Baca Novel Online

Perahu Kertas

Keenan pun menghela napas panjang. Tersadar bahwa napasnya sedari tadi ikut tertahan karena terhanyut cerita Kugy. “Kamu hebat,” decaknya, “itu memang keajaiban. Saya bisa merasakan, anak-anak tadi nyaman banget dengan diri mereka sendiri. Kamu berhasil memancing karakter mereka keluar. Mereka jadi percaya diri, punya harga diri. Punya kebanggaan.”

Kugy menggeleng, “Mereka yang hebat. Aku cuma saksi mata yang kebetulan numpang lewat. Nggak tahu Sakola Alit bisa bertahan di sini sampai kapan. Tapi aku merasa bersyukur banget punya kesempatan ini.”

Keenan menatap kilauan di bola mata Kugy. Dan Kugy menatap balik kedua mata jernih itu tanpa ada rasa jengah. Lama mereka terdiam. Hanya angin yang berbunyi lewat gemerisik daun. Hanya serangga-serangga pohon yang terdengar bersahut-sahutan. Mereka berdua hanya saling menatap tanpa suara.

“Saya kehilangan kamu,” ucap Keenan akhirnya, nyaris berbisik.

Kugy merasa matanya akan berkaca-kaca, seiring dengan arus perasaan yang begitu kuat, yang seolah hendak menjebol dadanya. Dan, sungguh, ia tidak tahu harus merespons apa. Sorot mata Keenan seperti merenggut semua perbendaharaan kata di benaknya. Akhirnya, Kugy memilih untuk menunduk.

“Sesama agen harus saling mendukung. Sebentar lagi kamu bakal jadi pelukis profesional. Waktu aku di Warsita, aku sempat dengar Wanda cerita. Dia bilang, kalo kamu memang ingin serius jadi pelukis, kamu harus meluangkan waktu banyak untuk nambah koleksi lukisan kamu. Terus, kamu harus pameran, keliling-keliling. Kamu nggak akan sempat lagi gambar di bawah pohon seperti begini,” tutur Kugy dengan nada yang dibuat setenang mungkin, “perjalananku masih panjang dibanding kamu. Kamu sudah ketemu orang yang bisa mendukung impian kamu,” Kugy mulai merasa kata-kata itu membebani mulut, tapi ia harus tetap mengucapkannya, “cita-cita hidup kamu lebih penting dari apa pun. Kita ini punya misi, Nan. Makanya kita dikirim ke sini oleh Neptunus. Dan sebentar lagi kamu berhasil. Jangan sampai rusak di tengah jalan hanya gara-gara kita cuma menuruti keinginan sendiri doang,” Kugy menelan ludah, tak tahu harus bilang apa lagi, “yang namanya bus satu perusahaan itu tidak boleh saling menyalip.”

Tiba-tiba Kugy merasa dagunya diangkat. Kembali menemukan tatapan Keenan yang menembus jantung.

“Gy, saya nggak ngerti kamu ngomong apa,” ucap Keenan lembut, “makasih kamu udah mau ngertiin soal impian saya, cita-cita saya, dan kesempatan yang sekarang ini sedang datang untuk saya. Tapi di luar itu semua, saya kehilangan kamu. Kamu menghilang akhir-akhir ini.”

Halus, Kugy menjauhkan wajahnya, hingga genggaman jari Keenan di dagunya lepas. “Aku nggak ke mana-mana, kok,” jawab Kugy lirih sembari mengusahakan sebuah senyum, “sekarang kamu tahu di mana markasku. Tinggal cari aku di bawah pohon ini.”

Terdengar suara langkah kaki mendekati mereka. Ami muncul dari arah belakang. “Gy, Nan, pulang, yuk? Mumpung Bimo masih nungguin di depan. Kita sesak-sesakan aja berlima kayak pindang,” ajak Ami sambil terkekeh.

“Yuk!” Kugy bangkit berdiri.

Tahu-tahu tangan Keenan menahannya. “Saya dan Kugy pulang naik angkot, Mi. Kalian duluan aja pakai mobil Bimo. Jadi nggak perlu kayak pindang. Oke?”

“Yakin?” tanya Ami lagi. Dilihatnya kontras antara Keenan yang tampak yakin dan Kugy yang ragu. Sebetulnya Kugy sudah ingin protes, tapi genggaman tangan Keenan yang mencengkeram kuat di pergelangannya seperti mengisyaratkan dia untuk diam di tempat.

“Yakin. Kita naik angkot aja,” Kugy akhirnya bersuara. “Dah, Ami!”

Setelah bayangan Ami menjauh, Keenan melepaskan genggamannya. “Sebagai upah kamu ngilang, hari ini saya mau seharian booking kamu.”

“Coba kontak ke manajer saya dulu, namanya Mami Noni. Mumpung sekarang lagi low-season, jadi bisa dapat harga murah,” Kugy nyengir sambil mendorong bahu Keenan pelan.

Sisa hari itu mereka habiskan di jalan, bersama-sama. Mereka berjalan-jalan ke toko buku, iseng-iseng ke Kebun Binatang di Taman Sari, ngopi sore di Jalan Dago, hingga akhirnya Keenan mengantar Kugy pulang ke kosannya.

Di depan gerbang besi bercat putih itu mereka berdua berdiri. Langit mulai gelap dan lampu-lampu di taman depan mulai menyala. Sahut-sahutan serangga malam lamat-lamat terdengar.

“Kecil, saya pulang dulu, ya. Hari ini sangat, sangat menyenangkan. Makasih untuk semuanya,” ucap Keenan. Nadanya terasa berat. Kakinya terasa berat untuk bergerak.

“Sebagai bonus sudah booking aku seharian ini, aku ada kenang-kenangan untuk kamu,” Kugy menyerahkan buku lecek berisikan kisah petualangan Pilik.

Keenan tampak terkejut menerimanya. “Gy … tapi ini harta karun kamu ….”

“Nggak pa-pa. Buku itu udah habis. Aku lagi nulis di buku baru.”

“Tapi … masa buku yang lama ini dikasih ke saya?” Keenan masih tak percaya.

“Cuma itu yang bisa aku kasih. Aku juga seneng banget hari ini,” ucap Kugy berseri-seri.

Serta-merta lengan Keenan terentang, dan Kugy terpana ketika ia sudah ada dalam rengkuhan Keenan. Sejenak sekujur tubuh Kugy kaku bagai papan. Matanya pun masih membelalak. Pikirannya bertanya-tanya, apa gerangan yang terjadi? Hingga perlahan panas tubuh Keenan mulai merambat, mencairkan otot-otot Kugy yang tadi terkunci, memejamkan kelopak matanya yang tadi terbuka, dan dengan segenap hati ia mulai meresapi bahwa dirinya sedang dipeluk.

Beberapa detik kemudian, pelukan itu melonggar, lalu lepas. Keenan tersenyum samar dan mengacak rambut Kugy sekilas. Mulai salah tingkah. “Kamu baik-baik, ya, Kecil,” gumam Keenan. Cepat, ia membalikkan punggung dan pergi.

“Kamu juga,” Kugy menggumam balik. Tidak yakin Keenan mendengar suaranya atau tidak. Namun, ia yakin degup jantungnya terdengar saat tubuhnya direngkuh oleh Keenan tadi, sebagaimana ia juga mendengar degup jantung Keenan.

Di bawah sinar lampu mejanya, Keenan membuka buku tulis pemberian Kugy. Berderetlah tulisan tangan kecil-kecil dan rapi seperti dicetak. Ia membaca kisah demi kisah. Tergelak-gelak sendiri. Tulisan Kugy mampu menghadirkan pertunjukan sinema di otaknya, yang memutar alur cerita dan menghidupkan tokoh-tokohnya seolah mereka semua mewujud nyata. Keenan tak bisa berhenti membaca.

Perhatiannya tahu-tahu tertumbuk pada coretan tangan Kugy. Keenan tak bisa menebak makhluk apa itu yang berusaha digambar Kugy kalau saja ia tak melihat tulisan “Hogi” di bawahnya. Di beberapa halaman berikutnya, tampak Kugy mencoba lagi. Menggambar manusia berpeci dengan struktur tak proporsional, dan di bawahnya tercantum keterangan “Somad Sang Pendekar”. Dari guratannya, Keenan bisa membayangkan betapa Kugy berusaha keras untuk menggambar. Ia bisa membayangkan air muka Kugy yang serius, seolah sedang mencipta lukisan mahakarya. Rasa haru tahu-tahu merembesi hati Keenan.

Buku itu pun ditutup. Lalu Keenan menggeser kursinya ke depan kanvas kosong yang stand by di sebelah meja. Sudah lama kanvas itu kosong. Sejak ia pulang ke Indonesia, belum pernah lagi Keenan tergerak untuk membuat lukisan baru. Namun, malam ini ia merasakan dorongan itu. Seolah ada sesuatu yang meminta dijemput olehnya. Apa itu, Keenan tak tahu pasti. Ia hanya memasrahkan tangan-tangannya bergerak, menari dan menoreh di atas kekosongan, hingga sesuatu itu mewujud perlahan di atas kanvasnya.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.