Baca Novel Online

Perahu Kertas

Keenan menatap Kugy balik, tebersit senyum getir di wajahnya. “Nggak matching,” ujarnya pendek, “antara minat, cita-cita, dan keinginan orangtua. Harus membuktikan bahwa saya bisa mandiri lewat melukis, sementara kesempatannya tidak pernah dikasih.” Ia lalu mengangkat bahu, “Mungkin harus dengan cara yang kamu bilang dulu. Berputar menjadi sesuatu yang bukan kita, demi bisa menjadi diri kita lagi.”

Ingatan Kugy kembali ke momen di kamar kosnya dulu. Barulah ia mengerti, sesungguhnya waktu itu Keenan membicarakan dirinya sendiri. Dan kesunyian yang sama kembali hadir di antara mereka.

“Dan … karena kamu sudah berhasil menebak judul lukisan ini, saya mau kasih hadiah.” Air muka Keenan kembali menghangat.

“Nggak percaya kalau kita bisa telepati, ya? Aku tuh bukan nebak, tauk … tapi …” celotehan Kugy tahu-tahu berhenti. Di hadapannya terbentang lembar pertama buku sketsa yang dibuka Keenan. Perlahan, Kugy meraih buku itu. Membuka lembar demi lembar. “Ini …?”

Keenan menunjuk satu per satu sketsa tersebut. “Pangeran Lobak … Peri Seledri … Wortelina … Nyi Kunyit … Joni Gorong … Hopa-Hopi … dan ini lembah tempat mereka tingggal …” dengan asyik Keenan menjelaskan. Setetes air tiba-tiba jatuh di lembar sketsanya. Keenan kontan terdiam dan mendongak, mendapatkan Kugy yang sudah berlinangan air mata.

“Aduh. Maaf. Gambarnya kena, ya? Sori …,” Kugy sibuk menyeka air mata di pipinya.

“Nggak pa-pa, nggak masalah, kok. Justru … kamu nggak pa-pa?” tanya Keenan khawatir.

Kugy terisak, antara tertawa dan menangis. “Hi-hi. Aku cengeng, ya? Tapi … seumur hidup belum pernah ada yang membuatkan ilustrasi buat dongengku … bagus banget lagi … aku … nggak tahu harus ngomong apa ….”

Keenan tersenyum. “Cerita kamu yang bagus. Inspiratif. Makanya saya tergerak untuk bikin sketsa.”

“Ini … boleh aku pinjam dulu?” Kugy mendekap buku itu di dadanya dengan penuh harap.

“Buku itu buat kamu, Gy. Ambil aja.”

Tak ada yang bisa menahan Kugy untuk memeluk Keenan, tidak juga dirinya sendiri. Pelukan spontan itu hanya berlangsung dua detik karena Kugy langsung beringsut mundur dengan muka merah padam. “Makasih …,” bisiknya nyaris tak terdengar.

Keduanya diam bergeming, antara rikuh dan tak tahu harus berbuat apa. Sampai akhirnya Kugy memecah kekakuan itu dengan merogoh saku celananya.

“Untuk sementara … aku cuma bisa kasih kamu ini.”

Keenan menerima benda yang disodorkan Kugy. Sebatang pisang susu yang dibawa dari Pemadam Kelaparan. “Oke. Saya anggap kita impas,” ucapnya sambil tersenyum kecil.

 

6.

HUNUSAN PEDANG ES

Fiat kuning itu berdesakan dengan mobil-mobil lain yang menyusuri Jalan Dago pada malam Minggu. Kugy dan Keenan di bangku belakang. Eko mengemudi, di sampingnya ada Noni yang tengah bertelepon dengan seseorang.

Noni mematikan ponselnya dengan lega. “Guys, Mas Itok berhasil dapat empat tiket, barisan agak depan, sih. Tapi lumayan daripada lu manyun.”

“Sebagai geng midnight yang profesional, kita memang harus punya koneksi kayak Mas Itok. Hidup Mas Itok!” seru Eko.

“Hiduuup!” Terdengar Kugy menyahut patriotik dari belakang.

Sepuluh menit kemudian, mobil itu memasuki parkiran Bandung Indah Plaza. Dan keempatnya pun langsung bergegas ke lantai paling atas.

Seorang pria kurus berkacamata menyambut mereka, Mas Itok, penjaga toko kaset langganan Eko yang suka menyambi menjadi pengantre tiket bioskop buat mereka. “Ini buat Mas Eko sama Mbak Noni,” ia menyerahkan dua tiket, “nah, ini buat Mas Keenan dan pacarnya ….”

Keempatnya saling berpandangan, lalu tertawa bersama. Mas Itok menerima honornya lalu berlalu dari sana, tanpa tahu apa yang membuat keempat anak itu tertawa.

“Gawat,” komentar Eko geli. “Gara-gara keseringan nonton midnight bareng, kita berempat nanti bisa jadi double date beneran.”

“Amiiin!” Terdengar Keenan menyahut dari belakang.

Empat-empatnya tertawa lagi. Tapi Kugy sedikit merasa terusik dengan celetukan itu. Diam-diam, ia melirik Keenan yang berjalan di sampingnya. Mencari sesuatu, mencari semacam petunjuk entah apa. Ia sendiri tak mengerti. Tahu-tahu Keenan meliriknya balik. Cepat-cepat Kugy membuang muka ke sembarang arah, menemukan mesin popcorn sebagai objek perhatian baru yang lebih aman.

“Mau popcorn, Gy?” Keenan bertanya.

Kugy merasa tak punya pilihan selain mengangguk.

“Ko, lu duluan aja. Gua beli popcorn dulu bareng Kugy,” kata Keenan pada Eko yang berjalan di depannya.

“Sip!” jawab Eko, ia pun melenggang menuju ruangan teater bersama Noni.

“Yuk,” Keenan berujar ringan pada Kugy, lalu menggandeng tangannya.

Kugy tak yakin apakah Keenan menyadari perubahan yang terjadi. Dalam hati, sungguh Kugy berharap langkahnya yang berubah tersendat dan otot tangannya yang berubah tegang tidak terdeteksi.

 

Jakarta, Oktober 1999 …

Sudah cukup lama perempuan itu berdiri dekat pesawat telepon di ruang tamunya sendiri. Tangannya memegang sebuah buku telepon yang terbuka, jemarinya bergerak-gerak tanda gelisah. Kalau bukan demi sopan santun, sebetulnya aku tidak harus melakukan ini, pikirnya. Puluhan tahun telah berlalu, tapi tetap ia merasa hal ini tidak mudah. Sambil menelan ludah, akhirnya ia membulatkan tekad dan memencet tombol-tombol itu: 0-3-6-1 ….

“Halo, selamat sore.” Terdengar suara laki-laki remaja di ujung sana.

“Selamat sore. Bisa bicara dengan Pak Wayan? Ini dari Ibu Lena, Jakarta.”

Tak lama terdengar sayup suara itu memanggil, “Poyaaan …9 ada telepon dari Jakartaaa ….”

Telepon itu kembali diangkat dan kali ini terdengar suara lelaki menyapa.

“Wayan?” panggilnya hati-hati.

Sejenak sunyi. “Lena?” Suara lelaki itu terdengar tak yakin.

“Iya, ini Lena. Apa kabar?”

“Kabar baik. Tumben sekali kamu telepon.” Setiap kata dilontarkan dengan kaku.

“Aku mau bicara soal Keenan. Di liburan semesternya nanti, dia kepingin sekali pergi ke tempatmu di Ubud ….”

“Keenan sudah lama bilang. Sejak dia masih di Amsterdam, dia juga pernah meneleponku soal itu,” potong Wayan.

“Tapi aku tidak enak kalau tidak langsung minta izin sama kamu.”

“Keenan sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Ini rumahnya juga. Kapan pun dia ingin kemari, sudah pasti kuterima.” Nada itu berubah tegas.

“Mudah-mudahan dia tidak akan merepotkan ….”

“Keenan tidak pernah merepotkan. Seluruh keluargaku di sini malah senang kalau dia datang.” Lagi-lagi nada itu tegas memotong, seolah Wayan ingin percakapan itu cepat usai.

Lena menghela napas. “Terima kasih kalau begitu.”

“Cuma satu yang ingin aku pastikan. Ayahnya memberi izin Keenan kemari, kan?”

“Sudah. Adri sudah kasih izin …”

“Oke. Tidak ada masalah lagi kalau begitu.”

Sunyi lagi. Lena pun tahu sudah saatnya pembicaraan itu disudahi.

 

Bandung, Oktober 1999 …

Keenan menaiki anak tangga eskalator sekaligus dua-dua, menyusuli orang-orang yang berdiri diam di kanan-kiri, berusaha tiba di lantai paling atas secepat-cepatnya. Saat ia sampai, sudah ada Eko dan Noni berdiri sambil mengacungkan tiga lembar tiket bioskop.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.