Baca Novel Online

Perahu Kertas

Kugy pun bergegas menyiapkan “ruang kelas”-nya. Menggelar tikar plastik untuk mereka semua duduk, menyandarkan papan tulisnya di pohon, dan membagikan buku serta alat tulis. Di hadapannya kini sudah ada lima anak dari mulai umur empat sampai sembilan tahun. Semuanya mengaku tidak bisa membaca dan menulis. Sejenak Kugy menghela napas, mereka-reka harus memulai dari mana.

“Selamat pagi,” sapa Kugy semanis mungkin. Tak ada yang menjawab. Ada yang asyik mencari kutu di kepala temannya, ada yang langsung merobek kertas dari bukunya dan bikin kapal-kapalan, ada yang kerjanya teriak-teriak terus memanggili temannya di saung sebelah, dan ada juga yang menatapnya bergeming seperti melihat hantu.

Keringat dingin Kugy menetes.

Laki-laki setengah baya itu berjalan menuju ruang kantornya yang terletak di bilangan Menteng, Jakarta Pusat. Ia hanya mengenakan kemeja linen dan celana kain, dan begitulah ia biasa berkantor sehari-hari. Kantornya hanya satu ruangan dari keseluruhan galeri yang luas itu. Galeri miliknya memang galeri terbesar di Jakarta. Ia menjalankannya hanya berdua dengan sahabatnya, Syahrani, yang juga sudah puluhan tahun menjadi kolektor karya seni, dan akhirnya menikah dengan seorang perupa terkenal yang karya patungnya pun menghiasi berbagai sudut galeri itu.

“Selamat pagi, Pak Hans,” sekretarisnya menyapa.

“Pagi, Mia. Wanda sudah di dalam?”

“Sudah, Pak. Dari setengah jam yang lalu.”

Laki-laki itu melirik jam tangannya, “Wah, rajin banget dia. Pantas tadi langsung hilang dari rumah sehabis sarapan.”

“Morning, Hans. Morning, Mia,” seorang ibu berkacamata menghampiri mereka. Meski nyaris polos tanpa riasan, wajahnya tampak cerah. Hanya seoles tipis lipstik merah tua mewarnai bibirnya. Selendang batik membungkus lehernya seperti syal.

“Met pagi, Ran. Gimana pameran patung Teguh di Jerman? Sukses?” Hans menyapa mitranya.

“Wonderful. They love it, those strange bules,” Syahrani tertawa ringan, “so, how’s our young and beautiful curator? Dia nelepon aku semalam. Sepertinya dia semangat banget, tuh. Katanya banyak dapat lukisan bagus di Bandung.”

“Tapi kali ini dia agak aneh,” Hans geleng-geleng kepala, “dia bahkan nggak mau kasih aku sneak preview. Tadi pagi kami sarapan bareng di rumah, lalu dia langsung menghilang. Ternyata sudah duluan kemari, dari setengah jam yang lalu malah.”

“Oh, ya? Let’s see what she got, then.” Syahrani tersenyum dan menggosokkan kedua telapak tangannya seolah hendak mengantisipasi sebuah kejutan.

Hans pun membuka pintu kantornya yang sedari tadi tertutup, melangkah masuk bersama mitranya.

Wanda menyambut keduanya dengan senyum merekah. Semuanya tampak sudah rapi ia persiapkan, termasuk proyektor yang sudah menyala dan terhubung ke laptop-nya. Wanda langsung menghampiri Syahrani dan memeluknya, “Tante Rani, I miss you so much ….”

“Miss you too, dear. Papimu cerita, kamu semangat banget mau presentasi pagi ini,” kata Syahrani sambil menjawil pipi Wanda.

Wanda mengangguk mantap, lalu tanpa banyak bicara ia langsung memulai mempresentasikan slide-slide foto lukisan yang sudah ia persiapkan. Wanda memulai dengan karya pelukis paling senior terlebih dahulu, hingga foto demi foto berlalu, dan Wanda tiba pada koleksi terakhirnya. Napasnya sejenak dihela sebelum mulai memberikan ulasan. Wanda tampak sedikit tegang. “Yang ini adalah karya pelukis muda. Menurut saya dia sangat gifted. Karyanya segar, otentik. Dengan manajemen yang baik, menurut saya dia bisa punya prospek luar biasa.”

“Siapa namanya? Keenan?” tanya Syahrani sambil membaca-baca arsip yang sudah dipersiapkan Wanda di meja.

“Iya. Dia yang temannya Noni di Bandung itu, Papi.” Wanda berkata sambil melirik ayahnya.

“Sudah pernah pameran?” tanya ayahnya.

Wanda menghela napas. Ia sudah menduga pertanyaan itu pasti muncul. “Belum,” jawabnya.

“Pernah masuk di galeri mana?” Syahrani ikut bertanya.

Pertanyaan kedua yang pasti muncul. “Belum pernah,” jawab Wanda lagi.

Syahrani dan Hans berpandang-pandangan. “Well,” Hans berdehem, “kalau soal dia berbakat, saya setuju. Otentik? Bisa jadi. Tapi, anak ini kelihatannya masih berproses dan belum mencapai titik kematangannya sebagai pelukis. Saya lihat dia seperti masih mencari identitas. Kasih satu-dua tahun lagi, mungkin dia baru layak masuk ke Warsita.”

Ekspresi Wanda seketika berubah. Mulutnya mengerut. “Papi, tapi saya yakin dia punya sesuatu. He’s like a raw diamond ….”

“Persis,” sahut ayahnya santai, “raw—mentah. Dia bagus, tapi mentah.”

“Saya setuju dengan semua poin kamu, Hans,” Syahrani angkat bicara, “tapi ada faktor lain yang bisa jadi pertimbangan, yaitu kejelian Wanda melihat talenta baru. Warsita memang terkenal dengan koleksi karya-karya pelukis mapan, tapi nggak ada salahnya galeri ini juga memulai membuka peluang untuk pelukis baru. Ini bisa jadi kredit buat kita jika kelak pelukis ini berkembang bagus.”

Hans tersenyum kecil, “Sudah ada berapa puluh pelukis baru yang antre ingin masuk sini dan kita tolak, lalu kenapa yang satu ini bisa mendapat perkecualian?”

“Karena dia berbeda, Papi,” Wanda menyambar tegas.

Syahrani sekilas memeriksa arsip Keenan sekali lagi. Ada selembar foto Keenan di samping lukisannya yang ikut dilampirkan di sana. “Karena … I think our Wanda likes him.”

Muka Wanda langsung merah padam. Mulutnya siap membuka, tapi ia kehilangan kemampuannya berkata-kata.

“Bercanda, Sayang,” cepat Syahrani menambahkan sambil tertawa halus. “Anak ini memang berbakat. Dan saya pikir dia layak diberi kesempatan.”

Hans mengangkat bahunya ringan. “Oke. Kita lihat saja nanti perkembangannya.”

Napas Wanda melega. Meski ia masih terusik dengan apa yang dilontarkan padanya barusan, senyum puas yang menyembul di wajahnya sungguh tak bisa ia tahan.

 

Bandung, Februari, 2000 …

Rasa pegal yang mulai menyerang kakinya menunjukkan bahwa sudah cukup lama ia berdiri di sana. Keenan mulai berpikir barangkali sudah saatnya ia menyerah dan pulang. Namun, ia mengedarkan pandangannya sekali lagi, meneliti wajah-wajah yang lalu-lalang di sekitarnya. Akhirnya, tampak sekelebat siluet yang ia cari. Rambut sebahu yang tergerai, jaket jins yang hampir setiap hari dipakai, ransel yang tampak tidak proporsional karena ukurannya terlalu besar untuk tubuh pemakainya …. “Kugy!” Keenan berseru.

Yang dipanggil malah terus berjalan. Terpaksa Keenan mengejar dan menarik tangannya.

Kugy memejamkan mata sebelum berbalik dan menyetel muka polos, “Heloooo! Rekan agen! Apa kabar?”

Keenan menatapnya tak percaya. “Kamu ke mana aja?”

“Ada …,” jawab Kugy bergumam.

“Gy, saya tuh nggak pernah betah lama-lama di kampus. Tapi gara-gara nyariin kamu, hampir setiap hari saya nongkrong di sini, nunggu di tempat yang sama, dan kamu nggak pernah nongol,” ujar Keenan. “Kamu sibuk banget, ya?”

Baru pertama kali itu Kugy mendengar nada bicara Keenan terdengar agak emosional, tidak lagi kalem seperti biasa. Dia seperti orang yang sungguh-sungguh kehilangan.

“Yah, lumayan sibuk …,” Kugy kembali menjawab dengan suara berkumur.

“Ulang tahun kamu udah lewat,” kata Keenan dengan nada menyesal.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.