Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Maaf ya, Non …” bisiknya sendirian.

 

Jakarta, September 2000 …

Halaman itu kini dipadati manusia. Lilin dan obor menyala di segala sudut. Musik berdegup dari pengeras suara. Semua orang tampak menikmati suasana. Namun, muka Noni masih seperti baju tak disetrika.

Untuk kesekian kalinya, Noni mendatangi Eko. “Udah telepon ke rumahnya? Dia udah sampai?” tanyanya resah.

“Kata orang rumahnya, dia nggak jadi ke Jakarta. Kalaupun iya, pasti langsung ke sini, dan nggak pulang dulu,” jawab Eko, berusaha setenang mungkin.

“Nggak jadi ke Jakarta?” Mata Noni membelalak.

“MUNGKIN, Noni. Mungkin nggak jadi. Nggak ada yang tahu pasti, oke?” Eko berusaha meredam kegelisahan pacarnya, “HP-nya mati dari tadi. Telepon di tempat kos juga nggak ada yang angkat.”

“Keterlaluan deh Kugy …,” Noni berkata lirih. Kekecewaan tak bisa disembunyikan dari wajahnya.

Terdengar suara seseorang memanggil mereka dari kejauhan. “Noni! Eko! Bentar lagi tiup lilin! Siap-siap di dekat sini, yuk!” seru Wanda.

Lunglai, Noni berjalan ke dekat meja tempat kuenya nanti dipajang. Wanda berdiri di sana sambil senyum-senyum.”Hi, guys. Aku punya bonus buat kalian,” Wanda menyambut mereka dengan dua gelas berisi champagne. “Dom Perignon. Aku ambil satu botol dari lemarinya Papi. Ssst, diam-diam ya, ini khusus buat kita doang, lho,” Wanda cekikikan sendiri.

Eko mengambil satu gelas. Sementara Noni menggeleng, “Buat lu aja, Wan,” katanya dengan muka enggan.

“Oh, come on, girl! Have fun! Kenapa sih muka lo kusut banget?” tanya Wanda seraya menenggak isi gelas yang ditolak Noni.

“Kita mulai aja tiup lilinnya, yuk?” ajak Noni langsung.

“Oke. Semuanya udah siap, kan?” Wanda pun meletakkan gelasnya yang sudah kosong dalam sekejap itu. “Medali yang mau dikasih ke Kugy udah ada, Ko?”

Tangan Eko spontan merogoh ke kantong belakangnya. Memastikan barang itu ada. Noni punya ide sejak lama ingin mengalungkan medali-medalian untuk Kugy pada pesta ulang tahunnya yang ke-20 ini sebagai tanda persahabatan mereka. Sebuah medali emas yang mereka berdua pesan di toko olahraga, bertuliskan: Sahabat Terbaik dan Terawet. Eko menelan ludah. Meski medali itu telah terparkir dengan baik di kantongnya, ia tidak yakin benda satu itu akan punya manfaat malam ini.

“Pakai aja medalinya buat ganjal meja,” gumam Noni seraya ngeloyor pergi.

 

20.

KEBOHONGAN GIGANTIS

Tidak ada yang tahu bahwa sebetulnya pesta ulang tahun Noni itu sudah rusak berantakan. Sebagian besar tamu yang diundang dari luar Jakarta tidak datang. Dan yang paling fatal adalah ketidakhadiran Kugy. Prosesi penyerahan medali “Sahabat Terbaik dan Terawet” yang telah disiapkan matang oleh Noni tidak terjadi. Namun, keempat sekawan itu mampu bersandiwara dengan baik, hingga tamu-tamu yang hadir merasa pesta itu berjalan baik-baik saja. Yang ganjil hanyalah Noni yang menghilang dengan cepat, mengakibatkan acara usai lebih dini dari yang diperkirakan. Pukul sepuluh, hampir semua tamu sudah pulang. Segelintir orang saja yang tersisa, dan sebagian besar adalah pegawai-pegawai dari rumah Wanda sendiri.

Keenan mendatangi Eko yang sedang ikut gotong-royong membereskan kursi. “Ko, Noni mana, sih?” tanyanya.

“Migraine,” Eko melengos, “biasalah, si Madam Perfect satu itu. Nggak tahan stres. Masih untung larinya cuma tiduran, nggak ngadu-ngaduin kepala ke tembok.”

“Lu yakin Noni nggak apa-apa?”

Eko mengangguk, “Tadi udah tidur, kok. Dan ada kakaknya yang nemenin juga,” jawabnya, “kayaknya justru elu yang harus ngejagain seseorang.”

“Siapa?”

Eko tak langsung menjawab. Dari bawah kolong meja, ia mengeluarkan sebotol Dom Perignon yang sudah tiga perempat kosong. “Kalo tadi nggak gua sita, udah pasti botol ini kering sampai tetes terakhir. Tinggal jadi vas bunga.”

“Wanda …?” Keenan terenyak. “Dia di mana?”

Eko mengangkat bahu. “Mendingan lu cari dia sekarang dan langsung antar ke kamarnya. Kalau sampai Om Hans lihat anaknya mabok champagne hasil curian, wah … kita semua pasti kena.”

Keenan cepat mengedarkan pandangannya. “Oke, gua cari dia.”

Tampak siluet dua orang sedang berjoget di pojokan dekat kolam renang, diiringi alunan musik dari plat yang masih aktif berputar. Keenan seketika mengenali keduanya: Wanda dan Ivan, DJ pesta malam itu.

“Hi, babe … kamu ke mana aja?” Berseri-seri, Wanda menyapa Keenan. Gerakannya tampak terhuyung-huyung.

Justru Ivan yang kelihatan tersentak, dan langsung buru-buru melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Wanda. “Hai, Nan. Whassup …,” sapanya, berusaha santai.

Keenan tak menjawab. Tangannya langsung merentang, mengajak Wanda pergi. “Wanda, kamu mabok,” tandasnya langsung. “Saya antar kamu ke kamar. Sekarang.”

Wanda menyambut tangan Keenan sambil sempoyongan. Berat tubuhnya seketika dijatuhkan ke dekapan Keenan. “I can’t walk …,” bisiknya di kuping Keenan.

“Kalau kamu masih bisa joget, kamu pasti masih bisa jalan. Ayo,” dengan nada tegas, Keenan melepaskan rangkulan Wanda lalu menggandengnya.

Susah payah, Wanda pun berusaha mengikuti langkah Keenan. “Nan … jangan cepat-cepat dong,” rajuknya. Namun, Keenan tak menghiraukan, ia terus berjalan dengan irama yang sama, dan tangannya tak lepas menggiring Wanda.

Sesampainya di depan kamar Wanda, Keenan baru menghentikan langkahnya. “Kamu nggak seharusnya minum sebanyak itu. Kontrol sedikit, kenapa sih?” tegurnya pedas.

Wanda menatap lurus-lurus mata Keenan, dan malah tersenyum. “Kamu marah karena aku minum, atau karena—Ivan?” tanya Wanda, dan senyumnya terus melebar, “Are you jealous?”

“Dari yang saya lihat, Ivan cuma efek samping. Penyebab utamanya karena kamu kebanyakan minum. Kamu beruntung ayah kamu belum pulang,” tandas Keenan lagi.

Wanda tertawa ringan, “Ah, he wouldn’t know the difference. Papi lebih jago membaca lukisan daripada anaknya sendiri ….”

“Kamu harus istirahat, Wanda. Minum air putih yang banyak. Mandi air panas dulu kalau perlu,” ujar Keenan seraya membukakan pintu kamar itu. “Saya pulang dulu, ya.”

“What?” Wanda langsung menarik Keenan masuk, lalu menutup pintu kamarnya. “Kamu nggak boleh pulang!”

Sejenak Keenan melirik pintu yang sudah tertutup di balik punggungnya. Dan seperti membaca gerak mata Keenan, Wanda cepat menyelinap dan bersandar menghalangi pintu.

“Wanda … please … jangan kayak anak kecil … saya harus pergi,” ujar Keenan setengah mengeluh.

“Why? Kenapa harus pergi? Aku mau kamu temenin aku. Dan kamu kan pacarku. I want you to stay.”

“Karena kamu lagi nggak sober, that’s why,” Keenan berkata lagi, “dan saya nggak mau kita melakukan hal yang bodoh hanya karena kamu mabok.”

Mendengar perkataan Keenan, Wanda tertawa lepas. “Aku tuh kayak pacaran sama homo, tahu nggak!” katanya lantang. Dengan gerakan sekaligus, Wanda merangkul leher Keenan, “Kamu bisa bayangin apa yang dilakukan cowok kayak Ivan kalau dia punya kesempatan ini? Di kamar ini, berdua sama aku?” bisiknya dengan bibir yang ditempelkan di atas bibir Keenan.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.