Baca Novel Online

Perahu Kertas

Keenan melukis dan melukis, hingga pagi tiba.

 

15.

MENCARI KETULUSAN

Pukul dua siang. Lazimnya, kos-kosan baru kembali berpenghuni setelah sore. Eko tidak kaget melihat betapa sepinya tempat kos itu, apalagi penghuninya memang cuma lima orang. Yang aneh justru ketika salah satu penghuni di kosan itu malah ada di tempat. Bahkan sudah berhari-hari tidak muncul di kampus sama sekali.

Pintu kamar itu dibukakan dari dalam. Keenan berdiri di hadapannya, masih dengan rambut acak-acakan dan mata setengah terbuka.

“Gile. Baru bangun lu?”

“Hmm,” Keenan menggumam, lalu kembali mengempaskan tubuhnya ke tempat tidur.

“Kata Bimo udah beberapa hari ini lu nggak kuliah. Kenapa bisa gitu, Bos?”

Tangan Keenan menunjuk ke arah kanvas.

“Wow. Lukisan baru? Ck-ck-ck … sadis. Lukisan keren gila,” Eko berdecak kagum.

“Yang itu belum selesai ….”

“Wah. Lukisan belum selesai yang keren gila,” Eko cengengesan. “Anyway, gua datang ke sini sebetulnya sebagai pengantar pesan dari Wanda yang udah beberapa hari ini nyariin elu. Dia bilang, dia punya kabar superpenting buat lu, tapi lu nggak bisa dihubungi. Dia juga bilang, udah saatnya lu punya HP. Dan, sore ini Wanda bakal datang ke Bandung khusus buat nemuin lu.”

“Ada apa, ya?”

Eko mengangkat bahu. “Mana gua tahu. Tapi kayaknya penting banget. Jadi, siang ini gua nganterin lu ke toko HP, oke?”

“Ogah,” Keenan menjawab dengan suara berkumur karena mulutnya masih membenam di bantal.

“Dasar seniman gaptek. Di era milenium ini, sungguh absurd adanya kalo lu nggak punya HP.”

“Males. Belum butuh.”

“Anyway yang kedua: lu sebetulnya udah jadian belum sama Wanda?”

Kali ini Keenan melepaskan mukanya dari bantal. Perlahan, ia duduk tegak di atas tempat tidur.

“Oke, oke. Gua ralat pertanyaan gua. Sebetulnya, lu suka nggak sih sama dia?” Eko bertanya lagi.

“Gua sebetulnya lebih tertarik dengan … kenapa lu bisa tahu-tahu nanya gitu?” Keenan bertanya balik.

“Well, udah hampir lima bulan kalian kenal dan jalan bareng. Jelas-jelas kalian nyambung. Jelas-jelas dia selalu bela-belain nemuin lu, bahkan dialah orang yang paling berjasa buat karier lu. Dan jelas-jelas … dia … Wanda, gitu! Kurang apa lagi sih cewek satu itu? Cowok sehat mana yang nggak ngiler ngacak-ngacak tanah lihat dia?” tutur Eko berapi-api. “Sooo?”

“So—what?” Keenan menyahut polos.

Kening Eko kontan berkerut. “Nan, udah saatnya lu jujur sama gua. Are you straight?”

Keenan tergelak pelan, “Terakhir gua cek sih iya.”

“Harus ada sesuatu yang nggak beres kalo lu sampe nggak suka sama Wanda.”

“Gua bukannya nggak suka. Sama sekali gua nggak ada masalah dengan Wanda. Dia baik, pintar, dewasa, dan lu bener, untuk urusan seni, gua ngerasa nyambung banget. Dia juga banyak bantu gua. Gua sadar itu. Urusan cantik? Nggak usah diperdebatkan. Orang buta juga mungkin tahu kalo dia cantik. Tapi … untuk jadian …,” Keenan menghela napas, “nggak tahu, ya. Ada sesuatu tentang dia yang gua belum yakin.”

Eko menatapnya tak percaya. “Man! Kalo ternyata lu bukan gay, lu adalah cowok hetero yang sangat nggak tahu diri! Nan, udah berapa malam Minggu dia yang datang ke Bandung ngapelin lu? Lu bertapa di gua beruang berapa hari doang aja, dia yang bela-belain nyusulin. Apa yang bikin lu nggak yakin, sih?”

Keenan menggeleng, “Nggak tahu. Pokoknya ada sesuatu yang rasanya belum … pas.”

Eko mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. “Nyerah, deh. Nyerah!” ia pun bangkit berdiri, “Yang jelas, kalo lu ternyata nggak punya feeling sama dia, jangan juga lu ngegantungin, apalagi ngasih harapan. Nggak fair buat Wanda.”

Siang itu, akhirnya Keenan pergi makan ditemani sepupunya. Mereka tak lagi membahas masalah tadi. Namun, sepulangnya Eko, barulah Keenan termenung di kamarnya. Akibat pembicaraan itu, ia jadi terpicu untuk merenungkan lebih dalam perihal hubungannya dengan Wanda. Untuk pertama kalinya Keenan dipaksa berhadapan dengan perasaannya.

Malam itu, Wanda memberanikan diri untuk pergi ke tempat Keenan sendirian tanpa dipandu Eko dan Noni. Sepanjang jalan, ia berharap-harap cemas tidak tersasar. Dan akhirnya ia berhasil. Wanda tersenyum sendiri saat tiba di depan pintu gerbang tempat kos Keenan. Tak sabar rasanya ia mengumumkan kabar baik itu.

Tak lupa, Wanda mengecek bayangannya di kaca sebelum masuk. Bajunya kali ini serba merah, dengan rok jins mini yang memamerkan tungkainya yang jenjang. Riasannya masih sempurna. Semuanya tampak beres.

Diketuknya pintu itu hati-hati. “Keenan? It’s me. Wanda,” panggilnya merdu.

Beberapa detik kemudian, pintu itu terbuka. Keenan, yang mengenakan kemeja putih dengan wajah bersih sehabis mandi, menyambutnya dengan senyum lebar. Napas Wanda sontak tertahan.

“Hai, Wanda. Kamu cantik banget,” puji Keenan tulus.

Wanda tersipu, senyum senangnya tak bisa dibendung. “You look very handsome as well,” ucapnya malu-malu.

“Dan kalo digabung, kita berdua kayak bendera. Siap dikerek,” Keenan tertawa renyah, “masuk, yuk. Saya ada kejutan buat kamu.”

Wanda memekik kecil, “Kejutan buatku?”

Keenan tak menjawab. Ia hanya menangkupkan kedua tangannya di atas mata Wanda, lalu mengarahkan langkah gadis itu ke hadapan kanvas. Setelah itu, barulah Keenan melepaskan tangannya.

Lama Wanda mematung. Menatap lukisan di hadapannya tanpa berkedip.

“Kamu suka? Baru banget saya selesaikan.”

“Nan … this is it,” bisik Wanda, “this is the real YOU.”

“Maksud kamu?”

Wanda memegangi dadanya yang sesak oleh rasa kagum, “Oh, gosh. Papi pasti akan berkomentar lain kalau lihat lukisan kamu yang ini ….”

“Memangnya Papi kamu sempat berkomentar apa soal lukisan saya?”

“Oh, nggak, Papi suka lukisan kamu, tapi Papi bilang kamu masih harus menggali potensi kamu lagi untuk menemukan … apa, ya?” Wanda langsung kelihatan gelisah, “Mmm … your signature. Your ‘X’ factor. Sesuatu yang benar-benar menjadi kekuatan kamu. Dan menurutku, kamu menemukannya di lukisan ini.”

“Kamu kok nggak pernah cerita soal itu?”

Cepat Wanda mengutas sebuah senyum lalu menggenggam tangan Keenan, “Well, aku punya kabar yang lebih penting lagi buat kamu. Ready?”

Keenan mengangguk.

Kaki Wanda pun berjinjit, dan ia berbisik tepat di kuping Keenan, “Lukisan kamu di Warsita … laku terjual. Empat-empatnya.” Di tangan Keenan, Wanda menyelipkan selembar cek atas nama Galeri Warsita.

Kali ini Keenan yang mematung lama. Berusaha mencerna kata-kata Wanda yang rasanya sangat sulit dipercaya. Keenan mengulang-ulang kalimat itu dalam hatinya. Lukisannya … empat-empatnya … laku terjual. Ia tahu betul apa artinya itu. Tak ada yang bisa mengukur kebahagiaan yang ia rasakan. Langkah terakhir menuju impiannya terwujud sudah.

Perlahan, Keenan melepaskan jemarinya yang digenggam Wanda. Sebagai ganti, ia mendekap Wanda sepenuh hati. “Makasih untuk kesempatan yang kamu kasih,” desisnya, “saya nggak bisa bilang apa-apa lagi.”

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.