Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Ulang tahun kamu juga,” balas Kugy pelan. “Maaf ya, nggak sempat kasih selamat. Tapi waktu itu aku udah titip pesan ke Eko.”

“Nggak bisa ngomong sendiri?”

Kugy menelan ludah. Pertanyaan itu dilontarkan dengan halus, tapi sorot mata Keenan begitu menusuk, dan Kugy merasa seperti tertuduh. “Waktu itu kan pas Wanda lagi datang ke Bandung, dan aku nggak mau ganggu. Kalian berempat kan ada acara sendiri—”

“Dan saya ngundang kamu juga,” potong Keenan, “saya nggak pernah bikin acara itu untuk eksklusif berempat, kok. Gy, kamu sahabat saya, nggak mungkin saya—”

“Nan, kadang-kadang sahabat yang baik itu justru harus tahu diri,” Kugy gantian menyambar, “aku kan udah bilang, karena justru nggak mau ganggu makanya aku—”

“Kamu sebetulnya kesal sama saya, ya?”

“Kesal—soal apa?” tanya Kugy tegang.

Keenan mengangkat bahu, “Nggak tahu. Yang jelas alasan ‘nggak mau ganggu’ itu kok kedengarannya agak basi, ya.”

Kugy terdiam. Mana mungkin bisa jujur, batinnya. Justru alasan jujurnya yang bakal jadi juara basi.

“Saya sebetulnya punya sesuatu buat kamu. Tadinya saya mau kasih untuk hadiah ulang tahun kamu ….”

“It’s okay, Nan. Kapan-kapan aja,” sahut Kugy cepat, sambil mengusahakan senyum lebar di mulutnya.

“Malam minggu ini kita mau nonton midnight kayak biasa. Ikut, yuk. Kamu selalu ditanyain sama Mas Itok, tuh.”

“Kita—berempat?” Kugy bertanya hati-hati.

“Mungkin berlima. Katanya weekend ini Wanda mau datang lagi ke Bandung.”

“Lihat nanti, ya. Aku usahain,” ucap Kugy dengan nada yang dibuat serileks mungkin. Dua ratus persen pasti nggak bakalan ikut, sambungnya dalam hati.

“Lukisan saya bakal masuk ke Galeri Warsita,” Keenan menambahkan, “gara-gara itu Wanda bolak-balik terus ke Bandung.”

Mata Kugy membeliak, “Wah! Selamat, ya!” kali ini ia sungguhan tulus mengatakannya. “Keenan Aquaneptuniamania … jadi pelukis beneran. Hebat.”

Keenan tergelak. “Sejak kapan nama saya jadi Keenan—apa tadi? Kleptomania?”

“Aquaneptumania. Resmi ditahbiskan barusan,” Kugy nyengir. “Beneran … aku ikut senang. Kamu memang pantas kok masuk galeri seperti Warsita. Cuma masalah waktu.”

“Makan bareng, yuk. Saya traktir. Pemadam Kelaparan?”

Kugy menghela napas. Perutnya sudah keroncongan sejak tadi. Dan tidak ada manusia lain yang paling ideal untuk menemaninya makan siang selain Keenan. “Hmm … sori. Aku harus cabut, ada janji dengan Ami dari Klub Kakak Asuh. Kapan-kapan, ya?”

Keenan sejenak terdiam mendengar respons Kugy. “Udah dua kali kamu ngomong ‘kapan-kapan’ ke saya hari ini. Moga-moga nggak ada yang ketiga kali,” ucapnya pelan.

Kugy tak berani menatap Keenan langsung. Perasaan seperti tertuduh itu kembali menyerangnya. “Duluan, ya,” kembali setengah berkumur Kugy berkata, dan cepat-cepat ia berlalu dari sana. Kakinya melangkah besar-besar, matanya terus menekuni aspal. Kalau nggak begini, kamu akan terjebak terus, Kugy. Seperti merapal mantra, Kugy mengulang-ulang kalimat itu dalam hatinya.

 

12.

JENDERAL PILIK & PASUKAN ALIT

Bandung, Maret 2000 …

Pria berkacamata itu sudah siaga berdiri dengan empat tiket bioskop di tangan. Ada beberapa helai tiket lagi tersimpan di kantong belakang kiri dan kanan. Ini sudah menjadi pekerjaan tetapnya hampir setiap malam Minggu. Sejak Eko sering menitip beli tiket midnight, banyak teman-teman Eko lainnya yang juga ikut memakai jasanya, sampai-sampai dia harus mulai mengerahkan beberapa teman untuk ikut membantu.

“Mas Itok!”

Pria itu menoleh. Tampak rombongan Eko muncul di tangga eskalator.

“Nah, ini buat Mas Eko dan Mbak Noni, ini buat Mas Keenan dan … Mbak Pacar Baru.” Tanpa beban, Itok menyerahkan tiket itu masing-masing dua lembar ke tangan Eko dan Keenan.

Mereka berempat spontan tertawa.

“Nama saya Wanda, Mas. Tapi nggak pa-pa juga kalau disebut ‘Mbak Pacar Baru’,” celetuk Wanda sambil mengerling ke arah Keenan yang berdiri di sebelahnya dengan muka memerah.

“Mbak Kugy nggak pernah ikut lagi, ya, Mas Keenan? Resmi putus nih ceritanya?” Itok mesem-mesem dengan tatapan haus gosip.

“Mas Itok, jangan aneh-aneh, deh. Beliin tiket bioskop aja,” Eko mulai protes.

“Hebat Mas Keenan, ya. Mentang-mentang ganteng, pacarnya ganti-ganti, cantik-cantik lagi,” Itok masih terus berkomentar.

Transaksi pun berjalan seperti biasa, dan cepat-cepat mereka berlalu dari hadapan Mas Itok sebelum manusia itu terus mengorek-ngorek info tidak penting.

“Memangnya—kamu pernah pacaran sama Kugy?” tanya Wanda pelan.

Keenan hanya menggeleng. Entah kenapa, ia tidak berselera untuk panjang lebar menjelaskan.

“Kugy dan Keenan pacaran itu selamanya hanya akan ada di otak Mas Itok seorang,” Eko menambahkan sambil terkekeh. Dalam hatinya, Keenan merasa tersentil dengan ucapan Eko, sekalipun tahu bahwa temannya hanya bercanda.

“Tauk tuh Kugy. Sibuk banget sekarang. Dia jadi guru relawan buat sekolah darurat gitu, hampir tiap hari ngajar. Pulangnya sore terus, habis itu nggak pernah keluar kamar,” Noni bercerita.

“Aneh. Emangnya dia ngajar sampai malam? Memangnya ada layar tancap midnight di Bojong Koneng? Kalo kata gua, ada faktor sibuk dan sok sibuk,” Eko menimpali lagi.

“Nan, are you okay?”

Keenan tersentak dengan pertanyaan Wanda yang tiba-tiba, dan ia pun tersadar bahwa Wanda memperhatikannya saksama sejak tadi. Sebagai jawaban, Keenan tersenyum sekilas.

“Beli popcorn, yuk,” Wanda tahu-tahu menggamit tangannya, dan mereka berdua berjalan menuju mesin popcorn di dekat sana.

Keenan seolah terempas ke lorong waktu. Semua ini terasa seperti dejavu. Ia mengenal adegan ini. Malam Minggu, tempat yang sama, mesin popcorn yang sama. Bedanya, orang yang bergandengan dengan tangannya waktu itu adalah Kugy.

Bandung, April 2000 …

Sambil rebahan di atas karpet, Ojos mengamati wajah pacarnya sejak tadi. Rambutnya yang semakin panjang, kaus “Lake Toba”—seragam tidur favoritnya—sudah semakin lusuh, celana pendek batiknya yang berkeriut-keriut, mata bundarnya tampak serius menekuni buku J.R.R. Tolkien yang tebalnya minta ampun. Ojos pernah bercanda, buku setebal itu lebih cocok buat senjata melawan anjing galak ketimbang buat bacaan. Seumur hidupnya, Ojos tak membayangkan akan bisa membaca sepuluh persen saja dari jumlah buku yang dibaca Kugy.

Mulai merasa diamati, Kugy pun mengangkat mukanya. “Mau baca juga, Jos? Aku ada Donal Bebek ….”

Ojos menggeleng. Kugy pun kembali pada bacaannya. Ojos kembali mengamati. Ruangan itu kembali hening. Lama.

“Gy ….”

“Hmm?”

“Are you okay?”

Kugy menatap Ojos, “I’m okay. Kenapa, Jos?”

“Kamu jadi lebih diam akhir-akhir ini. Ada yang kamu pikirin?”

Kugy seperti terusik mendengar pertanyaan itu, tapi cepat ia tersenyum. “Nggak ada. Paling-paling soal Sakola Alit. Murid kita tambah banyak sekarang.”

“Kamu sibuk banget ngurusin sekolah itu.”

“Aku betah ngajar di sana. Anak-anak itu ….” Kugy berdecak, “kadang-kadang aku yang merasa banyak belajar dari mereka.”

“Tapi kamu sekali-sekali harus memperhatikan diri kamu juga, dong. Kamu tambah kurus.”

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.