Baca Novel Online

Perahu Kertas

Bersamaan dengan itu, tampak seseorang yang ikut bergabung, menyalami mereka satu-satu dengan senyuman cantik. Wanda. Mulut Kugy langsung manyun.

Tahu-tahu tangan Kugy ada yang menarik. “Itu ortunya Keenan. Sini, gua kenalin,” kata Eko yang muncul di sampingnya bersama Noni.

“Tante Lena, Om Adri, Jeroen, apa kabar?” Eko menyapa ketiganya.

“Hai, Eko,” sapa Lena sambil memeluk keponakannya, “hai, Noni ….”

“Ini Kugy, Tante. Sahabatnya Noni,” Eko memperkenalkan Kugy yang berdiri di belakangnya.

Lena langsung menoleh ke arah Keenan, “Ooh … ini yang namanya Kugy?”

Ketiga anak itu, plus Wanda, langsung berpandang-pandangan mendengar nada mencurigakan yang terlontar dari ibunya Keenan.

“Keenan cerita banyak tentang kamu, Kugy. Katanya kamu suka menulis cerita, ya?

Kugy nyengir lebar, antara gugup dan senang, “Iya, Tante ….”

“Keenan kagum sekali dengan cerita-cerita buatan kamu.”

Kugy pun kontan berdehem. “Ehm. Dia memang fans saya, Tante. Tapi sayangnya sampai sekarang cuma dia doang yang nge-fans, yang lain nggak … ha-ha ….”

Semua orang di situ ikut tertawa, kecuali Wanda. “Tante, Om, mari saya antar keliling,” ajaknya sambil menarik lengan Keenan hingga semua orang terpaksa ikut bergerak. Mata Kugy tak bisa lepas dari kuku-kuku bercat perak yang melingkar erat di lengan Keenan bagaikan rantai besi.

Tibalah mereka di depan empat lukisan Keenan yang sudah terbingkai indah dan tergantung rapi di panel. Keempatnya tampak berkilau disorot oleh lampu halogen. Terdengar suara Lena yang tercekat, dan mata itu berkaca-kaca. Sementara suaminya hanya berdiri bergeming. Seketika Lena merangkul Keenan dan berbisik, “Ik ben erg trots op jou.15 Mama bangga sekali, vent.”

“Ada agenda apa lagi, ya? Kita harus ke mana lagi sekarang?” tanya ayah Keenan pada Wanda.

Wanda menatapnya bingung. “Mmm … nggak ada apa-apa lagi, Om. Silakan saja lihat-lihat. Mungkin Om dan Tante mau minum? Kita ada teh, wine ….”

“Maaf, saya nggak bisa terlalu lama,” ujar ayah Keenan lagi, “Lena, lima belas menit lagi kita jalan, ya?”

“Mama bisa pulang dengan saya. Kalau Papa mau duluan, silakan saja,” sambar Keenan.

Ada ketegangan yang seketika merembet dan menginfeksi semua.

“Jeroen, kamu nanti ikut saya?” tanya ayahnya.

Jeroen tampak gelagapan, “Mmm … aku mau jalan-jalan sama Mas Eko dulu, Pa.”

Suasana tak nyaman itu diselamatkan oleh seorang pelayan yang hadir di antara mereka dan menawarkan makanan dan minuman. Eko, Noni, Kugy, dan Jeroen langsung menyibukkan diri dengan kegiatan mengunyah.

“Kamu duluan saja, Dri. Aku nanti ikut Keenan,” Lena berkata pada suaminya, “aku mau lihat-lihat lebih lama di sini.”

“Naik apa kalian nanti? Memangnya Keenan ada kendaraan?”

“Nanti pakai mobil saya, Om,” Wanda cepat menimpali.

Kunyahan Kugy langsung berhenti mendengar itu.

“Oke. Terserah kalian,” kata ayahnya singkat. Tak lama, ia benar-benar berlalu dari tempat itu.

Meski Keenan berusaha bersikap wajar, semua yang di sana merasakan perubahan sikapnya. Seolah ada awan mendung yang menggantungi Keenan dan tak kunjung-kunjung pergi, bahkan hingga acara sore hari itu selesai.

Wanda tak langsung beranjak sesudah mengantar ibu dan adik Keenan pulang. Ia dan Keenan duduk di beranda depan, di bawah pergola yang beratapkan tanaman merambat Mandevilla dengan bunga-bunga putih yang menjuntai, bertemankan dua gelas air yang sedari tadi tak mereka sentuh.

“Papa kamu nggak setuju kamu melukis, ya?” tanya Wanda memecah keheningan.

Keenan menggeleng. “Dari kecil, yang saya suka cuma melukis. Tapi, nggak tahu kenapa, Papa kayak alergi sama segala sesuatu yang ada hubungannya dengan lukisan. Mama juga dulu pelukis, tapi sejak menikah Mama berhenti. Papa nggak kepingin saya tinggal terus di Amsterdam karena takut saya jadi seniman. Papa pikir dengan saya kuliah Manajemen, hobi melukis bisa hilang dengan sendirinya. Tahunya ….”

“Kamu malah ketemu aku,” Wanda menyambung.

Keenan menghela napas. Getir. “Dan ketika lukisan saya bisa masuk ke galeri seperti Warsita, saya yakin Papa shock. Mungkin dia merasa terancam.”

“Papa kamu pasti punya bisnis sendiri, ya?”

“Iya, dia punya perusahaan trading, ekspor-impor. Dia bangun semuanya sendiri dari nol. Kok, kamu tahu?”

“Papiku juga sama. Dan aku anak tunggal. I know the pressure,” Wanda tersenyum, “untungnya, aku suka dengan bisnisnya Papi. Dan aku pingin banget serius di bisnis seni. Tapi tetap saja, aku juga harus kerja keras membuktikan sama Papi dan Tante Rani kalau aku sanggup ikut menjalankan Warsita.” Perlahan, Wanda meletakkan tangannya di atas tangan Keenan, “Kita sebetulnya senasib,” ucapnya setengah berbisik. “Nan, kalau boleh aku tahu, apa yang sebenarnya paling kamu inginkan?”

Keenan menoleh, menatap Wanda lekat-lekat. “Menjadi diri saya sendiri,” jawabnya tegas. “Begitu ada kesempatan, saya nggak takut ninggalin ini semua. Satu-satunya yang bikin saya bertahan cuma karena saya masih bergantung pada Papa. Saya belum mandiri.”

“Dengan melukis, kamu bisa mandiri. Aku yakin sama kemampuan kamu. Cuma masalah waktu.”

Keenan tersenyum sekilas. “Yah, berarti tinggal tunggu siapa yang mau beli lukisan-lukisan itu, kan?”

“You’re absolutely right,” Wanda mengangguk. Ia lantas terdiam dan matanya menerawang, tapi otaknya berputar keras memikirkan sesuatu.

Sekembalinya dari rumah Keenan, semalaman Wanda terbaring di tempat tidurnya. Berpikir dan berpikir. Tersusunlah sebuah rencana yang akan ia jalankan secepatnya. Wanda tak sabar menunggu pagi tiba.

Dari pukul setengah sepuluh pagi, Wanda sudah tiba di galeri. Menelusuri daftar panjang jaringan kolektor dan pelanggan Warsita, menandai sederet nama. Jemarinya yang lentik mulai menari-nari di atas tuts telepon, menghubungi nama-nama itu satu per satu.

“Om Halim? Ini Wanda, Om. Katalog Warsita yang baru sudah diterima? Di bagian belakang ada koleksi dari pelukis baru, namanya Keenan, sudah sempat dilihat? Iya, dia memang masih baru, Om. Tapi prospeknya bagus, kok ….”

“Apa kabar, Tante Lien? Ini Wanda dari Warsita. Dari katalog baru kita, kira-kira sreg sama yang mana, Tante? Kalau aku sih rekomen pelukis baru, yang namanya Keenan, ada di bagian belakang. Mmm. Belum, Tante, dia belum pameran, tapi ….”

Seharian, Wanda dengan tekun meneleponi satu-satu orang yang ada dalam daftarnya, hingga akhirnya ia menyerah. Tak satu pun dari mereka yang tertarik untuk berinvestasi pada lukisan Keenan. Alasannya semua sama, Keenan masih terlalu muda dan belum punya rekor yang meyakinkan.

Wanda menelaah daftarnya sekali lagi. Semua orang yang ia kontak adalah pemain-pemain lama yang sudah terbiasa mengoleksi lukisan pelukis ternama. Barulah Wanda menyadari tantangan yang dimaksud ayahnya. Ayahnya benar. Galeri Warsita bukanlah tempat yang cocok untuk lukisan Keenan, setidaknya untuk masa sekarang ini. Wanda menggigiti bibirnya, otaknya pun berputar lagi. Ia harus mengubah strateginya.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.