Baca Novel Online

Perahu Kertas

Terdengar napas panjang Keenan mengembus. “Wanda, kamu udah banyak banget bantuin saya … kadang-kadang, saya ngerasa nggak enak ….”

“Nan, this is how I am,” potong Wanda, “kalo aku sayang dan yakin sama seseorang, aku nggak akan tanggung-tanggung. Kamu nggak perlu merasa nggak enak. Aku nggak minta apa-apa, just … love me. Okay?”

Terdengar sunyi di ujung sana. “Nan?” panggil Wanda. “Kamu mau ngomong sesuatu … atau … speechless?”

“Sori, saya beneran nggak tahu mau ngomong apa,” jawab Keenan akhirnya.

“Nggak pa-pa. Lama-lama aku biasa, kok. Mungkin kamu ekspresifnya hanya di depan kanvas. Tapi nggak di depan aku,” Wanda berkata, separuh menyindir.

Sunyi lagi di ujung sana.

Wanda melengos. “Ya udah, kayaknya aku malah bikin kamu nggak nyaman. Kita ngomongin yang lain aja kalo gitu.”

Tanpa menunggu terlalu lama, pembicaraan mereka lancar lagi seperti aliran sungai. Dan walau akhirnya percakapan telepon itu ditutup dengan manis, Wanda sedikit gondok. Ia mulai terganggu dengan sikap Keenan yang seolah jengah setiap kali percakapan mereka mulai menyinggung soal perasaan. Seolah-olah kata “cinta” dan “sayang” ada dalam daftar tabu Keenan. Dari pertama kali mereka dekat hingga resmi jadian pun, belum pernah satu kali pun Keenan mengungkapkan perasaannya secara terbuka.

Ponsel Wanda berdering lagi. “Ya, Virna? What’s up? Hmm. Sori, gue emang lagi bete. What? Duh, lo bikin gue tambah bete, deh ….”

“Sori banget, ya,” sahut Virna, “gue bener-bener nggak ada tempat buat nyimpan lukisan itu. Sebetulnya Pasha juga sama. Dia nggak enak aja sama lo. Jadi kita berdua sama-sama nggak bisa nampung, Say.”

Wanda berdecak kesal. “Cuma nitip gitu aja masa nggak bisa, sih? Lo taro di kamar tidur lo, kek. Gantung di kamar mandi, kek.”

“Lo pikir itu poster ukuran A3? Lagian dinding rumah gue itu dikuasai nyokap gue. Dia nggak demen lukisan modern. Tahu sendiri seleranya kayak apa, lukisan kudalah … ikan koi … nenek-kakek gue …,” Virna membela diri, “di tempat lo masa nggak ada space? Rumah lo kan segede-gede apaan tauk.”

“Bukan gitu. Masalahnya—” Wanda cepat-cepat menelan kembali kata-katanya. Perihal ini cukup dia sendiri yang tahu. “Ya udah. It’s okay. Besok gue suruh orang untuk ambil lagi, deh. Sekalian lukisan yang ada di Pasha.”

Selepas telepon dari Virna usai, Wanda berkeliling rumahnya sendiri. Mencari “tempat persembunyian” yang aman. Dan pencariannya pun berakhir di kamarnya sendiri: kolong tempat tidur.

Di saung tempat Ami mengajar, ketiganya berkumpul. Ami bahkan seperti ingin menangis ketika hendak menyampaikan kabar yang sudah ia simpan sejak tadi.

“Kugy, Ical … Sakola Alit akhirnya diloloskan untuk ikut perlombaan antar-SD se-Kecamatan.”

Kugy dan Ical langsung melonjak kegirangan. Ical bahkan sampai berlari mengelilingi saung sambil bersorak-sorai. Kugy pun tak kalah, ikutan di belakangnya.

“Aku tahu, kita diizinkan ikut karena mereka simpati, atau kasihan, atau karena mereka juga yakin kita nggak bakal menang,” Ami terkekeh, “aku nggak ambil pusing. Ini bukan soal kalah dan menang. Tapi ketika anak-anak Alit bisa partisipasi dan ketemu dengan peserta dari sekolah lain, pasti semangat mereka terpacu lagi untuk serius sekolah. Ini akan menjadi pengalaman yang baru buat mereka. Jadi, kita akan ikut lomba baca puisi, lomba menyanyi pupuh Sunda, dan lomba mengarang. Hari ini kita tentukan siapa-siapa yang ikutan, ya,” lanjut Ami lagi.

“Siap tempur!” Kugy berseru. “Lombanya kapan dan di mana, Mi?”

“Hari Sabtu minggu depan. Di Taman Lalu Lintas.”

Kugy bertepuk-tepuk tangan saking gembiranya, “Asyiiik! Mereka semua pasti senang banget bisa sekalian main di sana.” Beberapa saat kemudian, ekspresi mukanya berubah. Kugy teringat sesuatu. “Sebentar … Sabtu depan?”

“Iya, Gy. Kenapa?”

“Aku—ada janji mau ke luar kota.”

Ami menggigit bibirnya. “Wah. Kalau tanpa kamu, kita berdua pasti kerepotan. Bukan cuma soal menemani, tapi kalau anak-anak tahu kamu nggak akan ikut, mereka pasti nggak semangat. Kamu tuh panutan mereka, Gy.”

Kugy berpikir keras. “Kasih waktu sampai Senin, ya. Tapi aku usahakan banget untuk ikut.”

“Please, ya, Gy. Karena hari Senin kita udah harus mulai nyiapin anak-anak,” kata Ami penuh harap.

Kugy melirik jam tangannya. Ojos sedang dalam perjalanan ke Bandung. Jika ia memutuskan untuk membatalkan kepergiannya ke Bali, entah apa yang akan terjadi malam ini.

Keenan berdiri memandangi lukisannya sendiri. Lukisan dengan objek sebelas anak kecil. Sepuluh sedang berbaris melingkar, dan seorang anak dengan topi caping hadir di depan barisan sebagai pemimpin. Di bagian belakang kanvas, Keenan menuliskan judul: “Jenderal Pilik dan Pasukan Alit”.

Keenan memperhatikan guratan kuasnya sendiri. Ini bukan masalah teknik, pikirnya. Ada sesuatu dalam objek-objek itu yang membuat lukisan yang satu ini mencuat dibandingkan lukisan-lukisannya yang lain. Sesuatu yang meremangkan bulu kuduk. Sesuatu yang membangkitkan gejolak dalam batin siapa pun yang melihatnya.

Ia melangkah mundur, mengamati sekali lagi. Kehidupan. Keenan akhirnya menyimpulkan dalam hati. Lukisan ini begitu berenergi. Ada kehidupan yang dipancarkan dengan sangat kuat dan menyentuh.

Matanya lantas tertumbuk pada satu benda di meja belajarnya. Buku tulis kumal yang diberikan Kugy beberapa bulan yang lalu. Keenan teringat apa yang pernah ia ucapkan, bahwa buku tulis itu merupakan harta yang harusnya disimpan Kugy sendiri. Tak pernah ia sangka, dirinyalah yang menjadi penemu harta karun itu. Kugy telah mewariskan sesuatu yang sangat berharga, melebihi perkiraan mereka berdua.

 

17.

TIGA KATA SAJA

Film komedi yang ditonton mereka barusan bahkan tak sanggup membuat tawanya lepas seperti biasa. Sepanjang malam, dari mulai saat perjalanan, makan malam, sampai bubaran bioskop, Kugy berada dalam status siaga. Terus meraba-raba momen yang kira-kira tepat untuk menjadi celahnya bicara pada Ojos.

“Mbak Kugy!” Tiba-tiba terdengar seseorang memanggilnya.

Kugy menoleh. Mas Itok, agen pengantre tiket langganannya Eko, melambaikan tangan dengan tawa lebar. Kugy pun balas melambai.

“Ke mana aja, Mbak? Kok udah nggak pernah nonton midnight rame-rame lagi? Mas Eko seringnya berdua doang sama Mbak Noni.”

“Kita udah ganti aktivitas, Mas. Sekarang seringnya main gapleh rame-rame,” jawab Kugy asal.

“Saya diajak dong, Mbak!” Mas Itok terbahak, “Kirain gara-gara Mbak Kugy sama Mas Keenan putus, terus pada punya pacar baru, kelompoknya jadi pecah. Ini pacar barunya, Mbak?”

Ojos dan Kugy serentak membeku kaku mendengar omongan Mas Itok yang tanpa tedeng aling-aling itu. “Bukan, Mas. Ini edisi lama. Duluan, ya!” Kugy buru-buru menyudahi, lalu menggandeng tangan Ojos pergi dari situ.

Sepanjang perjalanan, Ojos memasang muka cemberut. Bungkam seribu bahasa. Saat mobilnya sampai di depan tempat kos Kugy, barulah Ojos bersuara. “Ada sesuatu yang belum pernah kamu bilang ke aku, dan aku perlu tahu?” tanyanya.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.