Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Tentang apa?” balas Kugy pelan. Perasaannya mulai tidak enak.

“Gy, Mas Itok itu mungkin orang paling sok tahu sedunia, tapi aku yakin dia punya alasan sampai bisa bilang begitu. Memangnya ada apa antara kamu dan Keenan?”

Kugy diam sejenak. “Nggak ada apa-apa,” jawabnya pendek.

Ojos menggeleng. “Gue mungkin orang paling cemburuan di dunia, tapi radar gue nggak pernah salah. Udah, deh. Jujur aja. Lo suka sama dia, kan? Dia juga suka sama lo?”

Hati Kugy terasa menciut. Kalau Ojos sudah mulai memakai ‘guelo’ padanya, berarti anak itu marah betulan. “Jos, Keenan udah punya pacar. Aku juga udah punya pacar. Kami berdua cuma sahabatan. Nggak lebih, nggak kurang.”

“Suka ya suka aja. Nggak ada urusan punya pacar atau nggak,” tandas Ojos lagi.

“Aku nggak bisa ikut ke Bali,” tiba-tiba Kugy menceplos. Ia bahkan kaget sendiri begitu kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya.

“What?” Ojos tersentak.

“Sakola Alit ikut perlombaan antar-SD hari Sabtu depan. Nggak mungkin kalau aku sampai nggak ikut. Aku tahu kamu udah beli tiket dan udah siapin semuanya. Tapi aku benar-benar nggak bisa. Kita liburannya kapan-kapan aja ya—”

“Gue kok nggak yakin yang namanya ‘kapan-kapan’ itu bakal ada,” potong Ojos dengan nada tinggi.

Kugy terdiam. Banyak hal berkecamuk di benaknya, tapi lidahnya seperti kelu. Tidak tahu harus bereaksi apa.

Terdengar Ojos menghela napas berat. “Gue capek jadi nomor kesekian dalam hidup lo. Sejak lo di Bandung, gue ngerasa makin terpinggir. Lo kayak punya dunia sendiri. Kayaknya cuma gue yang usaha buat ngertiin lo, Gy. Cuma gue yang usaha buat kita berdua.”

Mata Kugy mulai terasa panas. Dadanya mulai terasa sesak.

“Dari pertama kita jadian, gue selalu berusaha ngejar dunia lo. Tapi lo bukan cuma lari, lo tuh terbang. Dan lo suka lupa, gue masih di Bumi. Kaki gue masih di tanah. Gimana kita bisa terus jalan kalo tempat kita berpijak aja beda,” tutur Ojos getir.

Air mata Kugy mulai merembesi pipi. Satu demi satu. Namun, mulutnya masih belum bisa berkata-kata.

“Lo suka sama Keenan, Gy? Lo jatuh cinta sama dia?”

Linangan air mata di pipi Kugy makin deras. Perlahan, ia menggeleng, “Apa pun perasaanku sama Keenan, aku sayang banget sama kamu ….”

“Ini memang bukan cuma soal Keenan, tapi prioritas buat gue di hidup elo. Sekarang, kita bikin semuanya sederhana aja, Gy. Berangkat hari Jumat depan sama gue, atau lo tetap di Bandung. Pilih yang mana?” Ojos bertanya lugas. Namun, nada itu terdengar perih, suara itu bergetar.

“Tapi … tapi aku bener-bener nggak bisa berangkat. Sabtunya kan aku harus … apa kita nggak bisa pergi hari lain—”

“Sederhana, kan, Gy? Lagi-lagi gue yang harus berkorban,” gumam Ojos pahit.

Kugy terdiam lagi. Hanya terdengar isakan pelan.

“Pergi dengan gue hari Jumat, atau semuanya selesai sampai di sini,” Ojos menandaskan ulang.

“Kenapa harus pakai ultimatum begini, sih? Kenapa nggak bisa diundur aja? Ini bukan pilihan, Jos. Ini namanya memojokkan!” seru Kugy putus asa.

Ojos menatap pacarnya dalam-dalam, lalu berkata pelan, “Karena kalo lo emang sayang sama gue, sekarang juga lo bisa tahu jawabannya. Bahkan dari tadi harusnya lo udah tahu. Pembicaraan ini nggak perlu ada, Gy.”

Meski keduanya sama-sama membisu, suasana di dalam mobil itu pengap oleh berbagai macam emosi dan perasaan.

Akhirnya, Ojos membukakan pintu Kugy. “Gue tunggu lo di airport hari Jumat siang. Pesawat kita take-off jam tiga. Kalo lo nggak datang, berarti semuanya selesai,” ucapnya lirih.

Sebelum keluar dari mobil, Kugy menatap Ojos sekali lagi dengan matanya yang basah. Dalam waktu yang sedemikian singkat, semua kenangan mereka selama hampir tiga tahun terkilas balik. Kugy pun berlari masuk, menerobos kamarnya. Sesak di dadanya tak tertahankan lagi, dan Kugy menangis sepuasnya. Ia sudah tahu apa yang akan ia putuskan. Dan ia menangis untuk perpisahan yang belum terjadi. Namun, akan terjadi.

Kedua pasangan itu akhirnya memutuskan untuk menghabiskan malam Minggu mereka dengan berkumpul bersama di tempat kos Keenan. Dua kotak martabak asin dan manis yang sudah hampir ludes isinya mengambil tempat di tengah lingkaran mereka duduk. Noni dan Wanda tampak serius berdiskusi. Noni berencana untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-20 bulan September depan di rumah Wanda. Rumah di daerah Kebayoran Baru itu punya taman yang luas, cocok dengan konsep garden party yang ingin dibuat Noni. Karena acara itu cukup besar, Noni mempersiapkan dari jauh-jauh hari, dibantu oleh Wanda yang terkenal sebagai party maker andal.

Wanda sibuk mencatat ini-itu, lalu menyerahkan catatannya pada Noni.

“Buset … lu gape banget, sih,” Noni terkagum-kagum membaca catatan Wanda.

“Bikin acara beginian doang sih makanan gue sehari-hari. Hampir semua acara di Warsita gue yang koordinasi. Nggak perlu sewa EO,” Wanda tersenyum bangga. “Pokoknya kalo lo ada detail tambahan lagi, kabarin aja, nanti gue yang atur.”

Sambil memetik gitar dan berselonjor santai, Eko pun ikut berceletuk, “Diam-diam ternyata Wanda punya bakat mandor. Penampilannya juga makin lama makin kayak mandor.”

“Excuse me?” Wanda mendelik, “Coba perjelas, apa yang dimaksud dengan ‘penampilan mandor’?”

Permainan gitar Eko langsung memelan. Tersadar bahwa dirinya baru saja menyenggol dawai Wanda yang paling sensitif, yakni masalah penampilan. Namun, mulut jahil Eko tak sanggup diberangus. “Mmm … gua perhatiin, makin hari dandanan lu makin santai, sementara dulu kan lu Miss Matching abis,” Eko cengengesan, “kuku lu udah nggak warna-warni, terus sekarang baju lu kayaknya kegedean semua—kalo dulu kekecilan, he-he. Kaus gede banget itu lu dapet dari mana, coba?”

“Punya Keenan.”

“Jaket yang tadi lu pake punya siapa?”

“Punya Keenan.”

Noni pun tak dapat menahan tawa kecilnya. “Hi-hi … bener banget kata Eko, sebetulnya gua juga udah pingin komentar. Dandanan lu makin mirip Kugy, Wan. Pantes aja, formulanya udah sama. Baju-baju dapet minjem!”

Ekspresi Wanda berubah drastis. Apalagi melihat Eko yang langsung terbahak-bahak mendengar celetukan Noni. Melihat itu, Keenan cepat-cepat berusaha menetralisasi, “Sebetulnya gua yang minta ke Wanda, kalau di Bandung mendingan pakai baju yang praktis-praktis aja, kan dingin ….”

“Woi! Ada perbedaan besar antara berdandan praktis dan berdandan a la Kugy. Kalo kata gua, dia lebih cocok di kategori yang kedua,” Eko ngakak-ngakak lagi.

Muka Wanda kontan memerah. Meski ia berusaha ikut tertawa, suasana hatinya rusak berantakan sudah. Sepanjang sisa malam itu, tinggal Keenan yang kena getahnya, sementara Eko dan Noni pamit pulang duluan.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.