Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Ngapain, Gy?”

Kugy terlonjak kaget mendengar suara yang tiba-tiba muncul dari belakang.

“Eh, si Ical. Gua pikir Pak Somad lagi razia saung,” Kugy terkekeh, “gua lagi iseng-iseng bikin ilustrasi. Tapi gagal total.”

“Ya, kata Ami, metode dongeng lu sukses berat,” puji Ical, lalu matanya melirik coretan tangan Kugy, “tapi jangan dipaksain pakai gambar, deh.”

Kugy tergelak. “Untuk soal satu itu, gua tahu diri, kok. Gambar ayam purbakala ini cukup gua, lu, dan Tuhan aja yang tahu.”

“Gua punya teman, jago banget ngegambar. Mungkin dia bisa sekali-sekali kita undang jadi guru gambar di sini.”

“Anak Seni Rupa? ITB?”

“Bukan. Anak kampus kita, kuliah di Manajemen. Dia satu kos sama Bimo, sobat gua.”

Jantung Kugy seketika seperti ditusuk.

“Nanti gua coba hubungi lewat Bimo, deh. Siapa juga yang nggak terketuk hatinya lihat gambar lu itu, Gy,” ujar Ical geli.

Kugy ikut tersenyum, tapi senyuman itu sudah berubah masam. Sepertinya ia tahu siapa yang Ical maksud. Susah payah ia berlari, menghindar, dan menenggelamkan diri dalam dunia baru ini. Tiba-tiba saja, orang itu akan diundang lagi untuk bergabung. Kalau sampai itu terjadi, Kugy tak tahu harus lari ke mana lagi.

 

13.

RENCANA BESAR WANDA

Jakarta, Mei 2000 …

Kugy tidak bisa lari kali ini. Gara-gara pulang ke Jakarta nebeng Fuad yang kini sudah bisa menempuh perjalanan luar kota, Kugy tak bisa menghindar ketika Noni mengajaknya mampir ke Galeri Warsita.

“Apa maksud dan tujuan kita ke sana, sih?” Kugy bertanya setengah protes, “Beli lukisan? Kagak mampu. Lihat lukisan Keenan? Udah sering. Jadi, apa?”

“Ini namanya: support, Sayang. Kita harus menunjukkan dukungan kita pada Keenan. Ini hari bersejarah buat dia,” Noni berpidato, “bayangin, pertama kali lukisannya masuk galeri, eeh … langsung ke galeri besar kayak gitu. Nggak semua pelukis muda bisa punya kesempatan kayak Keenan. Masa kita nggak bangga sebagai sahabat-sahabatnya?”

Meski mukanya kurang rela, dalam hati Kugy setuju dengan semua yang diucapkan Noni. Ia hanya malas menghadapi adegan-adegan yang sekiranya bakal pedas di mata.

“Kita cuma mampir bentar, kan? Ngelihat lukisannya dipajang terus kita pulang?” Kugy memastikan sekali lagi.

Eko sedikit terbatuk, “Jadi gini, Gy. Sore ini akan ada acara high tea di galeri untuk memperkenalkan koleksi barunya Warsita, salah satunya lukisan Keenan. Nanti bakal ada pelukis-pelukis, wartawan, kolektor, kurator ….”

Kugy langsung pucat pasi. “Kalian kok tega, sih! Bilang-bilang, dong! Gua kayak napi buron begini ….”

Kepala Eko langsung menoleh ke belakang. “Lu adalah manusia paling cuek dan pede yang gua tahu. Masa gentar sama acara gitu doang? Bukan acara besar, kok. Kata Wanda, cuma sekitar lima puluh orang yang diundang ….”

“Lima puluh?” Kugy setengah berteriak. “Gua pokoknya tunggu di mobil!”

“Yah … jangan gitu, dong, Gy. Lu kelihatan oke, kok ….”

“Kagak ada!” tukas Kugy. “Kalian aja yang turun, gua tunggu di mobil. Titik!”

Namun, bukan jatahnya Kugy untuk bisa kabur hari ini. Saat Fuad tiba di pelataran parkir galeri, mereka bertiga langsung disambut oleh Wanda dan Keenan yang datang semobil dan juga baru parkir.

“Hi, guys. Thanks ya udah mampir,” Wanda menyapa mereka. Kali ini baju Wanda serba silver, serasi dengan tas, sepatu, dan kuku-kuku. Riasan wajahnya lengkap seperti penyanyi mau pentas.

Kugy melirik bajunya sendiri. Ada sebersit penyesalan di hatinya. Kalau saja ia tahu akan dibawa ke Galeri Warsita dulu, ia pasti akan lebih membenahi dandanannya. Namun, bukan jatahnya untuk tampil siap hari ini. Ia harus pasrah dengan kaus eks-panitia Fun Bike yang sablonannya sudah memudar dan resmi tercantum dalam daftar “calon lap mobil” Ojos yang siap diculik dari lemari pakaiannya setiap saat.

Keenan langsung menghampiri Kugy dengan sumringah, “Hai, Gy. Saya nggak nyangka kamu ikut.”

“Aku juga nggak,” Kugy tersenyum masam. Rasanya ingin ia menciut jadi semut lalu minggat dari situ. Minggat dari Wanda yang seperti artis Ibu Kota siap naik panggung, dari Keenan yang berkemeja rapi dan terlihat sangat tampan, dari pemandangan jemari Wanda yang melingkar di lengan Keenan, dari Noni dan Eko yang tampaknya sangat bangga dengan keberhasilan proyek perjodohan mereka. Namun, bukan jatahnya untuk bisa minggat hari ini.

Di pojokan itu, terdapat meja besar tempat berbagai aneka teh dan minuman dihidangkan, lengkap dengan penganan kecil yang ditata apik di nampan-nampan perak. Di sanalah Kugy bercokol, meminum bercangkir-cangkir teh dan mengenyangkan perutnya dengan kue-kue yang tinggal comot dari tempat ia berdiri.

“Memang kamu nggak boleh dikasih makan gratis, bikin rugi panitia.”

Kugy menoleh, mendapatkan Keenan yang sudah berdiri di sampingnya. “Ini modus operasi standar mahasiswa kurang gizi …,” Kugy menyahut susah payah, mulutnya masih penuh dengan kue.

Keenan menatapnya hangat, “Saya senang kamu bisa datang.”

Kugy mau tak mau tersenyum. Selalu ada kesejukan yang mengaliri tubuhnya tiap kali melihat tatapan itu. “Aku terharu lihat lukisan kamu dipajang tadi. Buatku, lukisan kamu yang paling bagus dari semua yang ada di galeri ini,” ucap Kugy polos, “mmm … tapi aku nggak ngerti apa-apa soal lukisan. Ini sih cuma selera, dan mungkin, yah, karena kamu sahabatku,” tambahnya sambil mesem-mesem.

Keenan balik tersenyum, “Kamu nggak perlu ngerti lukisan untuk suka lukisan. Cukup pakai hati aja.”

Mendengar kalimat Keenan, napas Kugy langsung menghela. “Setuju. Pakai hati saja,” ia pun menimpali pelan.

“Mas Itok nyangka kita putus.”

Teh yang baru diseruput Kugy nyaris tersembur lagi keluar dari mulutnya. “Ha-ha-ha … di jagat raya ini mungkin cuma Mas Itok yang tahu kapan kita jadian. Kita berdua aja nggak tuh ….”

“Sekarang, dia nyangka saya pacaran sama Wanda.”

Tawa Kugy masih berlanjut, tapi berangsur hambar, hingga akhirnya surut sama sekali. “Siapa tahu Mas Itok itu sebenarnya cenayang. Dia bisa melihat apa yang terjadi di masa depan …” Kugy menelan ludah, “Kamu—nggak tertarik pacaran sama Wanda?”

Keenan tak langsung menjawab. Matanya beralih pada Wanda yang berdiri di ujung ruangan dan tampak sibuk berbicara dengan orang-orang. Kugy mengikuti arah mata Keenan. Dan kini mereka berdua menatap objek yang sama.

“Kalo aku jadi cowok …, bego banget kalo nggak suka sama Wanda …” gumam Kugy.

“Mungkin aja cowok sebego itu ada,” gumam Keenan balik.

Darah Kugy terasa berdesir. Ada yang melonjak dalam hatinya. “Jadi … kamu—”

Namun, arah mata Keenan mendadak berubah. “Keluarga saya datang. Sori, saya tinggal dulu, ya, Gy ….”

Kugy terpaksa mengangguk, menelan apa yang ingin ia ucapkan, dan membiarkan Keenan melesat ke arah pintu depan. Matanya ikut mengamati. Kugy sudah pernah melihat keluarga Keenan dari foto, tapi baru kali inilah ia melihat langsung. Ibunya yang orang Belanda tampak lebih cantik dari foto, berbaju serba putih, dengan rambut panjang yang digelung ke atas. Ayahnya menjulang tinggi seperti Keenan, juga tampak gagah dengan jas biru tua yang dipadu dengan jins. Ada seorang anak remaja laki-laki berambut ikal yang ikut bersama mereka, mukanya mirip Keenan tapi dengan kulit lebih gelap. “Jeroen …,” desis Kugy sendirian.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.