Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Nyebelin banget sih Eko! Sok ngerti fashion. Kayak dia aja yang paling bener pakai baju. Noni juga, nyama-nyamain aku sama Kugy. Memangnya aku separah itu?” gerutu Wanda panjang lebar.

Keenan tak berkomentar dan membiarkan Wanda melampiaskan kekesalannya. Ia memilih membuka buku sketsa lalu asyik mencorat-coret. Menjadi pendengar sekaligus tempat sampah yang baik.

Namun, Wanda seperti tak mau berhenti. “Aku cuma sekali-sekali doang pakai baju kamu. Itu juga kalo memang kepepet. Sementara kalo Kugy itu udah jadi style, jadi trademark!” cibirnya sewot. “Inget nggak waktu Kugy datang ke Warsita? Emangnya mungkin aku pakai baju kayak gitu? Idih. Gila aja ….”

“Ngapain sih masalah gitu doang diributin?” Keenan mendongak, mukanya menunjukkan bahwa ia mulai terganggu. Sudah hampir sejam topik omelan Wanda tidak berubah.

Wanda terdiam. Merajuk. “Aku cuma sebel aja. Kok, dibandinginnya sama Kugy. Kugy kan ancur banget—”

“Buat saya, dia baik-baik aja,” potong Keenan tegas. “Buat saya, kamu juga baik-baik aja. Mau Miss Matching, mau nggak, saya nggak ambil pusing.”

“Tapi Kugy kan—”

“Sebenarnya kamu ada apa sih sama Kugy?” Keenan bertanya agak keras.

“Kamu ada apa sama Kugy?” Wanda malah bertanya balik.

Keenan mengerutkan kening.

“Aku udah lihat judul lukisan kamu yang baru. ‘Alit’ itu nama sekolah tempat Kugy ngajar, kan? Kamu terinspirasi gara-gara dia? Hebat banget itu anak sampai dibikinkan lukisan segala,” ujar Wanda sinis.

Keenan menghela napas, dongkol. “Iya, memang saya buat lukisan itu dari cerita yang Kugy buat tentang anak-anak di sekolahnya. Terus?”

“Nan, aku mungkin kolokan, but I’m not stupid. I’m not blind. Aku lihat gimana cara kamu melihat dia. Baju-baju yang kamu suruh aku pakai … dan sekarang lukisan itu. You have feelings for her, don’t you?” Wanda bertanya tajam.

Kali ini Keenan terdiam.

“Don’t you?” cecar Wanda lagi.

“Wanda, ini mulai konyol. Kamu cuma cemburu berlebihan—”

“You’re damn right I am! Dan udah selayaknya aku cemburu. Memangnya kamu pikir aku nggak tahu kalo kamu sebenarnya sedang berusaha mengubah aku jadi dia? Well, I tell you this: you will fail! Karena aku bukan dia, dan nggak akan pernah mau jadi dia!” Wanda menandaskan. Dadanya turun naik saking emosinya.

Keenan menatap Wanda lama. “Wanda, kamu bebas percaya apa pun yang kamu mau. Saya nggak bisa mengubah anggapan kamu. Hanya kamu sendiri yang bisa. Kalau kamu merasa begitu soal saya dan Kugy, saya terima. Saya nggak bisa bikin kamu yakin sama saya. Hanya kamu sendiri yang bisa,” ucapnya datar.

“Bullshit,” desis Wanda.

“Mau saya antar pulang?” Keenan bangkit berdiri.

Wanda menepis tangan Keenan yang mencoba menggamit bahunya. “Ada yang bisa kamu lakukan supaya aku yakin,” Wanda lantas menentang mata Keenan lurus-lurus, “lihat ke mataku, and say that you love me.”

Keenan tampak terkejut mendengar tantangan Wanda. Namun, kedua mata mereka telanjur beradu, dan tak bisa lagi Keenan menghindar.

“It’s so simple, Nan. Aku hanya mau dengar kamu bilang tiga kata itu,” bisik Wanda. Jarak mereka hanya terpaut sekian senti. Sorot matanya memburu Keenan ke dasar hatinya yang terdalam.

Mulut Keenan tampak setengah membuka, otot-otot mukanya tegang seperti bersiap mengatakan sesuatu. Namun, setelah sekian lama, tetap tak ada sepatah kata keluar. Hanya embusan udara kosong yang terbata-bata.

Wanda menggigit bibirnya yang bergetar menahan tangis. Air matanya pun tak terbendung lagi. Dalam sekejap, isakannya meledak. Wanda langsung menyambar tasnya dan berlari menuju pintu.

Secepat kilat, Keenan menahan tangannya. “Wanda … saya mohon, jangan pergi … maafin saya …”

Bercampur dengan senggukan, Wanda berteriak, “Maaf? Damn it, Keenan! Aku nggak butuh maaf kamu. I just want you to love me. Why can’t you just love me?”

Lagi, Keenan tak bisa menjawab. Ia hanya menarik Wanda ke arahnya, berusaha memeluk Wanda yang meronta, menghiraukan kepalan-kepalan tinju lemah yang dilancarkan Wanda dengan frustrasi, hingga akhirnya Wanda menyerah. Menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Keenan.

Baru kali itu Keenan merasa sedemikian pilu. Rasa bersalah yang sangat kuat terasa memenuhi seluruh rongga tubuhnya sampai ke tulang, dan ia merasa sesak luar biasa. Dan yang membuat hatinya lebih pedih lagi, meski desakan itu begitu kuat, tetap Keenan tak bisa memaksakan mulutnya mengatakan apa-apa. Hanya lengannya yang semakin erat mendekap, jemarinya tak henti membelai rambut Wanda, berusaha menenangkan isakannya yang terus menjadi. Keenan terus berharap dalam hati, semoga itu cukup.

 

18.

KEPERGIAN DAN KEHILANGAN

Bandung, Agustus 2000 …

Terdengar langkah kaki berlari di koridor, semakin lama semakin dekat, dan ternyata langkah itu berhenti di depan pintu kamarnya. Menyusul ketukan bertubi di pintu.

“Masuk …,” kata Kugy, matanya tak lepas dari layar komputer.

“Gy!” Noni menerobos masuk, mukanya panik. “Lu putus sama Ojos?” tembaknya tanpa basa-basi.

Kugy menatap Noni tanpa bersuara, lalu mengangguk kecil.

“Ya, ampun. Kenapa? Kok bisa? Gua baru teleponan sama Ojos. Dia sedih banget. Kok lu nggak langsung bilang sama gua? Sebetulnya kalian ada apa, sih? Lu kenapa?” Pertanyaan Noni berentet seperti peluru senapan otomatis.

Kugy benar-benar tak tahu harus menjawab apa. Ia hanya mengangkat bahu. “Memang udah saatnya kali, Non,” sahutnya pendek.

“Kok jawaban lu gitu sih, Gy? Kok lu nggak terbuka sama gua? Gua kan sayang banget sama kalian berdua. Gua ikut sedih, tauk,” kata Noni kecewa. “Kalian kan pasangan legendaris, bikin orang-orang ngiri, kalian tuh cocok banget …”

Kugy tersenyum getir. “Please, deh, Non. Gua sama Ojos itu bedanya kayak langit dan sumur. Semua ini kayak bom waktu yang tinggal tunggu meledak.”

Tampang Noni langsung berubah serius. “Gy, lu sahabat gua. Gua pasti belain elu. Tapi terus terang, kali ini gua ngelihat lu memang jadi berubah. Lu kayak sengaja menarik diri. Ojos juga ngerasa gitu, dan dia udah lama ngomong ke gua. Dia ngerasa ada sesuatu yang aneh. Gua dan Eko juga ngerasa kehilangan lu,” Noni terdiam sejenak, “gua nggak enak ngomong gini. Tapi sebagai sahabat, gua harus jujur sama lu. Kita semua kehilangan Kugy yang dulu.”

Lama Kugy membisu. Dalam benaknya ia berusaha keras untuk merangkai penjelasan demi penjelasan, tapi yang ia temukan hanya sebongkah benang kusut. Ia tak tahu lagi harus memulai dari mana. Semua sudah bercampur aduk. “Thanks for your concern, Non,” kata Kugy akhirnya, “tapi gua baik-baik aja, kok. Gua nggak tahu Kugy yang dulu itu yang mana. Tapi inilah gua. Kalau memang ternyata berubah, ya terimalah gua apa adanya. Sama seperti gua menerima lu, Eko, Ojos, Keenan … apa adanya. Menurut gua, itu yang bisa kita lakukan sebagai sahabat.”

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.