Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Makanku tetap sadis, kok.”

“Iya, tapi aktivitas kamu juga gila-gilaan. Kamu harus istirahat. Badan kamu sampai habis, gitu.”

“Bukan. Itu karena anakonda di perutku juga tambah besar ….”

“Gy, aku serius.”

“Jos, I’m okay,” tandas Kugy, “… oke?” Tak lama, Kugy kembali tenggelam dalam bacaannya, dan ruangan itu kembali hening.

“Gy ….”

“Hmm?”

“Kamu butuh liburan.”

“Liburan apa?”

“Kita ke Singapur, yuk. Weekend aja. Omku baru beli apartemen di daerah Orchard. Kita bisa stay di sana.”

“Nggak punya uang.”

“Aku bayarin.”

“Nggak mau.”

“Waktu kamu dari Senin sampai Jumat dihabiskan buat anak-anak itu. Aku cuma minta satu weekend doang. Masa sih kamu nggak bisa kasih?”

“Jos, hari ini malam Minggu, dan aku bareng sama kamu. Apa bedanya?”

“Kamu nggak bareng sama aku,” Ojos berkata pedas, “kamu bareng sama Tolkien!” Dan ia pun bangkit berdiri, meninggalkan ruang itu dan Kugy yang termangu.

Hari Minggu pagi. Tidak biasanya Ojos bangun sepagi itu. Tapi karena dia janji menemui Noni yang rutin lari pagi di Gasibu, Ojos pun dengan terpaksa menyeret badannya untuk menyetir ke daerah Gedung Sate. Nongkrong di dekat penjual minuman sambil menunggu Noni menyelesaikan putaran terakhirnya.

Tak lama, Noni datang menghampiri, langsung menenggak air mineral botol yang sudah disediakan Ojos.

“Hebat banget sih lu, Non. Baru malamnya nonton midnight, kok bisa paginya udah jogging lagi,” komentar Ojos.

“Masih kurang kurus nih, Jos. Dua kilo lagi, deh. Lagi kejar target.”

Ojos melengos. “Apa lagi sih yang mau dikurusin? Dasar cewek-cewek. Nggak ngerti gue. Temen lu tuh yang jadi kurus padahal nggak jogging.”

“Maksud lu—Kugy?”

“Itu dia yang pingin gue tanya sama lu, sampai gue bela-belain bangun nyubuh begini,” air muka Ojos berangsur serius. “Dia kenapa sih, Non?”

“Kenapa memangnya?”

“Lu kan tiap hari ketemu dia. Merasa ada yang aneh nggak, sih?”

Noni berpikir sejenak. “Mmm. Dia memang jarang jalan sama kita akhir-akhir ini. Sibuk sama Ami di Sakola Alit. Tiap hari kayaknya dia kecapean kali, ya. Sama gua aja jadi jarang ngobrol. Kalo ada yang penting-penting doang.”

“Selain Sakola Alit, kira-kira ada faktor lain nggak?”

Noni berpikir lagi, lalu mengangkat bahu.

“Dia …,” Ojos seperti berat mengatakannya, “nggak lagi dekat sama cowok lain, kan?”

Kening Noni kontan berkerut. “Cowok lain? Setahu gua nggak ada.”

Ojos kelihatan menimbang-nimbang, seperti ingin mengungkapkan sesuatu yang lebih berat lagi. “Kalo dengan Keenan … dia nggak—”

Spontan, Noni tergelak, sampai hampir tersedak. “Aduuuh … lu kena sindrom Mas Itok juga ternyata.”

“Siapa tuh Mas Itok?”

“Never mind,” Noni mengibaskan tangannya, “setahu gua, mereka berdua memang dekat, nyambung, tapi nggak ada apa-apa. Keenan malah lagi naksir-naksiran sama sepupu gua yang dari Melbourne itu.”

“Oh, ya? Mereka udah jadian?”

“Belum, sih. Paling bentar lagi,” Noni terkekeh, “gua lho Mak Comblangnya.” Tak lupa ia menambahkan dengan nada bangga.

Informasi Noni terasa membawa sedikit ketenangan bagi Ojos, tapi kecemasan itu tak sepenuhnya hilang. “Gue titip Kugy, ya, Non. Kalau ada ada apa-apa, tolong kabarin gue.”

“Lu tenang aja, Jos. Mungkin Kugy memang lagi fokus banget ke kegiatan barunya itu. Kan dia memang gitu anaknya. Kalo udah suka sesuatu, suka jadi asyik sendiri.”

Namun, ingatan Ojos kembali ke adegan di Stasiun Gambir malam hari itu. Sorot mata Kugy, sorot mata Keenan, dan gaya antena yang seolah-olah merupakan bahasa sandi antara mereka berdua. Dalam hatinya, Ojos yakin ia tak pernah salah. Radarnya tak pernah salah.

Dibutuhkan waktu delapan kali pertemuan untuk meluluhkan hati mereka, murid-murid Kugy yang kini berjumlah sebelas orang itu. Sedikit di antara mereka yang lancar berbahasa Indonesia. Hampir semuanya terus-terusan menggunakan bahasa Sunda. Sementara Kugy sama sekali tidak bisa berbahasa Sunda. Setelah dua minggu, masing-masing pihak mulai saling mempelajari. Kini, anak-anak itu mau lebih banyak memakai bahasa Indonesia, dan Kugy pun diajari secara tidak langsung istilah-istilah Sunda oleh anak-anak itu. Alhasil, bahasa Sunda Kugy yang centang perenang menjadi salah satu hiburan favorit mereka.

Selain menjadikan dirinya sendiri dagelan, Kugy akhirnya menemukan cara lain untuk memotivasi mereka belajar membaca. Awalnya, Kugy membawa setumpuk buku-buku dongeng klasik, termasuk koleksi Donal Bebeknya yang berjubel. Terkaget-kagetlah Kugy ketika mengetahui bahwa anak-anak itu tidak mengetahui sama sekali keberadaan Thumbelina, Putri Salju, Cinderella, Prajurit Timah, dan tokoh-tokoh dongeng klasik lainnya. Donal Bebek dan Mickey Mouse pun hanya sebatas tahu gambar di kaus saja. Dan tersadarlah ia, bahwa dunia kanak-kanaknya dan dunia anak-anak di Sakola Alit sangat jauh berbeda.

Kugy akhirnya membuat perjanjian dengan anak-anak itu, setiap kali mereka berhasil naik tingkat membaca, maka Kugy membuatkan dongeng tentang mereka. Seluruh tokohnya diambil dari masing-masing anak, lengkap dengan ornamen-ornamen pendukung yang ada dalam kehidupan mereka.

“Bu Kugy! Saya mau jadi Jenderal!” Seorang anak mengacungkan tangannya sambil membusungkan dada ketika Kugy pertama kali menceritakan rencananya itu di depan kelas.

Dalam hatinya, Kugy bersorak gembira. Anak itu, Pilik, adalah anak yang paling tua dan disegani di antara murid-murid lain. Usianya sembilan tahun, dan belum bisa baca tulis. Seminggu pertama, Kugy habis dipelonco oleh Pilik. Ia tak berhenti-henti berceletuk, tertawa keras-keras, mengomentari Kugy dengan bahasa Sunda yang tak dimengertinya, dan Kugy sadar sedang diperolok-olok.

Walau sempat mangkel luar biasa, Kugy tahu anak itu sesungguhnya cerdas dan berjiwa pemimpin. Tak heran, Piliklah yang paling bersemangat menyambut ide dongeng Kugy, dengan catatan: ia harus jadi tokoh utama, alias jadi Jenderal.

“Setuju! Jenderal Pilik! Siapa yang mau ikutan lagi?” tanya Kugy pada semua.

Melihat Pilik begitu antusias, yang lain pun langsung ikut mengajukan diri. Maka hari itu, terbentuklah: Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Ada juga Hogi si Ayam Pelung Keramat, Palmo si Kambing Nekat, Gogog si Anjing Jago Renang, dan tokoh-tokoh hewan yang diadopsi dari peliharaan mereka di rumah. Setiap hari sepulang sekolah, Kugy menyempatkan diri bermain bersama mereka di kampung. Dan setiap hari pula, ia menuliskan petualangan mereka dalam sebuah buku tulis. Kendati dengan kemampuan baca yang terbata-bata, anak-anak itu selalu riuh bersorak-sorai dan bertepuk tangan menyemangati satu sama lain ketika mereka bergiliran membaca dongeng mereka sendiri. Sejak hari itu, Pilik menjadi sahabat setianya. Dan Kugy menjadi idola mereka semua.

Sore itu, setelah semua muridnya pulang, kembali Kugy duduk di saung kecilnya, menuliskan kisah petualangan Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Dari kejauhan terdengar kokok ayam pelung yang lantang dan panjang. “Hogi …,” gumam Kugy. Dan tangannya spontan mencoret-coret gambar ayam jantan dengan bulu-bulu hitam berkilau yang mekar sempurna. Tiba-tiba tangannya berhenti. “Lho … kok jadi kayak Stegosaurus …,” gumamnya sendirian.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.