Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Belum ….” Keenan menggeleng lagi. “Saya melukis hanya karena hobi aja, masih iseng-iseng.”

“Ah. Such a shame,” Wanda tersenyum tipis, “kamu sangat, sangat berbakat.”

“Oh, ya?” Alis Keenan mengangkat. “Menurut kamu—lukisan-lukisan ini cukup layak masuk galeri?”

“Layak?” kali ini Wanda mendongak menatap Keenan, tergelak halus, “harusnya kamu cari nafkah dari melukis.”

Air muka Keenan berubah seketika. Ia mulai melangkah mendekati Wanda dan menyimak ucapannya sungguh-sungguh.

“Kamu pelukis potret yang sangat bagus. Semua objek kamu hidup, mendetail, guratan dan garis kamu tegas, akurat. Dan uniknya, kamu menggabungkan lukisan potret dengan abstrak dalam satu frame. Abstrak kamu juga sangat kuat. Biasanya, pelukis hanya kuat di salah satu, tapi kamu kuat di keduanya. Impressive,” tutur Wanda dengan decak kagum.

Keenan menelan ludah. Baru kali itu seseorang mengomentari lukisannya dengan sangat serius. Kunjungan ini mendadak menjadi menarik.

Malam itu, Noni dan Eko terpaksa menggantungkan nasib perut mereka pada Mas-Mas pengantar pizza. Wanda dan Keenan mengobrol soal dunia lukisan dengan asyiknya hingga tak menggubris desakan Noni dan Eko untuk makan malam di luar.

Sambil menyuap potongan pizza ke mulut, Noni menjulurkan sebelah tangannya diam-diam, mengajak Eko bersalaman. Misi mereka berhasil.

Sejak tadi, Kugy tetap terjaga di kamar. Berbagai kegiatan sudah ia lakukan untuk mendistraksi, tapi pikirannya tetap terikut dengan Fuad, menuju tempat kos Keenan, dan menciptakan seribu satu skenario tentang apa gerangan yang terjadi malam ini. Tidak mungkin ada cowok normal yang tidak tertarik dengan Wanda … tapi Keenan mungkin beda, dia melihat kualitas yang lain … tapi cowok tetap saja cowok … tapi mungkin Wanda membosankan, nggak seru, dan nggak nyambung … tapi kalau secantik itu, siapa lagi yang peduli soal seru dan nyambung … dan benak Kugy pun tak berhenti berceloteh.

Saat pintu kamar sebelahnya kedengaran membuka, melonjaklah Kugy dari tempat tidur. Berdiri di dekat pintu kamarnya dengan lagak malas-malasan.

“Belum tidur, Gy? Tadi katanya banyak kerjaan, terus sakit perut, terus mau tidur cepat,” kata Noni sambil melirik Kugy yang bersandar di dinding sambil menguap-nguap dan garuk-garuk kepala.

“Baru mau tidur, nih. Tadi nulis dulu,” Kugy menguap lagi, “gimana debut Mak Comblang kita? Sukses?”

“Dari skala 1-100, nilai gua 95. Yang 5 sisanya hanya untuk jaga-jaga siapa tahu Keenan atau Wanda mendadak amnesia,” cetus Noni mantap.

Kugy terkekeh, “Optimis banget sih ente. Emangnya Keenan mau sama tipe cewek Barbie kayak Wanda gitu?”

“Kugy darling, Wanda itu kurator muda. Bokapnya yang punya Galeri Warsita di Menteng,” jelas Noni dengan senyum kemenangan, “awalnya memang si Keenan kayak sedikit alergi, tapi begitu Wanda mulai ngomentarin lukisannya … dia berubah kayak orang disirep! Saking lupadaratannya mereka berdua ngobrol, yang ada kita batal makan ke luar, cuma order pizza, dan gua sama Eko akhirnya minggat ke warnet. Gila, kita dianggurin kayak tembok.”

Kugy ikut tertawa. Namun, terasa tawar dan sumbang. Lidahnya seperti kelu untuk memberikan tanggapan apa pun. Akhirnya ia memilih permisi tidur.

Ada sesuatu yang remuk di hati Kugy, dan pecahan-pecahannya seolah menyebar ke seluruh tubuh, membuatnya meringkuk memeluk guling menahan pedih. Dan segala keresahan dan kebingungannya selama ini juga ikut memuncak, meledak, hingga kesedihan itu tak tertanggungkan lagi. Butir demi butir air mata pun mulai melelehi pipinya.

Sejenak Kugy mengangkat mukanya, melirik buku dongeng buatannya yang kini tergeletak di meja. Ia langsung mengernyit. Mendadak ia merasa bodoh. Buku itu tampak buruk. Dan Kugy pun membenamkan mukanya kembali ke dalam guling. Jengah melihat hasil karyanya sendiri.

Dalam benaman guling itu, untuk pertama kalinya Kugy menyadari … ia telah jatuh cinta pada Keenan.

Pagi itu, Kugy bangun dengan mata sembap. Terpaksa ia membungkus es batu dalam sapu tangan lalu mengompreskannya ke mata. Dengan satu mata yang terbuka, ia membuka catatannya lalu memencet sederet nomor di ponselnya.

“Ami? Hai, ini Kugy. Aku udah memutuskan … iya … aku mau jadi pengajar di Sakola Alit. Mulai secepatnya bisa? Iya … aku siap, kok.”

Setelah pembicaraan itu selesai, Kugy mengembuskan napas lega. Ia harus berbuat sesuatu. Ia harus mencari kesibukan. Ia ingin melupakan pedih itu, apa pun caranya. Dan tawaran Ami mendadak menjadi tiket keluar yang paling baik.

Ia lalu teringat sesuatu. Sebuah benda buatannya yang sudah terbungkus rapi dengan kertas kado. Kugy mengambilnya dari dalam laci. Membuka lemari pakaiannya yang bergabung dengan beberapa dus kecil berisi barang-barang bekas. Kugy membuka salah satu dus lalu menjebloskan benda itu di sana. Belum cukup puas, dibenamkannya lagi dus kecil itu di dalam tumpukan benda lain. Sementara ini, Kugy ingin sekali melupakan benda itu. Perasaan itu.

 

11.

SAKOLA ALIT

Angkutan kota Colt L-300 yang sudah tua dan kepayahan nanjak itu hanya mengantarkan mereka bertiga sampai di mulut sebuah jalan setapak. Matahari pagi terasa hangat menyentuh kulit muka setelah sekian lama mereka terperangkap dalam mobil.

Kugy, Ami, dan Ical sejenak saling berpandangan sebelum mereka menuruni jalan tanah itu. Ini adalah hari pertama mereka resmi mengajar di Sakola Alit. Tidak ada yang bisa membayangkan apa yang akan mereka hadapi. Sambil menenteng masing-masing sebuah papan tulis kecil dan menyandang ransel yang penuh sesak dengan alat tulis dan buku-buku, ketiga orang itu mulai melangkah memasuki jalan menurun yang dinaungi rimbunan pohon bambu di kiri-kanan.

Setelah kurang lebih setengah jam berjalan kaki, sampailah mereka di sebuah masjid. Banyak anak kecil berlarian di sekitarnya. Seorang bapak berpeci yang sedang duduk sambil merokok, cepat-cepat bangkit berdiri dan menyambut mereka.

“Neng Ami … kumaha10, Neng? Damang11?” Bapak itu menjulurkan ujung tangannya untuk menyalami Ami.

“Pak Somad, kenalkan, ini teman-teman saya yang nanti ikut ngajar,” Ami memperkenalkan ketiga temannya satu per satu, “Pak Somad ini yang membantu mengumpulkan anak-anak dari kampung sini,” Ami lalu gantian mengenalkan.

“Muhun12,” sahut Pak Somad, “hari ini baru ada lima belas anak, Neng. Sisanya mungkin baru besok atau lusa. Maklum, banyak yang sambil kerja juga.”

“Nggak apa-apa, Pak. Kita mulai sekarang aja. Saungnya di sebelah mana, ya?”

“Oh, mangga, mangga.13 Diantar ku Bapa14,” buru-buru Pak Somad mematikan rokok kreteknya lalu mulai memanggili anak-anak yang tercerai-berai di sekitar masjid. Tak lama, mereka pun berjalan beramai-ramai menuju sebuah saung yang berukuran cukup besar di pinggir ladang cabai.

Sekumpulan anak itu akhirnya dibagi dalam tiga kelas. Ami kebagian di saung besar, Ical mendapat tempat di sebuah saung agak kecil yang terpisah sekitar seratus meter, dan Kugy kebagian di bawah pohon.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.