Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Gy … udah harus cabut, nih. Sori nggak bisa telepon lama-lama. Baik-baik, ya. Sampai ketemu semester depan.”

“Sip. Sampai ketemu semester depan.” Dan telepon itu ditutup dari ujung sana. Kugy meletakkan gagang telepon dengan hati-hati, lalu terduduk lama. Percakapan telepon barusan tak sampai dua menit, tapi serasa waktu telah melemparkan jangkarnya dan berhenti di sana. Dan kini perlahan Kugy mencabut jangkar tadi, kembali ke ruang keluarga rumahnya, kembali bersama kegaduhan yang rutin berlangsung di sana.

 

Ubud, Desember 1999 …

Meski terletak di Desa Lodtunduh yang agak jauh dari pusat kota, semua orang di Ubud tahu keberadaan kompleks keluarga satu itu. Di sana tinggallah Pak Wayan dan keluarga besarnya, di sebuah tanah berbukit-lembah yang dilewati sungai dengan luas hampir lima hektar. Semua anggota keluarga itu menjadi seniman-seniman besar. Ada yang mendalami lukis, ukir, patung, tari, bahkan perajin perhiasan. Seolah-olah semua ragam seni di Bali memiliki wakilnya masing-masing di keluarga tersebut. Satu bulan di tempat keluarga Pak Wayan membayar seluruh kerinduan Keenan terhadap seni, sekaligus mengisi baterainya untuk berbulan-bulan ke depan.

Ibunya adalah sahabat lama Pak Wayan, dan Keenan mengenal sosok pria itu sejak kecil. Pertemuannya dengan Pak Wayan terbilang jarang, tapi amat membekas di hati. Ia bertemu dengan pria itu hanya jika ibunya mengunjungi pameran lukisan Pak Wayan di galeri di Jakarta. Inilah kunjungan pertamanya ke Desa Lodtunduh, tempat yang selama ini cuma ia lihat dari foto-foto yang dikirimi Pak Wayan. Keenan langsung jatuh cinta pada tempat itu. Ia merasa bisa tinggal selamanya di sana.

Sejak pindah ke Amsterdam, baru kali inilah Keenan bertemu langsung dengan Pak Wayan lagi. Keduanya tak berhenti berkorespondensi. Keenan selalu mengirimkan foto-foto lukisannya, begitu juga dengan Pak Wayan. Keenan bahkan berkorespondensi dengan beberapa keponakan Pak Wayan yang seumur dengannya, dan mereka akrab seperti saudara meski belum pernah bertemu langsung. Kedatangannya kali ini memang lebih terasa seperti mengunjungi keluarga di kampung halaman.

Tidak setiap hari Keenan menghabiskan waktunya untuk melukis, terkadang ia merasa cukup puas hanya menontoni aneka kegiatan seni yang dilakukan sanak-saudara itu. Seharian ini ia cuma menguntit Banyu, salah satu keponakan Pak Wayan, yang sedang mengerjakan pesanan patung.

Pak Wayan berdiri tak jauh dari sana, tempat Keenan jongkok di sebelah Banyu dengan mata nyaris tak berkedip.

“Tertarik belajar mahat, Nan? Serius sekali.”

Keenan tertawa ringan. “Cuma mengagumi, Poyan. Saya belum pernah coba. Poyan sendiri—bisa memahat?”

Pak Wayan gantian tertawa sambil memampangkan kedua telapaknya, “Ini jari kuas. Bukan jari perkakas. Biar sajalah itu jadi jatahnya Banyu dan bapaknya.”

“Dicoba saja, Nan. Siapa tahu cocok …,” Banyu ikut menimmpali.

Keenan melihat sekelilingnya. Bonggol-bonggol kayu dan perkakas pahat yang berserakan. Air mukanya mulai menunjukkan ketertarikan.

“Sudah, tunggu apa lagi? Mumpung bapaknya si Banyu juga lagi di sini. Jadi kamu bisa tanya-tanya. Karya mereka ini bahkan disegani di Desa Mas, pusatnya seni patung,” Pak Wayan ikut memanas-manasi.

“Oke, oke. Hari ini saya nonton dulu aja, Poyan,” sambil mesem-mesem Keenan berkata. Ia pun kembali menontoni Banyu dengan setia.

Menjelang petang, Keenan kembali masuk ke studio patung keluarga Pak Putu. Kali ini ia cuma sendirian di sana. Di studio itulah Pak Putu dan anaknya, Banyu, biasa bekerja. Hanya terpisahkan sepetak taman dengan studio lukis Pak Wayan.

Ada banyak bahan mentah berbagai ukuran yang teronggok di sana. Keenan mengenali beberapa. Ada kayu sonokeling, kayu kamboja, kayu suar, kayu belalu, kayu ketapang, dan beberapa elemen tambahan seperti akar, serat, serta ranting-ranting. Setelah membolak-balik beberapa bahan, Keenan akhirnya mengambil sepotong kayu yang berukuran agak kecil.

Memulai dari yang kecil, pikirnya. Tak lama kemudian, Keenan mengambil posisi, menyiapkan perkakas yang ia butuhkan, dan mulai memahat. Sampai larut malam ia tak keluar-keluar dari sana.

 

9.

PROYEK PERCOMBLANGAN

Jakarta, Desember 1999 …

Kugy punya kesibukan baru sekarang. Ia kembali seperti anak sekolah yang punya tugas prakarya. Ia memfotokopi semua sketsa dari Keenan, lalu memotongnya menjadi kotak-kotak. Printer kecil di kamarnya tak henti-henti berbunyi, mencetak seluruh dokumen dongengnya. Setelah semua siap, Kugy mulai menggabungkan teks-teks dongengnya dengan sketsa-sketsa Keenan, membuat semacam buku buatan tangan. Dan ia mengerjakan setiap detail dengan sepenuh hati.

Ada satu tanggal yang menginspirasinya untuk membuat buku itu. Tanggal itu jugalah yang mendorongnya untuk bekerja dengan semangat penuh. Kugy sudah melingkari tanggal itu di kalendernya. Tanggal yang hanya terpaut sehari dari ulang tahunnya sendiri.

Kuta, malam tahun baru 2000 …

Keenan memutuskan keluar dari ”gua beruang”-nya, turun gunung dari Ubud. Malam ini ia ikut dengan Banyu dan Agung ke Kuta untuk bertahun baru. Jalan Legian penuh sesak dengan orang-orang, mobil-mobil bahkan nyaris tak bergerak. Hampir setiap kafe dipadati pengunjung yang sampai tumpah ruah ke trotoar jalan. Mereka bertiga bahkan harus bicara dengan berteriak-teriak.

“Jadi, kita mau ke mana?” seru Banyu pada keduanya. Mobil mereka sudah diparkir di sebuah rumah dan mereka memutuskan untuk jalan kaki.

Keenan mengangkat bahu, berdiri di pinggir jalan saja sudah terasa sedang berpesta saking ramainya. Sejujurnya, ia malah ingin cepat pulang ke Lodtunduh.

Agung menunjuk satu kafe di pojokan jalan. “Ke situ saja! Itu tempatnya Parta, teman saya, kita pasti bisa dapat meja!”

Mereka bertiga akhirnya bergerak menuju kafe temaram berhiaskan ornamen-ornamen Buddha yang hanya beberapa puluh meter dari tempat mereka berdiri tadi. Namun, langkah Keenan sempat tersendat ketika ia melihat wartel kecil yang menyempil di antara toko-toko.

“Agung, Banyu, sebentar ya. Nggak sampai lima menit!” seru Keenan sambil memasuki wartel itu. Ada satu bilik yang kosong. Keenan segera merogoh dompetnya, mencari catatan kecil yang ia selipkan.

Nomor telepon seluler yang ia hubungi tersambung ke kotak suara. Ia mencoba satu nomor lagi.

“Halo ….”

Keenan masih ingat suara itu. Suara yang juga mengangkat telepon darinya terakhir kali.

“Halo, bisa bicara dengan Kugy?”

“Sebentar, ya,” suara itu menyahut manis. Dan saat kop telepon dijauhkan, suara manis itu berubah menjadi teriakan lantang, “Kugyyy! Buat kamu lagi, nih! Capek deh ngangkatin telepon buat orang lain terus! Kok nggak ada yang telepon aku sih dari tadi?”

“Udah, terima nasib aja!” Ada satu orang terdengar menyahut.

“Dasar ABG. Entar tuaan dikit kamu bakal males terima telepon, tauk.”

“Kalo teleponnya buat orang lain melulu, nggak usah nunggu tua, sekarang juga udah males.”

Lalu terdengar suara derap kaki menuruni tangga. Sejenak kemudian telepon itu berpindah tangan. “Halo?”

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.