Baca Novel Online

Perahu Kertas

Terdengar suara mobil memasuki pelataran lobi. Taksi yang dipesan Keenan sudah datang. Baru saja ia mau berbalik melangkah, tahu-tahu tangannya ditahan.

“You know what?” Wanda berkata lirih, “Kamu nggak perlu pulang malam ini ke kos. Kamu bisa di sini sama aku.”

Keenan hanya tersenyum lalu mengecup halus keningnya, “Pelan-pelan, Wanda.”

Tak lama, taksi itu melaju pergi meninggalkan hotel. Wanda masih terpaku di tempatnya. Rasanya ingin ia melesat menembus atap saking gembiranya. Tiba-tiba ia teringat seseorang. Noni. Ia harus menelepon Noni. Malam ini juga.

 

16.

SALAH BERHARAP

Kugy merogoh kantongnya dan mengambil anak kunci kecil itu, membuka sendiri gembok pagar tempat kosnya. Ia sudah mengantisipasi kepulangannya yang larut malam dan sudah mengajukan dirinya sebagai juru kunci malam ini.

Deretan kamar di koridor itu sudah gelap, tirai-tirai sudah tertutup. Namun, dilihatnya lampu kamar Noni masih menyala, bahkan terdengar suara bernada tinggi khas Noni yang sedang mengobrol dengan terpekik-pekik.

Baru saja tangannya mau mendarat di handel pintu kamarnya, pintu Noni terbuka. Mata sahabatnya itu membelalak segar seperti baru makan rujak cabe. “Gy! Tebak apa yang baru saja terjadi! Tadiii … barusaaan … malam iniii … aduh, nggak boleh berisik, ya? Nggak kuat niiih …”

“Lu kebelet pipis?” tanya Kugy, melihat Noni yang sampai membungkuk-bungkuk seperti menahan sesuatu.

“Bukan, gila. Gua baru ditelepon sama Wanda. Aduuuh … seneng banget gua ….” Noni terkikik-kikik sendiri, “Tadi Wanda sama Keenan kencan berdua, gitu. Terus, nggak tahu gimana, pokoknya Wanda akhirnya nembak si Keenan … monyong, ya? Dasar cowok-cowok sekarang. Bikin susah aja. Kok bukan si Keenan yang nembak duluan, coba? Emang dia makhluk aneh sih, kayak elu. Nggak bisa ditebak maunya apa. Terus ….” Noni mengambil napas, mengatur antara tawa dan kata-kata yang berbalapan di mulutnya.

Sementara itu mulut Kugy seperti memahit. Jantungnya terasa berdebar lebih kencang menunggu kelanjutan cerita Noni.

“Terus, habis ditembak gitu, Keenan ngomong gini ke Wanda: ‘nggak mungkin saya nggak suka sama kamu.’ Ya iyalaah! Lucu banget deh si Keenan. Geli gua dengernya. Terus, mereka pulang ke hotelnya Wanda. Oh my God … gila, ini romantis banget ….” Noni menempelkan kedua tangannya di pipi, “Di dekat perapian, Gy … nggak ada siapa-siapa lagi … cuma mereka berdua … duh, Eko payah, nih! Nggak pernah ngajak gua ke tempat kayak gitu. Yang ada Pemadam Kelaparaaan ‘mulu!”

“Terus, Non?” desak Kugy, mulai tak sabar.

“Mereka jadian,” kata Noni berseri-seri. “Ta-daaaa! Proyek berhasil! Canggih banget gua jadi Mak Comblang!” ia lalu menari-nari kecil.

Kugy merasa sebagian dari dirinya menguap. Hampa. “Terus?” tanyanya lagi.

“Gy, lu kok nggak kasih selamat atau apa gitu ke gua?” Noni bertanya heran melihat reaksi Kugy yang dingin.

“Congrats, Mak Comblang Milenium. Terus, apa lagi ceritanya?”

“Lu bayangin aja sendiri. Di tempat yang segitu romantis, pakai perapian segala, cuma berdua, lagi jatuh cinta. Ngapain lagi gua tanya-tanya?” ujar Noni sewot. “Lu kok nggak antusias, sih? Ini kan proyek kita bersama.”

Kugy menggeleng kecil. “Seingat gua, itu proyek lu dan Eko. Tapi apa pun yang terjadi gua ikut senang,” tuturnya ringkas. “Gua masuk duluan, ya. Capek banget. Nite, nite.” Tanpa menunggu reaksi lebih panjang lagi dari Noni, Kugy langsung melangkah masuk ke kamarnya. Menutup pintu.

Bahkan untuk menyalakan lampu saja, Kugy tak punya daya. Dalam gelap, ia berdiri mematung. Terlintas jelas di kepalanya sore hari di Galeri Warsita, saat Keenan dan ia sama-sama memandangi Wanda dari kejauhan, dan terdengar jelas di kupingnya waktu itu, apa yang diucapkan Keenan …. Kugy menggeleng, barangkali waktu itu ia salah menangkap, atau ia salah berharap … melintas jelas di kepalanya siang hari di bawah pohon beringin dekat ladang cabe, saat Keenan berkata bahwa ia kehilangan dirinya, Kugy takkan lupa cara Keenan menatapnya …. Kugy pun menggeleng, barangkali waktu itu ia salah melihat, atau lagi-lagi salah berharap. Dan terlintaslah petang di pintu gerbang, saat ia mendapatkan dirinya dipeluk, degup jantung yang terasa berdenyut bersama …. Kugy pun menggeleng, barangkali waktu itu ia salah. Selama ini ia salah.

Terakhir, ingatannya berlabuh pada bisikan Keenan yang ia simpan, yang ia kenang hampir setiap malam. Tiga kata yang selalu menjadi penyejuk bagi hatinya. Bulan, perjalanan, kita. Kugy menggeleng lagi. Bulan yang sama ada di angkasa malam ini. Namun, rasanya lain sekali. Membayangkannya saja terasa begitu pedih di mata. Kugy mengusap matanya yang basah. Sekali. Dua kali. Dan berapa kali pun ia mengusap, air mata itu tak kunjung berhenti mengalir.

 

Jakarta, Juli 2000 …

Layar ponselnya yang berwarna tiba-tiba menyala. Wajah Wanda sekonyong-konyong cerah bagai matahari siang bolong. Sigap, ditutupnya pintu kamarnya yang tadi setengah membuka. Ia ingin menikmati telepon itu tanpa diganggu.

“Hai, Sayang. Kamu lagi ngapain? I miss you already. Aku lagi bengong di kamar. Kamu ke sini, dong,” Wanda tertawa ringan, “just kidding, Sweetie. Kamu harus rajin melukis di Bandung. Karena, bentar lagi aku mau atur supaya kamu bisa pameran.”

Di ujung sana, Keenan pun tertawa. “Justru karena itu saya telepon kamu sekarang.”

Tawa Wanda pudar. “Jadi, kamu telepon aku untuk urusan bisnis doang?”

Keenan kontan nyengir. “Jangan sensitif gitu, dong. Katanya profesional.”

“Ya, udah. Mau ngomongin apa?” tanya Wanda ketus.

“Saya kepikir apa yang pernah kamu bilang, bahwa di lukisan saya yang terbaru ada karakter yang berbeda dengan lukisan saya yang lain. Saya juga ngerasa gitu. Saya cuma mau minta pendapat kamu aja, kalau saya bikin lukisan serial dengan tema yang sama, gimana?”

“Ide bagus,” komentar Wanda pendek.

“Sejak tahu lukisan saya laku, perspektif saya benar-benar berubah. Saya merasa makin yakin untuk mengambil jalan ini.”

Duduk Wanda menegak, “Jalan apa maksud kamu?”

“Saya cuma mau melukis. Mungkin sudah saatnya saya mempertimbangkan untuk benar-benar mandiri. Selesai semester ini saya akan coba bicara sama Papa untuk nggak usah meneruskan kuliah.”

“Kamu tahu apa artinya itu, kan, Nan?” ujar Wanda dengan penekanan, “Kamu akan menggantungkan diri sepenuhnya ke penjualan lukisan kamu. Kamu nggak bisa main-main.”

“Saya memang nggak main-main,” tegas Keenan.

“Dan aku juga nggak main-main soal pameran. Kamu harus siapkan dua puluhan lukisan, tiga puluh lebih bagus,” sambung Wanda.

Bayangan akan pameran membuat darah Keenan terpompa adrenalin. Semangatnya memuncak. “Oke, siap,” jawabnya mantap.

“Aku kasih kamu waktu enam bulan. Demi kamu, aku mau panjangin cuti kuliahku satu semester lagi.”

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.