Baca Novel Online

Perahu Kertas

“My man. Right on time. Pintu bioskopnya udah dibuka, tapi filmnya belum mulai, kok,” sambut Eko.

“Tenang. Minuman buat lu udah gua beliin,” kata Noni, menunjukkan sekantong plastik berisi minuman kotak dan makanan ringan.

“Sori banget telat, ya. Tadi gua ketiduran,” ujar Keenan dengan napas yang masih terengah. Tiba-tiba ia tersadar sesuatu. Ada yang kurang di situ. “Si Kecil mana?”

“Kugy kedatangan tamu agung dari Jakarta. Biasaaa …,” seloroh Noni.

Kening Keenan berkerut. “Tamu agung? Maksudnya?”

“Cowoknya dia, si Ojos, lagi ngapelin dia ke Bandung. Jadi nggak mungkinlah gabung sama geng midnight kita ini,” timpal Eko.

“Kalau Ojos sih pasti candle light dinner gitu, deh ….”

“Iya. Satu-satunya kesempatan Kugy naik kasta dari Pemadam Kelaparan,” Eko terkekeh.

Keenan terdiam sejenak. “Gua baru tahu Kugy punya pacar. Di Jakarta?”

Noni mengangguk, “Pacarnya dari SMA.”

“Galak,” Eko menambahkan.

“Nggak, ah …,” sanggah Noni.

“Ke semua teman ceweknya nggak. Ke semua teman cowoknya? Wuiiih … galakan Ojos daripada menwa kampus.”

“Pengalaman pribadi, ya? Itu karena Ojos bisa mendeteksi, cowok-cowok mana yang diam-diam naksir Kugy, tauk,” ledek Noni sambil menoyor bahu Eko.

“Ungkit teruuuus!” Eko tergelak. “Berarti Ojos bukan cuma galak kayak menwa, tapi juga sensi kayak herdernya polisi ….”

Percakapan itu berlanjut terus hingga keduanya memasuki ruangan bioskop, dan Keenan hanya mengikuti dari belakang dengan mulut terkunci.

“KEENAN!”

Suara yang ia kenal. Nada ceria yang ia hafal. Derap langkah setengah berlari yang khas. Namun, entah kenapa, kali ini Keenan agak enggan menoleh ke belakang. Ditariknya napas dalam-dalam sebelum ia akhirnya membalikkan punggung.

“Hai, Gy.”

“Hai, hai. Gimana malam Minggu kemarin? Seru ya, filmnya? Noni sampai kemimpi-mimpi gitu. Sori ya, aku nggak gabung. Udah makan malam belum? Pemadam Kelaparan yuk …,” dengan semangat tinggi Kugy menyerocos.

“Saya masih kenyang, dan harus cepat pulang. Banyak tugas. Nggak pa-pa, ya?” Keenan menimpali ringkas.

“No problemo,” Kugy tersenyum lebar, “sebetulnya sih aku kepingin ngobrol, tapi ya udah, nanti-nanti aja.”

“Tentang?”

“Mmm …,” Kugy berpikir sejenak, “udah hampir dua mingggu aku kasih majalah yang ada cerpenku itu, tapi … he-he … kok, kamu belum komentar,” Kugy mesem-mesem, “nggak maksa, sih … cuma penasaran aja.”

Keenan menarik napas panjang untuk kedua kali. “Boleh jujur?” tanyanya.

“Harus, dong!” seru Kugy mantap.

“Saya nggak suka.”

Letupan dalam hati Kugy mendadak seperti dibanjur air dingin. Padam. Air mukanya seketika berubah, meski ia berusaha tampil tenang.

“Buat orang yang nggak tahu kamu, cerpen itu mungkin bagus. Tapi saya merasa dongeng-dongeng kamu jauh lebih otentik, lebih orisinal, dan lebih mencerminkan kamu yang sebenarnya. Dalam cerpen itu, saya tidak menemukan diri kamu. Yang saya temukan adalah penulis yang pintar merangkai kata-kata, tapi nggak ada nyawa,” sambung Keenan lagi.

Seluruh persendian tubuh Kugy serasa dikunci. Kata-kata Keenan seolah menyulapnya menjadi patung. Ia cuma bisa merasakan air ludahnya tertelan seperti bola bakso yang tak sempat terkunyah.

“Maaf ya, Gy. Kalau memang kamu kepingin saya jujur, ya itulah opini saya. Nggak kurang, nggak lebih.”

Kugy mengangguk kecil. “Makasih udah jujur,” ucapnya pelan.

Tak lama kemudian, Keenan pamit pulang, dan Kugy tetap berdiri di tempatnya. Merenungi kata demi kata yang menusuknya bagai hunusan pedang es. Menyakitkan sekaligus membekukan. Membuatnya bungkam tanpa bisa melawan.

Malam itu Kugy terjaga lama di tempat tidur. Telentang menghadap langit-langit kamar kosnya dengan pikiran yang terus berputar dan hati yang teraduk-aduk. Ia tak mengerti mengapa komentar Keenan meninggalkan dampak yang begitu dalam. Ia juga tak mengerti mengapa ia begitu menunggu-nunggu pendapat Keenan, seolah pendapat manusia satu itulah yang terpenting. Ironisnya, semua orang terdekatnya, termasuk Ojos, menyukai dan memuji-muji cerpennya. Hanya Keenan yang begitu tegas dan tanpa tedeng aling-aling menyatakan tidak suka.

Seharian Kugy bertanya dan bertanya: apa yang salah? Bagaimana mungkin Keenan menyebutnya penulis yang cuma pintar merangkai kata tapi tak bernyawa? Padahal ia setengah mati mengerjakan cerita pendek itu. Setiap kata dipilihnya dengan cermat dan teliti. Ia menulis dengan plot yang sudah diatur apik. Setiap konflik dimunculkan dengan momen yang sudah diperhitungkan. Ia hafal mati formula dan teori dari pedoman membuat cerita yang baik dan benar. Mungkinkah selera Keenan yang ”salah”?

Kugy terduduk tegak. Membuka majalah yang memuat cerpennya, dan mulai membaca dari awal hingga akhir. Lalu ia menyalakan komputer, membuka salah satu file dongengnya, dan juga membacanya saksama. Kugy mulai menyadari sesuatu. Dalam dongengnya, ia seolah berlari bebas, sesuka hati. Dalam cerpen itu, ia seperti berjalan meniti tali, berhati-hati dan penuh kendali. Dan ada satu perbedaan yang kini menjadi sangat jelas baginya: dalam dongengnya ia bercerita untuk memuaskan dirinya sendiri, sementara dalam cerpennya ia bercerita untuk memuaskan orang lain.

Ingatannya pun kembali mundur ke siang tadi, dan kembali ia rasakan perih sayatan kata-kata Keenan. Namun, kali ini Kugy ikut merasakan kebenarannya.

 

7.

BULAN, PERJALANAN, KITA

Bandung, Desember 1999 …

Tempat kos yang lengang itu semakin terasa sepi karena hampir semua penghuninya sudah kembali ke kota masing-masing untuk menikmati liburan semester. Hanya segelintir yang tersisa.

Keenan memasukkan barang-barang terakhirnya sebelum tas itu resmi diamankan dengan gembok kecil.

Pintu kamarnya yang setengah terbuka tahu-tahu terbuka lebar. Bimo, teman kosnya, muncul sambil menenteng travel bag. “Hai, Nan. Jadi mau ikut ke Jakarta pakai mobil gua, nggak? Masih ada tempat untuk satu lagi.”

Keenan menggeleng. “Nggak, Bim. Gua pakai kereta api nanti sore. Udah beli tiket. Salam buat anak-anak, deh.”

Bimo yang sudah mau beranjak pergi mendadak menahan langkahnya, seperti teringat sesuatu. “Oh, ya … selamat, ya.”

“Untuk?”

“Kata anak-anak, IP lu tertinggi satu angkatan. Nggak percuma lu disebut Siluman Kampus, kerjanya pulang melulu, ngerem di kamar kayak beruang,” Bimo terkekeh.

Keenan hanya tersenyum sekilas, entah harus merasa bangga atau tersindir. Tapi ia cukup suka sebutan itu. Siluman Kampus.

Begitu Fiat kuning itu menepi, Keenan yang sudah menunggu di teras depan langsung menghampiri bagasi mobil dan memasukkan tasnya. Baru setelah membuka pintu, ia tersadar akan satu sosok yang tidak ia duga kehadirannya.

“Kugy? Kamu ke Jakarta hari ini juga?” tanya Keenan heran.

“Hai, Nan. Aku tukeran tiket sama Eko,” jawab Kugy berseri-seri.

Keenan ganti menatap Eko, “Gua pikir, Fuad dititip ke Noni dan lu pulang ke Jakarta hari ini sama gua.”

“Ternyata gua baru bisa ke Subang lusa, Nan. Jadi Eko nemenin gua dulu di Bandung,” Noni menjelaskan.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.