Baca Novel Online

Perahu Kertas

Jelas terlihat ekspresi protes di muka Noni, tapi kata-kata Kugy seperti membungkam mulutnya. Noni pun bangkit berdiri. “Whatever, Gy. Terserah,” ujarnya dingin.

Pintu kamar itu kembali menutup. Kugy termenung di kursi komputernya. Sekilas ia melihat bayangannya di cermin. Ia mengerti kehilangan yang dimaksud Noni. Sama seperti sahabatnya, ia pun merasakan kehilangan itu. Namun, Kugy tak tahu harus ke mana mencari. Semua terlalu kusut baginya.

 

Jakarta, Agustus 2000 …

Atmosfer di ruangan itu terasa mengimpit. Di meja makan segi empat yang kosong tanpa makanan itu, Keenan dan ayahnya duduk berhadap-hadapan. Ibunya duduk di tengah-tengah seumpama wasit tinju yang mengamati pertarungan dengan tegang. Sementara Jeroen mengurung diri di kamar, ia paling tidak tahan mendengar orang bertengkar.

“Inilah yang membuat saya nggak pernah setuju dia pergi ke Amsterdam! Ini!” ayah Keenan berkata lantang, “Lena … lihat anak kamu, dia pikir dia siapa? Berani-berani minta berhenti kuliah hanya gara-gara lukisannya laku segelintir. Dia nggak mikir bahwa saya, bapaknya, sudah setengah mati banting tulang buat bayar seluruh biaya sekolahnya dari dia kecil sampai sekarang,” ayahnya lalu menoleh pada Keenan, “bawa sini kalkulator! Kita hitung-hitungan siapa yang keluar biaya paling besar. Bisa nggak kamu bayar Papa untuk menggantikan uang sekolah kamu dari cek yang kamu terima dari Warsita? Ayo! Kita hitung!”

Dari wajahnya, Keenan tampak sudah mau meletus, tapi ia menahan diri, mengeraskan rahangnya kuat-kuat. “Ini bukan soal uang, Pa,” ujarnya tertahan. “Sampai kapan pun saya nggak bisa menggantikan semua yang sudah Papa kasih. Tapi saya benar-benar nggak kuat lagi untuk pura-pura betah kuliah. Saya nggak kuat meneruskan sesuatu yang saya nggak suka. Sementara hati saya ada di tempat lain.”

“Apa sih masalah kamu? Tanpa banyak usaha saja kamu bisa dapat IP paling tinggi! Apa susahnya kamu teruskan kuliah?” tanya ayahnya gemas.

“Itu bukan dunia saya, Pa,” Keenan menyahut pelan, “bukan itu jalan hidup yang saya mau.”

Adri tertawa kecil, menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kamu tahu apa tentang hidup? Kamu masih dua puluh tahun. Kamu nggak tahu apa-apa!”

“Saya cukup tahu bahwa hidup yang sekarang ini saya jalankan adalah hidup yang Papa mau, bukan yang saya mau,” kata Keenan getir. “Saya ingin berhenti kuliah mulai dari semester depan. Dan saya tidak akan membebani Papa lagi. Saya akan cari uang dan membiayai hidup saya sendiri.”

“Keenan! Let op je woorden!21” Lena menyambar seketika, “ga niet al te ver.22 Jangan asal ngomong kamu ….”

Adri pun sontak bangkit berdiri, menatap anaknya tak percaya. “Kamu—kamu belum tahu seujung kuku pun tentang hidup! Jangan pikir saya terkesan dengan usaha kamu yang sok kepingin mandiri itu. Kamu nggak tahu apa yang kamu hadapi di luar sana—”

“Maaf, saya bukannya mau menyakiti kalian berdua dengan keputusan saya ini, tapi saya betul-betul nggak bisa maksain diri lagi,” sela Keenan tegas.

Lena sudah ingin berbicara, tapi tangan suaminya terangkat menahannya, “Oke. Kalau memang itu yang kamu mau, silakan.” Suara Adri terdengar tegas dan garang. “Mulai detik ini, saya berhenti membiayai kamu. Mandirilah sana. Silakan kamu rasakan sendiri hidup yang sebenarnya. Kamu urus diri kamu sendiri. Saya tidak mau tahu lagi.”

Lena pun tak bisa menahan diri lagi, “Adri! Kamu juga jangan ikutan ngawur. Kita bicarakan lagi semua ini baik-baik ….”

Keenan malah ikut bangkit berdiri. “Sudah, Ma. Het is goed zo23. Memang itu yang saya inginkan. Saya mau beres-beres sekarang, lalu pulang ke Bandung,” ujarnya tenang.

“Ya. Biarkan dia pergi,” Adri menyahut, “jangan ditahan-tahan.”

“Adri! Keenan! Kalian berdua sama saja, keras kepala dan gengsi tinggi!” protes Lena. “Ayo, duduk lagi, bukan begitu cara menyelesaikan masalah ini. Pasti ada jalan keluar yang lebih baik.”

Namun, baik Keenan maupun ayahnya tidak tertarik untuk duduk kembali. Keduanya tetap berdiri di tempat masing-masing dengan sorot mata beradu.

“Laat maar zitten24, Lena. Kita lihat saja nanti, siapa yang akan kembali ke pintu rumah ini, merengek minta maaf, dan menelan kembali semua ucapannya,” ucap Adri dingin.

Keenan tersenyum samar. “Ya, kita lihat saja nanti.”

 

Bandung, Agustus 2000 …

Sekembalinya ke Bandung, Keenan tak menunda-nunda lagi rencananya. Ia sadar bahwa ia tengah melakukan perombakan hidup besar-besaran. Perasaannya bercampur antara semangat sekaligus gentar. Namun, Keenan tahu ia tak bisa mundur lagi.

Selama libur jeda semester ini, bolak-balik Keenan mengurus surat pengunduran dirinya ke bagian administrasi kampus. Dibantu Bimo, Keenan pun pindah dari tempat kosnya dulu ke tempat kos yang jauh lebih kecil, di dalam sebuah gang di daerah Sekeloa, yang ongkos sewanya berkali lipat lebih murah dibandingkan tempat kosnya yang dulu.

Keenan mulai menata ulang hidupnya di Bandung. Cek dari Warsita tak disentuhnya sama sekali. Ia hanya berniat mencairkannya jika kelak kondisinya sudah sangat kepepet. Keenan hanya mengandalkan sisa tabungan pribadi yang ia miliki. Sebagai konsekuensinya, ia tahu dirinya tidak bisa lagi bergaya hidup seperti dulu. Segalanya berubah sekarang.

Bimo meletakkan dus yang terakhir ke lantai. Kamar kos kecil itu bahkan terlalu sesak rasanya menampung mereka berdua. Buru-buru Bimo membuka pintu agar udara segar masuk.

“Lu adalah orang paling gila yang pernah gua tahu,” Bimo menggeleng-gelengkan kepalanya, “entah itu karena lu nekat atau bloon, tapi gua salut sama keberanian lu.”

Keenan hanya nyengir sambil mengusap-usap kepalanya sendiri, “Gua juga nggak ngerti ini gila atau malah waras. Yang jelas, inilah rasanya hal paling benar yang pernah gua lakukan.”

“Lu emang sinting nggak kepalang. IP terbaik dua semester berturut-turut, ee … malah cabut! Transfer ilmu dulu, kek. Kasihani orang-orang kayak gua yang IP-nya satu koma gini,” Bimo tergelak.

“Tenang. Selama gua masih di Bandung, gua pasti bisa bantuin lu. Udah tahu harus cari gua ke mana, kan?” Keenan tersenyum.

“Siapa aja yang udah tahu lu di sini?”

“Belum ada siapa-siapa lagi.”

“Eko?”

Keenan menggeleng.

Bagi Bimo, itu menjadi petunjuknya untuk tidak perlu bilang pada siapa-siapa soal kepindahan Keenan. Banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya, tapi Bimo merasa lebih baik menunda hingga saat yang tepat. “Angkatan kita akan kehilangan silumannya,” Bimo menghela napas seraya menepuk bahu Keenan.

“Siapa tahu setelah nggak jadi mahasiswa, gua malah jadi macan kampus.”

“Gua mohon jangan, Nan. Bentar lagi ada cewek-cewek angkatan baru, dan gua ogah bersaing sama lu, monyong!” Bimo tergelak lagi, dan tak lama kemudian ia pamit pulang.

Sepeninggal Bimo, Keenan termenung di kamar barunya yang terletak sendirian di loteng. Juntaian tali jemuran yang saling silang di depan jendelanya akan menjadi pemandangan rutin setiap hari. Kucing-kucing yang berjemur santai di atap tetangga akan menjadi teman setianya. Udara panas ini akan ia hirup sampai entah berapa lama. Barang-barangnya yang padahal tak banyak itu bahkan terasa menyesaki saking kecilnya kamar itu. Namun, untuk pertama kalinya setelah pulang ke Indonesia, Keenan merasakan kebebasan.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.