleng.

Petugas lain pun datang untuk mengambil gulungan-gulungan itu.

“Pak … tolong hati-hati,” sela Keenan cemas, “bisa tolong ditempel stiker ‘fragile’? Dan jangan sampai kena air. Tolong ya, Pak. Makasih.”

Sambil tersenyum maklum, petugas itu menyiapkan stiker-stiker petunjuk yang diminta Keenan.

Sampai kelima benda itu dimasukkan ke gudang, mata Keenan tak lepas mengawasi. Sejenak lagi, kelima lukisannya akan berlayar ke Pulau Dewata, dan Keenan merasa benar-benar seperti hendak melepaskan mereka ke khayangan. Entah kapan bisa melihatnya lagi.

Dalam hati, ia telah mengucapkan selamat tinggal pada impiannya, pada lukisannya. Namun, apakah ia sungguhan siap, Keenan tak berani lagi memeriksa. Yang ia tahu dan yakini, lukisan-lukisan itu akan berada di tangan yang baik. Saat ini, itulah yang lebih penting.

 

21.

HAMPA YANG MENYAKITKAN

Setengah jam yang lalu, kamar itu masih gelap. Sekarang cahaya lampu sudah membayang dari tirai jendela, dan papan berhuruf warna-warni yang tergantung di pintu sudah bertuliskan: NONI ADA. Kugy memandangi kamar itu dengan hati kecut.

Sudah tiga hari sejak pesta ulang tahun itu, dan baru malam ini Noni kembali dari Jakarta. Mereka belum bicara lagi sejak itu. Tepatnya, Kugy tak punya cukup keberanian untuk menghubungi Noni. Sampai hari ini pun lidahnya masih kelu, tak tahu harus bilang apa.

Pintu itu membuka. Noni keluar dari dalam membawa kantong sampah yang siap dibuang. Kugy pun tersentak. Namun, sudah terlambat untuk bergerak ke mana-mana.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.