Baca Novel Online

Perahu Kertas

Wanda merapatkan tubuhnya, tenggelam lebih dalam ke pelukan Keenan. “Ini sudah lebih dari cukup,” bisiknya lembut.

Keenan dan Wanda memilih makan malam di salah satu restoran di puncak Kota Bandung, di daerah pegunungan yang berpemandangan lampu kota. Meski duduk di bagian dalam restoran, angin dingin tetap terasa menusuk saat semilirnya menyentuh kulit.

“Kamu kedinginan?” tanya Keenan khawatir. Sedari tadi dilihatnya Wanda mengusap-usap lututnya yang terbuka.

“Lumayan,” Wanda mengangguk, “aku boleh pindah duduk di dekat kamu, ya.”

Sebelum diiyakan, Wanda sudah duluan beranjak ke sebelah Keenan. Di bangku panjang itu, Wanda leluasa menumpangkan setengah tubuhnya, dan tanpa ragu lengannya langsung melingkar memeluk pinggang Keenan.

Saat itu juga Keenan langsung merasa tubuhnya berubah kaku. Risi dengan posisi Wanda yang tahu-tahu menempel seperti anak kanguru.

“Ehm. Maksud saya, kalau memang kamu kedinginan, kamu bisa pakai jaket saya,” ujar Keenan kikuk.

“Never mind. Begini lebih hangat,” sahut Wanda seraya mempererat pelukannya.

Keenan kehilangan argumen. Namun, poros tubuhnya tetap tegang pertanda tak nyaman.

Wanda mulai merasakan sinyal itu. Pelukannya pun melonggar. “Are you okay? Kamu risi ya kalo pacaran di depan umum?”

Seketika Keenan melepaskan lengan-lengan Wanda yang membelit tubuhnya. “Wanda, sori banget. Saya nggak mau kamu salah paham. Tapi … rasanya, kita belum pernah sepakat untuk pacaran,” ucapnya hati-hati.

Air muka Wanda langsung berubah. Tubuhnya beringsut menjauh. “Well … nggak semua pacaran harus dimulai dengan proses nyatain, kan? Aku pikir, selama ini kita berdua … memang ….” Kalimat Wanda mulai tersendat, matanya berkaca-kaca. “Have I been embarassing myself? Jadi … kamu … nggak suka sama aku?”

“Bukan gitu,” sergah Keenan cepat, “gimana mungkin saya nggak suka sama kamu? Kamu baik, kamu perhatian, kamu banyak banget bantuin saya … tapi, memangnya kita harus langsung pacaran?”

Bibir Wanda kontan mengatup, rahangnya tampak mengeras. “Nan, aku udah kerja keras untuk kamu dan lukisan kamu. Semua ucapan kamu barusan bikin hati aku sakit.”

Mendengar itu, serta-merta Keenan merangsak mendekat. Wanda sampai terlonjak kaget. Tak siap mengantisipasi. Ditatapnya mata Wanda dalam-dalam sambil bertanya, “Selama ini kamu bantu saya karena lukisan saya—atau karena saya?”

Wanda menelan ludah, gugup. Namun, ia berusaha keras mengendalikan kegentarannya. “Keenan, I’m a professional,” desisnya. “Lukisan kamu sangat bagus, prospek kamu luar biasa, bahkan lebih dari yang kamu sadari. Tapi itu semua nggak ada hubungannya dengan perasaan aku.”

Tatapan Keenan yang menghunjam sama sekali tidak berkurang intensitasnya. “Terus, perasaan kamu sendiri gimana?” tanyanya. Tenang dan tajam.

Wanda pun memberanikan diri menentang sorot mata Keenan. Sudah tak bisa mundur, pikirnya. “I’m in love with you,” ia akhirnya berkata. Jelas dan tegas.

Sesuatu terasa bergetar dalam hati Keenan. Tatapan matanya melunak. Lama sudah Keenan berusaha menyelami dua bola mata yang selalu dilapisi lensa kontak berwarna-warni itu, mencari sesuatu yang selama ini belum ia temukan. Ketulusan. Sekalipun masih samar, Keenan merasa ada sesuatu yang barusan muncul dalam diri Wanda. Sesuatu yang belum pernah ia temui sebelumnya. Barangkali, itulah ketulusan yang dicarinya.

“Terus, perasaan kamu sendiri gimana?” Wanda mengulang pertanyaan persis sama yang diajukan Keenan tadi. Bedanya, ia mengutarakannya dengan lebih tenang dan percaya diri.

Giliran Keenan yang menelan ludah.

Cahaya lilin yang kekuningan menerpa wajah Kugy. Kombinasi antara langit malam, remang kafe tenda itu, dan cahaya lilin, membuat ia tampak sangat cantik di mata Ojos yang tak lepas mengamati sejak tadi. Wajah pacarnya itu juga kelihatan sendu. Sorot matanya melayang jauh entah ke mana.

“Mikirin apa, sih?”

Kugy sedikit tersentak. Namun, senyumnya berangsur terbit melihat tampang Ojos yang cemberut. “Kenapa? Aku sering ngelamun, ya? Maaf, ya, Jos. Akhir-akhir ini aku memang lagi agak tulalit.”

“Kamu ada masalah?”

“Nggak,” Kugy menggeleng, “tepatnya, nggak tahu. Perasaanku suka agak aneh aja belakangan ini.”

“Ada hubungannya dengan aku?”

Kugy lama menatap Ojos sebelum akhirnya menjawab, “Nggak.”

“Gy, aku merasa kita kurang banget quality time berdua. Pingin banget deh kita jalan bareng ke mana, liburan kek ….”

“Maksud kamu ke Singapur?” Kugy melengos, “Aku kan udah bilang, aku nggak mau.”

“Nggak …, nggak harus Singapur. Kalo ke Bali aja, gimana?”

“Berdua?”

“Kita bisa pergi rame-rame. Anak-anak di Jakarta pada pingin cabut, kok. Yang jelas, di sana kita berdua bisa bener-bener rileks, have fun—”

“Aku nggak punya uang,” potong Kugy, “tabunganku sih ada, tapi bukan buat liburan. Aku mau nabung beli laptop.”

Tiba-tiba, Ojos meletakkan sesuatu di atas meja. Mata Kugy memicing. Dua lembar tiket pesawat.

“Jos … kamu beliin aku tiket?”

“Nggak ada lagi alasan untuk kamu ngomong nggak. Oke?” tegas Ojos dengan senyum mengembang.

“Memangnya—mau berangkat kapan?”

“Kita berangkat awal bulan depan. Cabut hari Jumat, pulang Minggu. Nanti aku langsung antar kamu ke Bandung pakai mobil. Pokoknya semua beres, aku yang arrange. Kamu tinggal bawa tas sama badan doang.”

Kugy menghela napas. Dilihatnya ekspresi Ojos yang sangat berharap. Tak habis akal, Ojos lantas mengambil tiket itu dari meja lalu menempelkannya di jidat. Memasang muka memelas seperti anak anjing hilang induk. “Please, Gy? Wuf … wuf … wuf ….”

Kugy pun tertawa, dan mengangguk.

Hampir tengah malam saat sedan hitam itu kembali memasuki halaman parkir hotel di daerah Ciumbuleuit tempat Wanda menginap. Keenan menemaninya berjalan hingga ke lobi. Perapian yang menyala di sana tampak mulai menyurut apinya. Sofa-sofa kosong tanpa tamu. Piano grand hitam yang semalaman tadi berdenting pun sudah terkunci.

“Kamu ke kamar aja duluan. Saya tunggu di sini. Bentar lagi taksi saya juga datang,” kata Keenan.

Wanda menggeleng. “Aku mendingan kedinginan di sini, daripada kehilangan momen sama kamu,” ujarnya pelan.

“Lain kali, ingat-ingat kalo ini Kota Bandung. Pakai rok mini malam-malam gini hanya disarankan bagi yang udah kebal dan terlatih nahan angin kayak bencong di Jalan Veteran.”

“Kamu tuh, kok nggak romantis banget sih sama aku,” rajuk Wanda manja, “masa aku malah disamain sama bencong?”

“Lho, siapa yang nyamain?” Keenan tergelak pelan, “Cuma ngingetin aja, lain kali kamu lebih baik pakai celana panjang, bawa jaket atau sweater.”

“Lain kali itu kapan?” pancing Wanda lagi.

Keenan pura-pura berpikir dengan muka jahil. “Mmm. Malam Minggu depan?”

Wanda langsung berseri-seri. Kakinya berangsur maju, kedua tangannya lantas digantungkan di leher Keenan, “So, kita—pacaran?”

Keenan tersenyum simpul. Lembut, ia menarik lepas tangan Wanda, mengecup jemarinya pelan. “Kita jalani pelan-pelan, ya.”

Meski api perapian berada beberapa meter di belakang, tampak jelas mata Wanda berbinar benderang. Dinginnya malam bahkan sirna. Seluruh tubuhnya dijalari hawa bahagia yang terasa begitu hangat.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.