Baca Novel Online

Perahu Kertas

Keenan spontan tersenyum. Sepotong ”halo” yang baru saja ia dengar sudah cukup membuat suasana hatinya kembali cerah.

“Kamar kamu di lantai atas, ya? Saya selalu dengar kamu lari-lari turun tangga.”

“Keenan?” Kugy hampir melonjak dari tempat duduknya. “Hai! Apa kabar?”

“Kabar baik. Saya lagi di Kuta, mau tahun baruan dengan keponakan-keponakannya Pak Wayan. Tadi tiba-tiba inget kamu, dan kepingin nelepon. Saya pikir kamu nggak bakal ada di rumah. Nggak ada acara?”

“Tawaran banyak, tapi aku tolak semua,” Kugy terkekeh.

“Ada acara di rumah?”

“Nggak juga. Aku lagi ada kerjaan.”

Mata Keenan membesar, “Sebegitu pentingnya sampai melewatkan tahun baruan segala?”

“Hmm … begitulah,” jawab Kugy sambil melirik jemarinya yang masih bersaputkan sisa lem akibat kegiatan tempel meenempelnya sejak beberapa hari terakhir.

“Di sini kan lebih awal sejam, dan sebentar lagi udah mau jam 12. Jadi … selamat tahun baru, ya, Kecil. Jangan cepat gede, nanti nggak seru lagi.”

Entah mengapa, omongan Keenan yang setengah bercanda itu malah membuat Kugy terharu. “Makasih. Selamat tahun baru juga,” ucapnya setelah menelan ludah terlebih dulu.

“Saya sebetulnya pingin cerita banyak. Tapi begitu nelepon, malah bingung. Mungkin nanti aja kalau kita ketemu di Bandung lagi, ya.”

Dalam hati, Kugy merasakan sebersit kecewa. Agaknya percakapan telepon ini tidak akan lebih dari dua menit lagi. “Oleh-oleh buatku—nggak lupa, kan?”

“Kaus barong?” gurau Keenan, yang langsung disahut gelak tawa di ujung sana. Sementara itu pikirannya melayang pada satu benda yang hampir tak lepas dari tangannya beberapa hari terakhir ini, yang membuat Pak Wayan dan Banyu geleng-geleng kepala saking seriusnya Keenan mengulik benda satu itu, bolak-balik dihaluskan dan disempurnakan setiap hari.

“Pokoknya kamu utang Pemadam Kelaparan kalau sampai nanti cuma bawain kaus barong, atau sarung pantai, atau miniatur papan surfing ….”

“Kacang asin?”

“Seneng amat sih sama kacang asin.”

“Saya bakal bawain itu semua, plus sesuatu yang saya bikin. Jadi, kita tetap nge-date ke Pemadam Kelaparan. Gimana?”

“Setuju,” ujar Kugy berseri-seri.

Tak lama kemudian, telepon itu disudahi. Kembali Kugy melirik jam. Dugaannya benar. Telepon dua menit itu kembali terjadi. Dan kembali Sang Waktu membuang sauhnya, berhenti di sana. Dan kembali Kugy mendapatkan dirinya tertambat dalam ruang dan waktu yang membeku, tempat segala kenangan tentang mereka dikristalkan.

 

Bandung, Januari 2000 …

Tiga orang itu menduduki meja kebangsaan mereka dengan membawa piring masing-masing. Ketiganya juga membawa kisah masing-masing seputar kegiatan mereka selama liburan semester.

Eko memulai dengan menceritakan program penyembuhan yang telah dijalani Fuad. “Fuad udah ganti mesin, ibarat orang nyawanya diganti baru. Sekarang Fuad bodinya doang 124, tapi isinya udah Mirafiori.”

“Yang dalam bahasa Indonesia artinya adalah …?”

“Statistik mogok Fuad akan menurun dan hidup kalian lebih tenteram,” demikian penutup dari Eko.

“Horeee!” Kugy dan Noni bersorak.

“Lu ngapain aja, Gy?” tanya Noni.

“Gua banyak di rumah. Merenungi nasib.”

“Nggak ada yang lebih menarik?” Eko melengos.

“Gua juga lagi bikin ….” Kugy terdiam sejenak, merasa tiidak

perlu melanjutkan.

“Gantung amat,” celetuk Noni.

“Lu ngapain aja, Non?” Kugy balas bertanya, cepat-cepat mengalihkan bola panas itu.

Wajah Noni seketika cerah seperti disorot lampu, seperti hendak menyampaikan berita spektakuler yang disimpannya sejak tadi. “Gua udah cerita dikit ke Eko soal ini, dan dia juga setuju kalo rencana ini sangat brilian.”

Mata Kugy ikut berbinar. Duduknya menegak. “Kayaknya seru, nih …,” desisnya penasaran.

“Dimulai dengan Latar Belakang Masalah,” celetuk Eko.

“Oke. Latar Belakang Masalah. Ehm. Jadi begini,” Noni mulai memaparkan, “selama ini ada ketimpangan di geng kita. Lu punya pacar, gua punya pacar, cuma Keenan doang yang jomblo. Dan anak itu kayaknya terlalu antisosial untuk cari pacar sendiri. Jadi ….”

Napas Kugy mendadak tertahan.

“Jadi … Neng satu ini mau mencoba peruntungannya jadi Mak Comblang,” timpal Eko seraya menyentuh sekilas ujung hidung Noni.

“Gua punya saudara, sepupu nggak langsung sih, tapi hubungan kita lumayan deket. Dia lama tinggal di Melbourne. Sekarang ini dia lagi cuti kuliah, pulang ke Indonesia buat magang di perusahaan bokapnya. Dia mau main ke Bandung minggu depan. Pas banget momennya dengan Keenan pulang dari Bali,” Noni melanjutkan.

Badan Kugy rasanya semakin tidak rileks. “Terus?” tanyanya.

“Terus … ya, mereka berdua mau dipertemukan, gitu lho, Jeng Kugy,” Eko menyambar.

“Memangnya Keenan mau dicomblangin gitu? Kok gua nggak yakin,” kata Kugy. Ia sungguh tidak bisa memaksakan diri untuk tampak antusias dengan proyek Noni.

“Jangan ketahuan, dong. Semuanya harus na-tu-ral,” Noni mengeja, “yang tahu percomblangan ini cukup kita bertiga doang.”

“Kalian berdua aja, deh. Gua nggak bakat nyomblangin orang. Statistik kegagalan gua seratus persen,” sahut Kugy malas. Tubuhnya yang tadi tegak kini kembali bersandar ke kursi.

“Lu kok pesimis gitu, Gy,” tukas Eko. “Bayangkan, nanti kita bisa triple-date. Gua dan Noni, lu dan Ojos, Keenan dan—siapa namanya?”

“Wanda.”

“… dan Wanda. Seru, kan?”

“Yah, gua hargai optimisme lu. Tapi udahlah, mereka berdua ketemu aja belum. Belum tentu nyantol. Nggak usah mengkhayal triple-date dulu,” kata Kugy, hampir tak bisa menutupi nada suaranya yang berubah ketus.

“Bukannya lu yang selama ini seorang pengkhayal profesional? Aneh,” komentar Eko.

Noni terkekeh, “Kalo cuma soal nyantol, gua yakin mereka bakal nyantol.”

“Oh, ya?” Kugy menyahut sangsi.

“Lihat aja nanti,” Noni tersenyum simpul.

Bukan hanya karena pembicaraan di Pemadam Kelaparan tadi siang, sudah beberapa minggu belakangan ini Kugy merasa ada yang tidak beres dengan dirinya. Meski rasanya sudah di ujung lidah, Kugy belum bisa menguraikan apa yang sesungguhnya terjadi. Tidak juga pada dirinya sendiri. Ia merasa sudah saatnya bicara dengan seseorang. Kugy berharap bisa memperoleh kejelasan dengan setidaknya memberanikan diri untuk bercerita.

Diketuknya pintu Noni yang setengah terbuka, “Non … lagi sibuk?”

Noni tengah berbicara dengan seseorang di ponselnya. Namun, isyarat tangannya menyuruh Kugy untuk masuk. Kugy pun duduk menunggu di sudut tempat tidur.

“Oke … weekend depan udah pasti, ya? Perlu dijemput? Ya. Nanti aku sama Eko jemput kamu ke hotelmu aja, baru kita jalan bareng. Iya … nanti ada teman-temanku juga. Oke. Sampai ketemu, ya! Take care … bye!” Noni meletakkan ponnselnya,

“Sori, Gy. Gua baru teleponan sama Wanda. What’s up?”

Mendengar nama itu, kembali rasa tidak nyaman merambati tubuh Kugy. Ia merasa makin tidak beres. Ditatapnya Noni yang juga menatapnya dengan tatapan menunggu. Entah kenapa, tiba-tiba Kugy merasa Noni bukanlah orang yang tepat untuk diajak bicara masalah ini, tidak dengan adanya proyek percomblangan yang sepertinya betul-betul diseriusi sahabatnya itu.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.