Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Oh. Oke.” Keenan berkata pendek.

Sebersit perasaan aneh menyusupi hati Kugy, yang melengkapi kecurigaannya selama ini. Tadinya Kugy berasumsi bahwa sebulan ini Keenan banyak menyendiri karena belajar mati-matian, dan itu memang dibuktikan oleh IP tertinggi yang diraihnya. Tapi baru sore ini Kugy merasakan adanya alasan lain. Ia merasa dihindari oleh Keenan.

Tanpa banyak bicara, Keenan mengempaskan tubuhnya di jok belakang. Tungkai kakinya yang panjang membuat lututnya selalu nyaris beradu dengan jok depan. Dengan ekor matanya, Kugy mengamati. Sebagaimana ia mengamati sepatu Keenan yang kali ini tampak baru dicuci bersih, sebagaimana ia tahu Keenan sedang mengenakan kemeja jins lengan panjang yang dulu dipakai saat menggandeng tangannya di bioskop, sebagaimana ia hafal aroma sampo yang meruap dari rambut Keenan yang tergerai. Kugy mengamati dan mengingat itu semua. Untuk apa, ia pun tak mengerti. Namun, semua itu melekat dalam memorinya, telah lama menghantuinya, tanpa bisa ia kendalikan.

Keenan memejamkan matanya sejak sepuluh menit pertama kereta api itu bertolak dari Stasiun Bandung. Ia terbangun oleh karena haus yang menggigit dan hening yang dirasakan terlalu lama dari seharusnya. Saat matanya membuka, kereta itu memang sedang berhenti di sebuah stasiun kecil. Dan Kugy tidak ada di sebelahnya.

Dari kasak-kusuk orang di sekeliling, Keenan menyimpulkan bahwa kereta itu sudah berhenti lama di sana, dan keterlambatan ini mulai menggelisahkan banyak penumpang.

Penasaran, Keenan pun memutuskan untuk keluar dan bertanya langsung pada petugas.

“Muhun. Ada kereta yang anjlok, Cep. Jadi kita tertahan di sini, mungkin setengah jam sampai sejam. Belum ada pemberitahuan.” Petugas stasiun itu menjelaskan. Di atas kepalanya tergantung plang: Stasiun Citatah. Kereta itu bahkan belum menempuh separuh perjalanan.

Langit mulai remang, pertanda sore mulai menua. Awan mendung yang sejak tadi bergelantungan mulai merintikkan selapis gerimis tipis. Meski dianjurkan menunggu di dalam kereta, Keenan merasa tak ingin kembali ke sana cepat-cepat. Ia mengedarkan pandangan, mencari sesuatu yang sekiranya membuat perasaannya tertarik. Dan matanya tertumbuk pada pelataran depan stasiun.

“Cep! Jangan jauh-jauh!”

Sayup, Keenan mendengar petugas tadi memperingatkannya. Namun, ia merasa kakinya terundang untuk keluar, menuju jalanan pedesaan yang setengah becek, berhiaskan satu-dua warung kopi yang mulai menyalakan lampu petromaksnya untuk menyambut gelap malam.

Di sebuah warung, Keenan berhenti. Aneka gorengan yang terpajang di sana tampak menarik, belum lagi bersisir-sisir pisang susu yang kuning masak tampak bergelantung di kayu penyangga tendanya.

“Mangga, ngopi dulu, Den.” Ibu tua pemilik warung menyapa ramah.

Baru saja Keenan hendak duduk di bangku kayu itu, tiba-tiba dari sisi seberangnya muncul kepala dan kedua tangan mungil yang sedang meraih pisang susu.

“Kugy?”

“Hei! Udah bangun? Kok bisa nyampe sini juga?” Kugy heran bukan main.

“Hmm. Radar Neptunus—mungkin?” cetus Keenan, antara geli dan takjub. Ia pun duduk di sebelah Kugy dan memesan secangkir kopi panas. Keduanya langsung mengobrol dan tertawa-tawa, tak habis pikir bagaimana mereka bisa berakhir di tempat yang sama tanpa janjian.

“Sebentar … sebentar …” tiba-tiba Kugy memotong pembicaraan. Wajahnya tampak siaga seolah-seolah sesuatu akan menyeruak muncul.

“Ada apa?” Keenan ikut melihat ke sekeliling.

“Bau ini … kamu cium, nggak?” Kugy mengendus-endus.

“Kamu kentut?”

“Bukan!” Kugy memberengut, “Ini bau tanah yang baru kena hujan … kecium, nggak?” Kugy lantas menghirup napas dalam-dalam, berkali-kali, dan mukanya seperti orang ekstase. “Sedaaaaap …,” gumamnya.

Keenan ikut mengendus, dan mulai ikut menghirup. “Gy … tambah lagi wangi kopi, nih … hmmm … enaaak ….”

Kugy mencomot kulit pisang, “Tambah lagi nih wangi pisang … asoooy ….”

Keduanya sibuk membaui ini-itu, tanpa menyadari ibu pemilik warung sudah mulai waswas melihat kelakuan mereka.

“Gerimis, wangi tanah kena hujan, kopi, dan pisang … dahsyat. Aku nggak bakal lupa kombinasi ini.” Kugy tersenyum lebar, kilau di matanya kian bersinar tertimpa sinar lampu.

“Stasiun Citatah, warung, lampu templok, dan … kamu. Saya juga nggak bakal lupa.”

Mendengar itu, Kugy termangu. Ia merasa tergerak untuk mengatakan sesuatu, tapi lidahnya kelu. Ia ingin bertanya, apakah intuisinya benar? Bahwa Keenan dengan halus telah menghindarinya. Bahwa ada keanehan yang terjadi antara mereka berdua, tapi entah apa. Namun, Kugy tak tahu harus memulai dari mana.

Kembali dalam keheningan, mereka duduk diam. Keenan menyeruput kopinya perlahan. Begitu juga Kugy dengan teh panasnya. Namun, kali ini hening itu tidak menjengahkan. Setiap detik bergulir sejuk dan khidmat, seperti tetes hujan yang kini turun satu-satu.

“Nan … kamu benar soal cerpenku itu,” tiba-tiba Kugy memecah sunyi, “aku nggak menjadi diriku sendiri. Aku bikin cerita itu untuk cari duit, untuk cari pengakuan doang ….”

Keenan mengangkat kepalanya, menatap balik pada Kugy yang tengah menatapnya lekat-lekat.

“Makasih, ya. Kalau bukan karena kamu berani jujur sama aku, mungkin aku nggak akan menyadari itu semua. Nggak berarti aku bakal berhenti nulis cerpen sama sekali, sih. Tapi sekarang aku bisa melihat diriku apa adanya, di mana kelemahanku, dan di mana kekuatanku.”

Senyum mengembang di wajah Keenan. Hangat. “Gy, jalan kita mungkin berputar, tapi satu saat, entah kapan, kita pasti punya kesempatan jadi diri kita sendiri. Satu saat, kamu akan jadi penulis dongeng yang hebat. Saya yakin.”

Kugy menghela napas, pandangan matanya mengembara. “Gerimis, melukis, menulis … satu saat nanti, kita jadi diri kita sendiri,” gumamnya lambat, seperti mengeja. Seperti mengucap doa.

Dari jauh terdengar pengumuman bahwa kereta api akan segera diberangkatkan. Mereka berdua pun beranjak dari sana. Tanpa terburu-buru. Menapaki tanah becek dengan hati-hati. Tepat sebelum kereta berjalan, kaki mereka menjejak gerbong.

Di gang antargerbong yang sempit dan berguncang keras, keduanya berdiri sejenak. Kugy bisa merasakan jarak Keenan yang begitu dekat di punggungnya, membaui aroma minyak wangi yang samar tercium dari kemejanya, dan terasa sesekali wajah Keenan menyentuh rambutnya.

Meski tempat mereka berdiri sangat berisik, Kugy dapat mendengar Keenan berbisik di sela-sela rambutnya yang berkibar ditiup angin. Entah Keenan berbisik untuknya, untuk dirinya sendiri, atau untuk mereka berdua. Namun, dengan jelas Kugy menangkap tiga kata yang dibisikkan Keenan: “Bulan, perjalanan, kita ….”

Baru ketika duduk di bangkunya yang bersebelahan dengan jendela, Kugy menyadari bahwa bulan bersinar benderang di angkasa. Tanpa bisa ditahan, Kugy merasa pelupuk matanya menghangat, dan pandangannya berkaca-kaca. Ingin rasanya ia membungkus bisikan Keenan tadi, menyimpannya di hati. Tiga kata yang tak sepenuhnya ia pahami, tapi nyata ia alami saat ini. Bulan. Perjalanan. Mereka berdua.

Sudah sejam Ojos menunggu di kafe itu, segala macam minuman dan donat aneka rasa sudah ia pesan sampai perutnya penuh sesak. Dan akhirnya bergaunglah pengumuman bahwa kereta api Parahyangan yang ditumpangi Kugy telah tiba. Segera ia beranjak dari sana dan menunggu di mulut pintu keluar.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.