Baca Novel Online

Perahu Kertas

Kugy memutuskan mengambil semester pendek bulan ini. Terkadang, ia merasa keputusannya itu adalah usaha pelarian dari suasana tidak enak yang mengungkungnya ketimbang melulu keputusan akademis. Lebih baik membenamkan diri dalam pelajaran dan tugas menumpuk ketimbang berhadapan dengan Noni yang menjaga jarak, Eko yang juga ikut menghilang, Keenan yang lebih tak tentu rimbanya, dan perasaan bersalahnya pada Ojos yang belum surut-surut juga.

Sepulang dari kampus dan mengajar di Alit siang itu, Kugy benar-benar penat dan ingin langsung cepat mendarat di kasur. Namun, langkahnya yang gegap gempita berangsur menjadi pelan dan berjingkat ketika ia melihat si Fuad terparkir di halaman tempat kosnya. Sehati-hati mungkin, Kugy menyelinap masuk menuju kamarnya.

“Gy!” Eko muncul di hadapannya dari balik pintu kamar Noni. Bertepatan dengan Kugy yang sudah membuka handel pintu kamar. “Manusia satu ini … lama ngilang,” sambung Eko lagi.

Mau tak mau Kugy melayani dulu basa-basi itu. “Lu kali yang ngilang. Gua kan di sini terus,” katanya sambil nyengir lebar.

“Masa? Kok, tiap kali gua ke sini lu juga nggak pernah ada. Tiap gua ajak pergi lu nggak pernah mau. Kata anak-anak, lu ambil SP, ya? Pingin cepat lulus terus ninggalin kita, ya?” Eko menoyor jidat Kugy pelan, “Huuuh … curang. Ke mana aja, sih? Kangen tauk.”

“Iya, gua juga kangen. Tapi gua sibuk banget belakangan ini, Ko,” jawab Kugy jujur. Jangankan untuk main dengan Eko dan teman-temannya yang lain, tidur siang pun sudah jadi kesempatan langka baginya.

“Sibuk boleh sibuk, tapi minggu depan sempatkan datang, ya?”

“Datang ke mana?” tanya Kugy.

“Ultah Noni. Masa lu belum tahu, sih?” Eko berdecak gemas, “Dia kan mau bikin acara di Jakarta, gede-gedean. Kita justru mau berangkat ke Jakarta sore ini, dia mau siap-siapin acaranya ….”

Mendengar Eko berbicara dengan seseorang, Noni ikut menongolkan diri. Mukanya tampak berubah ketika tahu orang yang ngobrol dengan Eko ternyata Kugy. “Hei, Gy. Baru pulang?” sapanya enggan.

“Hai, Non,” jawab Kugy setengah bergumam.

Eko melihat Noni dan Kugy bergantian. “Kayaknya kalian berdua perlu bicara, deh. Gua tunggu di depan aja, ya.” Ia pun langsung melenggang dari sana, tanpa memedulikan pelototan dari kedua perempuan itu.

“Katanya minggu depan mau bikin acara, ya? Seru, dong,” Kugy mencoba membuka pembicaraan. Kaku.

“Iya. Mudah-mudahan. Semua teman gua udah pada tahu, kok. Anak-anak yang dari Jakarta udah mau datang. Sebagian anak-anak dari Bandung juga pada ikut,” sahut Noni dengan penekanan, seolah-olah menunjukkan fakta bahwa Kugy secara ironis malah menjadi orang yang belakangan tahu.

Kugy menyadari betul maksud yang tersimpan di balik intonasi Noni. “Sori ya, gua tahu pembicaraan kita terakhir agak kurang enak. Jujur, gua juga nggak nyaman jadi dingin-dinginan sama lu begini. Sekali lagi maaf ya, Non. Kayaknya memang gua yang nggak sensitif dan jadi terlalu cuek sama lu, sama kalian.”

Noni mengangkat mukanya dan menatap Kugy. Ia pun menyadari dirinya terlalu sayang pada makhluk aneh di hadapannya itu, dan tak mungkin ia marah berlama-lama.

“It’s okay, Gy. Gua juga minta maaf kalo terlalu nyampurin urusan lu sama Ojos. Gua yakin lu pasti punya alasan lu sendiri, dan gua nggak berhak ngutak-ngatik. Gimanapun juga, lu tetap sahabat gua,” kata Noni. Seulas senyum mulai terbit di wajahnya. “Tapi, gua boleh request sesuatu, nggak?”

“Anything,” Kugy membalas tersenyum.

“Gua minta lu datang ke pesta ultah gua minggu depan, ya. Lu adalah sobat gua terlama, Gy. Lu tahu gua dari kecil sampai umur kepala dua begini. Sangat berarti buat gua kalo lu bisa hadir. Please?” Noni memohon.

“Gua pasti datang,” jawab Kugy mantap.

Noni langsung menghambur memeluk Kugy. “Jangan ngilang lagi ya, ‘Nyet,” bisiknya.

“Kecuali kalo lagi berburu pisang,” bisik Kugy lagi.

Noni tertawa. “Gua cabut ke Jakarta dulu. Gua tunggu minggu depan di rumah Wanda, ya!”

Kugy menelan ludah. Jantungnya terasa mengkeret sekian senti. “Rumah Wanda?” ia berusaha meyakinkan pendengarannya.

“Yup. Gua bikin garden party, minjem halaman rumahnya Wanda yang segede setan. Pokoknya bakal mantap banget. Wanda yang jadi EO-nya. Tugas lu tinggal datang dan have fun, oke?” kata Noni ceria. “Dah, Gy! See you next week!”

Kugy balas melambai. Lama memandangi Noni yang berlari-lari kecil dengan riang gembira sampai bayangan sahabatnya itu menghilang di balik pintu gerbang. Terasa ada beban baru yang menghunjam pundak Kugy begitu tahu di mana pesta itu diadakan. Benaknya seketika bergerak maju, membayangkan suasana pesta itu nanti, dan aneka pemandangan yang sekiranya akan menusuk mata. Kugy masuk ke kamarnya dengan langkah terseret. Sore ini terasa semakin penat.

 

19.

TRAGEDI PESTA NONI

Wanda nyaris pingsan ketika dibawa masuk ke tempat kos Keenan yang baru. Untung saja ia masih sanggup mengumpulkan kekuatan untuk bertahan duduk di atas kasur tipis di situ.

“Nan, kamu ngapain sampai harus tinggal di tempat kayak gini? Aku hargai banget keberanian kamu untuk berhenti kuliah demi serius melukis, tapi … ini … ekstrem namanya! Kamu ke Jakarta aja. Nanti aku yang carikan tempat,” bujuk Wanda sambil sesekali mengelap wajahnya sendiri dengan tisu. Bandung memang lebih sejuk dibandingkan Jakarta, tapi kamar Keenan yang berada di loteng dan beratapkan asbes itu terpanggang sinar matahari siang hingga terasa panas dan pengap.

“Saya lebih baik di Bandung, Wan. Biaya hidup di sini lebih murah. Dan saya bisa mempersiapkan diri untuk melukis tanpa banyak diganggu,” ujar Keenan sambil membuka jendela dan pintu lebar-lebar agar ada angin yang berembus masuk.

“Gimana mungkin kamu melukis di tempat busuk begini?” tukas Wanda, tangannya tak henti-henti mengipas-ngipas muka. “Keluargaku punya villa di Puncak. Nanti aku bisa bilang Papi kalo kamu mau tinggal di situ dulu buat melukis. Aku yakin Papi bakal kasih izin. Gimana?”

“Nggak usah. Di sini enak juga kok kalo sudah malam. Bisa lihat langit luas, tinggal selonjoran aja di luar,” Keenan tersenyum, “mau coba?”

Wanda melengos. “Mau berapa lama kamu tinggal di sini?”

Keenan mengangkat bahu, “Nggak tahu. Yang pasti, begitu saya sudah punya cukup modal dari hasil penjualan lukisan, saya pasti cari tempat tinggal yang lebih baik. Tapi saya nggak mikirin itu dulu sekarang. Yang penting saya mempersiapkan diri untuk pameran, melukis sebanyak-banyaknya.”

“Mentang-mentang objek lukisan kamu anak-anak melarat, jadi kamu harus ikut-ikutan melarat, ya?” kata Wanda ketus seraya melipat tangannya di dada.

Keenan mengeraskan rahangnya, mengumpulkan kesabaran. “Saya bisa antar kamu pulang ke hotel kalau memang kamu udah nggak betah di sini. Kita ketemu besok untuk bareng ke Jakarta. Oke?”

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.