Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Kenapa, Gy?” Noni bertanya lagi.

“Nggak. Nggak jadi. Gua lupa mau ngomong apa. He-he. Sori,” Kugy pun bangkit berdiri.

“Yakin?” Noni mengamati air muka sahabatnya. “Hari ini lu banyak gantung, deh.”

“Mungkin udah saatnya gua bertobat dan banyak berbuat baik,” cetus Kugy asal sambil ngeloyor pergi.

“Dasar gila,” Noni nyengir, lalu menutup pintu kamarnya.

 

10.

KURATOR MUDA

Lewat pukul lima, Kugy baru sampai ke tempat kosnya. Ia baru saja kembali dari pertemuan Klub Kakak Asuh yang mengundangnya untuk menjadi pengajar sukarela di sebuah sekolah dasar darurat. Sekolah itu akan dinamai “Sakola Alit” dan akan mengambil tempat di alam terbuka di daerah perbukitan Bojong Koneng. Tepatnya, mereka tak punya dana cukup untuk menyewa bangunan dan terpaksa melaksanakan kegiatan belajar mengajar di saung-saung ladang atau di bawah pohon.

“Kamu nggak percaya kan di kota secanggih Bandung ini masih ada anak-anak yang nggak bisa baca tulis, padahal umur mereka sudah sembilan-sepuluh tahun?” kata Ami pada Kugy di pertemuan tadi.

“Jadi, kita harus mulai dari mana?” Kugy bertanya.

“Kita akan bagi tiap kelas sesuai kemampuan mereka masing-masing. Kelas paling dasar hanya akan belajar membaca, menghitung, dan menggambar. Persis pelajaran anak TK. Tapi dalam satu kelas umurnya bisa bervariasi, dari mulai empat tahun sampai sepuluh tahun.”

Kugy terdiam mendengar penjelasan itu. Matanya tak lepas mengamati foto-foto anak-anak yang akan dibina oleh Ami dan teman-temannya.

“Kamu pikirkan dulu aja, Gy. Kita berkomitmen mengajar mereka empat hari seminggu. Jadi lumayan menyita waktu.”

“Berapa sukarelawan yang sudah terkumpul sekarang?”

“Dua orang, termasuk aku.”

“Anak yang harus diajar?”

“Dua puluh dua.”

Kugy terdiam lagi. “Oke, aku kabari dalam minggu ini, ya.”

Sepanjang perjalanan pulang, Kugy tak bisa menanggalkan wajah anak-anak itu dari ingatannya. Perhatiannya baru teralih saat ia membuka pintu kamar dan melihat ada setumpuk benda asing di tempat tidur. Kugy menyalakan lampu. Matanya pun terbelalak. “Nooon!” kontan Kugy berteriak.

Terdengar ada suara yang menyahut dari kamar sebelah. Tak lama, Noni muncul di pintu.

“Keenan ke sini?” tanya Kugy segera.

“Iya, tadi dia mampir sama Eko, cari lu, tapi nggak ada. Dia titip oleh-oleh, tuh. Udah lihat, ya?”

Kugy mengangguk, menatap kaus putih bergambar barong dan sarung hitam bercorak yang terlipat rapi. Di atasnya tergeletak papan surfing mini dan sekotak kacang asin.

“Nanti malam gua sama Eko janjian mau ke tempat kosnya. Mau ikut, nggak?”

“Mau! Mau!” Kugy menjawab setengah berseru. Tak sanggup menyembunyikan kegembiraan yang membeludak.

Ketika Noni sudah keluar, Kugy membuka laci meja belajarnya. Sekadar mengecek buku buatan tangannya yang kini sudah rampung. Sesuatu serasa merekah di hatinya. Tak sabar rasanya menanti malam datang.

“Udah siap, Gy?” Noni melongok ke kamar Kugy dan sedikit terperanjat, “tumben lu agak cakepan.”

“Nggak … biasa aja, kok.” Gugup, Kugy merapikan baju terusan hitam selututnya. Baju terbaik yang pernah ia miliki dan tak pernah keluar lemari saking istimewanya. Tahu-tahu, Kugy menyambar jaket jins Karel dan buru-buru mengenakannya.

“Yaaah … rusak lagi, deh,” Eko tertawa, “tapi lebih sesuai dengan fitrah lu, Gy.”

Tiba-tiba sesosok perempuan tak dikenal muncul di balik punggung Eko dan Noni. Tubuh semampai itu melangkah anggun dalam jins ketat dan tank-top. Sepatu wedge yang tebal dan trendi tampak serasi dengan tas kecil yang ia pegang. Rambut panjang itu tampak tertata rapi seperti baru keluar dari salon. Semilir parfum floral tercium di udara tiap kali perempuan itu bergerak. Dan semua itu membuat Kugy terpaku.

“Gy, kenalin. Ini sepupu gua, Wanda,” Noni berkata.

“Wanda,” ia mengulang namanya dengan nada merdu bak resepsionis kantor.

Kugy menerima uluran tangan Wanda. Tampak barisan kuku terlapis cat biru metalik yang berkilau tertimpa sinar lampu. Kugy pun menyadari, bola mata Wanda dilapisi lensa kontak biru yang serasi dengan warna kukunya. Setiap inci penampilan Wanda seperti direncanakan dengan matang. Satu hal yang rasanya mustahil dilakukan Kugy.

“Non, shall we?” Wanda memutar tubuhnya menghadap Noni.

“Gua nyusul bentar lagi. Kalian duluan aja ke depan,” ujar Kugy. Dan ketika tiga orang itu pergi, Kugy mengempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Perasaannya campur aduk.

Ada kegelisahan yang nyaris tak bisa ia tahankan. Segala sesuatu tentang Wanda, rencana Noni, dan aneka kemungkinan yang bisa terjadi malam ini, seperti melumpuhkan sistemnya. Dan Kugy akhirnya memutuskan sesuatu.

Ia berlari ke depan, menemui teman-temannya yang sudah menunggu di mobil, membuat alasan palsu yang membatalkan kepergiannya ke tempat kos Keenan. Sebagai ganti, Kugy meringkuk di tempat tidurnya semalaman.

Dari dalam kamar, Keenan sudah bisa mendengar Fuad menepi. Tak lama, ia mendengar langkah-langkah kaki mendekati kamarnya. Keenan pun segera berdiri, membuka pintu. Sejenak ia menyadari detak jantungnya yang sedikit bertambah cepat, seolah mengantisipasi sesuatu.

Pintu terbuka. Tampak Noni dan Eko nyengir selebar-lebarnya.

“Si Kecil mana?” tanya Keenan langsung.

Terdengar suara hak sepatu beradu dengan ubin dari kejauhan, menuju arah mereka. “Sorry, guys. I just dropped my contact. Untung ketemu lagi ….”

Keenan terheran-heran melihat seorang cewek tinggi tak dikenal berjalan ke arah mereka dengan mata berkedip-kedip seperti orang kelilipan. Ia ganti menatap Noni dan Eko, meminta penjelasan.

“Nan, ini Wanda. Sepupu gua dari Melbourne. Kamu pernah dengar Galeri Warsita di Menteng, nggak? Nah, ayah Wanda itu pemiliknya. Wanda senang lukisan juga. Dia pokoknya ngerti banget soal yang seni-seni gitu. Gua bilang juga ke dia kalo lu hobi melukis. Wanda ceritanya lagi hunting lukisan di Bandung, lho,” Noni menyerocos seperti tukang obat sedang promosi.

Dengan gestur agak kaku, Keenan berkenalan dengan Wanda. Sementara di belakang punggung Wanda, Eko mendelik-delik penuh maksud, meminta diundang masuk.

“Oh, sori. Masuk, yuk …,” gelagapan Keenan menyilakan sambil membuka pintunya lebar. “Maaf agak berantakan, ya. Belum sempat beres-beres setelah pulang dari Bali ….”

Tanpa menunggu penjelasan Keenan selesai, Wanda langsung menerobos masuk. Matanya sudah terkunci pada lukisan-lukisan yang menyebar di seluruh penjuru ruangan itu. Bak seorang kurator profesional, ia menelaah lukisan demi lukisan dengan teliti. Perhatiannya begitu terpusat seolah yang lain sudah melesak ke perut Bumi dan tinggal ia sendiri bersama lukisan-lukisan Keenan.

Dengan bingung Keenan memandangi kegiatan Wanda yang menekuni lukisannya seperti hendak menelanjangi. Sementara dilihatnya Eko dan Noni mesem-mesem di pojok kamar. Keenan merasakan banyak tanda tanya di udara malam ini.

“Kamu sudah pernah pameran?” tanya Wanda pada Keenan, sementara matanya terus terpaku pada lukisan.

“Belum ….”

“Lukisan kamu sudah pernah masuk galeri?”

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.