Baca Novel Online

Perahu Kertas

Dari jauh Ojos sudah bisa mengenali sosok mungil itu. Rambut sebahunya yang tergerai beradu dengan ransel besar yang seolah menenggelamkan tubuh kecilnya, belum lagi jaket jins yang sudah bisa dipastikan hasil minjam saking kebesarannya. Namun, sesuatu di balik kekacauan berbusana itulah yang membuat sosok itu mencuat di mana pun ia berada. Dari jarak seperti ini pun Ojos bahkan sudah bisa melihat hidupnya binar kedua mata itu, merasakan hangat kehadirannya, tawanya yang lepas tanpa beban … kening Ojos tahu-tahu berkerut. Matanya memicing. Ada seseorang yang berjalan di sebelah Kugy. Orang yang tidak ia kenal. Saksama, Ojos mengamati, seperti menjalankan scanning. Keningnya semakin berkeriut.

“Ojos!” Kugy melambaikan tangan, lalu menghampirinya setengah berlari.

“Hi, Babe,” Ojos meraih pinggang Kugy, dan mengecupnya di pipi. Sigap, ia melepaskan ransel dari bahu Kugy lalu menyampirkan barang besar itu di bahunya.

“Jos, kenalin. Ini sepupunya Eko ….”

“Keenan.” Keenan langsung mengulurkan tangan dan tersenyum ramah.

“Hai. Joshua.” Ojos menyambut tangan itu. Sebelah tangannya tak lepas merangkul Kugy.

“Sampai ketemu semester depan, ya, Gy. Selamat menulis.”

“Selamat melukis. Jangan lupa ….” Kugy menempelkan kedua telunjuknya di ubun-ubun seperti antena.

Seketika Keenan tertawa renyah. “Radar Neptunus …,” ia lalu ikut menempelkan kedua telunjuk di ubun-ubun.

Mata Ojos tak lepas mengamati itu semua, bahkan ketika Keenan sudah pamit pulang dan membalik pergi. Ada gelombang yang tertangkap oleh radarnya. Gelombang yang mengisyaratkan ketidakberesan, situasi yang tidak aman. Dan Ojos tidak merasa nyaman.

 

8.

MEMULAI DARI YANG KECIL

Meja makan dengan empat kursi itu baru diisi tiga orang, satu kursi masih kosong. Meski hanya bertiga, suasana di meja makan itu terasa semarak. Dua bersaudara laki-laki itu mengobrol tanpa henti seolah sudah tahunan tak bertemu. Ibu mereka sesekali menimpali, atau ikut tertawa bersama.

Terdengar suara pintu depan terbuka, dan seseorang memasuki ruang makan, duduk di kursi keempat.

“Hai, Pa …,” Jeroen dan Keenan menyapa.

“Maaf ya, kalian jadi menunggu. Tamu itu sudah Papa suruh datang ke kantor saja, tapi dia maksa datang ke sini karena udah nggak ada waktu lagi, katanya.”

“It’s okay.” Lena tersenyum sambil menuangkan teh panas ke cangkir suaminya. “Keenan punya pengumuman buat kamu, tuh.”

“Oh, ya? Apa, Nan?” tanya ayahnya sambil meminum teh itu sedikit demi sedikit.

Keenan melirik ibunya, seperti ragu untuk bicara. “Mmm … IP saya 3,7 semester ini.”

“Tertinggi di angkatannya,” Lena menambahkan dengan senyum berseri.

“Bagus,” sahut ayahnya datar, ditambah sedikit manggut-manggut. Namun, ada kepuasan yang tak bisa disembunyikan membersit di wajahnya. “Sudah kubilang kamu memang cocok kuliah di Ekonomi. 0,3 lagi untuk IP sempurna, semester depan kira-kira bisa?”

“Mungkin,” jawab Keenan pendek.

“Apa pun yang kamu butuh, komputer baru, buku-buku referensi … bilang saja. Nanti Papa siapkan.”

“Saya mau minta waktu.”

Cangkir teh itu segera diletakkan di meja. “Maksud kamu?”

“Saya minta ekstra seminggu dari jatah liburan kuliah.”

“Dia minta waktu lebih lama di Ubud …” Lena berusaha menjelaskan.

“Aku ngerti maksudnya,” potong ayahnya tajam. “Kamu minta izin seminggu bolos kuliah, gitu?”

Keenan mengangguk.

“Buat Papa, kuliah kamu harus jadi prioritas. Dan kamu sudah membuktikan itu di semester ini. Lalu … kamu malah minta hadiah berupa … bolos kuliah?”

Keenan mengangguk lagi.

“Aneh. Nggak ngerti,” ayahnya geleng-geleng kepala, “lalu, barusan kamu bilang mau meningkatkan IP kamu sampai 4, gimana itu bisa terjadi kalau belum apa-apa langsung bolos seminggu?”

“Saya kan nggak janji, Pa. Saya cuma bilang: mungkin.”

“Nan, jangan mulai sok pintar, ya ….”

“Pa, saya nggak minta macam-macam. Saya nggak minta kendaraan. Saya nggak minta komputer baru. Saya nggak minta buku apa-apa. Saya cuma minta waktu tambahan satu minggu di tempat Pak Wayan.” Nada bicara Keenan mulai mengeras.

“Tapi minta bolos itu namanya ‘macam-macam’. Seminggu lagi! Buat apa sih kamu lama-lama amat di Ubud?”

“Saya udah kasih enam bulan buat Papa. Dan sekarang saya cuma minta satu minggu ….”

“Memangnya kamu kuliah buat saya?” sergah ayahnya.

Keenan tak menjawab, hanya menghela napas, seolah menghadapi pertanyaan retoris yang semua orang di situ tahu jawabnya.

Tawa canda yang tadi semarak seperti menguap tanpa bekas, berganti dengan ketegangan yang sunyi. Empat orang duduk kaku tanpa suara.

“Aku yakin Keenan nanti bisa mengejar ketinggalan satu minggunya,” akhirnya Lena berkata.

“Terserah,” sahut suaminya setengah menggumam, lalu berdiri dan pergi.

Semua perlengkapannya sudah terkemas rapi. Begitu juga dengan Jeroen yang bahkan sudah siap packing sejak dua hari yang lalu. Dia akan menemani abangnya beberapa hari di Ubud, sebelum menyusul teman-temannya yang study tour di Kuta. Jeroen mengaku bisa mati bosan di Ubud yang sepi, tapi ia rela mengorbankan beberapa hari liburannya demi menghabiskan waktu bersama Keenan.

Hanya ada satu hal yang Keenan ingin lakukan sebelum dia pergi ke bandara sebentar lagi. Dibukanya buku kecil berisikan daftar nomor telepon teman-temannya, mencari satu nama.

“Halo ….” Suara remaja cewek menyambutnya.

“Selamat pagi, bisa bicara dengan Kugy?”

Suara dari ujung sana terdengar riuh, berlatar belakang sekian banyak orang yang berbicara. “Kugyyy! Telepooon!”

“Di kamar mandi kayaknya!” Terdengar ada suara perempuan yang menyahut.

“Gy! Lama amat sih? Berak, ya? Telepon, tuh!” Ada suara laki-laki menimpali.

Lalu terdengar langkah kaki berderap menuruni tangga. “Enak aja, lagi di atas, tauk! Bentaaar!”

“Berarti siapa tuh yang di kamar mandi? Kok bau? Woi! Ada yang kentut, ya? Ngaku!”

“Halo,” akhirnya terdengar suara Kugy menyapa.

“Hai, Gy.”

Mata Kugy membundar seketika. “Keenan?”

“Iya. Rame banget di rumah kamu. Lagi ada acara?”

“Oh, nggak. Tiap hari memang begini,” Kugy tertawa kecil, “kamu … apa kabar? Kok, tumben telepon? He-he, bukannya nggak boleh, lho. Cuma aneh aja. Bukan aneh gimana, sih. Cuma … yah ….” Kugy mulai salah tingkah.

“Saya mau ke Bali, mungkin sampai sebulan. Mau pamitan.”

“Oh ….”

“Habis ini saya juga mau telepon Eko atau Noni. Pamitan juga,” gugup Keenan menambahkan. “Mau oleh-oleh apa?”

“Hmm. Apa, ya?” Kugy berpikir-pikir, “Kaus barong udah punya lima, sarung pantai ada tiga, miniatur papan surfing ada satu ….”

“Kacang asin?”

“Aku tahu!” seru Kugy, “Sesuatu yang nggak boleh dibeli.”

“Jadi dicuri?”

Kugy tergelak, “Bukan. Sesuatu yang harus dibikin.”

“Oke,” Keenan tersenyum, “saya janji.”

Terasa ada sesuatu yang mengaliri darahnya. Kugy merasa hangat. Terasa ada sesuatu yang menariki kedua ujung bibirnya. Kugy merasa ingin terus tersenyum. Sekilas Kugy melihat bayangannya di lemari kaca, dan merasa tolol sendiri.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.