Baca Novel Online

Perahu Kertas

Jemarinya kembali menari di atas tuts telepon, tapi kali ini ia tak lagi melihat daftar yang sudah disusunnya. Ia meneleponi teman-temannya sendiri.

“Pasha, ini gue, Wanda. Gue minta tolong, ya? Gue cuma butuh data lo doang buat customer list gue. Nggak … lo nggak perlu beli lukisan … tapi ceritanya elo yang beli. Boleh, ya, Say? Thanks ….”

“Virna? Dear, would like to ask you for a favor. Gue mau beli lukisan, tapi gue nggak bisa pakai data gue sendiri. Jadi, atas nama lo boleh, ya? Gue cuma pinjam data doang, kok ….”

Dalam waktu singkat, empat lukisan Keenan terjual sudah. Dibeli oleh empat orang yang berbeda. Namun, kesemuanya dibayar oleh satu orang yang sama: Wanda.

 

14.

BUKU HARTA KARUN

Bandung, Juni 2000 …

Jip CJ-8 yang dikendarai Bimo dan Keenan berhenti di sebuah puskesmas kecil yang punya parkiran cukup untuk satu mobil.

“Gila, ini sih tempat gua biasa pergi off-road sama anak-anak klub,” celetuk Bimo sambil mengedarkan pandangan. Matanya berhenti di satu bukaan jalan. Sempit dan curam. “Kata Ical, kita ikutin jalan ini, kira-kira setengah jam, terus nanti ada masjid. Ical nunggu kita di sana,” ujarnya seraya sesekali menyibak dedaunan bambu yang menggempur mereka dari kiri-kanan.

Di kepalanya, Keenan membayangkan si kecil Kugy yang menempuh jalan ini setiap harinya demi mengajar. Hatinya mendadak terenyuh.

Di masjid yang dimaksud, Ical sudah menunggu mereka. Dan mereka berjalan kaki lagi menuju ladang cabai tempat saung mereka mengajar. Tak lama, mereka tiba di sebuah saung bambu. Ada Ami yang langsung menyambut Keenan dan Bimo.

“Itu tempat gua ngajar,” Ical menunjuk saung kecil yang terletak di tengah bukit. “Kugy ngajar di sana,” tangan Ical lalu menunjuk pohon beringin besar yang di bawahnya terdapat sepuluhan anak lesehan di atas tikar.

Dari kejauhan, Keenan bisa melihat siluet Kugy yang memunggunginya. Tangan kecilnya bergerak-gerak lincah seperti sedang memperagakan sesuatu.

“Kita nggak ada ikatan apa-apa, lho, Nan. Karena ceritanya kamu pengajar tamu, kapan pun kamu mau ngajar, kamu bisa datang. Tidak ada keharusan waktu atau apa pun,” Ami menjelaskan.

“Anak-anak ini semangat banget pingin belajar gambar, tapi kita satu pun nggak ada yang bisa. Asal lu muncul sekali-sekali aja, mereka pasti udah senang,” Ical menambahkan.

“Saya ngajar di kelas siapa dulu, nih?” tanya Keenan seraya menyandangkan ransel berisi peralatan gambar yang sudah ia bawa.

Ical dan Ami saling berpandangan. “Bebas. Terserah kamu aja,” jawab Ami.

“Saya ke sana dulu, ya,” Keenan menunjuk ke arah pohon beringin. Tempat yang paling ingin ia datangi sejak tadi.

Keenan muncul tepat saat Kugy sedang beraksi sebagai domba Garut siap ngamuk yang ceritanya akan dikalahkan oleh Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Masih dalam posisi menungging dengan kedua tangan membentuk tanduk, Kugy terpaku saat mengenali ransel marun berinisial “K” yang tahu-tahu muncul di depan mukanya. Sepasang sepatu yang ia kenal. Kedua tungkai kaki yang rasanya tak asing. Cepat-cepat, Kugy berdiri, mendapatkan Keenan yang tersenyum simpul sambil membuat tanda antena dengan kedua jarinya.

“Agen Keenan Klappertaartmania siap beroperasi,” sapa Keenan dengan posisi tegap seperti perwira.

“Kata sandi?” tanya Kugy. Mukanya serius.

“Pisang susu.”

Kugy tampak berpikir keras. “Hmm. Baiklah. Silakan bergabung.” Mukanya berubah cerah seperti biasa, “Anak-Anaaak! Kita kedatangan guru tamu. Namanya … Kang Keenan!”

Keenan mengernyit. Nama itu terdengar aneh di kupingnya.

“Rangginang16?” Seorang anak berceletuk, disambut pekik tawa yang lain.

“Eh, Pilik. Kamu belum tahu Kang Keenan ini bisa apa. Dia bisa gambar apa saja yang kalian mau—dalam waktu tidak lebih dari satu menit!”

Keenan mengernyit lagi.

“Satu menit teh sakumaha17?” Pilik bertanya kembali.

“Satu menit itu enam puluh detik. Jadi kalian harus berhitung satu sampai enam puluh, bareng-bareng semuanya. Yang belum bisa, ikuti saya. Tapi semua harus ikut menghitung. Siaaap?”

“SIAAAP!” Anak-anak itu menjawab serempak.

“Kalian mau dibuatkan gambar apa, ayo?” Keenan bertanya seraya bersiaga di samping kertas besar dan spidol yang sudah berdiri tegak di atas sandaran kayu yang ia bawa.

“Gambar si Hogi!” seorang anak berteriak.

Keenan mengernyit untuk yang ketiga kali. “Apa tuh ‘Hogi’?” bisiknya pada Kugy.

“Ayam jago, besar, hitam, pokoknya ganteng. Oke?” Kugy lalu beralih lagi pada murid-muridnya, “Siap berhitung, barudak18! Satu … dua … tiga … empat … lima …”

Beramai-ramai mereka menghitung sampai enam puluh. Di hitungan keempat puluhan, Keenan sudah ongkang-ongkang kaki. Gambar ayam pesanan mereka sudah siap.

Tercenganglah anak-anak itu melihat gambar ayam yang tampak hidup muncul di hadapan mereka dalam waktu singkat. Mereka bersorak-sorai kesenangan. Langsung terlontarlah bertubi-tubi permintaan berikutnya untuk Keenan.

“Gambar robot!”

“Gambar pesawat!”

“Gambar Pak Somad!”

Seharian itu Keenan meladeni permintaan mereka. Tiap gambar selalu disambut cengangan kagum dan sorak-sorai. Hari itu, kehadiran Keenan di tengah mereka bak seorang superstar di antara para pemuja. Gambar-gambar yang ia buat terpaksa dibagi-bagikan untuk mereka bawa pulang. Dan mereka menerimanya dengan bangga seolah baru mendapat tanda tangan dari bintang film terkenal.

“Kang Keenan sering-sering datang, ya?” pinta Pilik sambil memasukkan gulungan gambar dari Keenan ke dalam tasnya yang terbuat dari karung bekas tepung terigu. “Nanti bikinin gambar saya sama Pasukan Alit.”

Keenan tak sepenuhnya paham apa yang dimaksud Pilik, tapi tak urung ia mengangguk.

“Oh, ya. Saya Jenderal Pilik. Tong hilap19!” Pilik membusungkan dadanya lalu menjabat tangan Keenan dengan mantap. Ia lantas berlari-lari kecil menyusul teman-temannya. “Pasukaaan … dagoan euy20!”

Keenan menoleh ke arah Kugy. “Saya nggak ngerti, entah kamu yang selalu berhasil membuat orang-orang jadi kebawa aneh, atau memang kamu selalu berjodoh dengan orang-orang aneh.”

Kugy terkikik. “Anak itu memang ‘ajaib’. Dulu kami sempat jadi musuh bebuyutan. Tapi begitu berhasil kutaklukkan, sekarang malah jadi kompak banget sama aku. Satu kelas juga ikutan kompak, karena mereka semua nurut sama Pilik.”

“Apa rahasianya, Agen Karmachameleon?” Keenan bertanya dengan tampang serius.

Dengan tak kalah serius, Kugy menyambar sesuatu dari dalam tasnya bagaikan menghunus pedang. “Ini rahasianya, Agen Poffertjesmania!” seru Kugy, di tangannya tergenggam sebuah buku tulis lecek.

“Apa itu? Manual Manusia Aneh?”

Kugy langsung duduk di samping Keenan. Matanya berkilat-kilat pertanda semangatnya menyala-nyala. “Lihat, Nan. Ini adalah seri petualangan yang kubuat selama aku mengajar di sini. Tokohnya adalah murid-muridku sendiri. Dulu mereka males banget belajar baca, terus aku bikin perjanjian dengan mereka. Aku janji akan membuatkan dongeng tentang mereka, tapi mereka harus mau belajar baca, supaya nanti mereka bisa baca kisah petualangan mereka sendiri. Dan jadilah ide ini: Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Semua tokoh dalam serial ini aku ambil dari kehidupan mereka sendiri. Nih, ada Hogi si Ayam Pelung Keramat … Palmo si Kambing Nekat … Gogog si Anjing Jago Renang … Somad Sang Pendekar Tanpa Tanda-Tanda ….” Kugy memperlihatkan halaman demi halaman dengan semangat, “anak-anak ini nggak kenal yang namanya Teddy Bear, Barney, atau Elmo. Dan mereka cuma bengong waktu aku kasih tahu soal Snow White, Peter Pan, Red Riding Hood … tapi, begitu aku bisa membuat sesuatu dari dunia mereka sendiri, sesuatu yang mereka kenal, mendadak kayak ada sesuatu yang dihidupkan dalam diri mereka. Seperti ada kebanggaan, harapan, semangat …,” Kugy sampai berhenti mengatur napasnya, “seperti ada keajaiban.”

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.