Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Kamu nanti nginap di mana kalau di Jakarta? Kamu kan nggak bisa pulang ke rumahmu. Aku bukain kamar di hotel, ya? Aku nanti temenin kamu.”

“Nggak usah. Saya tinggal di tempat Bimo.”

Mendengar jawaban Keenan, Wanda pun bangkit berdiri. “Ya udah, terserah. Aku mau pulang sendiri aja. Kita ketemu besok,” katanya pendek.

Keenan tahu Wanda sedang merajuk. Namun, ia memilih untuk tidak menahannya dan membiarkan Wanda pergi.

Di depan pintu, tahu-tahu Wanda berbalik. Mukanya merah padam. Antara kepanasan dan kesal. “You know what, Nan? Aku udah nggak bisa ngitung berapa cowok yang setengah mati berjuang ngedeketin aku hanya untuk dapat sepuluh persen perhatian yang aku kasih ke kamu. Mungkin Eko dan Noni memang benar. Kamu memang … aneh!” Punggung itu lantas berbalik sekaligus, bergegas pergi.

“Wan … hati-hati ….”

Terdengarlah suara batok kepala beradu dengan kayu.

Keenan kontan meringis. “Atap di atas tangga itu rendah banget. Kamu harus nunduk—”

Namun, Wanda sudah tak mau dengar apa-apa. Suara hak sepatunya terdengar beradu buru-buru dengan tangga. Kekesalannya dengan tempat itu lengkap sudah.

Kesempatan untuknya libur akhirnya tiba. Walaupun cuma sehari, Kugy memanfaatkan waktu luang itu sebaik-baiknya. Setelah seharian bermalas-malasan dan main ke warnet, Kugy pergi ke supermarket sendirian untuk mengisi lemari makanannya yang sudah kosong. Sambil bersenandung, Kugy menenteng keranjang belanjanya ke bagian minuman untuk memborong jus buah kesukaannya.

Terperanjatlah ia melihat Wanda sedang berbelanja, mengambil minuman yang sama. Kugy cepat-cepat kabur ke area lain. Namun, perasaannya mengatakan bahwa Wanda juga berjalan ke arah yang sama. Tepat di belakangnya. Kugy sibuk berdoa supaya Wanda tidak mengenali sosoknya.

Di area perabot rumah tangga, Kugy pun terpojok. Tak bisa menghindar lagi. Wanda sedang berjalan lurus ke arahnya. Spontan, Kugy mencomot segagang sapu. Melindungi mukanya di balik ijuk hitam. Langkah itu terdengar semakin dekat. Kugy berusaha mengingat-ingat mimpi sial apa yang dialaminya tadi malam hingga hari ini bisa berbelanja di supermarket yang sama dengan Wanda, dengan jalur belanja yang sama pula.

“Kugy?” Suara itu menyapa sekaligus bertanya.

Terpaksa, Kugy menurunkan gagang sapu itu. Menghadapi Wanda dengan tawa selebar mungkin. “Hai, Wanda! Belanja sapu juga?”

“Nggak. Aku cuma lewat aja,” Wanda tersenyum manis, “sapunya gede banget, Gy. Buat nyapu jalan?”

“Buat terbang,” Kugy membalas dengan senyum yang lebih manis. “Sampai kapan di Bandung?”

“Nanti juga udah pulang ke Jakarta. Bareng Keenan. Aku lagi belanja buat dia, nih. Kasihan, dia kan suka kerja sampai malam, suka nggak ada makanan,” Wanda lantas menunjukkan keranjangnya yang sudah penuh sesak.

“Kalo sebanyak itu sih dia pasti butuh bantuan. Nanti aku bantu ngabisin deh,” Kugy terkekeh.

Kening Wanda berkerut. “Memangnya kamu tahu tempat tinggal dia yang baru?”

“Memangnya dia pindah dari tempat kosnya?” Kugy gantian terheran-heran.

Senyum manis kembali menghiasi muka Wanda. “Kamu nggak tahu, ya? Keenan udah berhenti kuliah. Dia mau total melukis. Dan dia pindah kos.”

Mulut Kugy otomatis menganga. “Keenan berhenti kuliah? Kok—dia—nggak kasih tahu, ya?” ucapnya terbata.

“Kayaknya dia cuma kasih tahu orang-orang dekat aja,” ujar Wanda sambil mengangkat bahu. “Anyway, dia lagi sibuk mempersiapkan diri buat pameran. Sesudah itu dia akan pindah ke Jakarta, bareng sama aku. Karena sesudah itu kami berdua harus keliling bareng untuk promosi lukisannya,” tuturnya ringan, “dia masih ribut sama keluarganya gara-gara keputusannya berhenti kuliah. Makanya …,” Wanda mengembuskan napas panjang, mukanya tampak prihatin, “selain aku, dia nggak punya siapa-siapa lagi sekarang.”

Kugy lama terdiam. Berusaha mencerna keterangan Wanda satu per satu. “Salam buat Keenan, ya.” Kugy akhirnya berkata pelan.

Wanda mengangguk. “Kamu datang ke acaranya Noni, kan? It’s going to be fun. Noni, Eko, aku, dan Keenan, akan jadi host-nya.”

“Aku usahakan,” jawab Kugy ringkas. Ia pun pamit pergi dari situ. Kugy berjalan pulang untuk menenangkan hatinya yang bergejolak. Ia tak bisa mendefinisikan perasaannya. Benang kusut itu terasa tambah kusut. Kugy sungguhan kaget dengan keputusan Keenan, sekaligus kecewa karena tak diberi tahu langsung. Ia pun patah hati mengetahui kedekatan Wanda dan Keenan yang sedemikian dalam. Mendadak, Kugy merasa bodoh. Selama ini ia menyangka punya tempat spesial dalam hidup Keenan. Ternyata ia salah. Dirinya kini tak lebih dari figuran tak berarti.

 

Jakarta, September 2000 …

Halaman luas dengan kolam renang itu mulai dipenuhi orang-orang yang berseliweran. Obor-obor mulai dipancangkan di taman, dan meja-meja berisi makanan mulai mengambil posisi. Wanda tampak yang paling sibuk hilir mudik mengatur ini-itu.

Noni menyaksikan persiapan acaranya sendiri dengan muka tegang. Di kelompok perkawanan mereka, selain Wanda yang dijuluki “Miss Matching”, dan Kugy yang dikenal sebagai “Mother Alien”, Noni menyandang gelar sebagai “Madam Perfect”. Bagi Noni, segala sesuatu harus sempurna dan bebas error. Tahu-tahu sikutnya disenggol oleh Eko.

“Kamu tuh, rileks dong, Sayang. Jangan segalanya dipikirin. Kan udah banyak yang bantuin. Ada aku, Wanda, Keenan …,” celetuk Eko.

“Anak-anak pasti datang nggak, ya? Kalo tahu-tahu nanti sepi gimana, Ko? Kok, sampai jam segini masih belum ada yang nelepon atau kasih kabar. Yang dari Bandung kalo tahu-tahu pada ngebatalin pergi gimana, ya?” rentet Noni gelisah.

“Ya udah, kita pesta sendiri aja. Makan sampai bego,” Eko tertawa.

“Kamu jangan bikin tambah tegang, dong!” Noni cemberut.

“Soalnya, aku udah tahu kamu! Ditanggapin kamu tetap stres, dibercandain kamu stres juga, ya mendingan bercandalah. Minimal aku yang hepi.”

“Kugy datang kan, ya?” kata Noni sambil menggigit kukunya.

“Pastilah. Gila aja kalo sampai dia nggak muncul.”

“Medalinya udah siap, kan, Ko?”

“Beres!”

 

Bandung, September 2000 …

Sudah setengah jam lebih Kugy memandangi ransel besarnya yang tergeletak di lantai dalam keadaan kosong. Sudah sedari tadi seharusnya ransel itu terisi. Sudah sedari tadi pula dirinya harus bersiap dan berangkat ke stasiun kereta api. Namun, sedari tadi Kugy diam di tempat duduknya. Membayangkan apa yang terjadi jika ia tidak datang, sekaligus apa yang terjadi ia jika hadir di pesta itu.

Jika ia tidak datang, Noni pasti kecewa. Dan makin genaplah kesimpulan sahabatnya itu bahwa ia memang berubah, menghindar, dan menjauh. Jika ia datang, hatinyalah yang remuk.

Kugy membuka jaketnya, melemparkannya ke lantai, lalu mengempaskan tubuhnya ke kasur. Setengah dari dirinya kesal sendiri, menyadari betapa manusia satu itu telah mengacaukan hidupnya, membuat ia kehilangan kemampuannya untuk cuek dan berlagak tak peduli. Keenan telah membuatnya seperti orang lumpuh.

Setengah dari dirinya pun takjub dan terpana. Baru kali itu ia menyadari betapa dalam perasaannya untuk Keenan dan betapa jauh hatinya telah jatuh. Dan sebagai kesimpulan, Kugy tahu bahwa ia akhirnya memilih tidak pergi.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.